Impian Yusuf

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Wahyu Susanto


Kuusap peluh yang membanjiri tubuhku. Dadaku turun naik mengatur jalannya nafas yang belum cukup stabil setelah bermain bola sepanjang sore tadi. Kakiku masih terasa sakit  saat berebut bola dengan Yusuf, sebab tendangannya mengenai tulang keringku hingga membuatku tak sanggup meneruskan sampai akhir permainan.

Hari sudah mulai menjelang senja. Langit Gaza begitu indah menjelang terbenamnya matahari. Kulihat teman-temanku juga sudah demikian lelahnya,  tapi tidak berlaku bagi Yusuf. Lihatlah, di saat seperti ini ia masih memainkan bola dengan kedua kakinya. Sepertinya ia tidak mau terpisah dengan si kulit bundar itu.

“Yusuf, tidakkah cukup kau bermain bola hari ini? Lihatlah, hari sudah mulai gelap. Kita pulang!” Aku mengingatkannya tatkala satu per satu temanku mulai meninggalkan lapangan, sementara tinggal aku berdua Yusuf saja yang belum beranjak pulang. Aku masih setia menunggunya.

“Ya, sebentar, Ahmad!” Buru-buru Yusuf menangkap bola yang ia pantulkan lewat ujung kakinya, lalu menghampiriku. Ia tersenyum melihat tampangku yang cemberut kearahnya.

“Afwan, Ahmad. Aku tidak bermaksud membuatmu menunggu lama,” ucapnya. Aku mengibaskan tangan, mengisyaratkan bahwa aku tidak akan marah padanya. Kami berjalan beriringan di antara puing-puing reruntuhan peninggalan zionis. Berpuluh-puluh bangunan nyaris rata dengan tanah akibat serangan militer Israel. Rudal dan jet tempur milik tentara Israel meluluhlantakkan pemukiman warga Palestina. Tank-tank berlapis baja tidak pernah bosan-bosannya menyisir rumah-rumah penduduk dengan dalil mencari keberadaan teroris muslim Palestina. Manakala operasi yang mereka jalankan tidak berhasil menemukan atau menangkap para pejuang Palestina, dengan mudahnya tank-tank itu melumat habis rumah-rumah penduduk yang dianggap sebagai tempat persembunyian.

Aku ingat sekitar dua tahun yang lalu Yusuf mengutarakan  niatnya untuk menjadi seorang atlet sepakbola terkenal. Menjelajah liga-liga elite Eropa, memperkuat timnas Palestina di berbagai pertandingan, menikmati gaji jutaan dolar serta memiliki kebanggaan tersendiri sebagai seorang publik figur. Di saat pemuda-pemuda Palestina lain menggelorakan  jihad  melawan pendudukan Israel, ia malah memimpikan segera keluar dari tanah kelahirannya dan mencoba mencari peruntungan di negeri-negeri Eropa.

“Yusuf, benarkah kau sudah tidak mencintai Palestina, tanah kelahiranmu? Bukankah dengan pernyataan bahwa kau akan  segera meninggalkan Palestina jika suatu saat kau akan mewujudkan impianmu, sudah membuktikan jika kau tak lagi mencintai Al-Quds?” desakku.

Yusuf hanya menatap sorot mataku yang tajam ke arahnya. Wajah tampannya sedikit menampakkan keheranan atas pertanyaanku barusan. Mungkin aku terlalu menghakiminya dengan ketidakpercayaanku atas rasa nasionalismenya. Tapi bukankah islam mengajarkan kewajiban membela tanah air dari penjajahan adalah salah satu bentuk jihad? Terlebih negeri ini yang penuh dengan kemuliaan, tanah para anbiya, kiblat pertama kaum muslim. Semua rakyat Palestina bersatu padu,  berusaha mempertahankan  tanah ini sampai tetes darah penghabisan, meski harus berkorban nyawa sekalipun. Karena  sungguh  surga-Nya tengah menanti ruh-ruh pejuang yang syahid yang menebarkan semerbak harum kesturi di setiap penjuru langit. Adakah kenikmatan dunia lebih kau utamakan dibanding kebenaran akan janji-Nya?

