Juara

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Oleh: Sihabuddin

Panggil saja aku Toni. Tapi, jangan ketawa ya kalau tahu nama panjangku. Karena nama panjangku memang aneh untuk sebuah nama. Meskipun sangat dekat dengan para pembaca Al-Quran. Tak tahu kenapa, orang tuaku memberi nama itu padaku. Setelah kutanya pada mereka, alasannya agar aku selamat dari gangguan setan yang terkutuk, "Karena nama adalah doa," begitu kata mereka.

Dan memang benar sih, arti dari namaku intinya seperti itu. Tapi, terkadang aku berfikir, masa sih tak ada nama lain yang lebih pantas untukku? Ah… sudahlah, tak ada untungnya kufikirkan itu terus. Yang penting, nama panggilanku tidak aneh: Toni. Tidak aneh, kan?!

Nah, kalau kalian penasaran dengan nama panjangku, baiklah, akan kuberi tahu. Tapi sekali lagi tolong jangan ketawa, ya... Yap, nama panjangku adalah...  A'udzu billahi minasy syaithanir rajim . Untuk sebuah nama benar–benar aneh, kan?! Untuk yang ketiga kalinya aku mhon, plis jangan ketawa di atas penderitaanku. Hiks.

Setiap kuberkenalan dengan orang lain, tiap itu pula kuenggan menyebut nama panjangku. Karena setiap kukasih tahu nama panjangku, mereka pasti mengira aku mengada-ada. Selalu begitu. Dan lebih parahnya lagi, setelah mereka percaya, mereka malah ketawa sendiri. Tak tahukah kalian, kawan? Hal itu sungguh membuatku minder, tak pede, jiper, dan kawan-kawannya. Tapi, kutetap jujur tak pernah bohong kasih tahu nama panjangku. Karena kutetap berpegang pada hadits nabi yang artinya, “Katakanlah yang hak walaupun terasa pahit.”

Itu baru aku. Belum lagi adik kembarku, yang nasib namanya sama denganku. Oleh banyak orang, nama mereka biasa disebut setelah namaku. Seperti ini: A'udzu billahi minasy syaithanir rajim, Bismillahirrahmanirrahim. Ya, itulah nama panjang adik kembarku, nama satu untuk berdua. Yang lebih tua dipanggil Rohman, yang lebih muda dipanggil Rohim. Lucu, kan?! Namanya memang lucu kalau dijadikan nama orang. Tapi, kalau disebut untuk melaksanakan kebaikan, nama aku dan adikku tidaklah lucu. Bahkan sangat dimuliakan. Right?

Oiya, itu mungkin sekilas nama aku dan adik kembarku. Meski kami sama-sama mempunyai nama yang dibaca sebelum membaca Al-Quran, namun perjalanan hidupku dan mereka berdua sangatlah berbeda. Mungkin kalau diibaratkan, bak langit dan sumur. Hheee..

Salah satu yang paling menonjol ialah dalam pencapaian prestasi, akademik maupun non akademik. Ehem, di akademik, aku selalu masuk sepuluh besar di kelas, lho! Sedangkan adik kembarku, tak pernah terlempar dari tiga besar di kelas. Mereka selalu gantian menduduki juara pertama dan kedua setiap semester. Wajar kalau hal ini membuat orang tuaku bangga pada mereka. Begitu juga diriku. Sebagai kakak yang baik, bila orang-orang membicarakan prestasi mereka yang begitu tokcer bin yahud, pasti kunyeletuk, “Siapa dulu kakaknya?! Toni!”

