JEMBATAN

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis: ADE S.

 

 

 

 

 


 

Dadut kampung yang adem-ayem, sejuk, sunyi dan sepi jauh dari segala hiruk-pikuk suara kota. Sore sepulang dari ladang, warga biasanya suka saling natangga, berkumpul sesama tetangga di bawah cucuran atap rumah sambil membicarakan masalah kehidupan sehari-hari yang sudah terlewat. Apa saja mereka omongkan. Mulai dari soal beras dan bumbu dapur hingga berita-berita yang mereka tonton di tivi. Tapi di pagi yang basah itu, karena malamnya habis hujan, lain cerita. Kali ini topik obrolan warga adalah tentang jembatan kampung mereka.


Kemarin sore jembatan yang menjadi andalan orang sekampung itu masih segar-bugar menyambungkan kampung Dadut dengan dunia di seberangnya. Di bawahnya, dimana bergelimpangan bebatuan besar, kecil, bulat dan gepeng, adalah bentangan sungai Kalen Cilamaya yang lebarnya hampir dua puluhan meter. Tapi sayang, karena sang jembatan cuma terbuat dari bambu yang diikat tambang dadung kecil dan disambung-sambung, maka ketika banjir semalam kembali datang, dia kini hanya tinggal kenangan. Sebatang bambupun tak tersisa sebagai ucapan selamat tinggalnya kepada orang sekampung..


Jembatan itu kesayangan orang kampung Dadut. Bertahun-tahun sehidup semati bersama warga yang selama ini ratusan, bahkan mungkin ribuan kali hilir mudik di atasnya. Sosoknya seperti Pangeran baik hati yang menyebrangkan orang-orang kampung kepada kebahagiaannya. Anak yang baru pulang merantau kepada orang tuanya, sahabat kepada kawan lamanya, atau para petani dan pedagang kepada tebaran rejekinya yang bertebaran nun jauh di seberang kampung mereka sana.


Membikinnya juga bukan perkara mudah. Setidaknya buat ukuran orang kampung yang jauh dari teknologi. Tak ada alat berat atau mobil-mobil proyek yang lalu-lalang mengangkuti bahan-bahan bangunan dengan orang-orangnya yang berhelm kuning.. Yang ada adalah semangat dari para tua dan muda sekampung Dadut yang saat itu semua turun ke sungai. Ada yang bertugas membuat ‘pondasi’, yang menebang lalu mengangkut puluhan batang bambu dari kebun warga. Sementara para ibunya menyiapkan kosumsi. Nasi uduk, nasi liwet, ikan asin, gorengan, semua dikeluarkan. Anak-anak menyemangati dengan celotehannya.


Pendek kata tangan setiap orang di Dadut terlibat dalam hajatan gotong-royong tersebut. Tak ada yang dikasih upah. Semua ikhlas untuk kepentingan bersama.


Sekarang dengan hilangnya raga sang jembatan, orang-orang kampung serasa terasing tidak bisa kemana-mana. Dihadapan mereka, kalau ingin bisa ke sebrang, hanya tersuguh dua pilihan. Melalui jalan memutar  yang jauhnya puluhan kilo, atau nekat berbasah-basah merenangi Kalen Cilamaya dengan resiko terbawa arus. 


Warga laksana dihadapkan kepada buah Simalakama. Semuanya sulit buat mereka. Akhirnya sambil memeriksa bekas-bekas jembatan yang sudah hanyut, mereka mengajak pak Lurah mengobrol dulu di tepi sungai dibawah rimbunan pohon Rengas tempat burung-burung Manyar membuat sarang. Sebenarnya tak ada yang aneh. Sudah biasa setiap tahun juga begitu. Mimpi mengharapkan bilah-bilah bambu yang ditancapkan ke dasar sungai mampu melawan gelora kemurkaan sang banjir. Beruntung banjir dan pasukannya tidak menggelar pesta di kampung.  Tapi kali ini warga punya impian lain.


“Bagaimana sekarang, pak Lurah? Menurut saya cuma buang-buang tenaga dan biaya saja kalau kita harus kembali membuat jembatan bambu. Kasian para penduduk. Mereka sudah banyak korban tenaga dan materi” Karna membuka percakapan. Diantara semua yang berkumpul, dia yang badannya paling ceking seperti kekurangan giji. Tapi di pemerintahan desa jabatannya adalah ketua karang taruna. Dia yang menjadi pondasi dari sebuah kebersamaan yang bernama gotong-royong. Setiap banjir datang merampas jembatan kampungnya, Karna bersama para punggawa karang tarunanya sudah bersiap-siap menyingsingkan lengan bajunya untuk segera mempersiapkan jembatan penggantinya.