“Ahmad, kau tidak bisa mengklaim aku seperti itu. Bagiku Palestina adalah segala-galanya, bahkan  impianku  pun  bermuara  pada  perasaan cintaku untuk Palestina. Andaikan aku mampu meraih  impianku, aku yakin, palestina tidak akan dipandang sebelah mata lagi. Dunia akan melihat negeri ini bukan sebagai negeri yang hanya dilanda kecamuk perang saja, tapi kita masih mampu berprestasi di tengah keterbatasan ini.”

“Lagipula, Ahmad,” lanjutnya, “gaji seorang pemain liga Eropa mencapai jutaan dolar, jika beberapa persen saja kusisihkan buat Palestina, tentu banyak senjata dan peluru yang kita beli untuk membalas  serangan  tentara Israel.”

Aku memandang langit yang mulai gelap. Berusaha mencari jawaban atas kegelisahanku selama ini. Perang. Terus terang aku pun mulai bosan menunggu kedamaian datang melingkupi negeri ini, bagai penantian tak berujung. Deru meriam, rentetan bunyi tembakan, gemuruh  rudal layaknya  nyanyian  kematian yang siap datang kapanpun dan menjemput siapa saja. Isak tangis anak-anak yang kehilangan orang tua atau sebaliknya kerap terdengar menyayat hati. Adakah Yusuf merasakan hal yang sama sehingga membuatnya begitu menggebu-gebu meraih impiannya?

“Yusuf, sesungguhnya hidup ini adalah pilihan. Kalau memang itu yang kau cita-citakan, aku mendukungmu sepenuhnya. Satu hal yang pasti harus selalu kau jaga, jangan sampai kecintaanmu terhadap Palestina ini memudar seiring dengan tercapainya keinginanmu.” aku mengalah, walaupun sebenarnya hati ini tetap tidak sepakat. Bagaimanapun persahabatanku dengannya harus tetap dipertahankan meski kami berbeda prinsip. Biarlah Allah saja yang menilai, karena belum tentu semua ini baik menurut-Nya.

Azan maghrib berkumandang menyambut kedatangan kami di kamp pengungsian Khan Younis  di Jalur Gaza. Segera kumasuki barak yang kutempati bersama ummi, abi beserta adikku, Hasan. Abi dan Hasan tampak tengah bersiap menuju masjid terdekat untuk shalat maghrib berjamaah bersama pengungsi lain. Ummi hanya menggelengkan kepala melihat anak sulungnya baru pulang saat senja.

“Cepat kau bersihkan badanmu dan bergegas shalat. Jangan sampai pemuda Palestina sepertimu melupakan kewajiban terhadap Rabb-mu” ummi berkata dengan lembut. Aku mengangguk. Beliau paham bahwa aku baru saja selesai bermain bola bersama teman-teman.

Selesai mandi aku segera berpakaian dan mengambil mushafku. Sebelum berangkat  kupandangi poster-poster yang menempel di dinding kamar. Wajah-wajah teduh para pejuang Palestina memenuhi sudut-sudut kamar, mengalirkan semacam energi baru dalam tubuh, menyusup hingga aliran darahku. Impianku adalah menjadi seperti mereka, syahid di jalan-Nya. Almautu fisabilillah…asma amanina. Tekad itu senantiasa berulang-ulang kutanamkan dalam hatiku. Dalam benak ini kadang-kadang aku membayangkan diriku tengah memegang senjata laras panjang, membalut wajah dengan kafiyeh, serta mengenakan rompi khas pasukan brigade Izzudin Al-Qassam, sayap militer Hamas. Betapa gagah dan patriotiknya.

Ups...aku tersadar. Iqomah terdengar sayup-sayup melalui pengeras suara mesjid yang hampir rusak dan telah diperbaiki berkali-kali. Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju rumah-Nya. Lewat ekor mataku sempat kulihat ummi kembali menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah anak sulungnya.

