Kesaksianmu, Maydan Tahrir

Fashion-Styles-for-Girls-Online

  Oleh: Maryam Qonitat

Dedicated for Egyptians among their struggle...   

 

            Hari beranjak gelap saat Utsman akan bangkit dari ruangan tamu, menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan shalat Maghrib di Masjid. Masih segar dalam ingatannya, peristiwa yang terjadi satu tahun sebelumnya. Ia merasa, bahwa setelah sekian tahun ia hidup, ia merasa tidak berarti apa-apa. Tapi entah bagaimana, wanita berjilbab yang berada di sampingnya justru mengatakan hal yang sebaliknya. Seakan bisa membaca fikiran Utsman, wanita yang tidak lain adalah istrinya itu kemudian mengatakan,

            “Hidup bukan untuk disesali, kita sama-sama mencintainya dan berharap kelak akan bertemu kembali di Syurga-Nya “

            Istrinya, mengatakan dengan sangat tenang. Sambil tersenyum ia mendahului Utsman mengambil air wudhu.

 

*****

Zamaalek, Desember 2010

 

            “ Masya Allah.. Haa Huwa Ahlal ‘Ariis Fi Mashr, Ahlan, ahlan..” (Ini dia pengantin tertampan di Mesir, silakan, silakan) ucap Utsman menyambut sahabat terbaiknya itu. Yang disambutnya hanya bisa tersenyum simpul. Ia langsung mengambil tempat duduk di samping Utsman. Wajahnya setengah memerah. Berusaha tak menghiraukan candaan Utsman, ia mengalihkan pembicaraan.

            “ Berlebihan kau ni Utsman. Apa tema pembahasan kita pekan ini? “

            “Tak perlu terburu-buru kawan. Aku tahu, pikiranmu belum sepenuhnya fokus di sini. Lebih baik kau simpan dulu jiwa kritismu itu hari ini. Lain kali, saat kau sudah tak sepenuhnya terpikirkan dengan boneka barumu itu, baru kau bisa sepuasnya bertanya.” Goda Utsman.

            “Kau ini, aku kan bertanya tema, bukan meminta pendapatmu.” Elaknya. Perbincangan singkat itu segera terhenti saat seorang laki-laki paruh baya memasuki ruangan mungil bermuatan 20 orang dan ber- AC itu. Suasana yang awalnya ramai, menjadi hening seketika.

            DR. Khaleed ‘Abdul Mun’im. Pemikir ulung siyasah ‘alamiyah. (politik internasional)  Yang saat ini merangkap sebagai ketua Al-Ma’had Al’Alami Lil Fikri Al-Islami  Maktab Mesir. Hampir kebanyakan pemikir, aktivis, akademisi, dan pejabat pemerintahan mengenal namanya. Lima menit kemudian, penghuni ruangan mungil itu sudah tenggelam menyimak paparan yang disampaikan oleh DR. Khaleed.

            Dua orang dari 20 peserta yang mengikuti kajian rutin bulanan itu, adalah Utsman Husaini, dan Zaki Naseer. Dua pemuda yang hampir sebaya umurnya, Utsman berumur lebih tua satu tahun, di atas Zaki yang berusia 28 tahun. Mereka berdua adalah sahabat dekat sejak remaja.

Awal pertemuan mereka terjadi saat mereka berdua mengikuti mukhoyyam  ‘askariy (Militer Camp) yang wajib diikuti oleh setiap warga Negara Mesir, atau yang lazim disebut dengan wajib militer. Utsman masih berasal dari Kairo, begitu juga dengan Zaki. Hanya saja, kediaman Ustman terletak agak jauh dengan Zaki. Jika Utsman berada di Giza, Zaki berasal dari sudut kota Abbasseah. Pertemuan mereka memang seperti tidak terduga. Saat baru dua bulan mengikuti mukhoyyam, Zaki selalu terlibat fisik dengan Utsman. Bukan saja sebagai saingan karena ternyata mereka berdua sama-sama mempunyai kelincahan dan kegesitan, tapi juga kecerdasan mereka bertemu.

Utsman yang lebih dikenal berani dan kekar, seringkali beradu dengan Zaki yang bertubuh lebih kecil namun keras kepala. Saat latihan fisik di lapangan ataupun saat nadwah ‘Ammah  (Kuliah umum) di Kelas. Ternyata persaingan ini yang membuat mereka menjadi dekat dan menjadi sahabat.

