Kamar Gelap dalam Kepala Kasminah

Fashion-Styles-for-Girls-Online

gelap-di-kepala-kasminah.gif

Penulis : Nurhadi

"Kenapa kau memercayai Tuhan?"  Ia membuka percakapan saat kami hendak makan siang. Ia memang sering begitu. Tak lepas menatapku sejak hendak mengenakan mukena hingga mukena kelepas lagi. 
 Aku tahu, ia pasti menyimpan sebuah kenangan buruk di salah satu kamar dalam kepalanya. Ah, bukan menyimpan. Mana ada orang yang mau menyimpan sesuatu yang buruk. Berkali-kali kudapati ia melamun saat menyendiri. Kadang menangis, kadang memukul-mukul kepalanya sendiri. Sesuatu yang buruk itu pasti telah terjadi dan terlanjur tak mau pergi dari kepalanya.
 "Jawablah! Mengapa kau masih memercayai Tuhan?"
 "Kenapa harus kau tanyakan itu? Bukankah memercayai Tuhan adalah hal yang wajar bagi siapapun?"
 Mata yang selalu sendu itu lalu beralih dariku. 
 "Bukankah Tuhan itu bisu, tuli, buta? Ia tak pernah mendengar doa-doa kita. Tak pernah benar-benar mengembalikan suami-suami kita, anak, orang-orang yang kita cintai, jadi buat apa lagi kita masih memercayai bahwa Dia ada?"
 Kuhela napas berat. Namun kuusahakan tak tertangkap pendengaran perempuan itu. Rasa sakit itu tiba-tiba berdenyut lagi. Setelah tiga tahun kutimbun dengan keindahan-keindahan hidup. Aku lalu mendekatinya. Meraih pundaknya. Berharap ia menangis saja di pundakku. Tapi ternyata tidak. Udara Napan memang terlampau kering, sampai kadang mengeringkan hati siapapun.


***


 Hari itu Jumat, 16 Juni 2006...
 "Mereka membakar warungku, Har. Mereka membakar habis warungku. Aku sudah berkali membujuk Goris agar ikut ke Kupang saja. Tapi ia masih saja menolak. Ia tidak mau ikut evakuasi. Ia lebih memilih Dili," perempuan itu masih sibuk menyusut air matanya yang menganak sungai. Seorang bocah perempuan membeku dalam pangkuannya. Sementara dua kakak laki-lakinya mematung di kursi sebelahnya. Dari tatap mata kedua bocah laki-laki itu, aku bisa tahu seberapa besarnya ketakutan yang menguntit mereka sejak dari Comoro.
 "Ada rusuh apa lagi sih? Bukankah kemerdekaan seharusnya sudah menjadi akhir dari segala kerusuhan? Kurang apa lagi mereka itu?" Frans melempar koran bertanggal dua hari yang lalu. 
 Frans mendapatkannya dari Kupang, sewaktu menjemput keleuarga perempuan itu. Sebelum perempuan itu telah menitip pesan ke salah seorang polisi yang memngabari Frans. Dan inilah yang diinginkannya. Dekat dengan Timor Leste. Dekat dengan kebul debu tanah kelahiran ketiga anaknya yang sekarang bergolak lagi. 
 Sambil berusaha menguasai isak, perempuan yang sudah kuanggap seperti mbakyuku, karena sama-sama lahir di Jawa itu, lalu mulai bercerita.
 "Yang kutahu hanya sedikit. Aku dengar Perdana Menteri bersana dengan Falintil telah memecat 591 personil tentara. Sejak saat itu Timor memanas. Mereka yang sakit hati itu bersatu, menyingkir dan berkumpul di kawasan Tasitolu di tepi Barat Dili. Kudengar awalnya mereka dipimpin Gustao Salsinhs. Tapi yang santer terdengar sekarang malah Alfredo Alves Renado."
 "Demo 24 April kemarin itu tingkah mereka?" Frans menyela.

Sementara ingatanku melayang sewaktu Frans pulang dengan barang dagangan utuh serta membawa kabar suram. "Awalnya kudengar mereka cuma menuntut kepada Presiden agar memecat Taur Matan. Tapi lalu merembet ke tuntutan supaya Presiden juga harus memecat Perdana Menterinya."
  Frans menggeleng-geleng kecil.

