Istighfar Cinta

Penulis: Ummy Kultsum



Oh Allah.. Inikah cinta? Ah, Astaghfirullahal’adziim!

Bagiku, dia sempurna. Atau, sesungguhnya itu hanya perasaanku saja? Barangkali iya, tepatnya hasil propaganda si penggoda iman. Rabb, ampunilah hamba.

Benar sekali Rasul mengibaratkan setan bagai seekor serigala. Bahwa, serigala hanya memangsa domba yang keluar dari kerumunannya. Aku merasa, saat ini aku adalah domba yang keluar dari kerumunannya itu.

Namanya Hakim. Muhammad Hakim. Akhlaknya terpuji dan bijaksana. Begitu aku menafsirkan sendiri namanya. Bukan, bukan karena ia sering mengirimkan kalimat-kalimat bijak atau pun tausiah ke inbox facebook-ku.

Banyak ikhwan yang panjang lebar mengirim tausiah padaku, tapi tidak aku tanggapi. Jangankan membalas sekadar ucapan
jazakallah khair, membacanya saja kadang aku malas. Bukan apa-apa, selain tidak suka membaca barang plagiat hasil cop-past, aku memang tak terbiasa menanggapi pesan dari seorang ikhwan. Tentu, kecuali ikhwan yang satu ini. Dia bahkan mampu membuatku memanggilnya ‘Kak’.

Ya Allah, begitu lancangnya aku. Bahkan murabbiahku langsung meng-cut khitbah-an seorang ikhwan yang belum jadi apa-apanya saja sudah berani memanggilnya ‘Dik’.

Aku? Dia siapaku? Mengkhitbahku saja tidak. Lancang sekali aku, Rabbi..

***

Di tengah kepungan masalah dan kegundahan hati, aku mencoba menghibur diri dengan menuliskan kisahku, untuk dikirimkan ke majalah remaja islam online yang aku ketahui. Sering membaca majalah tersebut, membuatku tertarik untuk berpartisipasi meramaikannya. Apalagi amanah dakwah di kampus tak banyak yang cocok denganku, aku selalu ingin kabur dari amanah-amanah itu. Barangkali manulis adalah jalan dakwah lain yang sesuai kemampuanku?

Aku tuliskan suka-dukaku di sebuah kisah yang sudah kufiksikan. Dan, ajaib! Dua cerpenku dimuat berturut-turut. Mungkin inilah passion-ku? Aku makin semangat menulis. Tak hanya cerpen, aku juga menulis puisi. Memang kuakui ini membuat jarakku dengan teman-teman akhwatku semakin renggang karena semakin jarang bertegur sapa.

Dua cerpen saja sudah membuat teman-teman akhwatku --yang tahu, dan murabbiahku mengapresiasi. Serta.. membuat seseorang bernama Hakim itu mengenalku.

“Alyas?”

“Kidung Rindu-mu lumayan juga”

“Hehehe”

Tiga pesan sekaligus! Tuhan? Dia tahu judul cerpenku yang belum dimuat? Siapa gerangan? Secepat kilat aku mencari tahu tentangnya. Aku membuka profil-nya --pekerjaan yang sebelumnya sangat malas aku lakukan, apalagi pada yang lain jenis.

Tepat! Ada nama majalah itu di kolom ‘Bekerja di’. Oh Kawan, dia seorang redaktur pelaksana! Betapa bahagianya aku bisa kenal dengannya. Ini kesempatanku untuk lebih dekat dengan dunia menulis, bukan?

Aku merasa aman-aman saja untuk membuka diri, karena aku tidak meragukan kredibilitas keislaman majalah ini. Apalagi orang-orang di dalamnya? Aku yakin dia pasti orang baik-baik. Dan aku selalu suka orang-orang yang berkecimpung di dunia tulis-menulis. Meski memang aku baru-baru ini saja belajar menulis.

Percakapan kami berlanjut. Begitu hangat, begitu akrab. Bahasa yang dipakainya tidak kaku. Cair. Aku mudah sekali akrab dengan orang-orang seperti ini. Dan.. hei, tahukah engkau, Kawan? Ini kelebihannya, yang teman-teman akhwatku saja banyak yang tak memilikinya. Adalah.. dia tahu apa yang sedang aku rasakan! Indah sekali menjadi perempuan yang dimengerti. Semacam klien bertemu seorang konselor, aku curhat kesana-kemari. Oh, Kawan.. dia begitu mengerti maksudku setiap kali aku mengutarakan curahan hatiku padanya.

