Keberkahan Jerawat

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Resti Siti Saleha



Huwaaa... zaman udah serba canggih, rasa-rasanya nggak elit banget deh kalau harus menggagalkan semua-muanya cuma karena sebuah je-ra-wat! Bulatan kecil yang mencuat di pipi gue itu telah hampir seminggu mengotori keindahan wajah mulus bak pan*at bayi milik gue. Huh!

Sebenernya gue kesal bukan karena jerawat itu ada sih, tapi lebih karena kenapa si Mr. J muncul begitu aja tanpa bilang permisi, punten, excuse me, dan kawan-kawanannya bertepatan dengan rencana super duper besar gue. Oke gue nggak keberatan dan nggak mempermasalahkan kehadiran si Mr. J, toh dia ada karena dipicu proses hormonal dalam tubuh gue. Tapi sekali lagi, kenapa harus sekarang, minggu-minggu ini, Tuhan... han... han...? *ceritanya teriak di atas gedung sekolah layaknya Gem Jandi di BBF*

Mau tau nggak kenapa gue mempermasalahkan kehadiran si Mr. J? Buat yang mau tau banget, jadi begini ceritanyaaa...

Awalnya gue kegirangan luar biasa kala melihat selembaran kertas yang menari-nari diangkat angin, dan tergeletak begitu aja di depan hidung betet gue kemudian meluncur bebas di ujung jempol dan jari-jari kaki gue. Wow! Tertegun gue dibuatnya, karena rupanya ada perlombaan yang menjanjikan uang banyak bagi para pemenang. Hmmm... di zaman serba sulit begini, apalagi harga tempe dan tahu terancam naik, siapa yang nolak sih? Gue pun bergegas pulang ke rumah dan segera lebih teliti membaca informasi perlombaan itu. Maklum, kampung gue lumayan jauh dari peradaban, jarang banget ada majalah yang sampai nyasar gitu aja. So, berbekal keyakinan tingkat dewi, gue pede banget buat ikut tuh perlombaan. Bismillah.

Sayang beribu sayang, seiring merangkaknya waktu, gue kok makin dibuat bingung. Musababnya adalah... perlombaan itu mengharuskan pesertanya berpenampilan menarik, memakai busana yang indah, dan nggak memiliki jerawat di wajahnya. Ambooooooiii, persyaratan yang terakhir inilah yang lumayan menguras seluruh kinerja otak gue! Masalah penampilan itu soal gampil, gue punya bibi tukang salon yang di dalamnya banyak perlengkapan untuk berhias, baju-baju pengantin hingga baju untuk pawai Kartini-an semuanya komplit plit plit. Gampang lah merajuk sedikit ke bibi yang menor itu. Tapi untuk masalah jerawat yang hinggap di pipi gue... nggak berdaya deh menolaknya. Hiks.

Konon di iklan-iklan tivi banyak alat kecantikan yang bisa menghilangkan jerawat dalam sekejap seperti sabun muka, krim siang-malam, hingga amplas besi. Gue sudah mencobanya, tetapi tetap aja si Mr. J satu butir ini masih betaaaah banget bertahta. Gue cuma bisa pasrah, namun tetap berusaha. Semoga Yang Maha Kuasa berbaik hati mau memberikan mukjizat-Nya kepada hamba yang terzolimi ini. Aamiin.

Masih pusing tujuh keliling mikirin si Mr. J, eh belum lama gue pun tau kalau ternyata bukan cuma gue yang tertarik dengan perlombaan ini. Si Midah, teman gue, juga kayaknya ngotot mau memenangkan kejuaraan yang langka ini. Sumpah bikin gue minder duluan! Soalnya si Midah nggak punya jerawat, kulit mukanya halus sehalus kapas hasil tanaman transgenik dan semacamnya. Hiks.

