Kayuhan Martini

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Laili Fitriani

Seperti biasanya, penghujung bulan Desember selalu dipenuhi dengan berkah dari langit.  Bulir-bulir padi menangkap setiap butiran hujan. Menyimpannya dalam bentuk bulatan. Begitu menyegarkan.

Kerbau masih terlalu pagi untuk beranjak dari mata bajak. Sementara dalam rona keremangan mentari mulai terbangun. Pagi menjelang. Ditemani dengan beberapa tetesan hujan yang masih tersisa, hawa dingin segera bergerak.

Angin sepoi mulai menghembuskan irama. Menandakan hujan memang akan berhenti. Sampai kapan juga belum ada yang tahu. Yang jelas burung pipit diam-diam telah mengangkasa. Ia hendak menerkam buliran padi yang bermandikan butiran hujan.

“Ayo, Tini! Lebih kencang lagi kayuhanmu!” Kasdi berteriak sekuat tenaga.

Suara lantangnya disambut dengan beberapa percikan air dari jalan yang berlubang.

“Aduh, ini air becek, Tini! Apa kau tak punya mata?”

Martini hanya diam. Dihembuskannya nafas kekesalan pada beberapa pohon randu yang berbunga. Hamparan sawah masih terlalu jauh untuk dilalui.

“Ini sepeda tua, Di, kalau ngebut bisa-bisa pedal atau rantainya putus…”

Kasdi terdiam. Dipandanginya punggung Martini. Sebuah punggung yang ringkih. Kecil. Ya, terlalu kecil untuk membawa tubuh Kasdi ke mana-mana.

“Baiklah. Lebih cepat sedikit. Nanti terlambat!”

Sementara kicauan burung pipit yang sedang berpesta diacuhkan Martini, hanya suara kakinya yang bersandar pada sebuah pedal berkarat dan juga sadel kulit yang sudah amburadul: tak berbentuk.

Perjalanan ini memang sangat panjang. Ini masalah penafsiran Martini. Waktu yang ia butuhkan untuk sampai di sekolah adalah sekitar satu jam. Cukup untuk membuat otot-ototnya bagai tali yang menjerat tulang kakinya. Namun ini harus ia lakukan. Setiap hari. Entah sampai kapan ia harus melakukannya. Sudah ia besarkan hatinya untuk melakukan ini. Walaupun sampai lulus sekolah sekalipun.

Tepat pukul tujuh. Bel berdering. Tentu Martini sudah mencapai gerbang sekolah. Sebuah pintu gapura sederhana yang melambangkan sekolahnya. Serta beberapa tulisan yang menjadi identitas sekolahnya. SDN Karangan 3.

Bagi Martini ini belum menjadikan tugasnya selesai. Sekali lagi masih ada sebuah tugas yang harus dia lakuakan. Mengantar Kasdi sampai ke bangkunya di kelas. Dan ini juga bukan hal yang mudah. Ia harus membopong seseorang yang tubuhnya tentu lebih besar darinya. Kasdi duduk di kelas lima. Sedangkan Martini duduk di kelas empat.

“Nah, tugasku sudah selesai. Aku akan menunggumu. Jadi jangan pulang dengan orang lain!”

Dengan setengah nada mengancam Martini segera keluar dari kelas lima. Sedikit ditutupnya wajah kecilnya itu dengan tangan. Rasa malu mulai melingkupi hatinya. Mungkin jika yang ia hadapi adalah teman sebaya atau adik kelasnya berbeda lagi perlakuannya.

“Wah, tiap hari kau membonceng Kasdi? Mau-maunya kau ini…”

Sadiman. Teman sekelas Kasdi menghentikan langkah Martini ketika hampir sampai di ambang pintu kelas lima. Ditatapnya wajah Sadiman dengan tajam.

Jika disuruh untuk memilih tentu saja ia akan memilih berjalan kaki sejauh tujuh kilometer. Ini lebih baik darinya daripada harus membonceng Kasdi dengan memakai sepeda bapak. Atau pilihan lain yang tidak kalah peliknya, ia tak akan bisa sekolah!