***

Malam itu aku berada di barak  Yusuf  yang ia tempati beserta ummu Wafa dan adiknya yang masih balita. Ummu Wafa menyambutku dengan senyumnya yang hangat, bahkan ia menghidangkanku dengan berbagai macam makanan khas, seperti  ketika Rasul dan para sahabat menjamu dan memuliakan tamu mereka. Aku mengucapkan terima kasih ketika beliau hendak meninggalkan kamar Yusuf. Malam itu tidak seperti biasanya tanpa suara gemuruh dan rentetan tembakan sehingga kami tak perlu cemas untuk kesekian kalinya atau merasa takut kalau saja tiba-tiba Israel kembali menyerang pemukiman warga. Kebetulan sekali ada tugas sekolah yang tidak kupahami dan aku berniat belajar pada Yusuf. Satu  kelebihan lagi yang ia miliki selain mahir bermain sepakbola: kecerdasan otak dalam hal pelajaran!

Kamar Yusuf yang dipenuhi berbagai macam poster pemain dan tim sepakbola melebihi banyaknya gambar pejuang Palestina di kamarku sendiri  menandakan betapa tergila-gilanya ia pada olahraga satu  ini. Sepasang sepatu bola beserta bola kaki yang bertemakan Piala Dunia 2006 Jerman tergantung di sudut kamar.

”Tidakkah kau mendengar berita gembira, Yusuf? Minggu depan sekolah kita akan kedatangan salah satu pemain sepakbola dunia! Aku mendengarnya langsung dari ustadz Hanif. Bahkan akan dipilih pemuda-pemuda Palestina berbakat yang nantinya dilatih di Eropa! ” aku memulai pembicaraan yang mulai keluar dari jalur pembahasanku semula. Yusuf sumringah, menatapku tak percaya. Matanya terbelalak saking terkejutnya.

”Benarkah?”

Aku mengangguk. ”Kalau masih belum percaya, coba kau tanyakan ustadz Hanif.”

Aku bisa membayangkan bagaimana senangnya Yusuf mendengar berita gembira tersebut. Ibarat kata tinggal selangkah  lagi Yusuf akan mampu meraih impiannya. Siapa lagi pemuda palestina di sekolah kami yang memiliki skill yang tinggi dalam hal mengkontrol, menggiring bola serta tendangan bebas yang keras dan tepat sasaran. Kelincahan kakinya kerap mengecoh lawan main dan kepiawaiannya mencetak gol dalam setiap pertandingan sudah tidak diragukan lagi.

Kabar yang kudengar rombongan yang datang ke Palestina adalah salah satu badan PBB atas nama misi kemanusiaan dengan menggandeng salah satu sekolah sepakbola terkenal di Perancis. Aku berharap tidak ada maksud apa-apa dibalik kedatangan mereka selain ingin mengembangkan potensi yang dimiliki sebagian remaja Palestina yang terkungkung dalam penjajahan dan penindasan. Karena selama ini kami hanya melihat dunia kami sendiri, yang diwarnai oleh darah dan air mata. Kami menginginkan kehidupan yang tenang, jauh dari peperangan dan pertempuran. Tapi aku sendiri menyangsikan hal itu dapat terwujud selama Israel dan tentaranya masih bercokol di bumi ini.

”Syukron Ahmad sudah memberitahu kabar baik ini. Ummi pasti bangga kalau aku berhasil kelak, terlebih Abi...” matanya berkaca-kaca, teringat sang ayah yang ditawan tentara Israel beberapa tahun lalu, hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Malam itu kembali melarutkan kepedihan yang mendalam bagiku dan Yusuf. Keceriaan yang kami rasakan hanya sesaat, selebihnya duka yang menyelimuti. Kehilangan teman dan  keluarga adala kenyataan pahit yang kami hadapi sejak dulu. Namun itu tidak menjadikan kami pasrah dengan keadaan terusir dari negeri sendiri, karena kami menjadikan Islam sebagai prinsip, sedangkan jihad adalah landasan kami dalam berjuang.

Setelah seminggu lebih kabar yang beredar itu akhirnya menjadi kenyataan. Rombongan mobil berbendera PBB memasuki halaman sekolahku, tentunya tetap dengan pengawalan ketat dari tentara Israel yang berdalih demi keamanan. Seseorang dengan wajah familiar terlihat keluar dari dalam mobil, mengenakan jas serta kacamata hitam, tinggi besar dan gagah seperti halnya yang kulihat di televisi. Kami semua menghambur keluar kelas meski masih dalam jam belajar.

