Kardinal

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis: Agung Dodo Iswanto



Aku ditakdirkan Tuhan lahir di kota dengan benteng paling tangguh di dunia. Aku senang bisa mengabdi pada Tuhan di bawah bimbingan Kardinal. Beliau selalu bisa memompa semangat para ksatria. Ksatria selalu bisa menghadang serangan bangsa-bangsa penjajah. Dari mulai pasukan Gothik, Avars, Persia, Khazar dan Arab Muslim. Ya, karena aku lahir dan hidup di ibukota peradaban dunia. Konstantinopel.

Di suatu sore cerah selepas menunaikan kebaktian, seorang gadis kecil berlari ke arahku. Di bawah kemegahan gereja Hagia Sophia, dia menangis di pundakku.

“Katakan sesuatu padaku, gadis manis... Tuhan akan selalu mengasihimu,” ucapku tulus berusaha menenangkannya.

Sambil sesenggukan dia berusaha berbicara. Wajahnya muram penuh kesedihan, dia memandangku penuh harap layaknya pengharapan seorang hamba pada Tuhannya.

“Bapa, kata bunda ayah dan kakak berjuang membela Tuhan. Mereka sedang mengusir para iblis yang menyerang kota kita. Aku sedih berpisah dengan mereka, Bapa!” Mata gadis kecil itu berkaca-kaca, gurat halus di wajahnya menjelaskan betapa menderitanya anak ini. Harus kesepian ditinggalkan orang-orang yang dicintainya segini muda. Aku hampir saja menangis, aku langsung memeluknya.

“Bersabarlah, anakku. Berdoalah kepada Tuhan semoga kau diberi kekuatan untuk melewati semua ini,” aku berbisik ke telinga mungilnya. Dia sekonyong-konyong melepaskan pelukanku dan menatapku tajam. Lebih tajam dari pedang. Ketajaman tekad karena terlalu sering melewati penderitaan.

“Sampai kapan aku harus bersabar, Bapa? Kapan perang ini akan berakhir?” dia menangis lagi dan menaruh tubuhnya ke pundakku. Melepas semua beban berat yang harus ditanggung oleh gadis kecil ini.

Aku melingkarkan tanganku ke tubuhnya. Setitik air mata jatuh di pipi kiriku, ya, hanya setitik. Sebuah senyum harapan tersungging di bibirku.

“Perang pasti berakhir, anakku. Tuhan pasti akan mengirimkan Raja yang akan memberikan kedamaian bagi negeri ini. Percayalah!”

*

“Bumb!” sebuah dentuman keras memecah kesunyian kota. Aku dan Kardinal yang tengah khusyuk berdoa tak kuasa membeku dalam ketakutan. Seorang ksatria berlari menghampiri kami.

“Bapa, pasukan Arab menyerang benteng utama. Kardinal diminta segera menemui Yang Mulia Raja Konstantin 11,” keringat dingin mengalir di kening ksatria itu, dia dicengkram ketakutan yang sama dengan kami. Ya, suara-suara meriam Arab bisa membuat nyali para ksatria kami ciut. Apalagi kami rakyat, rasanya seperti mau mati.

“Jadi ini balasan dari Sultan? Sang Sultan tidak mau berdamai tanpa menaklukkan Konstantinopel. Dan Raja Konstantin juga tidak mau menyerahkan Konstantinopel begitu saja. Tidak ada jalan lain, kota ini kembali harus berperang!” Kardinal memejamkan mata sebentar, dia mengepalkan sebelah tangannya.

“Pastur!” ujarnya.

“Iya, Bapa?” jawabku

“Jagalah gereja ini sampai aku kembali,” pintanya.

“Baik, Bapa!” ujarku.