Pil pahit memang terkadang harus ditelan. Dengan air keikhlasan ia menjalani pekerjaan yang diberikan oleh Ndoro1) Kasdiman dengan tangan terbuka. Ini tentu lebih baik daripada ia harus menjadi babu2)nya di rumah. Mencuci piring dan memasak tiap pagi. Mungkin ia mendapatkan uang, namun tak bisa berangkat ke sekolah. Martini memang cukup pintar untuk memilih pilihan. Tuntutan lakon nasib membawanya untuk menjadi manusia lebih dewasa daripada umurnya.

◦◦◦

“Tini, aku besok ada pelajaran olahraga…”

Kasdi memulai percakapan di sore hari. Kicauan dua ratus burung perkutut  Ndoro Kasdiman  serta suara radio dari kamar Kang Marsus membuyarkan sedikit perhatiannya.

“Tini….” Kasdi berteriak dengan lebih kencang lagi.

Spontan Martini kaget mendengarnya. Diambilnya sebuah baju putih lengan panjang yang terjatuh dari meja.

“Ndoro, jangan keras-keras. Saya kaget…”

“Oh, iya.. Aku hanya mengingatkanmu agar kau datang lebih pagi…”

Terdengar sebuah langkah kaki. Kasdi hafal betul milik siapa dentuman langkah ini.

Romo3)…” Bibir Kasdi bergetar.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini? Ini bukan tempatmu…”

Wajah Ndoro Kasdiman yang sedikit sangar membuat Martini selalu berdebar saat bertemu dengannya. Kumis yang berbentuk walang keket, begitu Martini menyebutnya dan juga blangkon yang selalu menutupi kepalanya.

“Permisi, Ndoro Kasdiman …” Martini menyudahi pekerjaannya. Ia tak mau Kasdi menjadi sasaran amarah romo-nya seperti tiga hari yang lalu. Ndoro Kasdiman mengamuk karena Kasdi membaca buku di ruang makan pembantu. Menemani Martini mencuci piring.

“Lain kali jangan ke tempat babu. Duduk saja di kamar. Kau kan belum bisa apa-apa!”

Ini bukan sekedar peringatan. Kasdi menganggapnya sebagai sebuah larangan. Memang sungguh tak etis jika anak ndoro berteman dengan anak penjaga pabrik. Itu sama juga dengan berteman dengan buruh pabrik!

◦◦◦

Martini menepati janji. Ia datang lebih awal menjemput Kasdi. Namun lain halnya dengan Kasdi. Ia malah belum melakukan apa-apa. Mandipun juga belum dia lakukan.

Entah mengapa hari ini Kasdi tidak seperti biasanya. Dugaan Martini adalah Kasdi marah pada Ndoro Kasdiman. Apalagi alasan yang membuat Kasdi membelot untuk tidak sekolah?

Sementara Martini masih termenung menunggu di teras depan. Melihat Mbok4) Jah yang sedang menyapu halaman yang entah berapa luasnya. Kang Marsus yang sedang memandikan perkutut milik Ndoro. Kang Samin mencuci mobil antik Ndoro Kasdiman. Dan juga beberapa pembantu yang sedang mengurus kuda-kuda Ndoro. Benar-benar membuat mata Martini silau!

Amatlah jauh jika ia harus membandingkan. Rumahnya hanyalah setangkap persegi yang disekat-sekat. Penuh dengan hiruk-pikuk manusia. Sementara rumah Ndoro Kasdiman seluas alun-alun kabupaten. Dan hanya memiliki dua orang anak: Kasdiman dan Warigan. Wajah Martini langsung teringat pada wajah Bagun, Martono, Kamilah, Aliman, dan juga Naning. Itu adalah orang yang berbagi tempat dengannya saat tidur.

