Joroknya Warga China Daratan Apakah Warisan Partai Komunis

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida pasti pernah nonton film-film China zaman kerajaan ya? Misalnya serial Putri Huan Zhu yang fenomenal, kita bisa melihat bahwa budaya China kuno memang sangat tinggi, mulai dari cara berpakaian, cara menata rambut, kebiasaan menjaga kesehatan, akan tetapi anehnya... mengapa pada zaman sekarang banyak dijumpai orang China daratan yang berkelakuan 'jorok'? 

Mulai dari kencing di dalam lift, buang ludah sembarangan, buang air besar di dalam transportasi umum atau bahkan di depan mall, dan toilet-toilet di China daratan terkenal 'horor' karena kebanyakan mereka tidak menyiram setelah buang hajat. Apalagi bentuk toilet umumnya sendiri ada yang tidak bersekat, sehingga setiap orang bisa melihat daerah privasi orang lain. Turis asal China daratan terkenal 'kejorokan'nya di berbagai negara. Aneh yaa... Sebenarnya darimanakah asal kebiasaan 'jorok' tersebut?

Jika kita bertanya dengan orang China daratan langsung, bisa jadi kita bisa mendapat penjelasan mengapa toilet umum mereka begitu bau dan kotor, yakni karena mereka pernah berada di masa yang amat sulit di mana air bersih begitu langka, sehingga sayang jika air dibuang hanya untuk 'menimbun kotoran' atau membersihkan kotoran di toilet. Waduuh...

Nah, berikut ini Nida kutip artikel yang membahas asal-usul adat buruk orang China daratan tersebut ya Sob:

Pada masa Republik China (masa sebelum Komunis berkuasa pada 1949), banyak adat istiadat tradisional yang masih eksis di masyarakat. Bagi banyak orang terutama yang berpendidikan, berbusana rapi, bertutur-kata intelek, tidak meludah di sembarang tempat dan lain-lain masih merupakan sebuah kriteria penting untuk menilai kematangan jiwa seseorang.

Setelah PKC (Partai Komunis China) berkuasa pada 1949, konflik seputar kebudayaan ditingkatkan ke taraf tinggi yang berkaitan dengan eksistensi PKC sendiri. Oleh karena itu mereka melakukan cara merusak langsung dengan meluluh-lantakkan, dan cara pengrusakan tak langsung ala “membuang ampasnya, sedot sarinya”, serta melalui penyalah-gunaan. Demikian kebijakan pemerintahan mereka terhadap kebudayaan.

Terlebih lagi saat Revolusi Kebudayaan (1966 - 1976), telah mendorong penghancuran kebudayaan tradisional ke taraf yang tak bisa diperbaiki lagi. Partai Komunis mengaduk-aduk konsep nurani masyarakat, sehingga mereka menjauhi tradisi bangsa. Demi mengingkari kebudayaan tradisional, mereka memuji hal yang kasar sebagai keindahan dan menggerakkan aksi “Naik Gunung Turun Desa” yakni gerakan mengirim pemuda-pemudi seluruh negeri ke pedesaan terpencil untuk belajar dari kaum buruh - tani yang memang tidak berpendidikan dan berkelakuan kasar.

Melalui gerakan bertubi-tubi tersebut, meski kaum intelektual China tidak lagi mematut diri dengan tata krama, tidak mengedepankan peradaban, bahkan tidak lagi menganggap tabu meludah sembarangan, berpakaian kedodoran, berperilaku malas-malasan, dan penuh umpatan kotor. Bahkan ada yang menganggap tindakan dan ucapan yang ngawur, dinilai tidak menghambat situasi secara keseluruhan. Bukankah itu semua berkat hasil kerja PKC?

Hmm... Sobat Nida setuju dengan pendapat tersebut?
 
Foto ilustrasi: google 

Referensi: 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...