JEWEL OF ALEXANDRIA

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Mesir, 391 Masehi

        Sinar matahari di ufuk timur hangat menyapa bersama deburan ombak di pesisir laut Mediterania. Ratusan burung camar berterbangan di sekitar mercusuar Pharos yang menjulang, menyambut kapal-kapal besar yang baru saja tiba dari negeri-negeri terjauh. Riuh rendah suara pekerja yang sibuk membongkar muatan bercampur dengan lenguhan unta dan keramaian para pedagang di pasar pelabuhan. Linen, kaca, papirus, buah-buahan, semua barang yang diperdagangkan digelar di sepanjang jalan utama. Pagi telah tiba di Alexandria.

       Di dalam kota, tampak iring-iringan peziarah dari Efesus melintasi plaza dengan suasana meriah. Ratusan pria, wanita, dan anak-anak mengenakan pakaian terindahnya sambil membawa karangan bunga, memainkan seruling dan harpa serta menyanyikan lagu-lagu pujian untuk menghormati Dewa Serapis. Menjelang festival tahun ini, Alexandria semakin ramai dikunjungi oleh para peziarah Serapisian dari kota-kota di seluruh kekaisaran Romawi. Kedatangan mereka selalu menarik perhatian warga Alexandria.

       Di antara kerumunan warga yang tengah menonton iring-iringan peziarah, seorang biarawan Kristen tiba-tiba berteriak lantang membacakan Mazmur, "Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu! Orang-orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala akan malu! Segala tuhan sujud menyembah kepada-Nya!"

       Beberapa orang menoleh ke arah biarawan itu, namun hanya sesaat sebelum mereka larut kembali dalam kemeriahan di plaza. Lagu-lagu, bunga-bunga, dan roti-roti yang dibagikan secara cuma-cuma sebagai sedekah. Iring-iringan peziarah pun bergerak semakin menjauh menuju kompleks Kuil Serapeum di atas bukit, meninggalkan jejak harum dari wewangian yang mereka gunakan. Alexius, biarawan itu, hanya tertunduk. Sebentar lagi, batinnya dalam hati. Sebentar lagi kekafiran akan dimusnahkan dari kota ini. Dia pun memakai tudungnya dan menghilang di sudut jalan.

       Sementara itu, di pelataran puncak Kuil Serapeum yang megah, seorang wanita cantik berdiri mengangkat astrolab di tangannya ke arah matahari.

       "Apa yang kau lihat, guru?" beberapa pemuda duduk mengelilingi wanita itu.

       "Tepat seperti perhitungan kita," wanita itu tersenyum kepada murid-muridnya, "ketinggian sudut matahari telah berkurang sebanyak..."

       "Hypatia!" seorang pria berjalan tergesa-gesa dari dalam kuil.

       Wanita itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya, "Ada apa, Olympius?"

       "Aku baru saja menerima berita ini dari akademi di Konstantinopel," Olympius tampak terengah-engah mengatur nafasnya.

       "Tenanglah, aku mendengarkanmu," ujar Hypatia menenangkan.

       "Kaisar telah mengeluarkan keputusannya,"  Olympius mengeluarkan gulungan papirus dari balik toganya, "Mulai saat ini, setiap orang dilarang mengunjungi kuil-kuil dan tempat ibadah selain gereja."

       Suasana mendadak hening. Sejak kaisar memutuskan untuk menghapus hari libur bagi festival agama selain Kristen beberapa tahun yang lalu, ketegangan antar penganut agama terus meningkat di negeri ini. Kerusuhan di hari raya mau pun perusakan kuil bukan lagi kejadian langka. Hypatia mengela nafasnya pelan, sampai kapan kami akan bertahan? Ditatapnya tiang-tiang besar Kuil Serapeum yang berukir huruf-huruf Alfabet Yunani dan Hieroglif. Ini lah simbol harmoni antara kebudayaan Hellenis dan Mesir. Bangunan indah yang didirikan para leluhur berabad-abad yang lalu untuk memuja Serapis. Sebagai seorang filosof, Hypatia tidak pernah tertarik untuk menyembah Serapis ataupun mewarnai pikirannya dengan berbagai takhayul. Satu-satunya alasan dia di sini adalah mengajar kelas yang dibuka di perpustakaan kuil.