Zaki yang saat mengikuti program wajib militer baru saja menyelesaikan Marhalah Tsanawiyahnya (Sekolah Menengah Umum) setelah selesai melanjutkan Kulliyah Iqtishadiyahnya (Fakultas Ekonomi) Jurusan Akuntansi di Jami’ah Qohiroh. Sedangkan Utsman, memilih untuk melanjutkan di Akademi militer milik Negara atau yang lebih terkenal dengan nama Al-Akadimiyyah Al-‘Askariyyah (Alkuliyah Alharbiyah).

Meski memiliki banyak perbedaan karakter, Utsman yang dikenal lebih tegas, disiplin, berani dan Zaki yang kritis nan keras kepala, namun mereka tetap mempunyai satu kesamaan mendasar. Pegangan mereka terhadap agama sangat kuat. Terbukti saat mereka beradu argumen ketika Utsman memutuskan untuk meneruskan kuliah di Akademi Militer.

Tatakallam Bi Jaad?!“ (Apakah kau serius?) Tanya Zaki saat itu, memastikan keputusan sahabatnya.

Thob’an Yaa Akhuya. (Pasti) Aku kira tak ada salahnya membuktikan Wathaniyyah ( Nasionalisme) dalam diri kita dengan bergabung dengan Militer.”

Zaki sudah sangat paham dengan persepsi mereka masing-masing tentang nasionalisme. Dan Zaki bukannya meragukan kemampuan Utsman untuk diterima di Akademi itu. Zaki tahu, Utsman sangat berpeluang besar diterima. Tapi, entah mengapa, di titik ini, hanya di titik ini, Zaki baru tersadar bahwa ternyata persepsi mereka benar-benar berbeda.

“Jika itu pilihanmu Sobat, aku akan mendukungmu. Ku harap suatu saat nanti, kau bisa menjadi singa perubahan untuk Negara kita, khususnya di tubuh akademi yang akan kau masuki itu.”

“Do’akan aku kawan, kita sama-sama tahu, bahwa Islam dan Iman akan tetap tertancap dalam dada kita. Dan kita akan sama-sama menjadi pembelanya.” Itu kalimat yang terlontar dari mulut Utsman yang menurut Zaki, adalah kalimat pamungkasnya. Zaki menyerah, bagaimana pun, Zaki merasa tak berhak mengatur pilihan sahabatnya.

 

Waktu bergulir dengan cepat. Meski waktu dan jarak memisahkan raga mereka, tetapi rupanya Allah masih mengaitkan hati mereka. Utsman yang sangat mempunyai waktu terbatas tiap harinya, hanya bisa bertemu dengan Zaki pada moment-moment khusus.

Seperti kali ini, mereka berdua bertemu dalam kajian rutinan per bulan yang diadakan oleh Al-Ma’had Al’Alami Lil Fikri Al-Islami. Sebuah lembaga internasional yang mewadahi otak-otak brilian, penggagas ide yang concern terhadap kebangkitan Islam untuk beradu. Zaki yang sangat terobsesi dengan kebangkitan Ekonomi Islam di Dunia dan Utsman yang tertarik dengan Politik pertahanan Negara. Mereka sadar, gagasan untuk menyerukan kebangkitan harus dimulai dengan hal-hal yang kecil dan didiskusikan. Karena itu, sesibuk apapun aktivitas mereka, mereka selalu menyempatkan untuk menghadiri kajian itu. Selain, agar persahabatan mereka tetap terjaga.

 

 

*****

 

Akhir Januari, ‘Abbasea 2011

 

            “ Fathma yaa habibti, malam ini aku harus pulang agak malam. Ada pekerjaan shift temanku yang harus aku gantikan. Tak apa, ya?”  Zaki berpamitan pagi itu dengan istri tercintanya.

            “Ya, tak apa. Asal jangan terlalu larut. Aku akan menunggumu.”  Fathma mencium tangan suaminya. Seraya tersenyum manja.

            Pasca strata satunya di Cairo University, Zaki langsung diterima menjadi sebuah Akuntan di perusahan furniture elit salah seorang businessman ternama, Musthofa As-Sallab. Ia dipercaya menjadi akuntan karena berhasil menembus predikat Cumlaude untuk rata-rata IP nya. Selain menjadi akuntan, Zaki yang kerap kali bergabung dengan aktivitas-akitivitas sosial tetap berkehidupan sahaja. Maka pada umur yang masih terbilang muda, ia sudah bisa meminang seorang gadis Mesir.

