Inilah Peristiwa Terbunuhnya Cucu Rasulullah di Karbala pada 10 Muharram

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, petang hari nanti insya Allah kita akan memasuki tanggal 10 Muharram. Waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah Asyura yang akan menghapus dosa setahun yang lalu. Bulan Muharram adalah bulan yang agung dan banyak sekali keutamaannya. Selain waktu dianjurkan melaksanakan puasa Asyura, tanggal 10 Muharram adalah tanggal wafatnya cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat pada hari Jum'at, 10 Muharram 61 H di padang Karbala. 

Bagaimana kisah lengkapnya? Simak ulasan Nida berikut ini.

Pada awal tahun 60 H, Yazid bin Muawiyah yang berusia 34 tahun dibaiat menjadi khalifah umat Islam menggantikan ayahnya, Muawiyah bin Abi Sufyan.

Saat Yazid dibaiat, ada dua orang sahabat Nabi yang enggan membaiatnya, mereka adalah Abdullah bin Zubeir dan Husein bin Ali bin Abi Thalib. 

Abdullah bin Zubeir pun dipinta untuk berbaiat dan ia mengatakan, “Tunggulah sampai malam ini, akan aku sampaikan apa yang ada di benakku.” Saat malam tiba, maka Abdullah bin Zubeir pergi dari Madinah menuju Mekah. 

Demikian juga Husein, ketika beliau dipinta untuk berbaiat, beliau mengatakan, “Aku tidak akan berbaiat secara sembunyi-sembunyi, tapi aku menginginkan agar banyak orang melihat baiatku.” Saat malam menjelang, beliau juga berangkat ke Mekah menyusul Abdullah bin Zubeir.

Ternyata, kabar enggan berbaiatnya Husein dan perginya beliau ke kota Mekah sampai ke telinga penduduk Irak, tepatnya penduduk Kufah. Penduduk Kufah tersebut tidak menginginkan Yazid menjadi khalifah bahkan juga Muawiyah, karena mereka adalah pendukung Ali dan anak keturunannya. 

Lalu penduduk Kufah pun mengirimi Husein surat yang berisi, “Kami belum berbaiat kepada Yazid dan tidak akan berbaiat kepadanya, kami hanya akan membaiat Anda (sebagai khalifah).” 

Semakin hari, surat tersebut pun semakin banyak sampai ke tangan Husein, jumlahnya mencapai 500 surat.

Tidak terburu-buru menanggapi isu ini, Husein mengutus sepupunya Muslim bin Aqil bin Abi Thalib menuju Kufah untuk meneliti dahulu kebenaran berita tersebut. 

Saat Muslim bin Aqil tiba di Kufah, ia melihat kebenaran berita yang sampai kepada Husein tersebut. Penduduk Kufah pun membaiat Husein melalui Muslim bin Aqil.

Kabar dibaiatnya Husein melalui Muslim bin Aqil sampai ke Syam, tempat Khalifah Yazid bin Muawiyah. Ia segera mencopot gubernur Kufah, Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu karena Nu’man tidak mengambil tindakan apa pun atas kejadian itu. Sebagai penggantinya, diangkatlah Ubaidullah bin Ziyad menjadi amir Kufah.

Ubaidullah langsung bergerak cepat hendak mengupayakan penangkapan Muslim bin Aqil. Langkah pertama yang dilakukan Ubaidullah adalah menginterogasi sahabat-sahabat dekat Muslim. Ia menangkap Hani’ bin Urwah, kemudian menanyai keberadaan Muslim kepadanya. Hani’ bin Urwah bersikukuh tidak akan membocorkan rahasia persembunyian Muslim, akhirnya ia ditahan.

Penahanan Hani’ bin Urwah memancing reaksi dari Muslim bin Aqil, ia mengerahkan 4000 orang pasukan untuk mengepung benteng Ubaidullah bin Ziyad dan menekannya agar membebaskan Hani’.

Sayang, kisah pengkhianatan penduduk Kufah ternyata berulang, mereka yang sebelumnya membaiat Muslim bin Aqil pergi meninggalkannya. Di siang hari saja jumlah 4000 tersebut menyusut hanya menjadi 30 orang dan ketika matahari terbenam tinggallah Muslim bin Aqil seorang diri. Akhirnya ia pun terbunuh. Sebelum wafat, ia memberi pesan kepada Umar bin Sa’ad untuk menyampaikannya kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib, “Pulanglah bersama keluargamu. Jangan engkau terpedaya oleh penduduk Kufah. Karena mereka telah berhianat kepadamu dan kepadaku.”

Saat hendak berangkat menuju Kufah, Husein bertemu dan dinasihati oleh beberapa sahabat Nabi agar tidak menuju Kufah. 

Beberapa sahabat yang menasihati Husein, Abdullah bin Abbas berkata, “Kalau sekiranya orang-orang tidak mencela aku dan engkau, akan aku ikat tanganku ini di kepalamu. Tidak akan kubiarkan engkau pergi.”

Abdullah bin Umar, setelah mendengar keberangkatan Husein menuju Kufah, ia bergegas menyusulnya dan berhasil bertemu dengannya setelah perjalanan 3 malam.