       "Apa militer sudah bergerak?" tanya Hypatia.

       Olympius menggeleng, "kebijakan ini baru diterapkan di Konstantinopel dan sekitarnya."

       Pandangannya beralih pada murid-muridnya yang sedang berbisik satu sama lain. Para pemuda gagah yang tengah beranjak dewasa. Sebagian orang tua mereka adalah penganut Yahudi, Kristen, Serapisian, Dionysian maupun Mitrais, tapi mereka semua di sini untuk belajar ilmu yang sama. Menghargai akal yang diberikan Tuhan dengan cara menggunakannya. Hypatia menatap mereka satu per satu, mencoba melihat harapan yang ada. Calon pendeta, calon pejabat kota, juga calon saudagar. Kalian orang-orang penting di masa depan, Hypatia mendesah.

       "Yang kita lakukan di sini adalah belajar," ujar Hypatia perlahan, "Jadi apa pun yang terjadi, kita akan tetap belajar."

       Ucapannya segera disambut riuh tepuk tangan murid-muridnya. Olympius, yang juga mengajar di perpustakaan kuil, hanya bisa tersenyum melihat semangat Hypatia dan murid-muridnya.

       "Siapkan kuda. Kita akan pergi ke plaza untuk mendengarkan beberapa orasi hari ini."

       Hypatia dan murid-muridnya pun berjalan menuruni ratusan anak tangga kuil yang tinggi. Di gerbang kuil, mereka berpapasan dengan iring-iringan peziarah dari Efesus yang telah tiba. Seorang gadis kecil di dalam iring-iringan itu mendekati Hypatia dan bertanya, "Apa benar ini adalah rumah Serapis?"

"Benar, nak," jawab Hypatia lembut.

       "Besar sekali rumahnya. Apakah Serapis itu sangat hebat?" tanya gadis kecil lagi.

       "Mungkin saja," Hypatia membelai rambut gadis kecil itu, "Tapi sejauh yang kulihat, Dia hanya duduk diam di singgasana-Nya."

       Hypatia pun menaiki kereta kudanya dan berlalu bersama murid-muridnya.

***

Di depan altar, Uskup Theophilus masih berlutut memanjatkan doa. Bapa, kuatkan aku... ini adalah tugas besar yang diembannya untuk menegakkan ajaran Kristus di bumi Mesir. Membersihkannya dari semua berhala dan kesesatan yang selama ini mengotorinya. Agama ini telah menjadi kekuatan baru sejak Romawi berubah menjadi kekaisaran Kristen. Sebagai Uskup Agung Alexandria, Theophilus merasa bertanggungjawab untuk melaksanakan kristenisasi di seluruh wilayah Mesir. Bukan masalah jika itu harus dilakukan dengan pedang dan darah, karena ia yakin Tuhan berada di pihaknya.

       Dari arah lorong gereja, terdengar langkah-langkah kaki berjalan cepat sebelum akhirnya berhenti di ruangan altar ini, tepat di belakang sang uskup.

       "Pateras, berhala-berhala dari Kuil Dionyseum itu sudah dikumpulkan," lapor Alexius si biarawan. Pihak Gereja telah mendapat hak untuk mengosongkan secara paksa sebuah kuil Dionysus di dalam kota, dan mereka menemukan banyak patung serta peralatan upacara di dalamnya.

       "Apa yang harus kita lakukan pada patung-patung itu?"

       Theophilus berdiri dan membalikkan badannya, "Bukankah kau turut hadir dalam sidang kemarin? Kita akan seret patung-patung itu di sepanjang jalan untuk menyatakan bahwa Kristus telah menang!"