”Itu...Zinedine Zidane!” seru Yusuf histeris melihat idolanya. Dia merupakan salah satu pemain favoritku juga, karena selain hebat dia juga seorang muslim seperti halnya kami.  Pemain besar berdarah Aljazair itu menyita perhatian puluhan orang, termasuk siswa dan guru. Namun terlihat juga raut wajah tidak senang dari orang-orang yang menganggap kedatangan mereka hanya kedok untuk menjauhkan pemuda palestina dari negerinya, serta melupakan permusuhan dengan kaum zionis.

Kemudian dimulailah proses penyambutan itu dengan segera. Kami bersalaman dengan Zinedine Zidane dan delegasi PBB yang hadir. Sementara itu tentara israel yang berjaga di sekitar kompleks sekolah memandang waspada dengan wajah angkuhnya, seolah-olah  ingin memisahkan keceriaan dan kebahagiaan dari dunia kami. Ingin rasanya aku melempar bongkahan batu ke arah mereka seperti yang selama ini aku lakukan.

Berikutnya ada satu sesi acara yang mengharuskan aku dan pemuda-pemuda lain untuk menunjukkan kebolehannya dalam hal bermain bola. Ada penilaian skill individu serta kerjasama tim, dimana Zinedine Zidane lah yang menjadi jurinya. Aku memandang Yusuf. Dia tampak begitu percaya diri ketika menunjukkan kemampuannya. Sementara mataku pun kadang-kadang beralih ke arah sang maestro sepakbola yang mengamati dengan mimik muka serius, sesekali ia menggelengkan kepala, berdecak kagum atau menyunggingkan senyum.

Tepuk tangan membahana ketika Yusuf berhasil memukau semua delegasi yang hadir, bahkan Zinedine Zidane tampak bersemangat seolah menyaksikan sebuah pertunjukkan spektakuler. Aku tersenyum menyambut Yusuf.

”Aksimu sungguh hebat, Yusuf. Aku yakin kau akan terpilih nantinya” sebagai sahabat tentunya aku pun turut senang. Yusuf tertawa.

”Kau ini begitu yakin...padahal kan belum tentu” tandasnya. Rasa rendah hati tetap ada pada dirinya. Itulah yang semakin menegaskan kepribadian seorang bintang yang ia miliki.

Tak perlu menunggu lama hingga rombongan telah berhasil menemukan calon sang bintang sepakbola Palestina masa depan. Yusuf. Ia berhasil menyisihkan puluhan remaja lain yang memiliki impian  sama. Sementara aku yang sama sekali tak berharap terpilih diam-diam menyusutkan air mata, bahagia sekaligus sedih.Tiba-tiba  aku membayangkan perpisahan yang cukup lama dengan salah satu sahabat terbaikku. Berat memang. Ya Allah... jadikan ini adalah yang terbaik baginya.

***

”Seberapa lama kita akan berpisah Yusuf?”

”Entahlah, Ahmad...aku pun tidak begitu tau pastinya. Tapi percayalah aku tidak akan pernah sedetik pun melupakan Al-Quds seperti yang dulu kau tanyakan. Aku lahir dan besar disini, Palestina adalah tanah airku. Banyak kenangan tersimpan dan membekas di memoriku” yakin Yusuf sambil menunjuk keningnya. Aku menarik nafas. Semoga, pikirku. Bukan aku meragukan ucapannya, tapi aku takut berada di negeri sekuler menjadikan Yusuf  seperti mereka, orang-orang yang berpikir dan berbuat bebas karena memisahkan agama dari aspek kehidupan.

”Ya Yusuf...aku percaya. Mungkin ketakutanku yang berlebihan akan kehilangan yang membuatku tak mampu berpikir jernih menghadapi perpisahan ini.”