Abdullah bin Umar bertanya, "Hendak kemana engkau?"

Husein menjawab, "Menuju Irak."

Husein pun mengeluarkan surat-surat penduduk Irak yang menunjukkan mereka berpihak kepada dirinya. Husein mengatakan, “Ini surat-surat mereka, aku akan kesana dan menerima baiat mereka.”

Abdullah bin Umar berkata, "Aku akan sampaikan kepadamu sebuah hadits. 'Sesungguhnya Jibril pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memberi pilihan kepada Nabi antara dunia dan akhirat, beliau pun memilih akhirat dan tidak menginginkan dunia.' Engkau adalah darah daging Rasulullah, demi Allah! Janganlah salah seorang dari kalian (keluarga Nabi) mengambil dunia tersebut atau menggapai bagian yang telah Allah jauhkan dari kalian."

Husein pun tetap pada pendiriannya berangkat menuju Kufah. Melihat pendirian Husein, menangislah Abdullah bin Umar dan mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah dari pembunuhan.”

Abdullah bin Zubeir mengatakan, “Hendak kemana engkau wahai Husein? Engkau mau menemui orang-orang yang telah membunuh ayahmu dan menghina saudaramu (Hasan bin Ali)? Janganlah pergi! Namun Husein pun tetap berangkat.

Abu Said al-Khudri mengatakan, “Wahai Abu Abdullah (maksudnya Husein pen.), aku ada sebuah nasihat untukmu dan aku adalah orang yang sangat mencintaimu. Aku mendengar berita bahwa Syiah (pendukung)mu di Kufah menulis pernyataan kepadamu, mereka mengajakmu keluar dari Mekah dan bergabung dengan mereka di Kufah. Janganlah engkau menemui mereka! Sesungguhnya aku mendengar ayahmu sewaktu di Kufah mengatakan, ‘Demi Allah, aku telah membuat mereka (penduduk Kufah) bosan dan marah dan mereka pun membuatku bosan juga membuatku marah. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang memenuhi janji.'

Saat Husein melanjutkan perjalanan, sampailah Umar bin Sa’ad utusan dari Muslim bin Aqil. Amir mengabarkan tentang terbunuhnya Muslim bin ‘Aqil dan pengkhianatan orang-orang Kufah. Mendengar berita tersebut Husein pun sadar apa yang ia lakukan akan sia-sia, ia pun memutuskan untuk pulang. Namun, anak-anak Muslim bin Aqil menginginkan perjalanan dilanjutkan untuk menuntut hukuman atas tewasnya ayah mereka.

Mengetahui Husein bin Ali radhyiallahu ‘anhu berangkat menuju Kufah, Ubaidullah bin Ziyad berencana mencegatnya agar tidak memasuki Kufah dengan mengirim 1000 pasukan yang dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi kemudian ditambah 4000 pasukan dibawah kepemimpinan Umar bin Sa’ad.

 

Baca juga: Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan di Bulan Muharram

 

Saat tiba di Karbala, Husein bertanya tentang nama daerah tersebut, “Daerah apa ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Husein pun langsung mengatakan, “Karbun (bencana) dan bala’ (musibah).”

Dibayang-bayangi 5000 pasukan membuat Husein semakin menyadari bahwa janji-janji penduduk Kufah itu hanyalah bualan semata. Apalagi pasukan-pasukan itu sendiri adalah penduduk Kufah yang telah mengiriminya surat. 

Lalu Husein mengajukan tiga alternatif kepada pasukan Kufah sebagai jalan keluar; pertama, Husein meminta agar pasukan Kufah mengawalnya pulang ke Mekah (agar ia dan keluarganya terjaga) atau yang kedua, pasukan Kufah mengizinkannya untuk pergi ke daerah perbatasan agar ia bergabung dengan pasukan kaum muslimin untuk berjihad atau alternatif ketiga, mereka mengizinkannya menuju Yazid agar ia membaiatnya secara langsung.

Umar bin Sa’ad pun menanggapi positif pilihan yang diajukan Husein, ia mengusulkan agar Husein mengirimkan utusan ke Yazid terlebih dahulu dan ia sendiri mengirimkan utusan ke Ubaidullah untuk memberitakan kabar ini sekaligus alternatif yang diajukan Husein.

Setibanya utusan Umar bin Sa’ad di hadapan Ubaidullah dan menyampaikan apa yang dikehendaki Husein, Ubaidullah pun bergembira dan memberi kemuliaan kepada Husein agar ia sendiri yang memilih sesuai dengan yang ia kehendaki; kembali ke Mekah atau Madinah, menuju daerah perbatasan, atau menuju Yazid di Syam, ia serahkan kepada pilihan Husein. 

Namun, seseorang yang dekat dengan Ubaidullah yang bernama Syamr bin Dzi al-Jasyan angkat bicara atas keputusan Ubaidullah, “Demi Allah, urusannya tidak demikian, dia yang harus tunduk kepada putusanmu.” Maksud Syamr engkau (Ubaidullah) adalah pemimpin bukan dia (Husein), jadi dia yang harus tunduk kepada putusanmu bukan sebaliknya. 