Tapi lama kelamaan Karna serta pasukannya itu malas juga. Siapa yang tidak bosan kalau setiap setahun sekali harus membikin jembatan. Seperti orang yang kebanyakan duit saja. Tak masalah kalau kampung mereka warganya semua terdiri dari para konglomerat. Disini yang punya tivi saja bisa dihitung.


Jadi, rasanya sudah saatnya kalau sekarang mereka mulai memikirkan untuk punya jembatan permanen yang tahan banjir. Yang bahannya dari baja atau beton. Seperti yang banyak bertebaran di kota-kota. Soal dana, rasanya sudah saatnya mereka memanpaatkan keberadaan pak Bupati. Masa ‘raja’ mereka itu mau ongkang-ongkang kaki saja melihat rakyatnya sedang kesusahan begini. Tapi masalahnya adalah bagaimana caranya supaya pak Bupati mau cepat-cepat menurunkan bantuan. Jangan nanti dan nanti terus. Warga  tidak bisa menunggu terlalu lama hingga jembatan selesai di bangun untuk meneruskan denyut jantung kehidupannya.    


Maka masalah tersebut Karna rembukan dengan peserta rapat. Pak Lurah menonton saja. Para orang tua memberi masukan. Ada yang ingin demo saja ke kabupaten. Kesal, karena keadaan ini sudah menelikung hidup mereka bertahun-tahun lamanya tapi sama sekali tak ada yang mau memperhatikan. Namun mendengar kata ‘demo’ pak Lurah buru-buru berkata ‘Tidak’. Belum apa-apa demo, bisa-bisa dirinya langsung dipecat.

 
“Cari ide lain yang lebih bagus,” Instruksinya.


“Kalo gitu kita undang aja pak Bupati supaya datang kemari. Biar dia tau dengan mata kepala sendiri penderitaan kita ini, jangan cuma duduk di belakang meja aja,” Usul tak kalah berapi-api. 

“Kalo cuma ngundang doang sih gampang. Tapi setelah itu apa dia mau ngasihin duitnya buat kita?” Sergah yang lain sangsi.


Musyawarah makin ramai. Semua orang ingin ngomong dan ingin di dengar. Supaya rapat cepat ada hasilnya, Karna segera menengahi dengan memberikan sebuah jalan keluar. Yaitu mereka akan mengundang wartawan tivi.  


Pak Lurah melipat keningnya.


“Buat apa mengundang tivi, Na?” Tanyanya.


Karna menggambarkan rencananya. Pak Lurah mendengarkan dengan seksama. Bahkan beberapa kali manggut-manggut. Tapi begitu Karna selesai membeber, lagi-lagi kepalanya pelan bergeleng. Tapi diluar dugaan, warga yang lain justeru malah setuju seratus persen dengan ide tersebut. Raut Pak Lurah berubah kebingungan. Sementara wajah-wajah di depannya menatapnya seperti siap untuk menerkam andai yang keluar dari mulutnya adalah kata Tidak.


Pak Lurah akhirnya angkat tangan. Menyerah. Lebih baik dirinya yang diomelin atasannya daripada berurusan sama rakyat.


Warga langsung berteriak,


“Hidup Pak Lurah!”
   
Di kampung Dadut yang di kepung pesawahan dan ribuan pohon bambu, setiap pagi kabut selalu tebal menyelimuti. Orang kampung mengusir hawa dinginnya dengan berselimut sarung di depan perapian yang menyala-nyala sekalian menunggu ketan atau singkong bakar matang..
   

Namun pagi itu hawa udara sepertinya terlalu cepat menghangat. Penyebabnya adalah tamu-tamu yang berdatanganan dari kota. Tamu-tamu itu berseragam hitam-hitam dan membawa berbagai macam peralatan kamera. Kamera-kamera itu dipasang dibeberapa sudut di tepi tanggul. Warga kampung sudah tau mereka itu orang-orang dari tivi yang akan melakukan shooting di kampung Dadut.   
 

