Karena Pengorbananku Pasti Akan Berbuah Manis

Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup sederhana. Baginya kemewahan adalah sebuah hadiah yang tidak mungkin ia dapatkan walau hanya dalam khayalan saja. Walau begitu dia tidak pernah merasa sedih dan gundah gulana. Hidupnya selalu riang gembira, bermain, bercanda bersama dengan teman-teman kecilnya. Gadis kecil itu terlampau kurus untuk anak seusianya. Namun bibit-bibit kecantikan sudah ada di garis wajahnya. Kelak bila sudah besar nanti dia akan menjadi gadis yang cantik jelita dan mempesona.

Keluar masuk dokter, hingga dia terkenal di kalangan paramedis karena terlalu seringnya pergi ke dokter. Ayah dan ibunya tidak tahu apa penyakit yang dideritanya sebenarnya. Gadis kecil yang pendiam dan penurut itu pun hanya menjalankan perintah saja. Dia adalah gadis kecil yang penurut dan cukup dewasa bila dibandingkan dengan teman seusianya.

Sementara gadis kecil itu tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dia hanya tahu bahwa untuk buang air besar saja dia harus dibantu dengan sebuah alat. Dan kadang-kadang dia harus merelakan kulitnya yang putih dan mulus untuk ditusuk dengan jarum yang sangat menyakitkan walau terlihat kecil. Hanya itu saja yang ia ketahui. Dia juga tak tahu untuk apa semua itu dilakukannya. Dia hanya berpikir bahwa dia adalah anak yang “istimewa” dibandingkan dengan teman-temannya, karena teman-temannya tidak ada yang harus memakai alat bantu bila ingin buang air besar, tidak seperti dirinya.

Seiring dengan berjalannya waktu, gadis kecil yang sudah mulai beranjak dewasa itupun berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Di usianya yang masih tergolong kecil (11 tahun), sudah banyak para lelaki baik yang sebaya maupun yang lebih tua yang ingin menjadikan dia kekasihnya. Bahkan tak jarang juga ada yang ingin menjadikannya sebagai pendamping hidupnya. Di satu sisi ibu gadis kecil itu bahagia, namun di sisi lain sang ibu juga bersedih karena hingga mau beranjak remaja gadis tersebut  masih sering sakit-sakitan.

“Mungkin kita harus menjual sawah kita yah untuk memeriksaan Sinta ke dokter lagi,“ begitu kata sang ibu suatu ketika.

“Ibu takut kalau Sinta semakin parah Yah dan itu akan mengganggu kecerdasaannya” begitu lanjutnya.

“Sekarang saja Sinta jarang masuk sekolah, masuk seminggu absen tiga minggu. Kalau begitu terus caranya bagaimana mungkin dia bisa lulus Pak,”

Sang ayah menatap lurus ke depan tak tahu apa yang ia pikirkan saat itu. Laki-laki keras yang sangat mencintai keluarganya tersebut seperti tidak berdaya dengan ucapan istrinya. Mungkin benar juga, menjual sawah untuk biaya pengobatan anak dan istri. Tapi bila dipikir-pikir lebih lanjut sayang juga karena itu adalah pemberian terakhir dari mendiang kedua mertua laki-laki tersebut. Namun bila tidak dijual dan hanya mengandalkan gaji nya yang tidak seberapa itu, tidak akan cukup untuk bisa membiayai pengobatan anaknya.

“Bagaimana, Yah?” tanya sang ibu mengagetkan sang ayah dari lamunannya.

Laki-laki itu tidak menjawab. Mungkin dia masih bingung. Seperti memakan buah simalakama yang sama-sama tidak menghasilkan keuntungan bahkan serba salah. Laki-laki itu masih belum bisa menjawab. Dia hanya melihat ke atas ke langit yang seolah-olah berharap bahwa keajaiban akan terjadi. Namun, tanpa perlu  dijawab, Sang Ibu sudah bisa menerka dan menebak apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu.

“Insya Allah Ibu sudah ada pembelinya Yah, pembeli sawah kita nanti.”

Laki-laki itu tak jua menjawab. Tetap diam dan membisu seperti sedia kala. Namun dari raut wajahnya jelas sekali terlihat bahwa laki-laki itu lelah dengan apa yang telah terjadi. Dia berusaha untuk membanting tulang demi mencukupi kebutuhan keluarga selama ini. Namun sepertinya usahanya itu sia-sia. Dia seperti musafir yang kelelahan yang kehausan dan tidak juga menemukan tempat tuk menenangkan dirinya.

Sedangkan gadis kecil bernama Sinta itu, sedikit demi sedikit mulai mengerti apa yang terjadi dalam keluarganya. Namun apa daya dia hanyalah seorang gadis kecil yang lemah dan tidak berdaya. Apa yang bisa dia lakukan untuk membantu mengurangi beban penderitaan kedua orang tuanya. Mengapa juga dia mesti sering rekreasi ke rumah sakit yang tentu saja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Gadis kecil itu tak tahu apa yang mesti dia perbuat. Dia hanya diam dan berharap keadaan akan secepatnya berubah menjadi lebih baik. Hanya itu saja harapannya.

