Cerpen

Layangan Dullah

Sore yang masih saja terik. Dullah, seorang bocah berusia lima tahun tertawa riang di area rel kereta. Anak-anak, remaja, dewasa, pun orang tua hiruk dengan kegiatan mereka. Rel kereta di daerah Pademangan – Jakarta itu telah beralih fungsi, bak lapangan tempat memainkan layangan, bak pasar tempat menjajakan dagangan, bak cafe tempat nongkrong sembari ngopi dan rokok-an, bak TPA,

Dongeng Terlarang

Udin menggigil. Andai saja ia tidak mendengar cerita bapak, pasti malam ini ia bisa tidur nyenyak dan bermimpi mengenakan seragam abu-abu baru yang wangi. Konon, soal IPA UN tadi sama semua dengan jawaban yang diterima Udin entah dari rimba mana. Udin membungkus tubuh, berharap tidur lebih cepat. Dalam pikiran Udin, yang dibungkusnya adalah ingatan-ingatan pada cerita bapak. Namun,

Rotan Ayah

Rotan Ayah. Membayangkannya saja membuatku merinding. Apalagi Ayah mengancam dengan menggamang-gamangkannya di udara. Bisa-bisa aku terbirit dan mengadu kepada Emak. Konon rotan itu diwariskan Kakek kepada Ayah. Panjang rotan sekitar lima puluh centimeter. Berwarna kusam saking uzurnya. Bagian ujungnya sudah retak-retak. Karena takut rusak, Ayah mengikatnya dengan karet gelang.

Lelaki Rokok

 “Pakne, enggak nonton anakmu?!” terdengar panggilan dari dalam rumah. Tapi suasana yang terekam oleh telinga membuatnya malas. Semua orang terdengar hiruk di sana. Seperti baru pertama kali melihat televisi. Gerah lelaki itu. Meski udara dingin sekali. Lengang pula suasana di jalanan. Orang-orang seperti sudah tahu kabar yang dibawa hawa dingin. Langit

The Best I Ever Had

The best I ever had.  Sekarang ini memang sungguh tak penting untuk menebak Hazmi sedang apa dan ada dimana. Juga tak perlu menerka-nerka apakah ia masih suka memakai selimut biru kesayangannya saat menjelang tidur, ataukah telah berganti selera. Pun tak etis lagi meramalkan esok pagi ia akan memakai setelan baju kerja warna apa. Meski hatiku merajuk pilu saat ini. Entah keangkuhan dan