            Sore hari saat Zaki sedang berada di kantornya, tiba-tiba kawan-kawan kerjanya mengerubungi televisi layar flat di ruang depan. Penasaran dengan sikap kawan-kawannya, Zaki ikut menyaksikan tayangan berita di Nile TV yang sedang disiarkan live dari Negara tetangga. Sebuah demonstrasi besar-besaran terjadi di Negara itu, dan berhasil menggulingkan pemerintahan sah. Zaki terperanjat, begitu juga dengan kawan-kawannya. Tak menyangka, bahwa di zaman sekarang ini, rakyat masih punya kekuatan mengguncang pemerintah. Khusunya Negara berbasis Islam-Sekuler seperti negaranya ini, Mesir.

            Respon yang ditampakkan Zaki saat itu awalnya hanya biasa-biasa saja. Terkejut, merasa tergelitik, tapi seperti tak berdaya berbuat sesuatu. Tapi setelah hari itu, pembicaraan tentang revolusi, reformasi di Negara tetangga itu,  makin hangat dibicarakan dari mulut ke mulut. Tak terelakkan, jiwa muda Zaki terbakar karenanya. Ada sebersit harapan yang ia punya sebagai seorang pemuda Islam. Apalagi melihat kediktatoran yang terjadi di negaranya sendiri.

            Sebersit harapan ini kemudian bergayung sambut dengan pesan singkat yang ia terima sore itu dari teman-temannya di LSM. Sangat singkat, namun cukup menyontak jiwa pemuda itu.

            “ Maydan Tahriir, Selasa, 25 januari 2011. Datang dan serukan kebebasan sesungguhnya !”

 

*****

 

Maydan Tahriir, Akhir Januari 2011

 

            Kejadian yang terjadi saat ini, sama sekali berada di luar dugaan Zaki. Jangankan ia, hampir ratusan orang yang berada bersamanya saat ini tak pernah juga menyangka bahwa akan ada aksi besar terjadi di Negara mereka sendiri, Negara yang kata orang, penuh dengan diktator dan anti demokrasi. Semua terlihat sangat aneh, melihat sudah sekian lama, rakyat mereka tak pernah diizinkan untuk berunjuk rasa. Jangankan unjuk rasa besar-besaran, ada aksi damai sederhana untuk Palestina saja, polisi yang berjaga sudah seperti akan ada perang antar Negara. Tiap jarak 5 meter, satu polisi pasti berjaga untuk radius 10 KM. Bisa dibayangkan, kali ini aksi besar-besaran. Yang turun bukan lagi berjumlah puluhan, bahkan hingga ratusan dan mencapai ribuan.

            Sudah empat hari Zaki ikut bergabung dengan massa yang mencoba menggulingkan pemerintah. Hari pertama saat Zaki bergabung, dengan sangat berat ia meninggalkan istri tercintanya di rumah dan tidak mengizinkan ia untuk keluar. Zaki bergabung bukan tanpa alasan. Ia punya alasan yang kuat untuk tetap bertahan di sini, dan menyuarakan haknya. Ia mempunyai cita-cita besar untuk perubahan negaranya. Jiwa nya sebagai pemuda Islam cerdas nan terdidik, tak bisa lagi ia bohongi. Ia tak peduli pada siapa pelopor aksi ini dan berbagai kepentingan yang mulai terlihat mencampurinya, tapi pada momentum yang sangat tepat, Zaki sangat berharap, mampu menjadi bagian perubahan di negaranya. Sudah sangat lelah, ia dan rakyat Mesir lainnya menghadapi muka dua pemerintah. Saatnya serukan revolusi.

            Berbekal pakaian seadanya, Zaki dan ribuan demonstran lainnya tetap bertahan. Kondisi sangat mencekam dan genting. Akses komunikasi di blokir oleh diktatorisme. Hukuumah vacuum. Pusat-pusat pemerintahan rusak oleh amukan massa, logistik makin susah di dapat. Penjarahan juga terlihat di mana-mana. Tak hanya di sini, di ibukota Mesir, di belahan propinsi lainnya juga terjadi aksi yang sama besarnya. Alexandria, Thanta, Mansourah, Aswan dan Kairo, menjadi kota mati.