 "Mereka telah menghasut orang-orang Loromonu supaya protes. Pemerintahan selama ini didominasi oleh orang-orang Lorosae. Orang Lorosae menganggap bahwa dirinyalah yang paling berjasa selama perjuangan pembebasan diri sementara oranng Loromonu hanyalah kelompok yang pro-penjajah. Coba kalian pikir, kalimat dungu macam apa itu? Padahal sudah sama-sama tinggal dalam satu langit, langit Timor Laste!" perempuan itu berhenti sejenak, menyeimbangkan perasaannya yang kian meledak-ledak. Menyeka matanya yang bercucuran kesedihan, kemudian ia mulai melanjutkan ceritanya.

 "Saat itulah terdengar selentingan kabar bahwa di Dili banyak bertebaran penyusup yang menebarkan racun dari mulutnya. Dan namaku... namaku... namaku Kasminah, Har! Namaku Kasminah! Mereka pikir akulah salah satu penyebar racun kebencian antarorang Timor Laste. Mereka pikir aku... aku..."

 Sekarang perempuan itu benar-benar kehabisan kata-kata. Emosi jiwanya telah membuatnya sulit mengeluarkan banyak cerita yang membebaninya kini. Dalam hening, bocah perempuan dalam pangkuannya memecah keheningan dengan tangisan yang menyayat ulu hatiku. Bocah perempuan yang kini menyusu pada Kasminah itu mengingatkanku pada Gabriel, yang meninggalkan jejak luka yang sama dengan luka yang tengah dipangku Kasminah saat ini.

 "Kenapa suamimu tak ikut?" aku mulai mengeluarkan suara.
 "Kami sempat bertengkar. Dan aku membenci pertengkaran itu. Aku tidak suka berdebat, aku selalu ingin hidup damai seperti kalian. Tapi..."
 Bocah perempuan di pangkuannya kembali menangis. Ia terpaksa berdiri untuk menenangkannya. Kutawarkan diri untuk membantu, tapi bocah itu menolak. Mungkin seharusnya ia bisa menenangkan dirinya terlebih dulu agar bocahnya tak ikut-ikutan merasakan beban yang dirasakannya.

gelap-di-kepala-kasminah.gif

 "Kami membeli kios di pasar Bekora lagi, Har. Ramai, lebih dari cukup kalau hanya untuk menghidupi kami berlima. Tapi kemarin semuanya telah habis. Kami tak bisa berbuat apapun saat milik kami dijarah dan kios dibakar. Aku bilang pada Goris bahwa kita harus pindah. Tapi ia selalu bilang ia orang Timor. Aku bilang bahwa Indonesia maupun Timor sama saja. Bukan karena keduanya yang menghidupi kami, jadi apa yang bisa diharapkan dari dua tempat ini? Tapi dia ngotot akan bertahan di tempat kelahirannya."
 "Ia menolak ikut evakuasi?" sahut Frans yang telah lama mendengarkan Kasminah.

 Aku telah tahu jawabannya. Kasminah pernah bercerita tentang betapa suaminya itu sangat membenci Indonesia. Ini aneh bukan? Lalu bagaimana selama ini Goris memandang Kasminah? Bukankah ia istrrinya yang telah melahirkan ketiga buah hatinya? Kebencian Goris pada negaraku memang bukan tanpa sebab. Peristiwa tujuh tahun silam, saat Timor melepaskan diri dari NKRI, mengorbankan adik yang amat disayanginya. Lazarus, pria yang tertembak oleh tentara Indonesia saat kerusuhan beberapa tahun silam, adalah saudara laki-laki dan satu-satunya keluarga yang dimiliki Goris.

 

Aku sendiri mengenal Kasminah dari Lazarus. Aku dan Frans pernah berhutang banyak padanya. Terakhir, saat kami memilih hidup damai di tanah yang sepi konflik dan meninggalkan tanah kelahiran suamiku untuk melewati Napan yang saat itu menjadi daerah perbatasan paling mengerikan, karena tentara Timor Laste tak segan menembaki siapapun yang dianggapnya sebagai musuh. Termasuk kami yang memilih keluar dari Timor. "Kau akan menunggu suamimu di sini?" tanya Frans.
 "Kalian keberatan menampung empat gelandangan ini?" jawab Kasminah ketus.
 "Tidak, tidak! Kami sama sekali tidak keberatan menampung anak-anak manis ini," aku lalu menyandingi putrinya, "demi Tuhan, aku dan Frans sangat menyukai anak-anak. Apa kau lupa bahwa kami punya Gabriel?"
 Peristiwa nyeri tujuh tahun silam itu kembali melintas. Saat api menghanguskan setiap sudut Dili. Kubilang pada Frans, tak usah pedulikan barang-barang kami di pasar. Tapi kenyataannya kami memang tak akan memiliki apa-apa jika kios kami dijarah. Saat kudengar kabar Frans tertembak di pasar, aku benar-benar tak menyadari kebodohanku karena telah meninggalkan bocah delapan tahunku di tengah kota yang tengah mendidih. Aku pulang membawa suamiku yang mendapat peluru di betis. Tapi... rumahku telah setengahnya abu.
 Gabriel lenyap entah lari ke mana. Mayatnya tak kami temukan di reruntuhan puing rumah kami. Itulah sebabnya Frans tak mau jauh dari daerah perbatasan ini. Di sini Frans bisa leluasa keluar masuk Timor melalui jalur tikus, mencari kabar tentang putra kami, Gabriel.


