Izinkan Aku Memanggilmu Ibu

Fashion-Styles-for-Girls-Online

izinkan-aku-memanggilmu-ibu2.gif

Penulis : R.A. Dian

Tengah malam mencekam. Tak satu pun benda langit kuasa memamerkan cahayanya kepada setiap mata yang menatap dari atas bumi Baturetno. Sang mendung tengah membentangkan jubah hitamnya. Lebar. Gemercik lirih Kali Pakem memberikan kesan angker atas suasana tengah malam ini.

 Suara-suara ngeri binatang malam dan angin basah yang menggesek dedaunan dan semak-semak bambu laksana makhluk buas tanpa wujud. Menyebarkan ketakutan kepada makhluk bernyawa.
 Namun bukan kepada wanita berambut gimbal ini. 

 Seperti harimau lapar, ia berjalan dengan bertelanjang kaki. Menapaki rumput ilalang menyusur sepanjang tepian Kali Pakem. Ia mendekap dan menyelimutiku dengan popok kumal. Apek.

 Tertawanya pecah seketika. Wanita ini telah berhasil mencuriku kemarin sore.
 "Ning ning ning gong...dung plak!"
 Mulutnya bersenandung menirukan tabuhan gamelan klasik seraya menari layaknya tarian para pemuja setan.

 Aku amat ketakutan. Tak kuasa aku meronta, berteriak, apalagi melakukan pembelaan. Aku pasrah, berharap ada orang "pintar" bersama rombongan warga mencariku.
 "Cup ya, Sayang, jangan menangis. Ibu akan selalu bersamamu."

 Bah! Ibu? Perempuan macam apa engkau ini? Engkau mencuriku dikala sedang asyiknya aku bermain dengan teman-temanku! Aku meronta-ronta tanpa suara. Aku menangis tergugu seperti orang idiot.

 Aku ingat Ranum, Desti, Sekar, Usi, dan teman-temanku yang barangkali tengah menangisi kepergianku. Mereka pasti merasa kehilangan.

 Namun perempuan tua ini tidak ambil peduli. Ia terus menimangku. Membelai, mengusap-ngusap kepalaku, memberi sedikit cubitan atas bibirku. Hingga sampailah perempuan pencuri ini pada singgasananya; tanah merah beralaskan tumpukan kardus tebal di bawah jembatan kali pakem; yang terkenal akan kewingitannya.
 Ia menidurkanku. Mataku pun terpejam.

***

Lebih dari seminggu, tepatnya sembilan hari sudah aku bersama perempuan tua ini. Selama itu, tak seorang jua sudi mencariku. Sekian lama itu, aku senantiasa berada dalam asuhannya. Asuhan wanita malang yang menganggap aku sebagai anaknya. Ia menyayangiku.

 Syaang, aku menolak kasih sayang itu.
 "Engkau bukan ibuku dan aku bukan anakmu. Camkan itu...camkan!"
 Ia memang bukan ibuku kendati telah berhari-hari ia merawatku. Sampai kapanpun tak sudi aku menerima bahkan sekadar menganggap atau memanggilnya Ibu. Aku lebih suka jadi anak ayam, anak kambing, atau anak apa saja asal bukan anaknya...si gimbal ini.

 Aku lebih suka jadi telur yang tidak lagi bisa ditetaskan atau pecah sekalian ketimbang jadi anak seorang yang tak pernah dikasih pintu saat meminta-minta. Terusir dan terolok. Aku tak rela menjadi anak seorang pencari makan di tempat-tempat sampah yang punya tempat tinggal tak layak huni. Di bawah jembatan lagi.

 "Hei, itu Menik. Susan digendongnya."
 "Kasihan ya Susan..."
 "Aku mau Susan kembali."
 "Nggak ah, ntar Menik mengamuk."
 "Susan sekarang kotor amat. Dia bukan temen kita lagi."
 Celoteh anak-anak manis itu, memandangiku iba. Anak-anak itu dulu temanku.
 Oh, siapa...siapa gerangan pahlawan penyelamat yang bakal menyelamatkan diriku yang yatim piatu ini dari cengkeraman Menik, si perempuan gila ini?

***

izinkan-aku-memanggilmu-ibu2.gif

Sekian bulan terlewatkan. Aku baru sadar kalau temanku cuma Menik. Ya, cuma Menik. Hari demi hari kulalui dalam lengang yang membisu tuli. Dan segera hidup oleh uro-uro ayem Menik kala mencandaiku. Tak lelo lelo lelo ledung


 Cup menengo anakku sing ayu
 Tak emban nganggo jarik kawung
 Yen nagis mundak ibu bingung
 ...
 "Aku muak!"


 Andai saja peri-peri kecil menyumbangkan sehembus nafas untukku, aku pasti seperti Pinokio. Namun aku akan berperan lain. Aku akan berbohong setiap saat agar hidungku menjulang, mendahuluiku dan menuntunku ke langit akhirat. Demi sebuah akhir. Ah, aku bukan Pinokio. Aku cuma si malang Susan.

***

Hujan badai mengangkara. Mencocok-cocook tanah becek. Meluapkan amarah Kali Pakem. Gemuruh suaranya dan bah itu, menelan dan menerjang rumah tinggal Menik, tempat aku ada didalamnya juga. Serak Menik teriak-teriak. Tangannya menggapai-gapai ranting yang menjulur. Dieratinya dengan tangan kiri, sedang yang kanan menggendongku.