Gue tanya padanya perihal perlombaan ini, awalnya dia nggak mau ngaku. Padahal jelas banget tangannya menyembunyikan sesuatu, selembar kertas mirip majalah disembunyikan di punggung tubuhnya yang semampai itu, persis yang gue temukan tempo hari.

“Midah, ayolah, jujur sama gue, lo mau ikutan perlombaan itu, kan?” tanya gue sewot, sembari menggoyang-goyangkan lengannya yang disembunyikan ke belakang punggung.

“Apaan sih? Saya nggak tahu apa-apa!” jawabnya polos, pura-pura nggak ngerti.

“Lo mau ikutan jadi model juga?” tanya gue lebih menggertak. Merampas kertas yang sedari tadi disembunyikannya.

“Euueuuueu, emang kenapa?” tanyanya balik, ia kembali merampas selembar majalah robek itu dari tangan gue.

Berita buruknya lagi. Midah itu anaknya Pak Lurah, orangnya baik, cantik, penurut, tapi maaf... sedikit o'on. Jadi sering banget Pak Lurah menitipkannya pada gue. Seakan-akan gue kakaknya, pekerjaan sekolahnya pun selalu gue yang kerjakan, karena Pak Lurah sendiri yang memintanya. Sekarang, berani-beraninya dia main rahasia-rahasiaan dengan gue? Sungguh ter-la-lu!

“Ya nggak apa-apa sih, Gue juga mau ikut.”

Midah malu-malu, pipinya merah merona, “Iya dong, saya ‘kan mau jadi artis. Kata Bapak, Midah bisa jadi artis karena Midah cantik gitu lohhh!” ucapnya tak sedikit pun dibuat-buat. Baru kali ini ada orang cantik dan banggain dirinya sendiri, cape deehh.

Midah emang polos sepolos kertas HVS, dan kecantikannya menutupi segala kekurangannya. Mungkin sekilas Midah layaknya gadis-gadis lain, cantik nan rupawan. Tapi o'on-nya itu lho... minta ampun! Dia kudu ditemenin seorang teman, kalau nggak, runyamlah jadinya. Pernah Midah hilang, Pak Lurah dan Bu Lurah kalang-kabut nyari si Midah. Usut punya usut, ternyata si Midah dibawa orang gila yang mirip Pak Lurah, keliling pasar berdendang-dendang joget dangdut. Si Midah yang polos ikut-ikutan aja. Pak Lurah dan Bu Lurah? Malu setengah mati! Diseret, eh, digiring pulanglah si Midah. Midah oh Midah...

Dari kejauhan, Pak Lurah menghampiri kami berdua. Lemak dalam kandungan perutnya membuat ia lamban bergerak. Kalah cepat sama Tinky Winky di Teletubbies.

“Eh, Neng Asri...,” Pak Lurah menyapa, segera gue cium punggung lengannnya. “Si Midah mau ikutan kontes model, nih, hadiahnya lumayan buat jajan si Midah,” lanjutnya.

Woooooootttt? Dia bilang hadiahnya cuma buat jajan si Midah? Padahal hadiah sebesar itu cukup buat bayar SPP plus membiayai kehidupan gue selama satu tahun, eh si Midah buat jajan doank. Amboi, itu keterlaluan bin kebangetan judulnya! Berhubung gue cewek baik nan sopan, gue diam menyimak Pak Lurah ngelindur.

“Kamu mau ikutan tidak?” tanyanya, dan sebelum gue menjawab, Pak Lurah sudah terlebih dulu melanjutkan ucapannya, “Kamu pasti tidak bisa ikutan, kamu ‘kan harus belajar supaya terus dapat beasiswa, lagian uang pendaftarannya lumayan mahal, kamu tidak punya uang, ya kan?” enaknya diapain nih Lurah kayak begini?