Lain lagi prestasi mereka di bidang non akademik. Baik di bidang olahraga, seni, maupun ilmiah, mereka sering menjuarai berbagai lomba mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga propinsi. Baru-baru ini mereka berdua mewakili kabupaten mengikuti kejuaraan bulu tangkis sektor ganda putra tingkat propinsi. Yah, meski hanya menjadi runner up, prestasi mereka cukup menggemparkan seantero kampung! "Si kembar pengharum nama kampung," kata mereka. Sedangkan aku, dengan prestasi adikku yang muncer, kuselalu punya topik baru untuk bercerita dengan teman-teman di sekolah.  Di akhir cerita selalu kuakhiri dengan kalimat, “Siapa dulu kakaknya?! Toni!”

Tak hanya sampai di situ, lho, membanggakannya adik kembarku itu. Di bidang seni khususnya tilawah, mereka langganan juara antar kecamatan karena memang suara mereka yang merdu. Pun di bidang ilmiah khususnya ilmu eksak, prestasi mereka tak kalah mengagumkan. Empat  bulan yang lalu, mereka berdua mengikuti olimpiade fisika tingkat propinsi. Si Rohman sukses menembus hingga semifinal, sedangkan si Rohim hanya berhasil masuk ke babak seperempat final.

Fyuh, begitulah. Adik kembarku memang multi talenta. Karena kehebatan merekalah, lemari di ruang tamu rumahku berisi penuh dengan piala. Semuanya hasil kerja keras mereka berdua, kecuali satu piala kecil yang disumbangkan olehku, karena berhasil memenangkan lomba makan kerupuk pada perayaan hari kemerdekaan beberapa tahun silam. Namun, meski dari lomba makan kerupuk, kutetap berbangga diri, karena itu bagian dari seni dan olahraga. Seni dan olahraga makan kerupuk maksudnya. Juara satu lagi! Hehehehe.

***

“Syaithon… Syaithon…,”  Mila meledekku.

“Enak aja Syaiton, Syaiton. Toni, bukan Syaiton, tauk! Mentang-mentang namaku diambil dari Ta'awudz, aku dipanggil Syaiton? Terlalu kamu, Mil!” ucapku kesal. Yang diprotes hanya nyengir kuda nil di tempat duduknya.

Makin lama seluruh bangku di kelasku makin terisi. Kebetulan si burung camar “Lia” kemarin ke rumahku. Dia begitu takjub melihat prestasi adik kembarku yang masih duduk di kelas 2 SMP. Diapun menceritakan ke semua teman di kelas.

Mendengar itu, kupingku semakin lebar dan seperti yang sudah-sudah, di akhir ceritanya kunyeletuk, “Siapa dulu kakaknya?! Toni!” ucapku bangga.

“Eh, Ton, kamu tuh ya jangan ngebanggain adikmu terus, sebisa mungkin kau harus berprestasi juga kayak mereka, donk! Kalau aku sih malu cuma bisa ngebanggain prestasi adikku, sementara aku STD banget alias standar-standar ajah,” ucap Anton sinis.

“Iya, betul! Taunya cuma bilang, “Siapa dulu kakaknya?! Toni!” kalau aku nggak bangga banget dengan hasil orang meski itu adikku sendiri, sedangkan aku tidak ada apa-apanya,” tambah Mila sambil mendowerkan bibirnya yang memang sudah dower dari sononya.

“Ya, kusepakat dengan kalian berdua!” si Burung Camar juga mendukung dua temanku.

“Aku juga!” tambah Vivi.

Hampir satu kelas memandangku dengan pandangan sinis, hanya beberapa orang saja yang cuek dengan keributan ini. Mukaku mulai berwarna pink saking menahan malu. Sejak saat itu, kuberjanji aku harus berprestasi meski di bidang non akademik. Aku yakin Allah memberikan sesuatu yang lebih pada diriku yang tidak dimiliki orang lain. Bahkan, kedua adik kembarku, meski aku dan mereka berasal dari satu bahan dan pabrik yang sama.