 Ia berusaha mati-matian menyelamatkan dirinya dan diriku. 
 Kali Pakem kian membludak.
 Aku sangat berharap rengkuhan tangannya atasku terlepas adar aku ditelan derasnya arus lalu diambil oleh tangan-tangan terhormat. Namun perempuan ini ternyata lebih perkasa dari Kali Pakem.

 Dan naluri Menik berkata, dengan bahasa yang seakan-akan amat jelas, "Kamu pasti bisa. Kamu harus menyelamatkan anak ini..."
 Anak? Bukan! Aku hanya boneka, kasih sayangmu kepadaku selama ini terlalu naif; melebihi batas kewajaran.

  Aku kini seperti tengah menangisi sesuatu. Kali ini perasaanku agak beda. Hatiku bagai terbalik. Ataukah aku juga ketularan virus gila? Adakah sesuatu yang sedang kuinsyafi?
 Hujan tambah merapatkan rintikannya. Kencang. Angin berlarian ke san akemari tak tentu arah. Ganas dan mencekam. Merusak tetanduran, mencabutnya, lalu menyerahkannya kepada arus deras kali Pakem. Terhempas sangat jauh.

 "Tolong...tolong..." Menik berseru minta tolong. Serta merta ia berubah menjadi perempuan waras pada umumnya.
 Tak seorangpun mendengar, seperti tak mendengarnya mereka terhadap teriakanku tatkala dicuri Menik dari tangan teman-temanku.
 Aku ingin berkata kepadanya, "rasakan!", tapi tidak tega. Aku pun berubah simpatik seperti orang betulan.
 
 "Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku?" rintih Menik . Hah?? Ia mengadu kepada Tuhan? Heranku menyeruak akan dia. Menik...Menik tidak gila lagi?
 "Ampuni hamba, wahai Tuhan. Duh, Gusti Allah, astagfirullah..."
 Pelan-pelan tangan Menik terlorot. Ketakutanku lebih sangat dari hari-hari sebelumnya, karena, aroma kematian kini membasuh hidung mungilku. Dan menyebar. Kali ini tidak apek tetapi wangi.

 "Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrosulullah."
 Begitu suara terakhirnya. Sempat terdengar jelas meski agak terbata-bata. Beruntungnya ia bisa menutup akhir hayatnya dengan husnul khatimah.
 "Oh, Ibu..." desisku panjang sarat penyesalan.

***

"Mayat...mayat...ada mayat kintir!" "Itu kan mayatnya Menik."
 "Ayo, diangkat. Kamu, Jo, panggil Pak RT dan warga."

 Beberapa menit kemudian Kali Pakem jadi seperti pasar kaget. Kerumunan orang menyaksikan mayat Menik semakin penuh, padat.

 Mayat...eh, jenazahnya segera digotong ke tempat yang lebih kering. Kayaknya mereka takjub menyaksikan jenazah orang gila yang bisa tersenyum. Sementara, orang-orang itu mengabaikanku, menginjak-injakku, tak pedulikan cantik rupaku yang berbedak lumpur. Nelangsa nian aku.

 "Bonekanya diapakan, Pak RT?" 
Ah, girang rasa hatiku mendengar seseorang berkata demikian. Rupanya ada juga yang perhatian denganku.
 "Neko-neko saja kamu. Buat oleh-oleh anakmu juga boleh, biar anakmu nagis terus semalaman."
 "Ha...ha...ha!" Mereka semua tertawa girang. Terbahak. 

 Aku dirundung kesedihan dahsyat. Aku baru sadar betapa berharganya keberadaan Menik. Dialah wanita yang selalu memperhatikanku, menjagaku, menumpahkan seluruh kasih sayangnya untukku, dan tak rela atas kemalangan yang menimpaku.
 Ah, kenapa aku membalas kasih sayangnya dengan penghujatan?
 Ibu...engku...

 Engkaulah sosok ibu yang sebenarnya, setidaknya bagi diriku. Aku adalah anakmu. Ternyata engkau lebih waras dari orang-orang yang "waras" itu.
 Dalam kondisimu yang seperti itu, masih melekat kasih sayang sejati; hal yang kini menjadi barang langka. Sulit didapat, hatta dari orang yang mengaku waras sekalipun.
 Para "waras" itu, banyak yangt telah kehilangan naluri keibuannya; menyiksanya, membuangnya, menganiaya, membakar bahkan menghilangkan nyawanya. Mereka lebih tidak waras. 

 "Ibu..." Aku terlambat mengakuimu, Ibu. Maafkan aku, Ibu. Aku akan senantiasa mengingatmu, sebab aku bangga akan engkau sebagaimana bangganya engkau akan keberadaanku. Terima kasih atas kebaikan hatimu dalam menerima hadirku, Ibu...
 Lalu tiba-tiba manusia-manusia itu beranjak, membawa jenazah Ibu Menik ke suatu tempat. Salah seorang dari mereka lantas berseru, "Man, segera keringkan dan bakarlah boneka itu agar tidak membawa sial!"
 "Inggih, Pak RT..."
 Ah, tudingan itu tak bukan dan tak lain kecuali dialamatkan kepadaku.


Mesin Tik Sangat Tua, Moga Berkah

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...