“Ah… mungkin memang  sudah nasibku menjadi babu. Memiliki emak babu, bapak juga babu….” Martini mendesah pelan. Sementara Ndoro Kasdiman telah siap dengan kuda terbaiknya. Tangannya melambai ke arah Martini. Isyarat agar Martini datang untuk mendekat.

“Ini surat untuk Pak Budiman. Sampaikan Kasdi sedang sakit. Ini upahmu!”

Sambil menyerahkan surat, Ndoro Kasdiman memberikan beberapa buah uang logam. Tentu nilainya sangat besar untuk Martini. Dielusnya rambut Martini. Senyuman kecil menyungging dari bibir Ndoro Kasdiman. Baru kali ini ia mendapatkan asih dari majikannya itu.

Diam-diam mata Kasdi menangkap. Dalam bola mata Kasdi api berkobar. Dadanya semakin sesak dengan perlakuan Romonya. Di matanya Romo memang tidak pernah adil dan memberikan keadilan padanya.

◦◦◦

“Martini, apa yang Romo berikan padamu kemarin?”

Dalam kayuhannya, Martini menoleh ke belakang. Ia merasa Kasdi sedang dalam keadaan tak senang. Sejak pagi tadi memang raut muka Kasdi sedikit kusam. Tentu saja Martini makin tidak mengerti dengan sikap Kasdi.

“Ndoro Kasdiman memberikan beberapa uang logam. Dan juga surat sakit, Ndoro…”

Kayuhan Martini makin kencang. Dikumpulkannya seluruh himpunan tenaga  pada otot kakinya. Harapannya ia ingin segera sampai dan juga menjauh dari Kasdi.

Hari-hari berikutnya Kasdi hanya diam. Hingga memang hanya kayuhan sepeda tua itu yang terdengar di sepanjang jalan. Sementara itu keadaan kaki Kasdi juga semakin membaik. Lambat laun kesehatannya mulai pulih.

Kesehatannya tak diimbangi dengan kekerabatannya dengan Martini. Lengkap sudah. Martini kini hanya menjadi babu yang bersekolah. Dan Kasdi tampil dengan sepedanya yang sudah lama ia impikan. Sepeda buatan RRC5).

Tak jarang Kasdi mendahului Martini saat di jalan. Dan Martini akan disuguhi pemandangan lain. Punggung Kasdi yang membawa tas buatan Inggris dan juga sepeda mahalnya. Kasdipun akan mengurangi kekuatan kayuhannya. Tentu agar Martini bisa memandangnya dari belakang.

Berbeda halnya ketika di rumah Ndoro Kasdiman, Martini menghabiskan hampir semua waktunya di dapur. Ia sangat jarang terlihat di halaman depan, teras, ataupun halaman samping.

Kasdi mulai memikirkan keegoisannya. Mungkin ia terlalu tinggi hati. Sehingga melupakan kebaikan Martini yang selama setahun memboncengnya. Mata Kasdi menatap seluruh penjuru rumahnya. Ia tak menemukan sosok Martini.

“Ada apa, Ngger5)? Mencari siapa? Mau naik kuda dengan Kang Marsus?” Ndoro Karmini mendapati Kasdi sedang celingukan di halaman belakang.

“Tidak, Biyung6). Cuma ingin keliling kebun…” Jawaban dusta yang mengalir begitu saja dari mulut Kasdi. Mata Kasdi tak kuasa untuk bertatapan dengan mata biyungnya, wanita yang telah melahirkannya.

“Ndoro, ada Ndoro Sunyoto. Katanya mau ketemu Ndoro Kakung. Tapi tidak ada…”

Mbok Jah segera berlalu. Diikuti dengan langkah kaki Ndoro Karmini.

Hati Kasdi makin galau saat tak mendapati Martini di mana pun. Pikirannya tertuju pada sebuah kuda putih. Dipercepat langkah kakinya. Untuk pertama kalinya ia akan mencoba untuk menunggang kuda setelah kecelakaan setahun lalu.