       Keduanya pun segera menuju istal untuk mengambil kuda. Ratusan biarawan dan umat Kristen telah menunggu di luar pintu gereja sambil meneriakkan yel-yel anti-pagan. Bersama-sama mereka berkonvoi menuju plaza sambil menyeret patung-patung Dionysus.

       "Anggur telah dituai! Anggur telah dituai!"

       "Kristus telah mengalahkan Dionysus!"

       "Halleluya!! Halleluya!"

       Beberapa orang Dionysian yang melihatnya marah, namun tak dapat berbuat banyak. Di setiap jalan yang mereka lewati, para biarawan Kristen terus mengajak warga untuk turut serta menghina patung-patung itu. Meludahi serta melemparinya dengan kayu dan batu.

       Beberapa mil dari konvoi tersebut, Hypatia tengah bergegas mengganti pakaian di kamarnya.

       "Nona, kau yakin akan pergi? Orang-orang bilang situasinya sedang tidak bagus," Laura, budak Hypatia, tampak sangat mencemaskan tuannya.

       "Tak apa-apa, Laura. Aku harus pergi untuk memastikan beberapa hal."

       Hypatia merasakan ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Gosip tentang pembongkaran Kuil Dionyseum sudah santer terdengar sejak kemarin dan menjadi perbincangan orang-orang di kedai minuman.

       "Laura, jaga lah rumah. Aku akan usahakan untuk kembali sebelum hari gelap," Hypatia pun memacu kereta kudanya cepat menuju plaza, tempat semua berita beredar.

       Di jalanan sekitar plaza, situasi nampak mulai tidak wajar. Jalanan yang terlalu lengang untuk waktu siang seperti ini, puing-puing yang berserakan, dan apa itu? Serpihan tangan marmer yang memegang anggur, tangan Dionysus kah? Sesampainya di plaza, Hypatia hanya mendapati sisa-sisa kerusuhan. Patung-patung besar yang hancur berantakan dan mayat-mayat bergelimpangan. Sebagian orang yang terluka tengah dirawat di pinggir plaza. Beberapa obelisk dan tenda-tenda di sekitar plaza juga ikut rusak. Terlambat, desah Hypatia. Dia memandang sekelilingnya, berusaha mencari kejelasan. Para pedagang telah bubar, orator dan penyair telah pergi. Teater di seberang jalan pun tutup hari ini.

       Seorang kakek berjongkok di sudut plaza, memunguti potongan kayu yang berserakan.

       "Kek, apa yang terjadi? Ke mana perginya orang-orang?" tanya Hypatia dengan cemas.

       "Patung-patung dihancurkan. Orang-orang Kristen dan Dionysian bertikai," ujar kakek itu terbatuk-batuk, "Banyak, banyak sekali orang-orang bertikai. Mereka membawa pedang dan kayu. Orang-orang Dionysian kini lari ke Acropolis."

       Deg, jantung Hypatia seketika berdegup kencang. Serapeum! Hypatia segera memacu kereta kudanya lagi. Ke mana para tentara di saat seperti ini?! Serapeum adalah kuil rakyat terbesar yang dibangun di atas bukit. Jika Acropolis di Athena memiliki Parthenon sebagai simbolnya, maka Acropolis di Alexandria memiliki Serapeum. Bahkan lebih dari sekadar kuil bersejarah, karena tempat itu juga merupakan perpustakaan, sekolah, serta rumah sakit. Dan kini Serapeum dalam bahaya!

***

Terjadi kepanikan luar biasa di dalam Kuil Serapeum. Ribuan penganut Dionysian dan Serapisian mengungsi ke dalam kuil, menghindari kerusuhan yang telah menjalar ke seantero kota. Jerit ketakutan, tangisan anak-anak serta lantunan doa-doa penenteram bergema di bawah kubah ruang utama kuil. Pada pemuda berkumpul di pelataran depan kuil, berjaga-jaga terhadap kemungkinan serangan dari massa Kristen.