Aku masih ingat kata Bu Puji. Guru bahasa Indonesiaku waktu SMP dulu. Menurut beliau, kupunya bakat dalam tulis menulis. Begitu juga kata Bu Irma, guru bahasa Indonesia yang sekarang. Setiap ada tugas membuat puisi, cerpen, essay, dan karya ilmiah, punyaku selalu mendapat nilai plus ketimbang yang lainnya. Kir-fikir, kenapa tidak kukembangkan bakat itu ya? Aku mulai sadar akan kelebihanku. Sejak saat itu, kumulai berlatih menulis dan berkonsultasi kepada penulis-penulis senior. Tak tanggung-tanggung, kuputar otak agar tulisanku diterima di media dan mulai gencar mencari informasi lomba menulis.

***

Informasi  lomba menulis telah kudapatkan. Yang pertama kali akan kuikuti ialah lomba menulis cerpen di sekolahku sendiri yang diadakan oleh OSIS. Ku bertekad harus juara dalam lomba ini. Apalagi nama-nama pemenang lomba akan ditempel di mading sekolah. Kalau aku yang jadi juaranya, pasti teman-teman sekelas akan melihatnya. Dan yang pasti, tidak aka ada lagi yang mencibir bila aku bercerita prestasi adikku dan kuakhiri dengan kata “Siapa dulu kakaknya?! Toni!”. Apalagi kalau aku bisa juara tingkat kabupaten, propinsi dan nasional. Wuih, pasti mereka bakalan iri padaku!

Naskah cerpen telah kusetorkan ke kantor OSIS. Waktu terus berjalan. Hari yang kutunggu-tunggu telah sampai. Jantungku deg-degan tak karuan menuju mading sekolah. Di sana telah banyak siswa berkumpul, tak tahu aku apa yang mereka lakukan. Sampai di sana, ternyata... Aku mendapat juara harapan 1! Great, briliant, yippy!

Meski hanya di posisi harapan 1, kutetap bahagia karena ini adalah awal yang baik. Apalagi waktu melihat pengumuman di situ ada si Anton dan si Mila. Dan yang membuatku bangga, aku telah mengalahkan sekian siswa dari tiga jurusan di sekolah ini!

Dengan semangat menggebu-gebu, kumenuju kantor OSIS untuk mengambil bingkisan, sertifikat dan tropi yang akan menambah koleksi piala di ruang tamu rumah. Dengan senyum sumingrah, kulangsung masuk ke ruangan OSIS.

“Selamat, ya…. Kamu berhasil menjadi juara harapan 1 dari empat peserta yang ikut,” kata salah satu pengurus OSIS sambil senyum-senyum dan memberikan hadiahnya untukku.

“Apa?! Empat peserta?!”

“Iya, itu sudah bagus kan dari pada tidak ikut?” aduh… semoga saja teman-teman di kelas tidak tahu ini. Untungnya, yang jadi pengurus OSIS di kelasku tidak besar mulut, dan pastinya dia tidak akan menceritakan ini demi gengsi perlombaan OSIS.

Aku tidak boleh putus asa. Masih banyak lomba karya tulis lain yang belum aku ikuti. Kali ini ada lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh salah satu universitas di kotaku. Yang paling seru pesertanya tidak dibatasi usia. Selain itu, pengumuman pemenang akan dibacakan ketika pelaksanaan seminar yang mengundang anak-anak OSIS SMA seseantero kota. Dan beritanya akan menyebar di sekolah. Duh... senangnya! Aku harus ikut!

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Juara pertama diraih oleh Audzubillahiminassyaythonirrojim, dari SMA Bambu Runcing. Serentak semua peserta tertawa mendengar namaku dipanggil. Cuma anak OSIS sekolahku yang tidak tertawa. Mereka terlihat bangga padaku karna membawa harum nama sekolah. Namun ku tak peduli dengan itu. Pembacaan pemenang diteruskan. Juara kedua diraih oleh Amira Handayani dari SDN Suka Hati. “Lho, kok anak SD?” gumamku dalam hati.