Kuda putih itu nampak jinak saat dinaiki Kasdi. Rasa iba Kasdi pada Martini membuatnya untuk melecut kuda agar lebih cepat. Hanya seperempat jam ia bisa sampai ke rumah Martini. Kali ini ia lebih terkejut lagi, mendapati romonya tengah berbincang dengan bapak Martini. Tapi sepertinya sedang berpamitan. Ia menunggu dari balik pohon pisang. Setidaknya Ndoro Kasdiman tak akan berpapasan dengannya.

“Ndoro Kasdi, ada apa datang ke gubuk saya?”

Bapak Martini segera mengetahui kedatangan Kasdi. Dengan ragu ia turun dari kudanya.

“Martini ada?” Suaranya sedikit merendah.

“Maaf, Ndoro Kasdi. Martini tidak ada. Sedang ke pasar…”

Mata Kasdi memerah. Kedatangannya hanya menambah rasa curiga di mata bapak Martini. Tapi sudahlah, sebaiknya ia pulang sekarang. Pacuan kudanya makin kencang.

◦◦◦

Malam senyap ini membuat Kasdi enggan keluar dari kamarnya. Ia sudah lulus sekolah dasar sekarang. Maka nilai paling baik di sekolah memang pantas ia sandang. Segala daya upaya telah ia lakukan dengan semampunya. Dan harapan itu memang tak sia-sia. Bahkan ia adalah peraih tertinggi nilai ujian di kabupaten. Menambah mahsyur Ndoro Kasdiman dalam mendidik anak. Pujianpun datang membanjiri hati sang ndoro.

Semua ini tak pernah membuat Kasdi bangga. Ia malah merasa menjadi manusia yang serba kekurangan. Sebab ia memiliki semua yang dibutuhkan oleh seorang pelajar. Sedang teman seumurannya tidak memiliki semua yang dimilikinya.

“Kasdi, ditimbali8)   Romo!”

“Iya, Biyung…”

Dengan malas Kasdi beranjak dari tempat tidurnya. Ia sudah mengira akan ada hal serius yang akan dibicarakan romo. Setidaknya hal ini tidak jauh-jauh dari kelulusannya di sekolah dasar.

“Kasdi, Romo ingin memberitahukan sesuatu padamu…”

Dihisapnya cerutu dengan sekali hisap. Sebuah semburan asap telah menyebar ke sekitar kursi goyang yang diduduki oleh Ndoro Kasdiman.

“Tadi paklek9)mu datang. Sesuai dengan permintaan Romo, besok kau akan dijemput…”

Kasdi sedikit heran dengan ucapan romonya. Ia menggaruk kepala. Ada sesuatu yang tak ia fahami dari keputusan romonya.

“Maksud Romo?” Kasdi memberikan diri untuk bertanya. Tentunya tanpa menatap mata tajam sang romo.

“Kau akan sekolah di kota. Jadilah orang pintar. Jadilah dokter! Kelak kau akan jadi orang besar!”

“Tapi, Romo, bukankah bisa sekolah SMP di kota kecamatan?”

Ndoro Kasdiman hanya diam. Itu sudah cukup untuk membuat Kasdi mengerti. Tak ada tawar-menawar dalam hal ini.

Kasdi hanya termenung mendengar pengumuman nasibnya. Bagaimanapun juga ini adalah bagian dari perjalanan nasibnya. Sementara masih banyak yang harus ia selesaikan di rumahnya.

◦◦◦

Mata Kasdi nanar. Ditatapnya semua halaman rumahnya. Ia akan meninggalkan rumahnya untuk waktu yang tak ditentukan. Ini masih terlalu pagi untuk pergi dari rumahnya.

“Jadi orang pinter ya Ndoro Bagus!” Mbok Jah memberikan ucapan selamat pada Kasdi.

“Iya, Ndoro. Bangga kalau ndoro bisa jadi orang besar!” Kang Marsus menambahi.

Paklek Kasdi, Ndoro Sunyoto segera naik ke mobilnya. Barang-barang Kasdipun juga sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Semua sudah siap.