       Hari telah senja ketika Hypatia sampai di Serapeum. Dengan wajah merah padam, dia berjalan cepat menuju aula perpustakaan kuil di mana Olympius dan teman-temannya sesama pengajar berkumpul.

       "Aku sudah berusaha meminta bantuan kepada senat kota," ujar Hypatia galau.

       "Apa jawaban mereka?" tanya Olympius.

       "Massa Kristen terlalu banyak," Hypatia menggeleng, "Tentara tidak akan datang ke sini untuk melindungi. Jadi lindungi lah diri kita sendiri sebisanya."

       Olympius menundukkan kepalanya. Mereka semua kini hanya bisa pasrah menunggu takdir mereka. Beberapa orang duduk menghibur diri dengan bermain musik dan membaca syair. Hypatia memilih untuk pergi melihat keadaan di ruangan lain.

       Saat melintasi pelataran dalam, Hypatia melihat beberapa orang diikat di tiang kuil. Wajah mereka tampak lebam seperti habis dipukuli.

       "Siapa mereka?" Hypatia menghampiri beberapa pelayan kuil di dekatnya.

       "Mereka orang-orang Kristen yang ditawan siang tadi."

       "Apa yang kalian pikirkan?!" bentak Hypatia seketika, "Kuil ini sedang dikepung, dan kalian hendak memancing kemarahan orang-orang di luar lebih jauh lagi?!"

       Dan Hypatia terkejut melihat pemandangan yang lebih mengerikan lagi depannya. Beberapa mayat terpanggang di tungku altar persembahan, mayat orang-orang Kristen.

       "Kami tidak takut pada mereka," jawab para pelayan kuil, "Tuhan bersama kami."

       Hypatia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Kota ini benar-benar sudah gila! Dengan berbagai perasaan berkecamuk, Hypatia menjauh dari tempat itu. Semua kekacauan ini telah membuatnya sesak. Hypatia berpaling menuju ruang kerjanya, sebuah observatorium di atap kuil. Hanya di sini, dia dapat sejenak melepas semua penatnya.

       Di lantai observatorium, Hypatia duduk seorang diri memandang langit penuh bintang di atasnya. Keindahan yang tak pernah henti dikaguminya di setiap malam. Sejak kecil ia telah banyak membaca karya-karya Pythagoras dan Ptolemius tentang benda-benda langit, dan itu selalu membuatnya tertarik. Pekerjaan ayahnya sebagai kepala akademi di Museum membuat Hypatia memiliki banyak akses untuk mempelajari beragam disiplin ilmu, termasuk astronomi. Hingga ia menjadi pengajar saat ini pun, Hypatia terus berusaha menularkan ketertarikannya tentang langit kepada murid-muridnya.

       "Nona, apa kita akan selamat dari kerusuhan ini?"

       "Semoga begitu. Berdoa lah," jawab Hypatia. Namun ia terkejut mendapati Laura, budaknya telah duduk di sampingnya.

       "Laura, apa yang kau lakukan di sini?!"

        "Maaf, Nona," Laura tampak cemas, "Hari sudah gelap dan kau belum juga pulang, jadi aku menyusul ke sini. Pelayan lain yang menjaga rumah."

       "Lalu dari mana kau tahu aku di sini?" tanya Hypatia heran.

       "Dalam situasi seperti ini, kau tidak akan ke mana-mana selain ke sini, Nona."

Hypatia tersenyum. Sejak dulu Laura adalah gadis yang pintar, itu sebabnya Hypatia menjadikannya sebagai kepala pelayan di rumahnya.

       "Lihatlah. Langit yang indah, bukan?" Hypatia tenggelam lagi dalam gemerlap jutaan bintang di langit. Tak dihiraukannya angin malam yang dingin menusuk.

       "Nona, mengapa kau tidak pulang saja? Kau bukan Serapisian, tak perlu terjebak di sini."

       "Tapi mereka terjebak di sini," Hypatia menunjuk berbagai peralatan astronomi dan catatan-catatan kerjanya yang tergeletak di rak observatorium.