Perlahan tapi pasti, pikiranku mulai dirasuki pernyataan dan pertanyaan yang ‘tidak-tidak’ tentangnya. Apalagi saat ia memberitahu buku pertamanya sudah terbit. Tuhan, berlebihankah aku jika menempatkan ia sebagai jawaban salah satu doaku –di suatu saat yang lalu, “Allah.. kirimkanlah padaku malaikat-Mu yang bisa mengajariku menulis..”

Kawan, apa yang engkau lakukan jika rasa itu datang? Adakah hatimu juga bertanya-tanya, apakah dia sesungguhnya juga merasakan apa yang kurasakan?

Klung! Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunanku.

“Eh, Alyas, besok Kakak mau ke Solo, nengok sodara.”

“Insya Allah mau mampir Jogja.”

“Semoga nanti bisa silaturahim sama teman-teman penulis & FLP  Jogja, ya..”

“Aamiin”

Satu, dua, tiga, empat! Empat pesan sekaligus. Tahu saja kalau aku suka kalau dapat pesan banyak. Hatiku ketar-ketir! Jogja? Bertemu aku?

Deg! Sadar, Alyas, sadar! Lihat, itu ada FLP (Forum Lingkar Pena)-nya, bukan kamu seorang. Nggak usah ge-er! Proporsional saja, jangan berlebihan. Nanti kalau bertemu dia, biasa saja! Keep calm, anggap saja engkau tidak pernah ada rasa apapun padanya. Jaga maruah seorang akhwat!

Iya, iya.. Baiklah.

***

Ada rasa takut, tepatnya takut ketahuan, ketika Azka, teman akhwatku secara tidak sengaja mengetahui percakapanku dengannya.

“Ehem! Alyas? Kak Hakim itu siapa, ya?” mukaku memerah. Tiba-tiba mulutku lupa bagaimana berkata-kata. Aku gugup.

“Ah.. Oh.. e..” hanya itu yang bisa kulafalkan.

“Hayooo? Kok gugup gitu? Ada yang lagi kena VMJ, nih.. Hehe..” dia menggodaku.

“He..” sial. Hanya itu yang bisa kulakukan. Senyum yang dungu. Dungu sekali.

***

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bertemu dengan orang yang ada di balik layar majalah remaja islam terbesar di Indonesia itu. Pribadinya santun. Low profil. Penampilannya sederhana. Kawan, aku selalu jatuh cinta pada kepribadian orang-orang seperti ini. Tapi, jujur, saat ini aku tidak bisa membedakan apakah aku sedang jatuh cinta pada kepribadiannya atau.. orangnya?

Aku mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Meski menunduk dan memandangnya --seperlunya, aku mencermati setiap kalimatnya. Kawan, dengarlah ini..

“...Kalau di kantor, saya paling ganteng. Soalnya cowok sendirian, sih. Hehe. Yang lainnya akhwat. Tapi, kalau kerja, ya, kerja aja gitu...”

Alyas? Engkau dengar? Dia ingin engkau tahu, bahwa ia orang baik-baik. “Kerja, ya, kerja aja..” jangan-jangan lagi iklan? Iyakah?

Tapi, bukankah itu kalimat yang wajar? Rasul juga pernah bersegera memberitahu sahabat yang melihat beliau sedang berjalan dengan seorang perempuan, bahwa perempuan itu masih muhrimnya, agar tidak ada fitnah menyebar. Apa masalahnya? Tidak ada, kan?. Okey, keep calm, Alyas! Ingat, jaga maruah. Dia saja biasa-biasa saja, tuh, jeprat-jepret dengan DSLR-nya…

Batinku berdebat riuh sekali.

***


Di otakku terngiang-ngiang kata murabbiahku saat halaqah siang tadi.

“Hubungan seseorang dikatakan tidak sehat apabila dia merasa tidak nyaman ketika dilihat oleh orang lain/umum.”[1]

Jika engkau mencari file-nya di otakku, aku pastikan, engkau tak akan menemukannya di bagian Limbik, apalagi Reptil. Dua bagian itu dilewati dengan cepat sekali olehnya. Langsung menuju bagian lainnya. Ya, apalagi kalau bukan Korteks?

Korteks-ku sibuk menganalisis kata per kata dalam kalimat tadi. Aku paham betul itu sari dari sebuah hadits, “Dosa itu adalah sesuatu yang meresahkan dirimu. Dan engkau tidak senang bila diketahui orang lain.”[2] Apa kalimat ini untukku? Tapi bukankah aku tak pernah curhat pada murabbiahku?