***


 "Dia bilang mengenal Goris," Frans membuka jaketnya setelah menyandarkan tubuh di kursi.
 Malam hampir habis saat kubuka karung dagangannya-minyak goreng, kubis, beras, garan, dan beberapa bungkus mie instan-hampir tiga perempat barang yang ia bawa tadi masih utuh. Kuhela napas sehalus mungkin agar tak terdengar dua orang itu. Aku tak ingin membebani Frans dengan kegelisahanku, bahwa benihnya telah berumur tujuh bulan dalam kandunganku. Toh mereka sudah tahu itu.
 "Dia orang mana?" sahut Kasminah.
 Desah Frans terdengar lebih berat, "Wah, aku lupa menanyakan itu. Aku hanya tahu namanya Titus. Ia mengambil barang untuk kemudian dijual lagi. Ia bilang pernah bertemu Goris saat keluar dari Dili. Titus bilang Goris akan ke Selatan mencari anak-istrinya. Bisa saja ia sampai di sini. Tapi Titus tak tahu Goris akan lewat jalan mana."
 "Bolehkah besok aku itu kamu saja?"
 Pertanyaan Kasminah membuat Frans diam sejenak. Aku tahu pikirannya sama dengan pikiranku saat ini. Bagaimana bila Kasminah ikut Frans? Bagaumana dengan Helena, yang kini ada dalam dekapan Kasminah. Bagaimana Frans mengarang alasan bila membawa Kasminah dan beberapa bocahnya? Frans pasti akan dikira pelarian bila tertangkap petugas karena Kasminah tak memiliki KTP Indonesia. 
 Kasminah tak menyahut lagi saat Frans menjelaskan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Aku melihat gurat kecewa di wajahnya. Tapi tiga anaknya adalah alasan paling logis untuknya tetap bertahan di sini. Aku tahu, ia harus tetap tinggal untuk anak-anaknya yang masih kecil-kecil.


***

gelap-di-kepala-kasminah.gif

Seberapapun pendeknya waktu, pasti akan terasa panjang dalam penantian. Hari demi hari Kasminah memang menggantungkan kabar tentanng suaminya dari keberanian suamiku menelusup ke tempat-tempat yang sebenarnya sangat tak aman bagi orang sepertinya. Persahabatan kami sebenarnya terjalin sejak kami sama-sama punya kios di pasar Bekora. Tapi jalinan itu merenggang pasca 30 Agustus 1999. Goris memilih Dili. Dan sekarangpun ia masih setia memilih Dili. Tapi aku tahu Frans, apalagi kami punya utang budi dengan mendiang Lazarus.  Frans bilangm di Wini, Haumeni Ana, Tasinifu, dan Kemenanu pun dipenuhi orang-orang yang menanti. Frans juga bilang ia sudah mencari Goris di Nongkilan, Tasae, Saben, dan Oesilu. Tapi nihil. Ia bilang ia perlu masuk lebih dalam. Aku bilang jangan, tapi Frans tetap pergi dan menenangkanku bahwa ia tak akan apa-apa karena ia masih membawa karung dagangannya sehingga kecil kemungkinan ia dicurigai sebagai penyelusup. Sementara aku tetap khawatir mendengar cerita-ceritanya. Keluar masuk desa ini-itu, bertanya tentang Goris kepada si A, B, atau C, seolah ia tak sadar bahwa nyawanya begitu berharga bagiku.

 Suatu pagi, kegelisahanku terbukti. Frans tak pernah pulang. Aku tak tahu di mana malam telah menyekapnya. Aku selalu menangis lirih jika memikirkan bahwa kemungkinan besar Frans telah... mati! Atau sesungguhnya ia kembali kepada tanah kelahirannya, pada keluarganya atau... 