            Tak mempan dengan aksi blokir pemerintah, massa justru makin banyak berdatangan dari berbagai penjuru kota. Jumlahnya kini, mencapai ratusan ribu. Jumlah yang sangat fantastis sepanjang sejarah aksi demonstrasi di Mesir.

            Tak sadarkah kau, wahai penguasa, tak akan ada yang bisa mematikan semangat kebebasan kami!

*****

 

Maydan At-Tahriir, Awal Februari 2011

 

            “ Ada di mana kau, sobat ? Ku harap kau tak bersama amukan Massa itu.”

            Zaki membaca pesan singkat yang ia terima, dengan pengirim yang sudah sangat akrab di handphonenya. Utsman Husaini. Menyempatkan diri untuk membalasnya, ia kirim jawaban ke nomor Utsman.

            “Apa yang kau pikirkan, ternyata tak mampu satukan jiwa nasionalisme kita. Jiwaku telah larut dengan momentum kebebasan ini. Allah Ma’ana.”

Entah mengapa, ada semacam perasaan menyeruak yang membuat Zaki sangat ingin berada di sisi sahabatnya. Ia ingin agar Utsman, sahabatnya itu, juga merasakan semangat juang yang ia rasakan menggelora saat ini. Tapi mengingat siapa Utsman sekarang, sepertinya mustahil.

Adzan Ashar terdengar bertalu-talu memanggil dari seantero masjid yang masih tersisa. Para demonstran, serentak berhenti berteriak, bergantian mengambil air wudhu di bangunan manapun yang terlihat layak untuk dijadikan tempat sholat. Zaki sendiri tepat berada di sudut pojok, jauh dari kerumunan pusat para demonstran yang berada di depan Mujamma’ atau kantor pusat imigrasi nasional.  Zaki bersama ratusan demonstran lainnya, berada di sudut Maydan Tahrir, dekat dengan American University. Biar bagaimanapun, kami rakyat Mesir, jika waktu Sholat tiba, tetap mendahulukannya dibanding dengan aktifitas lainnya.

Hari ini, cuaca terasa dingin. Tapi kabar yang ia terima dari sesama demonstran, massa justru bertambah banyak. Melampaui satu juta. Pantas saja Maydan Tahrir yang biasa terlihat padat dengan angkutan umum dan mobil, kini seperti lautan manusia. Sejauh mata memandang, hanya kerumunan manusia yang terlihat. Semua bergerak, tak terhentikan.

Pemerintah masih belum mau menuruti tuntutan kami. Hanya sedikit perubahan di kabinet, pengangkatan Wakil Presiden, dan janji tak berpartisipasi pada pemilu selanjutnya. Bah! Bukan itu yang kami minta. Kau hengkang dari Negri ini dan tinggalkan kursimu  yang sudah kau duduki selama 30 tahun itu.

Setelah mengerjakan Asharnya, Zaki masih dengan semangat mencoba mengikuti gelombang arus yang tidak tertahankan. Ia sedang mencoba bergabung dengan komando pusat massa. Sambil membawa sebuah karton besar bertuliskan Al-Aamaan Li Sya’bi Mashr, ( Rasa aman untuk rakyat Mesir) ia terus merangsek, berteriak tanpa lelah. Gelombang ini makin tak menentu. Laki-laki, wanita, pemuda, pemudi, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, tua muda, semuanya tumpah ruah menyerukan satu suara,

“ Turun! Turun! Turun!”

Zaki terus bergerak, berjalan beriringan. Hingga pada jarak sekian meter, Zaki hampir mencapai titik pusat komando, saat didengarnya tiba-tiba, sebuah sirine kencang berbunyi. Asal suaranya awalnya terdengar jauh, karena kalah dengan teriakan demonstran, tetapi perlahan terdengar makin jelas di telinga Zaki. Sepertinya ada rombongan milter datang. Polisi? Tentara? Tak takut Zaki menghadapinya. Toh, militer telah janji tak gunakan kekerasan.

Sedang mencoba menerka siapa yang datang, tiba-tiba dari samping kanannya, radius 20 meter, terdengar ledakan. Sebagian panik. Sebagian tak menghiraukan. Bom Molotov! Zaki mendengarnya, dan melihatnya dengan jelas pada detik selanjutnya, sekian bom Molotov dilemparkan ke arah kerumunan massanya. Barisan mulai terpecah, beberapa jatuh, dan terluka.