Pagi yang cerah dan berawan. Angin gurun membawa hawa panas di sekitar kami yang tengah duduk di teras bangunan yang berfungsi sebagai sekolah darurat di pengungsian. Perang menghancurkan ribuan bangunan sekolah tempat anak-anak Palestina menuntut ilmu. Hari ini kami diliburkan karena memang dikhususkan untuk menantikan keberangkatan Yusuf beserta rombongan PBB yang melaksanakan misi kemanusiaannya selama satu minggu di Palestina. Kami duduk bersama teman-teman lain, bercanda sembari menunggu datangnya mobil rombongan PBB tersebut.

“Yusuf, kau harus ingat dengan kami jika kelak kau terkenal nanti. Jangan sampai kau tertarik dengan wanita Eropa, karena mereka itu tak ada yang perawan” ucap Yasser disambut dengan gelak tawa yang lain.

“Ya...kalau mencari jodoh cukuplah dengan wanita palestina saja, tentu banyak yang cantik dan shalehah” timpal Sayed sambil melirik ke arah  Fatimah. Fatimah terlihat tersipu. Aku pun tersenyum simpul mengingat ungkapan  ketertarikannya pada sosok Yusuf  yang ia utarakan padaku dua tahun lalu. Belum menjadi pemain sepakbola terkenal pun Yusuf sudah menjadi idola disini.

Tiba-tiba terdengar dentuman meriam, terasa dekat dengan tempat kami berada. Tanah pun  bergetar, membuat kami terkejut. Beberapa anak perempuan memekik. Kemudian suasana riang yang tercipta berganti kegaduhan dan kecemasan yang mencekam.

Aku dan Yusuf saling berpandangan. “Serangan militer Israel!”

Detik berikutnya kepulan asap hitam terlihat dari langit kota Gaza. Kami hanya berlarian tak beraturan di sekitar kompleks sekolah. Sementara itu suara gemuruh kembali terdengar, kali ini terasa lebih dekat. Ternyata dua buah  tank berlapis baja berjalan perlahan memasuki kompleks sekolah, satu orang serdadu Israel berdiri diatas kendaraan tempur tersebut, sambil mengarahkan senjatanya ke arah kami.

“Kalian pasti menyembunyikan seorang teroris disini. Cepat! Kalian harus segera menyerahkannya pada kami. Kalau tidak, kami tidak akan segan meluluhlantakkan tempat ini!” ancam salah satu serdadu Israel yang tampak seperti komandan pasukan tersebut.

”Apa kalian gila! Tidak ada pejuang palestina di sini! Yang ada hanya anak-anak dan para guru!” Ustadz Hanif berteriak keras. Mata pria paruh baya itu menyala menahan amarah.

Aku memberi isyarat dengan tanganku kepada teman-teman seperti yang biasa kami lakukan ketika menghadapi pasukan zionis tersebut.

”Yusuf, kau disini saja. Kami tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Tunggulah di tempat aman sampai rombongan PBB itu menjemputmu. Oh iya, ibumu juga berpesan agar kau menunggunya karena ibumu sekarang masih menyiapkan bekalmu di perjalanan.”

Yusuf seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi aku dan teman-teman yang lain segera berlalu dan berpencar, mencari bongkahan-bongkahan batu di sekitar kami sebagai senjata andalan saat situasi perang seperti ini. Masing-masing kami bersembunyi di balik tumpukan drum, mobil dan dindin-dinding bangunan.

Aku melempar batu di tanganku ke arah salah satu pasukan Israel yang mencoba menerobos masuk ke gedung sekolah. Lemparanku tepat sasaran! Kening serdadu tersebut luka, meneteskan darah segar di wajahnya. Ia mengumpat kasar, sambil melepaskan tembakannya ke arahku.

Ups! Beruntung  gerakanku lebih gesit sehingga terhindar dari peluru yang mampu merobek jantungku. Nyaris saja nyawaku melayang.

Aku berlari cepat masuk ke salah satu ruangan kelas, menghindari kontak langsung dengan manusia-manusia tak berperikemanusiaan tersebut. Sekolah tampak sepi karena beberapa guru telah menggiring murid-murid yang lain untuk berlindung di tempat yang aman. Gelora jihadku kembali berkobar membakar semangatku untuk melempar batu sebanyak-banyaknya. Karena sesungguhnya tentara-tentara Israel tersebut takut akan kematian yang disebarkan oleh pejuang-pejuang Palestina berhati singa.