Huh, dada ini penuh emosi tiap kali Pak Lurah bicara. Bukan cuma sama gue nada bicaranya yang terbiasa merendahkan orang lain, banyak pula warga kampung yang nggak suka. Berhubung kebaikan hatinya yang nggak sungkan membantu masyarakat, Pak Lurah masih menjadi Pak Lurah, bukan Bu Lurah (loh?) . Gue cuma bisa menganggukkan kepala tanda takzim. Lihat aja nanti, gue bakal ikutan kontes ini. Cam kan itu baik-baik, Jose Armando! *telenovela mode*

“Ayo, Midah, kita beli baju buat kontes model kamu,” ajak Pak Lurah pada ananda tercintanya. Midah ikut-ikut aja, sambil menggoyang-goyangkan lengan Ayahandanya. Persis seperti bocah ingusan minta permen sama bapaknya.

“Dadah, Asri, dadah…,” Midah berpamitan, melambaikan lengannya semacam anak SD. Cuih!

Dalam kedongkolan yang maha maha, gue merumuskan siasat. Memang benar sih, uang pendaftaran lomba kontes model itu lumayan mahal. Mungkin sama dengan uang jajan gue dua bulan, tapi nggak kenapa-kenapa lah, hadiahnya kan berkali lipat, dan semoga gue lah juaranya. Gue pun bergegas pergi ke salon bibi. Dia sedang menyapu pipi pelanggannya pakai kuas. Gue takjub, mendadak gadis itu jadi lebih cantik! Weleh-weleh...

“Wah, keren, Bi. Saya mau juga dong dirias seperti itu. Ya Bi yaaaa...,” rayuan maut gue pada Bi Ima, usai merias pelanggannya.

“Ah biasa aja, ini belum seberapa,” jawabnya sok cool sambil membereskan alat-alat salon yang telah beres dipakai. “Oh iya, jadi ikutan kontes?”

“Ya gitu deh, Asri pengen hadiahnya, Bi. Buat kuliah nanti. Kan lumayan, nabung dari sekarang.”

“Baguslah, kirain Bi Ima, kamu mau nebeng terkenal doank. Hehe.”

“Ya nggak dong, Bi. Kan Asri udah terkenal di sekolah, itu udah cukup. Asri ingin memberikan kesempatan buat yang lain, Bi,” Ujar gue jumawa sambil kedip-kedip manja.

“Bi, Asri boleh minta bantuan?” sedikit merajuk, bernada manja seperti istri muda kepada istri tua.

“Kalau mau dirias, terus pinjem baju, boleh-boleh aja, nggak usah sungkan,” jawabnya, tersenyum manis, kembali lagi membereskan alat-alat salon.

“Bukan cuma itu, Bi. Asri butuh... butuh... butuh uang buat pendaftarannya. Bibi bisa bantu ga?”

“Emang berapa? Salon Bibi lagi sepi, jadi Bi Ima nggak janji bisa bantu,” katanya, tak menoleh. Salonnya akhir-akhir ini memang terlihat sepi. Untung nggak kalah saing sama sepinya kuburan. Hi... hi... hi... hi.

Gue pun menyebutkan nominalnya, dan ternyata Bi Ima cuma bisa membantu setengahnya. Lumayanlah daripada lumanyun. Besok lusa perlombaannya akan dimulai. Seharusnya sekarang gue membayar uang pendaftaran. Tapi itu perkara mudah, gue tinggal menunjukkan jurus merajuk paling kece aja ke panitia untuk diterima sebagai peserta dadakan nanti. Dan sekarang gue bakal menyiapkan semuanya.

Singkat cerita, hari-H pun tiba. Gue bersiap-siap, berdandan begitu cantiknya. Namun sayang, jerawat di pipi ini masiiiiih nggak mau enyah juga. Bibi sampai kewalahan, karena jerawat gue beda dari yang biasa, katanya. Nggak bisa diumpetin di bawah bedak, apalagi di bawah bantal. Gue frustasi luar binasa, apalagi setelah bibi membaca majalah separo itu.