“Romo, mohon restunya…”

Kasdi sungkem kepada bapak dan ibunya. Raut wajah romo sudah berubah. nampak lebih segar dan cerah. Berbeda dengan biyungnya, mata sembab serta penuh dengan keharuan. Hatinya masih memberikan separuh restu untuk putra kebanggaannya.

“Ayo ngger, segera berangkat!” Mata biyung Kasdi makin memerah. Tak kuasa peluhpun menetes. Segera diusapnya dengan sapu tangan.

Mobil secara perlahan mulai berjalan. Mulanya nampak pelataran yang akan ditinggalkan Kasdi. Ratusan sangkar perkutut, kandang kuda, serta beberapa kendaraan milik romonya. Selanjutnya ia juga meninggalkan kebun dan juga rumah yang dirindukannya.

Hamparan jalan yang memisahkan rumahnya dari dunia luar. Jajaran pohon trembesi dan juga kapuk menutup rapat sinar matahari. Sebuah keteduhan yang ia rindukan. Pada jalan inilah Kasdi menghabiskan masanya dulu.

Hijaunya padi mulai nampak dipelupuk mata. Rona kehijauan segera memenuhi bola matanya. Melihatnya Kasdi hanya tersenyum. Karena duduk di belakang ia dapat memandang dengan leluasa.

“Oh, ini saat teman-temanmu berangkat sekolah Kasdi!” Paklik mencoba mengajak keponakannya berbicara.

Mata Kasdi menangkap sosok yang berada di tepian jalan. Ia sedang berhenti. Nampaknya seseorang itu sedang membetulkan sepedanya. Tubuhnya yang tidak begitu besar serta rambutnya yang dikepang dua membuat Kasdi langsung tertegun. Ia kenal betul dengan orang ini.

Perlahan dibukanya kaca jendela mobil. Tanpa sengaja terjadi saling pandang. Mata sosok itu begitu tajam menatapnya. Kasdi tak mampu berkata-kata. Rasa ngilu memenuhi tenggorokannya. Lidahnya basah oleh kumpulan kata yang tak bersuara. Segera ditutupnya kaca jendela mobil. Ia tak ingin melihat sosok itu lagi. Saatnya untuk membuka cerita baru dengan teman baru!

◦◦◦

Suasana baru tak membuat Kasdi merasakan kedamaian. Rata-rata temannya adalah anak para pejabat dan bangsawan. Ia berkumpul dengan orang yang sebangsa dengannya. Bukan berarti kebahagiaan didapat dengan kesamamaan derajat.
Jujur, keadaan ini membuatnya malah merasa terasing. ia tak menemukan sosok sederhana. Sebagaimana kebanyakan teman-temannya di kampung dulu. Meski begitu ia tak patah semangat untuk mewujudkan mimpi romonya. Tanpa membelokkan harapan ia tetap menginginkan untuk menjadi seorang dokter. Dokter Kasdi!

Lama-kelamaan ia menjadi larut dengan suasana baru. Bagaimanapun ia harus mau berteman dengan orang yang ia jumpai saat ini. Ndoro Kasdiman dan Ndoro Karmini tak pernah bosan untuk mengirimkan surat, telegram, maupun berbicara dengan langsung melalui telepon.

Perlakuan ini membuat Kasdi tak merasa begitu asing dengan tempat barunya. Tetap ada orang tua yang selalu memberikan dukungan padanya. Inilah yang membuatnya selalu semangat. Meski dalam keadaan tertentu ia membutuhkan saat untuk sendiri. Tak ada yang boleh mengusiknya.

Begitulah Kasdi menjalani masa hidupnya yang jauh dari masa kecilnya. Belajar untuk ngenger10) di rumah Ndoro Sunyoto, pakliknya. Tempat baru ini tak membuatnya merasa kesepian. Salim dan Narsih membuat hari-harinya selalu dalam masa kegembiraan.