       "Kau wanita yang beruntung, Nona," ujar Laura sambil membenahi letak selendang tuannya, "Tak banyak wanita yang punya kebebasan sepertimu. Bisa belajar banyak hal, bertemu banyak orang. Wanita lain tak pernah bisa sebebas dirimu."

       Hypatia memandang Laura lembut.

       "Kebebasan dimulai dari sini, Laura," Hypatia menunjuk kepalanya.

       "Pertahankan kebebasanmu untuk berpikir. Bahkan salah berpikir itu lebih baik dibanding jika kau tak pernah berpikir sama sekali. Itu pesan ayahku."

       "Kau benar-benar beruntung, Nona," sahut Laura lagi.

       Sebuah bintang melesat di dekat rasi bintang Lepus.

       "Nona, menurutmu mana yang benar? Apakah Tuhannya orang-orang Kristen ataukah Tuhannya orang-orang Serapisian dan Dionysian?"

       "Kebenaran adalah sudut pandang, Laura."

       "Lalu apa sudut pandangmu?"

       "Aku tak tahu Tuhan mereka. Yang kutahu, apa yang mereka lakukan saat ini adalah salah."

       "Bagaimana dengan Tuhanmu?" kejar Laura.

       Hypatia tersenyum, "Di Alexandria ini ada cukup banyak Tuhan. Di luar sana ada lebih banyak lagi, Laura. Di Ethiopia, di Persia, di India, juga di negeri-negeri yang tidak kita ketahui ada begitu banyak Tuhan yang disembah. Pengalaman membentuk sudut pandang kita tentang dunia, juga tentang kebenaran. Aku percaya Tuhan yang penyayang, kuharap begitu pula Tuhan-Tuhan mereka."

       Laura menyandarkan kepalanya ke bahu Hypatia, "Ini semua sangat membingungkanku, Nona. Jika Tuhan mereka penyayang, mengapa mereka menjadi sangat ganas?"

       "Karena itu kita perlu belajar," sahut Hypatia, "Ilmu itu cahaya yang mengusir kegelapan. Orang bodoh yang tak tahu apa-apa akan lebih mudah menjadi ganas seperti mereka."

       Malam ini, Hypatia dan Laura berdoa bagi kedamaian Alexandria. Saling bercerita dan menguatkan, hingga mereka lelah dan tertidur di bawah naungan bintang-bintang.

***

       Debu pasir gurun berhembus di depan gerbang kota Alexandria. Ratusan salib besar dan kecil diusung tinggi-tinggi bersama senjata-senjata tajam dalam sebuah arak-arakan besar menuju kompleks Kuil Serapeum. Ribuan umat Kristiani memadati jalanan di sekitar kuil seraya menyerukan keagungan Tuhan, "Halleluya!" Pagi ini keputusan telah dijatuhkan. Konstantinopel memberi ampunan bagi para perusuh Dionysian dan Serapisian yang mengungsi di Acropolis, tapi nasib Serapeum telah ditentukan.

Ruang utama kuil terlihat begitu lengang dan mencekam. Sebagian besar pengungsi telah dievakuasi karena Serapeum akan segera diruntuhkan. Sebuah patung Serapis raksasa berwarna indigo tampak kesepian di atas singgasananya di tengah ruangan. Hanya beberapa pelayan kuil yang menemaninya di saat-saat terakhir, berdoa dengan penuh kepasrahan.

       Sementara itu, terdengar kegaduhan di bilik perpustakaan. Hypatia bersama para pengajar lain serta murid-muridnya sedang bergegas mengosongkan rak-rak perpustakaan. Mereka menggelar kain lebar dan menaruh sebanyak-banyaknya gulungan papirus yang bisa dibawa keluar.

       "Cepat! Cepat! Tak ada waktu lagi!"

       Hypatia meraih beberapa gulungan papirus di sudut rak selatan dengan terburu-buru.

       "Jangan bawa gulungan yang tidak penting, Hypatia!" ujar Olympius.