“Haiyaaah, persyaratan pesertanya nggak boleh punya jerawat, macam mana pula ini! Jerawatmu begitu agresif, satu tapi kelihatan kemana-mana!” ujarnya, terus menerus menambahkan bedak di pipi gue, lagi dan lagi. “Udahlah, kamu batalin aja ikutan lomba ini, daripada hambur-hamburkan uang yang Bibi kasih buat kamu, simpanlah buat kuliahmu nanti,” sekarang, bibi berhenti memberikan bedak pada pipi gue, dan tersenyum aneh.

“Tapi, Bi... Selain ingin memenangkan hadiahnya, Asri juga ingin memperlihatkan pada Pak Lurah bahwa Asri bisa ikutan lomba seperti ini. Asri jengkel sama Pak Lurah yang terus menerus merendahkan Asri, cuma karena Asri miskin, Bi. Asri merasa terhina. Asri... Asri... Asri galauuu!” emosi gue akhirnya keluar juga. Bibi cuma tersenyum mendengarkan, dan selanjutnya gue tahu, Bibi pasti menyiapkan kata-kata bijaknya untuk dijadikan petuah di minggu pagi ini.

“Mana bisa kamu menang, Asri. Niatmu saja seperti itu. Allah pasti menyayangimu hingga dia memberikan jerawat supaya kamu tidak jadi mengikuti lomba itu, karena niatmu hanya ingin pamer. Itu tidak baik,” kali ini dia langsung menghampiri pelanggan, meninggalkan gue yang masih mematung mencerna kata-katanya. Semakin dicermati betul kata-katanya, gue malah makin berambisi dan emosi.

“Bi, aku pulang saja, makasih ya,Bi, atas bantuannya,” ujar gue loyo berbarengan menarik pintu salon bibi. Tanpa gue sadari, gue keluar dengan muka masih belepotan bedak!

Rasanya nggak adil banget. Gue pengen banget ikut lomba itu, uang yang gue kumpulin juga kurangnya tinggal sedikit lagi. Masa gara-gara jerawat satu ini doang, punah sudah keinginan gue menangin lomba itu. Angan gue memegang banyak uang hadiah lomba, buyar seketika. Rasanya mau gue pecahin aja nih jerawat di pipi, namun nyatanya ketika gue pencet, sakitnya ambooiiiii…. Nyeri nyeri nyeri!

Tiba-tiba gue teringat Midah, mungkin nggak ada salahnya gue datang menonton perlombaan itu. Acaranya di pusat ibukota. Gue harus naik angkot dulu untuk sampai ke sana. Butuh satu jaman untuk gue sampai di tempat acara. Tanpa babibu lagi--sampai lupa bayar ongkos angkot--gue lari secepat kilat mencari tempat acara. Takut ketinggalan liat aksi si Midah, Sodara-sodara!

Akhirnya gue temuin juga gedung itu, tapi kok ada yang aneh... Gedung tempat acara lomba nggak ada rame-ramenya. Sepi, sunyi, senyap hanya terdengar bunyi jangkrik dan lolongan serigala (ini apa sih, kok mistis banget jadinya!). Kembali kee… realita! Iya, sama sekali nggak nampak batang hidung para peserta lomba apalagi para supporternya. Jadi, ayammkuuu??? Manaa??? Hehee, maaf terbawa suasana, korban iklan banget yaa gue.

Di tengah suasana sepi gue menangkap dua sosok yang nggak asing lagi. Di pojok bangunan, gue liat Pak Lurah dan Bu Lurah, muka keduanya ditekuk dua belas lipatan, lecek selecek leceknya.

“Pak Lurah, mana perlombaannya, kok sepi?” tanya gue tanpa ucap salam. Kebiasaan buruk.

Pak Lurah nggak langsung menjawab. Ia malah menengadah sebentar, lalu kembali mengangkat kepalanya, membuka mulutnya ala-ala slow motion dan mulai menceritakan duduk perkara kenapa tempat lomba ini sepinya naujbillah.

“Kita kena tipu, Asri. Perlombaan itu bohong, tidak ada kontes-kontesan!” ujar Pak Lurah, lirih.