Juara ketiga dan harapan dua telah dibacakan. Dari juara kedua sampai harapan dua, pemenangnya semuanya anak SD. Aku menunduk tak berani menghadap ke depan. Kumulai menyangka semua pesertanya anak SD kecuali aku. Dan ternyata, benar saja... semua peserta rata-rata anak SD dan yang SMA hanya diriku! Kutahu hal ini dari pengurus OSIS yang datang waktu itu, yang katanya dapat informasi dari panitia. Pantesan waktu pembacaan pemenang, panitia banyak yang senyum-senyum geli. Tapi, tak apalah. Ini pasti menandakan beberapa tahun lagi kotaku akan melahirkan sastrawan-sastrawan andal!

***

Lagi, aku tak boleh berkecil hati. Masih ada lomba lain yang belum aku ikuti, yakni lomba karya ilmiah tingkat propinsi yang diadakan oleh salah satu kampus ternama di negeri ini. Kusangat haqqul yakin, aku akan masuk dalam peringkat sepuluh besar. Dan aku akan mempresentasikan karyaku di depan para juri professional. Wuih!

Sebelum kumengirim naskah karya ilmiah tersebut, kuminta bantuan temanku yang sudah sering menjurai lomba karya ilmiah tingkat nasional. Ku banyak belajar dari dia, bagaimana menulis yang baik dan benar. Dia juga yakin aku akan masuk sepuluh besar, meski persaingan dijamin sangat ketat.

Kutinggal menunggu waktu pengumuman nominasi sepuluh besar yang akan dihubungi melalui telepon dan website kampus tersebut.

“Hore…!” Aku berjingkrak-jingkrak kegirangan setelah dihubungi melalui telepon oleh pihak panitia penyelenggara bahwa aku masuk sepuluh besar. Satu minggu lagi aku akan mempresentasikannya. Cihuy! Dan yang pasti, pesertanya sangat banyak, berhadiah jutaan rupiah dan pesertanya bukan anak SD karena lomba ini memang khusus untuk anak SMA.  Diriku senang bukan kepalang. Ibuku yang melihat tingkahku, tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Kumulai belajar bagaimana melakukan presentasi yang baik dan benar agar bisa meyakinkan para juri. Temanku yang sudah merasakan asam garam lomba karya tulis, yakin aku akan masuk lima besar. Yah, meskipun dia tidak menjamin aku bakalan jadi juara pertama.

Sebelum sampai pada hari H, semuanya telah kupersiapkan dengan matang, agar tidak malu-maluin. Akupun berangkat menuju ibu kota propinsi yang bisa ditempuh dua jam dari kotaku sejak jam 06:00, karena acara dimulai jam 08:00. Motor kulaju sesuai dengan perkiraan. Namun naas, setengah jam perjalanan, ban-ku bocor. Mau tidak mau kuharus ke bengkel. Pikiranku tidak enak. 30 menit berlalu ban-ku sudah ditambal. Kuyakini masih ada harapan. Lambat sedikit tidak apa-apa, pasti ada despensasi. Laju motor kupercepat. Tak sampai 15 menit perjalanan, ternyata ada kemacetan yang cukup panjang. Kata seorang pejalan kaki, panjangnya diperkirakan 4 kilometer gara-gara ada dua pohon besar yang tumbang. Penyebabnya hujan besar dan angin kencang yang terjadi tadi malam.

Sudah satu jam aku menunggu, tapi kemacetan tetap tidak berubah. Akhirnya kukembali ke rumah dengan perasaan kecewa. Mungkin belum saatnya aku jadi juara yang sesungguhnya. Kuyakin masih ada hari esok untuk menambah koleksi piala di rumahku. Tapi tunggu, apa karena niatku yang salah, ya? Hanya karena tidak ingin dipandang remeh teman sekelas. Kalau begitu, akan kuubah niatku. Lillahi ta`ala saja. Tetap semangat...! ^___^

Surabaya, 25 Juli 2011

 

          

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...