Dan orang kampung Dadutlah yang menjadi ‘artisnya’. Tapi ini bukan syuting sinetron. Ini masalah kesulitan yang melingkari kehidupan orang kampung. Selama ini untuk bisa ke sebrang mereka terpaksa harus mau berenang. Berdasarkan rencana Karna tempo hari perjuangan merenangi Kalen Cilamaya itulah yang akan disiarkan oleh televisi. Sebab biasanya segala masalah itu kalau sudah masuk tivi, maka jalan keluarnya mendadak akan serba gampang. Setiap orang, siapa saja dan dimana saja, akan berlomba-lomba mengulurkan tangannya. Sudah banyak contoh kasusnya.   
   

Warga tidak keberatan. Bahkan wajah mereka berbinar sumringah begitu mendengar mereka dan kampungnya akan masuk tivi. Serasa akan jadi artis saja kesannya. Maka hari inilah penyutingan itu akan dilaksanakan. Warga sekampung tumplek semua seperti hendak membendung Kalen Cilamaya. Yang pedagang bela-belain pulang dulu meski belum dapat duit banyak. Para petani mendadak mogok pergi ke ladang. Ibu-ibu meninggalkan dapurnya. Anak-anak mengepung di sepanjang sisi tanggul. Kampung Dadut melompong mereka tinggalkan.
 

Sementara seorang pria gendut memakai topi koboy yang bertindak sebagai sutradara berteriak-teriak memberikan pengarahan dengan menggunakan speaker kecil. Menyuruh orang-orang kampung berbaris antri di tepi. Sudah itu seutas tambang dibentangkan dari sebrang ke sebrang untuk tempat orang-orang berpegangan ketika menyebrang. Tujuannya tentu saja supaya tidak ada yang terbawa arus sungai yang masih cukup deras.

Setelah semua persiapan beres, Pak Sutradara mulai memberikan aba-aba.

“Oke,  siap, 1...2....3... action!”
 

Itu tanda buat mereka segera ‘berakting’. Giliran pertama adalah para orang tua. Satu persatu mereka mulai mencelupkan kakinya ke air sungai yang keruh. Beberapa tampak gugup karena menyadari sedang di sorot kamera. Ada juga yang senyum-senyum sendiri ke ge-eran. Tapi mereka selamat hingga ke sebrang.
 

Lalu giliran selanjutnya yaitu anak-anak SD. Mereka bertelanjang dada. Seragamnya di usung di atas kepala supaya tidak kebasahan. Mereka tertawa-tawa senang sambil menciprat-cipratkan air sungai ke sesama kawannya. Tak menyadari kalau batu-batu licin dan tajam bertonjolan di dasar sungai. Dan tiba-tiba saja,
   

Byuuurr...!!!
   

Karena lengah seorang anak terpeleset. Pegangannya pada tambang sontak terlepas. arus sungai yang terus mengintai, dengan garang langsung melahapnya. Orang-orang yang bergerumbul di atas tanggul berteriak panik. Si anak juga menjerit minta tolong. Dia timbul tenggelam sebab tidak bisa berenang. Dengan cepat tubuhnya menjauh menuju hilir.
   

Karnalah yang pertama melompat terjun tanpa menghiraukan apapun. Ia berenang berlomba dengan derasnya arus sungai. Batu dan ranting yang menggores kulit tubuhnya dan mengalirkan darahnya tidak dirasakannya. Tujuannya hanya satu. Si anak harus selamat!
 

Di pinggir, Warga menonton perjuangannya dengan jantung berdebar-debar seperti hendak lepas. Para ibu menadahkan tangannya, berdoa sambil mengucurkan air mata. Di sudut lain kamera tivi terus menyorot penuh ketegangan setiap detil kejadian tersebut seperti sedang merekam adegan pertempuran. Udara seakan berhenti mengalir.
   

Akhirnya setelah berjuang selama puluhan menit, Karna berhasil juga meraih baju si anak dan susah – payah menyeretnya ke tepi. Tiba di tepi, dia langsung terkapar kelelahan. Napasanya ngos-ngosan. Si anak beruntung hanya pingsan karena kemasukan air.
   

Pengambilan gambar selesai. Pak Sutradara sampai berkeringat. Tapi dia puas karena sudah mendapatkan gambar yang sangat bagus. Dia menghampir Karna dan memberinya ucapan selamat atas keberaniannya.

“Peristiwa tadi akan kita siarkan langsung. Pasti akan menghebohkan. Aku memuji keberanianmu, Anak muda.”

“Iya, pak, terima kasih.”
   

Setelah insiden itu Karna langsung jadi pahlawan. Di tiap sudut kampung orang ramai membicarakannya. Atas perjuangannya menyelamatkan hidup si anak, juga atas gagasannya yang ‘brilian’ memasukan kesusahan warga kampung ke dalam ‘kotak  tivi’.
   