Lalu Kardinal mengikuti ksatria itu menuju kediaman Raja Konstantin. Untuk sementara seluruh rakyat masih aman di rumah-rumah mereka. Aku juga hanya bisa berdoa dan terus saja berdoa kepada Tuhan. Selama benteng kami belum berhasil ditembus, tidak ada yang perlu ditakutkan. Walaupun harus aku akui, suara meriam Arab sungguh telah membunuh setengah jiwa kami.

Diskusi berlangsung semalaman. Ketika aku masuk ke ruangan Kardianal, aku baru sadar dia sudah duduk dengan kecemasan yang amat sangat di ruangannya. Wajahnya basah oleh peluh. Bahkan saat dia mencoba minum air dari gelas porselen kesayangannya, dia meletakkan gelas itu kembali ke meja.

“Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi, Bapa?” tanyaku perlahan padanya. Ini memang bukan satu dua kali kami diserang. Walaupun menurut sejarah pasukan Arab sudah delapan abad terus menerus menyerang kota ini.

“Buruk, ini buruk sekali. Ini adalah yang terburuk dari yang paling buruk. Sultan Mehmed membawa 150 ribu pasukan!"

“150 ribu pasukan?” Aku bergidik. Ini pasukan terbesar yang pernah dikirim bangsa manapun untuk menyerang kami. Perang tidak akan berlangsung berminggu-minggu, perang ini akan berlangsung berbulan-bulan, sampai Sultan kehilangan semua pasukannya atau kami kehilangan Konstantinopel.

“Sudah tidak ada jalan lain. Kita harus meminta bantuan ke Roma,” ujarnya sambil mengambil gelas porselennya lagi.

“Roma? Aku tidak setuju, Bapa, hati rakyat akan tersakiti,” jawabku menentang.

Air yang hendak diminum Kardinal, dimuntahkannya lagi. Setetes airpun tak sanggup mengalir di tenggorokannya. Selama aku mengabdi pada Kardinal, tidak pernah aku melihatnya sangat tegang dan ketakutan seperti ini. Seolah-olah malaikat pencabut nyawa telah mengetuk pintu kamarnya.

“Tidak ada jalan lain. Jika bantuan dari Roma tidak datang maka Konstantinopel akan tamat,” ujarnya. Sambil menundukkan tangan dan wajahnya ke atas meja.

“Aku lebih senang melihat sorban daripada topi latin,” ujarku dalam hati. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa benciku kepada orang-orang Roma.

Perang berlangsung berminggu-minggu. Benteng kami sempat dihancurkan oleh orang-orang Arab. Untunglah para ksatria bisa membangun kembali benteng sebelum pasukan Sultan mendekati benteng.

Ada desas desus bahwa pasukan Arab membuat terowongan untuk menembus benteng. Seluruh rakyat ketakutan dan mulai mengungsi ke gereja. Untunglah tidak ada tanda-tanda pasukan Sultan berhasil memasuki kota. Di Barat juga terjadi pertempuaran sengit antara Genoa Giustiniani dan armada laut Sultan. Genoa berhasil mengaramkan kapal-kapal mereka. Semangat para ksatria kami terangkat, sampai saat ini belum selangkah pun pasukan Sultan berhasil memasuki Konstantinopel.

Bantuan yang diharapkan dari Roma datang tidak sesuai dengan harapan. Jika perang berjalan seperti ini terus, peperangan tak akan pernah berakhir. Kecuali salah satu dari Konstantinopel atau pasukan Sultan runtuh.

Aku sangat percaya dengan kekuatan benteng negeri ini dan pasukan Genoa Giustiniani di Barat. Yang sangat aku khawatirkan justru pelabuhan di Timur, Golden Horn. Walaupun di selat sempit itu ada rantai besar yang meghalangi kapal. Aku takut pasukan Sultan sewaktu-waktu menembus masuk selat itu. Aku tak bisa menahan asaku untuk bertanya pada Kardinal.