“ Ada massa Oposisi, ada massa Pro! Satukan langkah!”

Begitu teriakan yang Zaki dengar. Massa Pro pemerintah ini memang tak diduga kedatangannya oleh para demonstran Anti pemerintah. Mereka datang tiba-tiba dan mencoba menghalau aksi yang sudah berjalan lebih dari seminggu ini. Aneh, bukankah seharusnya mereka mendukung kebebasan, mengapa baru hari ini mereka menampakkan suaranya?! Siapakah di belakang ini semua?

Baku hantam terjadi dan tak terhindarkan. Mereka yang biasanya berbentrokan dengan polisi dan militer, kini harus berbentrokan dengan Massa Pro. Meski jumlah mereka banyak, tapi fasilitas mereka seadanya. Hanya berbekal spanduk, poster, bendera, kayu dan sejumlah batu yang bisa ditemukan di jalan. Kondisi berbalik, massa anti pemerintah terdesak.

Saat itulah, saat baku hantam tak terelakkan, belasan tank militer datang membabi buta dengan gas air matanya dan beberapa tembakan peluru. Massa semakin tak terkendali. Komando pusat tak lagi terlihat. Puluhan orang berjatuhan dan terluka.

Zaki berusaha mencari tempat yang aman, saat ia menemukan sebuah toko kecil tak jauh dari hadapannya. Meski sudah tak berbentuk, tapi ada sedikit bangunan yang bisa ia gunakan untuk berlindung. Ia akan berlindung sementara, menghindari tembakan peluru yang menghujani kerumunan. Ketika dirasanya tak ada peluru yang mengarah ke arahnya, dengan segera ia berlari sambil menunduk, mencoba mendekati toko tersebut.

Tapi saat sedikit lagi ia mendekati bangunan itu, tiba-tiba tubuhnya terasa panas. Bagian ulu hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit sekali. Zaki tak mampu meneruskan langkahnya yang sedikit lagi sampai itu. Ia terjatuh, terkulai tak berdaya. Sedetik, tiba-tiba lintasan wajah Fathma membayanginya.

 

*****

 

Sementara itu, pada waktu yang sama, di sudut berbeda Maydan Tahriir...

 

Belasan tank terlihat menghampiri kerumunan massa yang sedang baku hantam. Salah satu pengemudinya adalah Utsman Husaini. Ia sudah bergabung dengan AlQuwwat AlJaysy (Angkatan darat) semenjak dua tahun sebelumnya. Utsman mendapatkan perintah dengan sangat jelas.

“ Amankan area demonstrasi dengan segala cara!”

Ia tak punya pilihan lain, selain menjalankan perintah atasannya. Ia memang sangat ketat dan loyal pada militer. Ia pikir, keberadaannya adalah mengamankan Negara. Tugasnya adalah menciptakan perdamaian, melindungi pemerintah yang sah. Baginya, itu sama saja dengan Nasionalis.

Maka pada sore itu, Utsman yang sudah 5 hari juga terjun di area demonstrasi berjaga-jaga, kali ini mendapatkan tugas lagi, untuk mengamankan bentrokan yang terjadi antara Massa Pro dan Kontra pemerintah. Tak segan, dan tak tunggu komando, setelah melakukan peringatan untuk berhenti, namun tak dihiraukan, Utsman dan kawan-kawannya langsung mengeluarkan gas air mata. Ia pun mengeluarkan senjatanya, dan terpaksa menggunakannya ke barisan terdepan demonstran. Niat Utsman hanya untuk menggertak, agar tak terjadi lagi bentrokan yang lebih parah.

Tapi beberapa kawannya, mulai menembak membabi buta, karena melihat kerumunan tak jua beranjak mundur. Situasi tak terkendali. Saat itulah, saat tanknya dekat dengan massa, ia melihat dari dalam kamera pemantaunya, di antara kermunan massa itu, sosok pemuda yang sangat dikenalnya. Zaki Naseer, sahabatnya.

Dugaannya benar, Zaki memang ikut aksi demo ini. Pertemuan yang terduga, namun tetap mengejutkan.