“Kalo nggak ada si Karna, tuh anak pasti mati,” Kata mereka seyakin malaikat maut.
   

Di lain  pihak, ucapan pak Sutradara ternyata bukan omong kosong. Begitu televisi menyiarkan penderitaan warga kampung Dadut yang tidak memiliki jembatan penyebrangan dan bahkan sampai harus ada yang hanyut segala, tiba-tiba saja orang-orang berseragam coklat datang berduyun-duyun. Mereka adalah pak Bupati bersama para abdinya.
    

Orang-orang itu ikut berbela sungkawa atas musibah yang menimpa warga kampung Dadut. Tak lupa, sebagai bagian dari acara, kondisi sungai Kalen Cilamaya mereka tinjau penuh rasa ingin tau. Melihat wujud sang sungai yang dalam dan lebar, sepertinya mereka keheranan. Bagaimana mungkin ada orang yang tetap nekat menyebranginya? Apakah orang-orang di sini punya dua nyawa?

Ujung-ujungnya setelah semua acara selesai, pak Bupati kemudian mengumpulkan warga di baledesa. Dia berpidato panjang lebar yang intinya sebenarnya pemerintah selalu memperhatikan kebutuhan warganya.

Begitu pidato selesai, pak Bupati memberikan sebuah kejutan kepada warga sekaligus untuk membuktikan bahwa pidatonya tadi tidaklah bohong. Dana sebesar dua ratus juta dia hadiahkan untuk membikin sebuah jembatan impian. Jembatan permanen yang sanggup mengalahkan serangan banjir beserta serdadunya.. Orang-orang kampung tak peduli itu bohong atau bukan. Mereka bersorak gembira dan malamnya langsung berpesta. Ayam-ayam dipotong.  Nasi tumpeng dan nasi uduk dibikin untuk syukuran. Malam itu banyak diantara warga yang begadang.
   

Sementara Karna kian membumbung diterbangkan orang sekampung. Orang banyak berterima kasih kepadanya. Sudah bisa dibayangkan andai jembatan itu selesai. Pasti enak disebrangi. Tidak seperti jembatan bambu yang selama ini mereka miliki. Kalau ada yang hendak menyebrang bersamaan dari dua arah, salah satu terpaksa harus mengalah dulu. Belum kalau hujan. Licin. Kalau tidak hati-hati bisa tercebur.
Selain itu kendaraan motor juga akan bisa masuk. Bukan masalah lagi kalau suatu saat mereka berniat hendak mengkriditnya.
   

Sementara atas dedikasi Karna, beberapa hari kemudian pak Lurah memberinya hadiah berupa sebuah sepeda motor yang masih baru. Tak ada yang iri. Orang-orang malah ikut bersyukur atas nasib baik Karna.
   

“Dia kan sudah banyak berjasa kepada kampung kita. Dulu saja jembatan bambu dia yang paling banting tulang. Pokonya kalo nggak ada dia, belum tentu sekarang kita akan punya jembatan yang bagus. Dua ratus juta. Bayangkan, pasti jembatan itu nantinya hebat sekali.” Komentar orang-orang.
   

Pantas. Hal itu disebabkan karena udara kampung Dadut sedang hangat penuh harapan. Denyut-denyut kebahagiaan memenuhi jantung setiap warganya. Di sudut mana pun tidak ada lagi yang mereka perbincangkan kecuali sang jembatan.
Sampai kemudian, bumi dikampung Dadut mendadak terbalik.
   

Satu minggu berlalu tetapi jembatan yang dielu-elukan orang kampung tak kunjung ada tanda-tanda akan di bangun. Padahal katanya dananya sudah lama dicairkan oleh pak Lurah. Pak Lurah juga mendadak jadi jarang kelihatan. Seminggu paling sekali saja dia nongol di baledesa. Kalau ditanya, alasannya sibuk.
 

Orang-orang kampung mulai bertanya-tanya. Karnalah yang jadi sasaran mereka.

“Saya juga nggak tau, bapak-bapak. Pak Lurah sepertinya akhir-akhir ini mendadak banyak urusan. Saya aja yang mau ketemu dia sulit. Selalu nggak ada di tempat.” Jawab Karna sejujurnya.

Warga menggerutu kesal. Rasanya sebelum dapat bantuan lurah mereka itu selalu stand by. Gampang dicari dan gampang ditemukan. Tapi sekarang lagaknya seperti anak perawan yang jual mahal.