“Bapa, apakah Raja Konstantin menyiapkan pasukan di Golden Horn?” tanyaku sungguh-sungguh.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan di Golden Horn. Sampai kiamat pun pasukan Sultan tak akan sanggup menembusnya. Yang harus kita khawatirkan mengapa pasukan bantuan dari Roma hanya datang sedikit. Kalau begini terus cepat atau lambat orang-orang Arab akan menguasai kota,” ujar Kardinal. Aku tidak mengerti, kondisi Kardinal semakin lama semakin buruk. Ketakutan sudah menjadi pakaiannya seolah-olah lubang pemakaman telah disiapkan untuknya.

“Apakah kau merasa tidak sehat, Bapa?” tanyaku menghawatirkannya.

“Apa? Ti-tidak, a-aku tidak apa-apa,” jawabnya gugup. “Beritahu seluruh pastur di setiap gereja di Konstantinopel. Jika keadaan memburuk, kita harus bersiap menampung anak-anak, perempuan dan orang tua sebanyak mungkin.”

“Baik, Bapa. Akan aku laksanakan!' jawabku.

Sebagai tangan kanan Kardinal aku bertugas menyampaikan titah gereja kepada rakyat dan gereja-gereja kecil lainnya. Aku setengah tidak mengerti mengapa Kardinal meminta agar gereja bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk. Apakah kami sudah pasti kalah? Apakah Konstantinopel akan jatuh ke tangan orang-orang Arab? Aku tidak tahu. Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan menyelamatkan Konstantinopel.

29 Mei 1453, apa yang selama ini aku takutkan akhirnya terjadi. Entah dengan bantuan Jin atau Iblis, kapal-kapal Sultan berhasil menembus Golden Horn. Pekik dan teriakan aneh membahana di seluruh kota. Apa yang diduga oleh Kardinal, terjadi. Seluruh anak-anak, perempuan dan orang tua kami ungsikan ke gereja.

Perang kota tidak mungkin terhindarkan lagi, aku bergegas menemui Kardinal tapi aku tidak menemukannya di ruangannya. Aku mencari di setiap sudut gereja Hagia Sophia tapi tetap tak kutemukan juga. Padahal di saat seperti ini, Kardinal-lah yang mempunyai kunci untuk menyelamatkan kami.

Di hadapan lukisan Bunda Maria, Raja Konstantin memanjatkan doa seorang diri. Dia yang biasanya dikawal oleh banyak ksatria menundukkan kepalanya sendirian. Aku tidak tahu apa yang sedang dia doakan, apa yang dia harapkan pada Tuhan. Lalu dia bangkit dan bertemu pandang denganku.

“Baginda Raja!” ujarku.

“Pastur! Aku tidak melihat Kardinal, kemana gerangan dia?” tanya beliau sambil memandang menyapu seluruh area gereja. Hanya ada aku saja di dalamnya.

“Maafkan hamba, baginda Raja. Aku tidak tahu!” Raja hanya tersenyum.

“Ahh... Pastur!”

“Iya, Baginda Raja?”

“Tolong jaga rakyat Konstantinopel!”

“Pasti yang mulia.”

Entah mengapa wajah Raja Konstantin begitu bersinar. Tekadnya yang kuat dan bulat terpancar dari sinar wajahnya. Aku juga tidak mengerti apakah ini firasat? Seolah rakyat Konstantinopel tidak akan lagi melihat dan mendengar suara Raja yang agung ini.

Perang kota pecah. Pasukan Konstantin dan pangeran Orkhan bertempur habis-habisan dengan pasukan Sultan Mehmed. Armada laut Genoa Giustiniani yang diharapkan masuk ke dalam kota ternyata melarikan diri ke barat. Bunyi dentuman meriam, suara pekik dan teriakan aneh tentara Arab, dan kobaran semangat ksatria kami menggema sepanjang perang berkecamuk. Para pengungsi di gereja tak kuasa menahan tangis dan ketakutan. Bayang-bayang kejatuhan Konstantinopel dan pembantaian yang akan dilakukan orang-orang Arab berseliweran dalam pikiran mereka. Aku harus melindungi Konstantinopel, apapun yang terjadi.