Pada saat kacau balau itu, tiba-tiba, Utsman yang dari jauh melihat kehadiran Zaki di tengah-tengah kerumunan massa, segera turun dari tanknya. Ia tak bisa melakukan ini pada sahabatnya sendiri. Nuraninya mulai berperang. Dengan sangat nekat, ia terjun menerobos kekacauan itu, mencoba menyelamatkan sahabatnya. Tak peduli ia pada teriakan teman-temannya yang memanggil dan berusaha mencegahnya.

Saat jarak 100 meter lagi ia meraih sahabatnya yang dilihatnya sedang mencari perlindungan itu, tiba-tiba saja sebuah tembakan terdengar. Terlambat! Dengan sangat jelas, Utsman melihat tubuh Zaki terjatuh.

Tidaaakkk!!

Utsman mempercepat larinya, tak peduli ia pada batu yang berterbangan menghujaninya.

“ Zaki, Zaki, bertahan sobat, kau akan baik-baik saja!”

“ Mengapa kau lakukan ini padaku, mengapa? Kau tahu bahwa aku tak punya pilihan lain. “

“ Maafkan aku, Zaki... Maafkan... Ku mohon, kau harus bertahan!”

Air mata Utsman mengalir sudah. Dengan erat ia peluk wajah sahabat yang sangat dicintainya itu. Zaki sekarat. Darah segar terlihat keluar dari bagian perutnya.

Tanpa babibu, Utsman segera mengangkat tubuh Zaki yang tergolek tak berdaya. Ia akan membawanya ke ambulans dan ke UGD terdekat.

“ Zaki, Ku mohon, bertahanlah! Maafkan aku sobat... Bukan seperti ini akhir dari pertemuan kita yang aku inginkan,” sambil tersedu.

Tergopoh Utsman membawa tubuh Zaki. Tentu tidak sulit bagi Utsman untuk mengangkatnya. Tubuh Utsman lebih kekar di banding tubuh Zaki yang ringkih. Tapi sebelum Utsman berhasil membawa Zaki menuju ambulans, Zaki berkata lirih...

Turunkan aku, turunkan aku..

“ Zaki, kau sadar, bertahanlah..”

“Turunkan aku!” Zaki keras kepala, Utsman tahu itu, dengan terpaksa ia menurunkan sahabatnya dan menjauhi kerumunan massa.

“ Utsman..” masih dengan sangat lirih dan terbata.

Utsman menangis sejadi-jadinya.

Fathma, Fathma... Sangat erat, Utsman menggenggam tangan Zaki.

“Sudahlah, tak usah kau banyak berkata...” Air mata Utsman kian deras mengalir... Pelukannya makin ia eratkan. Bagaimana mungkin ia akan kehilangan sahabat terbaiknya ini? Terlintas dibayangannya, saat mereka pertama kali bertemu di Camp Militer. Adu fisik, adu debat, diskusi tiap bulan..Zaki yang keras kepala tapi sangat perhatian, Zaki yang cerdas dan selalu semangat, Zaki yang selalu menunaikan shalat diawal waktunya, Zaki yang menasihatinya saat ia bimbang, Zaki yang teguh pendirian... Zaki yang... Ah… Mengapa semua berubah seperti ini?!! Batin Utsman berteriak tak tahan.

“ Zaki, bertahanlah...” Harapan yang sepertinya mustahil terjadi.

“Asyhaduan Laa ilaa Ha illa Allah Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah...Al-Hurriyah Utsman. Kebebasan...”

 Terbata-bata, Itu kata terakhir yang di ucapkan Zaki sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selamanya. Genggaman tangan Zaki yang tadi terasa sangat kencang, mulai mengendur. Zaki menuju RabbNya.

Tangisan Utsman makin tak menjadi. Ia tergugu menunduk, menggigit bibir, memeluk wajah Zaki yang sudah tak bernyawa itu. Angin senja tak lagi terasa menyejukkan.

Allah... mengapa jutsru paradoks ini yang mengakhiri pertemuanku dengannya?

 

Sayup-sayup terdengar suara Adzan Maghrib, masih beriringan dengan suara desingan tembakan dan  suara-suara demonstran yang tak jua kunjung berhenti,

We Want Freedom!”

“Turun, turun, turun!”

 

 

Berlututlah keangkuhan,

Bersujudlah kesombongan,

Menuju kepingan kehinaan.

            Terbanglah keimanan,

            Lepaslah keyakinan,

            Menuju perjuangan kebebasan.

 

*  Maydan Tahrir; Sebuah kota terletak di Down Town Kairo, Mesir.

 

 


 

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...