Cerpen Sejarah

Sepucuk Surat untuk Pieter

Perempuan itu menatap lekat sepucuk surat yang tergeletak di atas meja. Ada harum yang menyeruak dari surat itu, entah wangi apa, ia tidak terlalu paham. Telah dua kali ia membuka surat dalam amplop berwarna putih kecoklatan itu. Tapi, ia kembali melipatnya. Bukan karena temaram bilik hingga matanya tak awas membaca deretan huruf kecil-kecil yang berbaris di kertas itu. Melainkan karena

RAJA DIRAJA

Penulis Rihana Adaminata “Akulah yang lebih pantas menjadi raja di negeri ini!” Seru Menteri Renal dengan suara lantang. Lalu beberapa saat kemudian ia berdalih, “tanpaku, negeri ini akan musnah karena serbuan para musuh.” “Kau jangan terlalu angkuh, Menteri Renal! Tanpaku, negeri ini akan tenggelam jauh di dasar bumi!” Balas Menteri

SERMA ABDUL MUIS

Penulis: Robby Anugerah Jono dan Fano menjinjitkan kaki untuk melihat ke dalam rumah melalui celah-celah jendela yang cukup tinggi di samping pintu. Dalam penglihatannya yang tidak begitu jelas karena tertutup gorden biru, Jono menduga bahwa rumah tersebut sedang tak berpenghuni.“Sepertinya tidak ada orang di dalam,” kata Jono.“Kau yakin?” balas Fano.

Rentetan Tembakan

Penulis: Akbar Kasmiati    Suara rentetan tembakan yang terdengar keras itu membangunkanku dari tidur siangku. Seperti ada pertempuran yang terjadi di dalam rumah. Aku menuju ke ruang tengah . Di sana, cucuku biasa bermain game counter strike. Ketika sampai, komputer itu tetap membisu. Baru kuingat, jam segitu cucuku belum datang dari kampus. Mungkin saja rentetan tembakan ini

Asma

Penulis: Sofiyatun  Bukankah manusia hanya seorang tamu bagi keluarganya? Yang berdiam sementara bersama mereka, lalu pergi meneruskan perjalanan. Siang menggelegak, meskipun matahari tertutup asap gelap, namun bara terasa memancar dari segala ranah, tak terkecuali dari setiap celah hamparan pasir yang kuinjak. Uap panas terasa menguar bersama deru senapan yang mendesing-desing. Aku