Aku berlari dari satu gereja ke gereja lain, melewati kubangan darah para ksatria dan mayat-mayat tentara Arab. Kardinal Isidor, dialah harapan kami satu-satunya. Dialah harapan rakyat Konstantinopel. Dialah satu-satunya yang bisa membimbing rakyat keluar dari kegelapan ini. Kardinal Isidor, dia hanyalah dia. Aku harus mencarinya. Berbagai gereja telah kutelusuri tapi kardinal masih juga belum kutemukan.

Dan hal terburuk dari yang terburuk akhirnya terjadi. Kabar terbunuhnya Raja Konstantin telah menyebar ke seluruh kota. Pangeran Orkhan pun telah terbunuh sebelumnya. Aku hanya berlari dan terus berlari dalam keputusasaan. Air mata, keringat dan darah, semua bercampur jadi satu. Beberapa kali aku terjatuh dan tersungkur. Tapi sudah tidak ada waktu lagi. Kalau aku menyerah sekarang, seluruh warga Konstantinopel akan meregang nyawa di tangan orang-orang Arab. Apapun yang terjadi aku harus menemukan Kardinal. Ya, hanya dia yang bisa menyelamatkan rakyat.

Di tengah keputusasaan, seorang ksatria muda menghampiriku.

“Pastur, aku diminta menemuimu oleh Kardinal. Segeralah ikut denganku!” seru pemuda itu tegas dan lugas.

“Baiklah!” aku mempercayai pemuda ini. Kata hatiku mengatakan pemuda ini berkata benar. Tidak mungkin dia ini orang Arab yang menyamar.

“Ikut saya, Pastur!” seru pemuda itu sambil mendekati mimbar. Aku tidak menyangka dari balik mimbar keluar seseorang dengan pakaian compang camping dengan wajah kumal seperti tidak makan dan mandi berhari-hari.

“Katakan padaku, dimana Kardinal?” aku berteriak marah pada ksatria muda itu. Dengan santai ksatria itu menunjuk kepada orang yang lebih menyedihkan dari budak tadi.

“Kardinal? Tidak mungkin!” ujarku tak percaya. Kemana semua jubah indah Kardinal? Kemana semua senyum menawan dan sikap anggunnya itu? Sama sekali aku tak percaya manusia di hadapanku ini adalah Kardinal. Tapi ketika dia membuka mulutnya, sepertinya sebuah petir menyambarku hidup-hidup.

“Ya, ini aku, pastur. Kardinal Isidor!” ucapnya.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil menahan keluarnya air mata. Orang yang di depanku ini benar-benar Kardinal. Orang yang selama ini kucari dan kuharapkan menjadi penyelamat rakyat Konstantinopel, berpakaian layaknya seorang budak. Apa yang sebenarnya ada di benak Kardinal?

“Bapa... Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku kebingungan.

“Aku sedang menyamar!” ucapnya lugas.

Air mata mengalir deras membasahi pipku. Aku masih menggelengkan kepala tak percaya. Tak percaya dengan apa yang kudengar. Tak percaya dengan kesimpulan yang mucul di otakku.

“Bapa, katakan yang sebenarnya kepadaku. Kenapa kau harus menyamar menjadi budak segala? Apa yang sesungguhnya sedang kau rencanakan, Bapa?” berjuta tanya ingin sekali kuutarakan pada kardinal. Air mataku tak kuasa untuk berhenti mengalir. Aku tak kuat mendengar kenyataan sebenarnya.

“Ini memang menyedihkan bagi umat. Tapi pikirkanlah, pastur, kita masih bisa pergi ke Galata sekarang. Masih ada waktu. Tuhan menyuruh kita menyelamatkan diri sekarang. Dan membangun kembali kekuatan untuk menyelamatkan Konstantinopel,” ujarnya penuh dusta dan kebohongan.