Orang kampung hanya merasa penasaran kenapa jembatan yang setiap malam terbawa kedalam mimpi mereka itu masih belum dimulai juga pembangunannya. Kalau memang ada kendala, mereka berhak untuk tau bahkan sudah siap untuk membantunya. Mereka juga siap membangun jembatan itu tanpa diupah sekalipun.
 

Minggu berganti minggu bahkan menjadi bulan, akhirnya rasa ingin tau warga berubah menjadi gundukan gunung api yang mulai mengepulkan asap. Orang-orang kampung  habis kesabarannya. Mereka akhirnya memutuskan untuk menanyakan langsung kepada pak Lurah.  Maka, di suatu siang yang cerah puluhan warga bergerombol di depan bale desa.
   

“Kami mau ketemu pak Lurah. Mana dia?!” Kata salah seorang warga kepada petugas yang ada di situ. Belum apa-apa dia sudah naik pitam.
   

“Sa..saya juga tidak tau. Sudah dua hari pak Lurah tidak masuk kerja.” Yang ditanya ketakutan.
   

Warga makin kesal. Mereka mulai mencium gelagat yang kurang sedap.
   

“Kita ke rumahnya!” Teriak mereka spontan.
   

Gelombang itu bergerak lagi menuju ke rumah pak Lurah. Di jalan makin banyak yang bergabung. Emosi mereka makin meninggi. Teriakan kekesalan mengutuk pak Lurah membumbung memenuhi langit kampung. Tiba di tempat tujuan, ternyata malah kekecewaan yang kembali mereka dapatkan. Rumah itu kosong melompong. Pintunya dan jendelanya terkunci rapat. Kata tetangganya pak Lurah sudah beberapa hari tidak ada pulang. Entah kemana tak ada yang tau.
   

Kemarahan warga tambah membara bagai kawah lava yang dalam hitungan detik siap menyembur. Jelas sudah  kalau begini caranya berarti pak Lurah sudah membawa kabur dana bantuan itu. Dua ratus juta hendak di makannya sendiri.
 

Tak perlu menunggu lama, ketika ada yang berteriak ‘bakar’, semua orang bergerak secara otomatis. Mula-mula segala yang ada di rumah itu mereka jarah dan mereka hancurkan sampai lebur. Setelah puas, api disulut. Si jago merah langsung merembet sambil membawakan tarian maut memberangus apa saja yang ada di depan ‘matanya’. Hawa panasnya serupa gelegak kemarahan warga. Asap hitam membumbung seperti pertanda asap duka cita. Detik atap rumah pak Lurah berderak rubuh. Bunga-bunga api dan lelatu berloncatan ke udara yang membara. Matahari melotot tak berkedip.
   

Orang-orang bersorak dalam keputusasaan menyaksikan rumah lurah mereka pelan-pelan menjadi abu.. Api yang membakar rumah pak Lurah seperti membakar mimpi mereka juga untuk memiliki sebuah jembatan penyebrangan. Tapi itu rupanya masih belum memuaskan ‘dahaga’ warga. Mereka menuntut pelampiasan lebih. Dan saat itu, bayangan Karnalah yang terlintas dalam pikiran mereka.
   

“Pak Lurah sudah memberinya motor. Mereka pasti sekongkol. Sekarang mari kita hancurkan dia juga. Kita bakar motor dan rumahnya. Tapi sebelum itu kita bakar dulu kantor Lurah keparat itu. Serbuuuu!”

Dadut kampung yang tentram. Setiap sore, warga yang baru pulang dari ladang, biasanya saling berkumpul membicarakan masalah kehidupan sehari-hari. Apa saja mereka bicarakan sambil berharap bisa melupakan beban kehidupan yang kian berat. Tapi sore itu angkara murkalah yang bermaharajalela. Dua rumah, satu bale desa, dan satu motor habis terbakar.   Karna yang tidak tau apa-apa, kocar-kacir entah kemana. Dia pontang-panting kabur tanpa membawa baju selembarpun. Meninggalkan kampung kelahirannya, meninggalkan tetangga dan sanak-saudaranya, juga berpisah dengan kawan-kawannya.
   

Sementara Jembatan harapan warga tak kunjung ada. Kecuali sebuah jembatan bambu yang menghantarkan orang-orang kampung kepada sumber-sumber kehidupan mereka. Petani kepada ladangnya, anak sekolah kepada guru-gurunya. Lalu ketika banjir bandang tiba, semuanya musnah. Tamat.

***

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...