Hei! Bukankah ada Azka? Dia kan sahabat dunia akhiratmu. Tidak mungkin ia mendiamkanmu dalam kungkungan dosa, bukan? Pasti dia punya cara terbaik buat mengingatkanmu. Siapa lagi kalau bukan lewat murabbiahmu?

Lain Korteks, lain Limbikku. Ia sedang menangani perasaanku yang sedang berbunga-bunga. Indah sekali. Bagaimana tidak? Aku baru tahu, ternyata umurnya hanya selisih beberapa tahun diatasku. Masih ‘mencari’ akhwat yang passion dan karakternya sekufu.

Klung! Siapa lagi kalau bukan dari Kak Hakim?

“Alyas, sudah pernah ikut sekolah pranikah?” Aku melambung.

“Suka baca-baca buku pranikah?” Serrrrr! Jantungku kembang-kempis.

“Kenapa nanya gituan, Ka?” Adakah ia ingin aku ... ?

“Engga, nanya aja. Hhe.”

Tuh, kan! Apa aku bilang? Tidak ada apa-apa, Alyas!

***

Sepenuh kesadaran, batinku kembali berdebat. Di sisi yang satu ia ‘menghiburku’, “Bukankah ini untuk mencari ilmu? Engkau sedang belajar menulis, ‘kan? Manfaatkan saja untuk kebaikan.”

Tapi di sisi yang lainnya memberontak, “Jujurlah! Bukankah engkau tak nyaman jika Azka atau murabbiahmu tahu percakapan-percakapanmu dengannya? Berarti ini hubungan yang tidak sehat, bukan? Sadarlah, dia itu penulis hebat. Engkau? Baru menulis kemarin. Itu berarti kalian berbeda kufu.”

“Tapi kan dia orang baik, pasti tidak hanya itu pertimbangannya. Bukankah kita bisa saling melengkapi nantinya? Kamu ingat kan, dia pernah mengaku tahsinnya belum beres? Paling tidak, tajwidmu lulus ujian BTA di kampus. Bacaan Al-Quranmu lancar. Bagaimana?”

“Tapi, apa kamu rela mempunyai imam yang tahsinnya saja tidak beres?”

“Tapi, yang penting kan dia istiqamah ngajinya? Pasti nanti juga bisa..”

“Tapi..” dibalas, “Tapi..” dibalas, “Tapi..” terus saja berdebat.

***


Dengan mengumpulkan keberanian yang masih tersisa, aku mengutarakan semuanya pada murabbiahku. Akankah beliau melarangku untuk menghubunginya lagi? Diam-diam ada kekhawatiran menyusup begitu lembut. Tapi ada hal yang menghantuiku pula saat aku memilih untuk selalu menjadikan dia sebagai tempat curhatku. Barangkali Allah tak ridha?

"Alyas sudah besar..” Rabbi, sejuk sekali tatapan wanita ini, --memang selalu begitu. Aku siap mendengar kelanjutannya.

“Pasti sudah tahu mana yang baik, mana yang buruk..” Senyum dan tuturnya begitu lembut, membuatku makin takdzim padanya. Meski sungguh, ucapannya terlalu berat untuk aku cerna maksudnya.

“Perbanyak istighfar, Alyas..” beliau menepuk punggungku.

Ces! Entah kenapa, kalimat itu membuat seluruh tubuhku mendadak beku. Kaku. Mati rasa. Aku takut mendengar kelanjutannya. Sungguh.

“Masih ingat, Alyas?” lanjutnya penuh kelembutan, “Istighfar bukan hanya untuk meminta ampunan atas segala kesalahan, tapi Allah nanti akan membukakan jalan untuk kita. Insya Allah..”

Batinku yang tadi riuh kini mendadak sepi. Tak ada perdebatan lagi. Semuanya sudah menang.. sekaligus kalah.

“…Allah, aku berlindung kepadamu dari akibat buruk perbuatanku, aku mengakui nikmat-nikmat-Mu atasku, aku mengakui dosa-dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tiada pengampun dosa kecuali Engkau..”

Sayyidul istighfar itu mengalun begitu lembut, menyeka hatiku yang sudah lelah beradu.

Aku tulis rapi dalam diary-ku:


Istighfar Cinta

 

Karena aku tahu, aku bukan yang menguasai hatiku

Juga bukan yang menguasai hatimu

Maka,

Biarlah istighfar cinta yang membukakan jalan pertemuan itu..

Jika menurut Dia,

engkau yang terbaik untukku.

[Syafika Alyas, 2014]

 

Selesai.

[1] Salah satu isi status akun facebook Arkandini Leo.

[2] HR. Muslim No. 2553.

 

 

Purwokerto, 27 Mei 2014.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...