Ternyata Ubaidullah yang tadinya memuliakan Husein berpaling mengikuti saran dari sahabat dekatnya, Syamr bin Dzi al-Jausyan. Ubaidullah memutuskan menawan Husein dan dibawa ke hadapannya di Kufah sebagai tawanan kemudian ia yang menentukan kemana Husein seharusnya diasingkan.

Setelah sampai perintah Ubaidullah di tanah Karbala, Husein pun menolak kalau dirinya dijadikan tawanan, ia seorang muslim terlebih ia adalah keluarga Rasulullah. Karena Husein menolak untuk ditawan, maka pasukan Ubaidullah itu berusaha menangkap paksa dirinya, 

Husein mengatakan, “Kalian renungi dulu apa yang hendak kalian lakukan. Apakah dibenarkan (secara syariat), kalian memerangi orang sepertiku? Aku anak dari putri Nabi kalian dan tidak ada lagi di bumi ini anak dari putri Nabi kalian selain diriku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang aku dan saudaraku (Hasan bin Ali), ‘Dua orang ini adalah pemimpin para pemuda penghuni surga.’ 

Akhirnya Husein pun terbunuh bersama keluarga Rasulullah yang lain. Orang yang secara langsung membunuh Husein dan memenggal kepalanya bernama Sinan bin Anas.

Dalam riwayat ath Thabrani rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu, "Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husein radhiyallahu 'anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan, "Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu."

Begitu pula yang disampaikan lewat jalur Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, "Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya, "Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencium tempat di mana engkau menaruh pedangmu itu." Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya."

Setelah Husein radhiyallahu 'anhu terbunuh, kepala beliau dipenggal dan diletakkan dalam bejana. Mata, hidung, dan gigi beliau ditusuk-tusuk dengan pedang.

Para sahabat radhiyallahu 'anhum yang menyaksikan hal ini meminta kepada Ubaidullah orang durhaka ini, agar menyingkirkan pedang miliknya. 

Demikianlah mereka yang mengaku Syiah (pendukung) Ali dan keluarganya, mereka membelot dan menumpahkan darah ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Dalam peristiwa ini, ada tiga orang yang berperan besar sehingga cucu Nabi yang mulia tewas. Mereka adalah Ubaidullah bin Ziyad, Syamr bin Dzi al-Jauzyan, dan Sinan bin Anas, ketiga orang ini adalah Syiah (pendukung) Ali di Perang Shiffin, mereka termasuk dalam barisan pasukan Ali bin Abi Thalib. Bisa jadi mereka yang meratapi kematian Husein di hari Asyura, menganiaya diri mereka, berandai-andai bersama Husein, dan merasakan penderitaannya, seandainya mereka berada di hari tersebut. Mereka akan turut serta dalam pasukan Kufah dan membelot dari Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma. (Huqbah min at-Tarikh, Syaikh Utsman al Khomis) 

Yazid rahimahullah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu, karena Mu’awiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, saat mendengar kabar bahwa Husein dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat Ubaidullah. Hanya saja dia tidak menghukum dan mengqisas Ubaidullah, sebagai wujud pembelaan terhadap Husein secara tegas. (Manhajus Sunnah V/557-558)

Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib menyaksikan langsung bagaimana ayahnya, Husein bin Ali tewas di tanah Karbala.

Ketika memasuki Kufah setelah ayahnya tewas, Ali mengatakan, “Wahai orang-orang Kufah, aku bersumpah kepada Allah, sadarkah kalian bahwa kalian telah menulis surat (janji berbaiat pen.) kepada ayahku namun kalian menipunya?! Kalian memberinya janji dan baiat, tapi kalian sendiri membunuhnya?! Celakalah kalian! Apa yang akan kalian perbuat dan apa yang ada di benak kalian ketika kalian dipertemukan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?! Ketika beliau mengatakan, ‘Kalian bunuh darah dagingku! Kalian nodai kehormatanku! Kalian bukanlah umatku!’ (al-Ihtijaj oleh ath-Thabrasi, Hal. 32)

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tidak disangsikan lagi bahwa Husein Radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husein Radhiyallahu ‘anhuma merupakan tindakan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. 

Di sisi lain, merupakan musibah yang menimpa kaum muslimin, keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Husein Radhiyallahu ‘anhuma berhak mendapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan”. (Minhajus Sunnah IV/550)

Kemudian, di halaman yang sama, Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husein Radhiyallahu ‘anhuma tidak lebih besar daripada pembunuhan terhadap para rasul. 

Allah Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa bani Israil telah membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Pembunuhan terhadap para nabi itu lebih besar dosanya dan merupakan musibah yang lebih dahsyat. Begitu pula pembunuhan terhadap ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu (bapak Husein Radhiyallahu ‘anhuma) lebih besar dosa dan musibahnya, termasuk pembunuhan terhadap ‘Utsman juga Radhiyallahu ‘anhu.

Allahu a'lam.

  

Referensi: konsultasisyariah[dot]com, almanhaj[dot]or[dot]id

Foto ilustrasi: google

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...