“Uang kami ludes des des, kami kena tipu, kena tipu, Asri. Ini keterlaluan!! Sungguh ter.. laa.. luuu!!” Bu Lurah menambahkan, sambil pukul-pukul manja ke Pak Lurah. Gaya anak ababil jaman sekarang kalau liat temennya nakal. Yang ababil pasti tau deh gimana gayanya. Hehe.

Gue nggak tau harus ngomong apa mendengar cerita Pak Lurah dan Bu Lurah. Antara mau senang atau bahagia, lohh sama aja ya? Oke gue ulang, gue ga tau harus senang atau ikut sedih. Bisa aja gue bahagia karena gue batal ikut lomba itu, nggak jadi kena tipu, kan? Tapi itu artinya gue bahagia di atas penderitaan orang lain. Baiklah, akhirnya gue putusin gue akan pura-pura sedih di depan mereka. Gue tekankan, pura-pura, yaa... hehee.

“Nah, sekarang Midah mana?” tanya gue memecah kesunyian. Bu Lurah nggak menjawab, dia hanya menggerakkan wajahnya, memutar lehernya dan memandang anaknya yang jingkat-jingkatan mengintip jendela di bangunan tua tak berpenghuni. Mirip kancil kerasukan! Anak itu emang keterlaluan, o’onnya tingkat dewa kali yaaa. Udah jelas ditipu, masih aja penasaran. Heran.

“Pak Lurah, Bu Lurah, mending sekarang kita pulang aja, yuk,” gue berbaik hati ngajak mereka pulang sebelum dua orang tua itu ketularan o’onnya si Midah. Coba aja liat, sekarang dia bukan lagi jingkat-jingkatan di depan jendela gedung! Gue liat Midah mulai melakukan roll depan, roll belakang dan dilanjutkan dengan gaya lilin. Nggak sampai di situ saja, Pembaca... Midah memamerkan gaya salto di udara dan mendarat dengan posisi kayang! Sungguh selain cantik, o’on dan anak Pak Lurah, Midah juga berbakat jadi atlet angkat besi! *nyambungnya di mana???*

Orang tuanya hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu dengan tertatih meninggalkan gedung perlombaan. Terlihat dari langkah mereka yang lunglai, muka mereka yang datar, sepertinya mereka sudah nggak sanggup lagi menerima cobaan ini. Sudah tertipu, anak satu-satunya mulai menunjukkan tanda-tanda frustasi. Ibarat pepatah, sudah jatuh ketiban tangga pula. Ingin rasanya gue puk-pukin Pak Lurah dan Bu Lurah sambil bilang: sabar eaaaa, qaqaaaa...!

Seusai mengantarkan Pak Lurah, Bu Lurah dan Midah, gue bergegas pulang. Rasanya gue ingin cepat-cepat masuk kamar, menghadap cermin dan teriak: “Makasih, yaaa, jerawat... berkat lo nongol ke dunia ini, Alhamdulillah gue nggak jadi kena tipu dan cuma Midah yang kena tipu!” enam kata terakhir cuma di dalam hati, lhooo. Hehe.

Sejujurnya gue malu, gue ingat pelajaran Agama di sekolah: Boleh jadi kita nggak menyukai sesuatu padahal ia baik untuk kita dan boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu nggak baik untuk kita. Nggak ada yang tau selain Dzat yang telah menciptakan kita.

Seketika gue merasa kaget. Rasanya ini aneh, jerawat yang tadi begitu sulit ditutupi bedak karena saking mencuatnya, sekarang malah hilang entah bagaimana caranya. Sepertinya Allah emang benar-benar sayang sama gue. Apapun bisa menjadi berkah termasuk jerawat. Gue menyesal, sekaligus bersyukur. Semoga jerawat-jerawat lainnya nanti, muncul di saat yang tepat lagi. Aamiin.



Selesai.







Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...