”Ahmad! Aku tidak akan membiarkan kalian berjuang tanpa aku!” satu suara yang kukenal terdengar mendekat. Aku berbalik dan menemukan sosok Yusuf tiba-tiba muncul dan tersenyum ke arahku.

”Kenapa kau tidak menunggu mereka datang saja?” tanyaku heran. Aku menatapnya lekat. Namun yang kulihat di manik matanya ada api yang menyala, semangat yang sama-sama kami miliki seperti remaja Palestina lain. Semangat jihad!

”Baru saja aku dapat kabar bahwa sekitar tiga jam lagi mereka baru datang kesini, karena seperti biasa, mereka pun tak mampu menembus barikade yang Israel bangun di perbatasan Jalur Gaza. Masih ada waktu merasakan sengitnya pertempuran ini.”

Suaranya tak begitu terdengar jelas karena tiba-tiba saja bangunan sekolah bergetar. Tank-tank itu merangsek maju hendak menghancurkan gedung sekolah! Kami mengintip di balik tembok. Ustadz Hanif yang tampak berusaha menghalang-halangi pasukan Israel masuk lebih jauh ke dalam gedung dikeroyok lebih dari empat tentara Israel! Mereka tega memukuli pria itu berkali-kali, menendang tubuhnya, serta menghantamkan popor senapan laras panjangnya ke wajah ustadz Hanif. Meski tubuh itu sudah tak berdaya lagi, tetap saja manusia berhati serigala tersebut menghujamkan pukulan bertubi-bertubi.

Amarahku menggelegak hebat! Benar-benar keji! Aku hendak bersiap menghadapi mereka langsung, namun terlambat. Yusuf telah mendahuluiku, ia dengan gagah beraninya melemparkan batu ditangannya tepat mengenai mata salah satu serdadu tersebut.

Selanjutnya serdadu itu menjadi gelap mata, menghujamkan berpuluh-puluh tembakan ke segala arah, mengenai dinding sekolah, memecahkan kaca-kaca jendela hingga menjadi serpihan-serpihan. Detik berikutnya terjadi begitu cepat. Yusuf menyadari kehadiran ibunya yang datang dengan wajah cemas, menerobos masuk melewati pagar manusia yang dibentuk pasukan Israel tersebut. Namun salah seorang serdadu tiba-tiba mengangkat ujung senapannya, bersiap menghantamkannya ke wajah Ummu Wafa.

“Ummiiii...” serunya keras, sambil berusaha menghampiri sang Ibu. Namun terlambat, serdadu yang murka akibat lemparan batu Yusuf tadi tidak akan membiarkannya hidup. Ia menembakkan senapannya, melesatkan peluru yang  dengan cepat menembus dada Yusuf, diiringi teriakan ummu Wafa dan juga teriakanku sendiri.

***

Arak-arakan berjumlah ratusan orang memenuhi jalanan sepanjang Jalur Gaza menuju tempat pemakaman. Sebuah peti jenazah di usung beberapa orang pria, menuju tempat persemayaman terakhirnya. Seorang wanita paruh baya, mendekap foto seorang pemuda berwajah tampan, sambil terus-menerus mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Wanita itu meski dirundung kesedihan yang mendalam, namun tetap berusaha tegar menghadapi kenyataan. Sementara itu orang –orang yang mengikuti arak-arakan  meneriakkan yel-yel anti Israel, menggema ke segenap penjuru kota Gaza.

Aku bersama teman-teman yang lain  pun turut berada dalam arak-arakan tersebut, tepat di belakang usungan peti jenazah. Salah satu sahabat terbaikku kini menjemput pahala syahidnya, bahkan mendahuluiku sendiri yang begitu menggebu-gebunya untuk bisa seperti pejuang-pejuang Palestina yang gambarnya terpampang di kamarku . Yusuf bahkan tak mampu mencapai impiannya menjadi pemain sepakbola terkenal seperti yang selama ini ia idam-idamkan. Namun aku yakin, bahwasanya di hati Yusuf dan pemuda-pemuda Palestina lainnya,  syahid merupakan impian utama.






Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...