**

Sawah sepakat untuk dijual dengan harga yang jauh dari standar. Namun karena keluarga Sinta sangat membutuhkannya untuk biaya pengobatan Sinta, maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menjualnya walau dengan harga yang sangat jauh di bawah standar. Alhamdulillah setidak-tidaknya ada uang untuk membiayai biaya pengobatan Sinta. Kondisi Sinta pun sedikit demi sedikit mulai membaik, dia juga sudah bisa mengatakan huruf “r”dengan jelas, apalagi setelah memiliki seorang adik kecil yang selama ini ia idam-idamkan.

Ya di kala Sinta berusia 11 tahun dia dihadiahi seorang adik kecil perempuan yang cantik dan lucu. Sinta sangat sayang kepada adiknya ini. Setiap hari dia selalu menyempatkan diri untuk menggendong adiknya tersebut. Kedatangan seorang adik ibarat hadiah yang tak ternilai harganya bagi Sinta.

**

Suatu ketika Sinta mendapatkan kabar dari Sang Ayah bahwa Sang Ayah akan pergi merantau ke luar Jawa demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Sebentar lagi sang ayah akan pergi ke negeri yang sangat jauh demi dia adik dan ibunya. Itu artinya dia sebagai anak pertama lah yang memegang peranan selama ayahnya tidak berada di rumah.

**

Ayah Sinta sudah tidak ada di rumah sekarang. Ayah Sinta pulang setiap empat bulan sekali dan dirumah paling lama hanya sepuluh hari. Namun kondisi itu tidak membuatnya menjadi cengeng. Setidak-tidaknya dia merasa lebih beruntung dibandingkan dengan adiknya yang sedari kecil sudah ditinggal ayah pergi tuk sesuap nasi. Sinta masih beruntung karena masih bisa merasakan hari-hari bersama ayahnya. Lalu buat apa dia bersedih. Tidak ada yang perlu dia sedihkan toh sang ayah pergi demi dirinya, adik, serta ibunya. Walau untuk anak seusia dia sangat sulit untuk bisa dimengerti apa yang sedang terjadi, namun Sinta mencoba untuk berpikir lebih dewasa.

***

Hingga suatu ketika sang Ibu berkata kepada Sinta, saat itu Sinta sedang duduk di bangku SMA sedangkan adiknya duduk di bangku sekolah dasar,

Sinta bagaimana bila kamu tidak kuliah?” kata Ibunya tiba-tiba dan tentu saja hal itu membuat Sinta kaget.

Bapakmu sakit keras Nak,” kata Ibunya lagi yang semakin menambah guratan tanya serta rasa iba pada sang ayahnya tersebut.

Adikmu masih kecil Sin, kamu mengalah demi dia ya, kasihan kalau adikmu sampai putus sekolah,”

Ibu yakin Nduk, meski kamu tidak kuliah namun kamu akan bisa mendapatkan apa yang  juga didapatkan oleh anak kuliahan, kamu akan dapat suami yang memuliakanmu Nduk,” Kata ibunya sebelum mengakhiri pembicaraannya tersebut.

***

Sinta, harus menelan pil pahit tersebut, bahwa ia tidak bisa kuliah dan harus mengalah demi adiknya. Mau bagaimana lagi, kondisi perekonomian keluarga memang sedang sulit dan tidaklah mungkin bila Sinta menuntut sesuatu yang sangat ia inginkan sementara ia tahu bahwa itu tidak akan ia dapatkan.

Meski sulit, Sinta tetap menjalani kehidupan tersebut dengan sebaik mungkin. Dia, sebagai anak pertama ingin membantu perekonomian keluarga, dem ayah-ibu- dan juga adik satu-satunya yang sangat ia sayangi itu.

Selepas SMA, Sinta melanjutkannya ke pendidikan nonformal, yaitu dengan mengikuti kursus bahasa Inggris di salah satu tempat kursus terkenal di kota tempat tinggal Sinta.

Selain kursus bahasa inggris, Sinta juga menjadi guru TK dan TPQ. Sinta bekerja keras demi orang tua dan adiknya hingga ia tidak memperhatikan kesehatannya. Sering sekali Sinta mengalami sesak nafas akut, ketika mengajar TK karena kelelahan dan jarang makan. Namun, itu semua tidak dirasakannya karena Sinta lebih peduli dengan adiknya dan kedua orang tuanya.

Sinta bahagia karena bisa membantu perekonomian keluarga. Sinta bahagia melihat adiknya bisa bersekolah dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah. Sinta juga terharu ketika adiknya selalu menghadiahi ia dengan nilai-nilainya yang sangat bagus dan membanggakan itu. Dengan melihat adiknya berhasil Sinta juga merasa ikut berhasil juga walau ia tak pernah merasakan menjadi seorang anak kuliahan seperti yang dirasakan oleh adiknya. Namun Sinta tidak menyesali itu semua, karena dibalik sebuah kejadian akan selalu ada hikmah yang mengiringinya.

Allah membuktikan itu, dengan memberikan Sinta seorang suami yang sangat mencintai dia dan sangat perhatian dengan keluarga Sinta. Tak hanya itu, Sinta juga diberkahi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Ya, Allah telah membuktikan janji-Nya.

Penulis:

 

@miyosimiyo, istri dari Ryan Ariefiansyah ini aktif di beberapa organisasi baik kepenulisan maupun non-kepenulisan. Penulis asli Kota Batu yang kini tinggal di Balikpapan karena mengikuti dinas suami ini adalah pemilik blog https://mysmartofficehomeoffice.wordpress.com/.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...