Entah mengapa dalam beberapa saat pertemuan terakhirku dengan Kardinal, segala hormat dan kagumku kepadanya lenyap tak berbekas. Dia tidak lebih hanya seekor binatang brengsek tak bernyali dan tak punya hati. Aku tak mengerti mengapa orang seperti ini bisa diangkat sebagai Kardinal.

“Maafkan aku, Bapa! Jika aku harus mati, aku ingin mati di Konstantinopel. Jika semua rakyat harus mati, maka aku juga akan mati bersama mereka. Tak sejengkalpun aku akan keluar dari kota ini. Aku akan menyelamatkan umat!” Bibirku sampai bergetar mengucapkannya. Aku balikkan tubuhku dan beranjak keluar.

“Berarti kau telah melanggar perintah Tuhan Pastur. Perintah Kardinal adalah perintah Tuhan!” katanya. Aku benar-benar muak mendengar omong kosongnya. Masih sempat-sempatnya pria ini mengatakan hal yang membuatku jijik. Andai aku memegang pedang sekarang, sudah kutebas dia.

“Kalau begitu aku tidak percaya dengan Tuhan Kardinal. Tuhan orang-orang Arab itu masih leibh baik. DIA memberikan surga kepada orang-orang yang mati dalam perang,” kataku.

Aku berlalu tanpa mengindahkan lagi kata-katanya. Dia geram tanpa kata. Baru saja beberapa langkah kuberjalan, tiba-tiba seorang gadis kecil muncul dari balik meja jemaah paling belakang. Aku kaget. Gadis kecil itu adalah gadis yang pernah menangis padaku tempo hari. Jadi sedari tadi dia mendengar percakapanku dan kardinal. Ini tak bisa dibiarkan, anak itu dalam bahaya.

“Ksatria, bunuh anak ini!” seru Kardinal.

Petir kembar seperti menyambarku dan gadis kecil itu. Aku berlari sekuat tenaga menjangkau gadis kecil itu. Gadis kecil itu diam ketakutan. Sang ksatria berlari dan bersiap-siap menghunuskan pedang. Aku berhasil memeluk gadis itu. Tapi semuanya sudah terlambat.

Sesuatu yang hangat mengalir keluar perlahan dari perutku dan punggung gadis kecil itu. Mata pedang ksatria menembus tubuhku dan tubuh gadis kecil itu. Dia menangis. Menagis kecil tanpa suara, bersandar kembali di pundakku.

“Jangan bersedih, anakku. Tuhan pasti akan menolong Konstantinopel,” gadis itu hanya diam. Dia mati. Perlahan aku mulai kehilangan kesadaran. Pandangan dunia di hadapanku mulai kabur. Mataku terpejam dan aku pun meninggalkan Konstantinopel dengan harap dan doa. Semoga Tuhan menyelamatkan Konstantinopel.

Konstantinopel akhirnya jatuh ke tangan pasukan Arab. Penduduk kota mengungsi di Hagia Sophia penuh kecemasan dan ketakutan. Namun Sultan Mehmed II ternyata memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen. Hagia Sophia akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.

Toleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut. Sultan kemudian membangun kembali kota, membangun sekolah –terutama sekolah untuk kepentingan administratif kota– secara gratis, siapa pun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama, membangun pasar, membangun perumahan, bahkan rumah diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah. Ya, apa yang didoakan oleh sang pastur terkabul. Seorang raja telah dikirimkan oleh Tuhan yang mengakhiri perang di Konstantinopel sampai saat ini.

Kini Konstantinopel telah berubah nama menjadi Istanbul, dan Hagia Sophia beralih fungsi menjadi museum.

*end*



* Note: cerita ini hanya fiktif belaka yang terinspirasi oleh sejarah. Kardinal Isidor benar-benar kabur melalui Galata dengan menyamar menjadi budak. Tapi rakyat Konstantinopel hidup dalam damai di bawah naungan Sultan Mehmed II.



 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...