Meski begitu selalu ada yang kurang dihatinya. Ia tak mendapati seseorang yang bisa diajak berbagi tentang hidup. Yang mengajarinya tentang hidup dan yang membuatnya menikmati hidup. Sosok itu tetap jauh, menetap pada desa Karangan.
“Martini Sulistiowati. Aku…”

“Kang Kasdi. Mari makan malam bersama!” Narsih mengetok pintu Kasdi.

Akhirnya ia urungkan niat menulis surat untuk Martini. Mungkin memang tak seharusnya ia melakukan ini.

◦◦◦

Hampir sepuluh tahun Kasdi melakukan masa perantauan menuntut ilmu. Sebagaimana kebiasaan orang kampungnya, yang tidak akan pulang sebelum cita-cita terlaksana. Maka ia pun juga demikian. Selama sepuluh tahun ia habiskan waktunya dalam masa pengembaraan mencari ilmu. Hanya beberapa kali saja ia mendapat kesempatan untuk bertemu romo dan biyungnya. Setelah itu ia tak bertemu lagi.

Dan saat yang panjang itu telah berakhir. Masa penantian telah pada batas ujungnya. Kini adalah saatnya untuk kembali ke peraduan. Kampung halaman telah membuatnya rindu. Kerinduan yang teramat mendalam.

Keadaan telah berubah. romonya bukan ndoro lagi. Selama sepuluh tahun perubahan besar telah terjadi. Rumah, sawah, kebun, ladang, peternakan, dan juga perkututnya telah lenyap. Kebangkrutan besar membuat romonya harus menjual semuanya. Hidupnya tak lagi berlinang kemewahan. Kemegahan hanya milik para ndoro.

Kepulangannya akan disambut di stasiun. Kereta api mulai berjalan meninggalkan kota. Sekitar pukul lima pagi kereta akan sampai desa Karangan. Benar, kereta api tak ingkar janji. Tepat pada pukul lima pagi ia bisa menghirup kembali wangi tanah desa Karangan.

Seseorang yang memakai blangkon nampak melambaikan tangan padanya. Disusul sebuah senyuman dari bocah kecil. Bocah itu nampak malu-malu bersembunyi di belakang romonya. Kasdi makin mempercepat langkah kakinya.

“Kasdi anakku! Kau benar-benar jadi dokter sekarang!” Rasa kerinduan memenuhi seluruh dada romonya. Dipeluknya putra kebanggannya itu.

“Siapa ini?” Kasdi penasaran dengan bocah yang malu-malu itu.

“Adikmu! Ayo kita pulang!”

Dengan menyimpan seribu pertanyaan Kasdi hanya menuruti perintah romonya.

Nampak di luar pintu stasiun ia sudah ditunggu oleh seseorang dan juga dua buah sepeda. Sepeda yang satu nampak masih baru, sedangkan yang satunya sudah usang.

“Ini biyungmu sekarang! Dan ini adikmu. Ini juga anak Romo…”

Hanya mata nanar yang ia rasakan. Sama dengan saat ia meninggalkan kampungnya dulu. Ia pulang dengan sepeda itu. Sedangkan romo dibonceng oleh istrinya yang masih nampak segar. Sesekali ia mencoba untuk mendekati romo. Bukan untuk bicara dengan romo. Ia ingin melihat biyung barunya lebih dekat.

“Ini bukan biyungmu Kasdi! Jangan biarkan kayuhan itu menjadi milik romomu!” Jiwanya getir. Hatinya berbisik lirih. Rasanya ia memang harus melakukan sesuatu agar kayuhan itu kembali padanya!

RumahJoglo, 270710

Keterangan:
Ndoro1)     = Panggilan untuk majikan, orang ningrat
Babu2)     = Buruh, budak, pembantu
Romo3) = Panggilan untuk bapak
Mbok4) = Panggilan untuk wanita yang sudah tua
Ngger5)    = Panggilan untuk anak
Biyung6)= Panggilan untuk ibu
RRC7)     = Republik Rakyat Cina
Ditimbali8)= dipanggil
Paklek9) = Paman
Ngenger10)=  Menumpang

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...