 "Kau tak usah ke mana-mana, Har. Biar aku yang mencari Frans. Semuanya gara-gara aku. Kalau saja Frans tak menolongku.... Jadi sudah seharusnya aku yang men..."
 "Dia suamiku, kenapa kau melarangku mencari suamiku sendiri?" kutepis tangan perempuan itu dengan halus.
 "Kandunganmu, Har. Kau harus memikirkannya. Setidaknya itulah satu-satunya peninggalan Frans yang kau punya. Kau harus menjaganya baik-baik. Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai..." Kasminah menggantungkan kalimatnya, "biarlah aku yang mencari Frans."

 "Apa kau bisa melakukannya?" 
 "Entahlah," pandangannya menerawang ke luar, "tapi pasti aku akan berusaha seberapapun kerasnya. Lihatlah, aku masih punya kalung. Ini bisa jadi modal awalku, kan?" perempuan itu tersenyum, hambar.

 Kasminah meniru suamiku berjualan sembako di jalanan gelap itu. Ia harus berangkat tengah malam dan baru kembali jam delapan pagi. Ia harus menghindari siang karena siang hari ia akan membayar sejumlah pungutan liar yang bila dijumlahkan bisa setara dengan modalnya yang besar itu.

 Sementara aku berjaga di rumah, menanti Frans, Gabriel, atau mungkin Goris yang dinanti Kasminah. Penantian hampa sebenarnya. Tapi ketiga bocah yang kini kuasuh, menggantikan peran Kasminah, membuat hari-hari penantianku tak begitu terasa hampa.

***

"Jawablah kenapa kau masih memercayai Tuhan?" "Kenapa kau menanyakan itu, Kas? Itu pertanyaan konyol dan..."

 Aku menggantungkannya lagi. Bukan, bukan! Sebenarnya karena aku tertampar oleh perkataanku sendiri. Aku teringat kehidupanku sejak bersama Frans, sebenarnya akupun hampir saja membuang Tuhan dari kehidupanku. Tapi itu sudah lama sekali, saat aku mengalami kegamangan teramat panjang. Bersama Frans yang kini entah kuharapkan lagi kehadirannya atau tidak.

 Satu hal yang kusadari kini, mungkin Frans memang telah merencanakan kepergiannya. Frans memang tak pernah benar-benar menunjukkan kecintaannya pada tanah Timor. Tapi aku merasakan napas kerinduannya pada keluarganya, Tuhannya, bahkan Gabriel yang menghilang setelah dibaptis di gereja. Aku mungkin terlalu percaya diri bahwa akulah yang paling dicintai Frans hingga ia rela meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi bersamaku. Aku lupa, betapa ia seringkali membicarakan masa kecilnya di Dili yang penuh warna, yang penuh bahagia bersama sanak famili, orangtua, abang-adiknya. Ah, aku melupakan itu. Jadi bila kini Frans tidak akan pernah pulang karena memilih tanahnya, keluarganya, atau bahkan Tuhannya, biarlah. Aku merelakannya. Karena di sini akupun telah memilih untuk kembali pada-Nya.

 "Aku tak ingin seperti dulu lagi, Kas. Aku tak ingin ia seperti kakaknya," kuayun-ayun bocah lelaki usia tiga tahun yang ada dalam gendonganku, "aku tak tahu Gabriel sekarang masih hidup atau sudah mati. Kalaupun telah mati nanti, apakah ia menyebut Jesus atau Allah. Mana yang akan ia imani, aku tak tahu, Kas. Aku tak ingin Ahmad seperti Gabriel kakaknya.

 Perempuan itu lalu terdiam. Aku rasa ia pun punya masalah yang sama sepertiku. Anak-anaknya yang kini kian beranjak besar, tak ada yang condong ke Allah atau Yesus sekalipun! Sama sepertiku dulu, setelah bersuamikan Goris, Kasminah telah menyelinapkan keislamannya entah di mana. Pulau Jawa dan segala kenangannya hanyalah mimpi indah dalam kepala kami. 

 "Jika kau ingin pergi sekarang, lusa, atau kapanpun untuk mencari Goris, pergilah, Kas! Jangan merasa berutang budi padaku. Jangan pula mengkhawatirkanku karena masih ada Allah yang menjagaku nanti."

 Ia lalu melangkah ke dapur. Entah untuk apa, tapi satu yang kutahu, ia biasa menangis sendirian, menyandar di dalam kamar gelap di kepalanya.

***



Keterangan:
Falintil: panglima angkatan bersenjata Timor Leste
Loromonu: daerah matahati terbenam, atau Timor sektor Barat
Lorosae: daerah matahati terbit, atau Timor sektor Timur

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...