       "Ini manuskrip Buddha dari Gandhara," tukas Hypatia cepat, "tak akan kau temukan di Athena dan Roma sekali pun."

        "Lalu apa yang di tangan kirimu itu?"

       "Ini tradisi kedokteran Mesir kuno dari istana-istana Memphis,  ini juga tak boleh hilang."

       Olympius hanya mendengus. Hypatia benar-benar tak bisa menentukan prioritas, pikirnya. Tapi keadaan saat ini sudah sangat mendesak, tak ada waktu lagi untuk berpikir panjang. Gemuruh teriakan massa Kristen terdengar makin dekat, mereka telah naik ke tangga utama kuil!

       Para pengajar pun menyudahi pekerjaan mereka dan segera berlari ke lorong bawah menuju pintu belakang dengan membawa gulungan-gulungan tersebut. Hypatia masih sempat menyelipkan  beberapa naskah rumus matematika di balik gaunnya. Secepatnya mereka keluar dan berbaur dengan keriuhan massa di bawah Acropolis. Sejumlah tentara Romawi tampak berjaga-jaga mengawal proses peruntuhan kuil. 

       "Hancurkan!!" Alexius si biarawan memberikan komando kepada massa yang tengah merangsek masuk ke dalam kuil.

       Mereka mencoreti setiap pintu dan tembok dengan lambang salib. Menebas dan menggempur setiap patung dan berhala kafir di sudut-sudut kuil dengan kapak dan palu. Umat Kristen Alexandria merayakan kemenangan iman mereka hari ini.

       Jauh di bawah bukit, Hypatia menatap nanar bangunan Serapeum yang tengah dilucuti dan digempur bagian demi bagiannya. Puluhan orang menarik tali-tali yang diikat pada salah satu tiang kuil, dan.. bruakk!! Debu-debu dari puing yang hancur beterbangan memenuhi udara di Acropolis. Berbagai perabotan dan barang-barang kuil dilempar dari atas bukit hingga hancur berantakan. Hypatia melihat rak-rak perpustakaan yang turut dilempar bersama ribuan gulungan papirus yang tertinggal. Beberapa gulungan itu jatuh dan tercecer ke tengah jalan, di antara kerumunan massa.

       "Ini kitab-kitab nabi palsu Pythagoras!"

       Mereka pun menginjak-injak gulungan itu hingga hancur berkeping-keping. Dengan penuh kesedihan, Hypatia memunguti beberapa serpihan gulungan itu dan membersihkannya. Gulungan-gulungan ini memang bukan wahyu, batin Hypatia... tapi mengapa orang-orang tak bisa menunjukkan sedikit rasa hormat atas ilmu-ilmu ini? Hypatia hanya diam dan menepi dari jalanan.

 

***

       Alexandria masih terlelap dalam mimpi buruknya malam ini. Di bawah keremangan cahaya bintang, dua orang wanita memacu kereta kudanya menuju pelabuhan. Gaun dan rambut mereka berkibar kencang diterpa angin malam yang dingin dan kering. Di belakang mereka terdapat tumpukan peti-peti kayu besar yang tertutup rapat.

       "Kusiapkan beberapa ratus solidus untuk bekal perjalananmu. Aku sudah menulis surat kepada sahabatku Heron di Athena. Dia seorang Kristen yang terpelajar dan akan memperlakukanmu dengan baik. Apa pun yang terjadi, bawa lah peti-peti ini kepadanya. Kau mengerti?"

       Laura mengangguk, "Tapi Nona, mengapa kau tidak ikut?"

       "Aku adalah milik kota ini, Laura," jawab Hypatia, "Aku akan tetap tinggal di sini."

       Hypatia menengok lagi peti-peti di belakangnya. Ia telah mengisinya penuh dengan ribuan gulungan papirus yang berhasil diselamatkan dari Serapeum. Gulungan-gulungan berharga yang berisi naskah-naskah para ilmuwan Yunani, Babilon, dan Mesir yang dikumpulkan selama berabad-abad.  Hypatia tak akan membiarkan harta ini musnah begitu saja di tangan orang-orang bodoh yang kini menguasai kota.

       Sesampainya di pelabuhan, Olympius dan beberapa pengajar lainnya telah menunggu.

       "Laura, mereka akan menemanimu sampai Athena," ujar Hypatia menjelaskan.

       "Benar, kau akan aman bersama kami," Olympius mempersilakan Laura untuk berjalan lebih dulu.

       Sebuah kapal tujuan Piraeus telah siap berangkat. Beberapa pekerja dengan sigap mengangkat peti-peti itu ke dalam kapal. Laura menatapnya dengan gamang.

       "Nona, apakah kita melakukan perbuatan yang benar?"

       "Kebenaran adalah sudut pandang, Laura," Hypatia menggenggam tangan Laura, "Pastikan bahwa kau punya alasan untuk membelanya."

       Hypatia memeluk dan mengecup kening gadis itu untuk terakhir kalinya.

       "Hati-hati lah. Semoga Tuhan melindungimu."

       Laura hanya mengangguk. Dengan berurai air mata, ia pun berjalan menaiki kapal.

       "Satu hal lagi, Laura," panggil Hypatia.

       Laura menoleh dari atas kapal.

       "Kini kau bebas," Hypatia tersenyum, "Belajar lah, kunjungi sekolah-sekolah di Athena atau berdaganglah. Menikahlah dan besarkan anakmu... ah, apa pun yang kau mau."

       Laura membalasnya dengan suara tercekat, "Sejak dulu aku sudah bebas, Nona. Kau yang mengajarkanku untuk itu."

       Sauh pun diangkat, perlahan kapal bergerak meninggalkan pelabuhan Alexandria. Dalam gelap, Hypatia seorang berdiri memandang cahaya di puncak mercusuar Pharos yang mulai meredup. Adakah yang tersisa untuk Alexandria? Sekecil apa pun, tak akan dibiarkannya padam. Cahaya yang akan menerangi jalan generasi mendatang menuju kebijaksanaan.

 

Epilog:

       Hypatia tetap bertahan di Alexandria dan terus mengajar astronomi, matematika serta filsafat. Desakan teologi Kristen terhadap tradisi keilmuan Yunani tidak membuatnya menyerah sedikit pun. Kekuatan logika dan argumentasi Hypatia menjadikannya sebagai filosof paling disegani di Alexandria, dan murid-muridnya berdatangan dari seluruh penjuru Romawi. Namun pergaulannya dengan kalangan atas membuatnya terjebak dalam konflik politik. Pada tahun 415 dalam perjalanan pulang usai mengajar, Hypatia diseret dan dibantai secara kejam oleh segerombolan biarawan di tengah jalan. Uskup Alexandria yang baru diduga terlibat dalam pembunuhan tersebut.

       Selama berabad-abad berikutnya, nama Hypatia terus diceritakan turun-temurun di kalangan Gereja Barat sebagai tukang sihir wanita yang gemar memperhatikan bintang-bintang dan menyesatkan manusia dari jalan Tuhan. Sebagian umat Kristen mengambil alih kisah hidupnya ke dalam sosok Santa Katarina, wanita suci yang dibunuh karena kecerdasannya.

       Alexandria yang dulu pernah memiliki perpustakaan terbesar di dunia dan menjadi pusat ilmu pengetahuan kini telah sampai di akhir masanya. Kematian Hypatia menandai dimulainya zaman kegelapan di Barat, namun ilmu-ilmu yang diperjuangkannya tak pernah mati. Selama ratusan tahun, para ilmuwan Yunani di pelarian terus memelihara tradisi keilmuan mereka. Hingga akhirnya di abad ke-8, ilmu-ilmu itu menemukan rumah barunya yang aman di Baghdad, yang segera berkembang menjadi pusat pencerahan baru, mengulang kejayaan Alexandria dan melanjutkan estafet ilmu pengetahuan di setiap zaman.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...