Kesempatan Kedua

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Ghazy Fatihan


 


Juli 1825, bulan yang akan diingat Larasati seumur hidupnya. Bulan dimana belahan jiwanya terenggut dari sampingnya. Larasati terpaku menatap dua tubuh identik yang tergeletak di depannya. Pertempuran di Logorok di bawah komando Mulyosentiko tetap saja memakan korban, meski pasukan asuhan Diponegoro itu berhasil keluar sebagai pemenang.


Apakah ini Badar? Lalu kapan akan terjadi Uhud? Pikirnya galau.


Sesosok kecil menarik Larasati dari alam pikirannya. “Ibu, kenapa ayah menjadi dua?” tanya gadis kecil itu.


Larasati tersadar dan memandang dua sosok identik di depannya. Ia tahu sosok itu adalah Anggoro, suaminya dan Peter, kembaran Anggoro.


“Ai, pergilah memanggil paman Danureja dan Wirya kemari. Ibu membutuhkan bantuan keduanya.” Larasati memandang putri kecilnya.


Putrinya masih hendak bertanya lagi tapi Larasati memandangnya tegas. Ia tahu ini akan berat bagi Ai. Larasati mengatupkan bibirnya erat, menahan tangis. Ia tahu Anggoro telah syahid. Ia sedang merangkai kata untuk memberi penjelasan pada Ai, anak semata wayangnya.


Danureja dan Wirya datang mendekat. Wajah mereka penuh tanya ketika dilihatnya dua sosok identik terbaring berdampingan.


“Abangmu telah syahid. Angkat tubuh satunya ke tenda untuk dirawat. Yang satu masih hidup.” Bergetar Larasati mengucapkan kata-katanya.


“Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... siapa orang yang satu ini, diakah yang membuat kangmas syahid?” Danureja bertanya hati-hati.


Larasati menggeleng sebagai jawaban. Ia tidak tahu. Mungkin sebenarnya ia tidak ingin tahu karena takut kelak akan mendendam. Tidak ada pula orang yang tahu tentang kembaran Anggoro selain dirinya dan keluarga Anggoro.


Danureja mengangkat tubuh Peter dan membawanya ke tenda. Ia membiarkan kakaknya bersama jasad suaminya.


“Ibu, kenapa ayah diam saja? Apakah ayah tidur?” Ai merapatkan tubuhnya kepada Larasati.


Larasati memaksakan sebuah senyum. “Iya, Sayang. Ayah sedang tidur, tidur yang panjang,” katanya.


“Lalu kenapa dada ayah berdarah? Apakah ibu akan mengobatinya begitu ayah bangun?”


Larasati membelai Ai lembut. “Bidadari surga yang akan mengobatinya, karena ayah tak akan bangun lagi. Ayah sudah pergi ke surga.” Airmatanya mengalir.


Ai menatap lekat ibunya. Pikiran kecilnya berusaha mencerna kata-kata ibunya. Namun ia tetap tak mengerti. Ia ingin mengajukan berbagai pertanyaan pada ibunya. Apakah artinya ayahnya tak akan mengajari ia mengaji lagi, dan kenapa jika pergi ke surga ayahnya tidak mengajak dirinya. Namun ia tak berani mengungkapkan tanya itu dan hanya terdiam di samping ibunya. Yang ia ingat, ia tidak boleh mengganggu ayahnya ketika tidur. Dan sekarang ayahnya sedang tidur.


Larasati terdiam. Bagaimana ia harus menerangkan pada Ai? Ai belum tahu apa itu kematian, meski hampir setiap hari ia melihatnya. Ia baru 6 tahun. Apakah ini saat yang tepat untuk menjelaskan padanya?


Ai memandang ibunya. Mata polos itu terus menuntut penjelasan atas ketidakmengertiannya.


Larasati menghela napas. Mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahu Ai apa itu kematian.


“Aina sayang, pergi ke surga itu artinya mati. Tidur yang sangat panjang. Orang yang mati tak akan bisa kembali dan membantu orang yang masih hidup. Ayah sudah mati, tak bisa membantu kita lagi. Nanti semua juga akan mati, termasuk ibu dan Ai. Kita akan menyusul ayah, tapi tak tahu kapan waktunya.”


“Lalu kenapa ibu menangis jika ibu tahu ayah pergi ke surga? Bukankah ayah selalu bilang kalau surga itu indah?”


Larasati terhenyak mendengar pertanyaan anaknya. “Karena ibu senang. Terkadang orang yang senang juga menangis. Jika Ai sudah dewasa Ai akan tahu rasanya. Sekarang Ai boleh mencium ayah untuk terakhir kalinya. Setelah itu biarkan ayah tenang ya...”


Ai mencium kening ayahnya yang telah beku dan kembali ke sisi ibunya. Sementara Larasati hanya mematung melihat jasad suaminya diangkat.


Jika Ummu Fadhl tegar melihat jasad Hamzah yang terkoyak, aku juga harus  tegar melihat suamiku yang jasadnya utuh. Larasati berkata pada dirinya sendiri.


………


“Ibu, kenapa ayah ada dua?” tanya Ai mengulang pertanyaannya kemarin yang tak terjawab.


Larasati menempelkan jari telunjuknya di bibir, sebagai tanda agar Ai diam. Ia memandang Peter sekilas. Hatinya bergemuruh, ia tahu Peter bukan suaminya. Dalam hatinya tersisa sedikit asa bahwa yang ada di hadapannya bukan Peter, melainkan Anggoro. Ia menggeleng kuat, ia harus bisa menerima kenyataan, bahwa suaminya telah tiada.


Larasati keluar. Ia membiarkan Ai tetap di dalam bersama Peter yang belum sadar. Ia membiarkan Ai memuaskan rasa ingin tahunya.


“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Aku dilahirkan pada hari Selasa Kliwon, nama jawanya Anggoro kasih. Itulah sebabnya ibuku memberi aku nama Anggoro. Sebenarnya aku mempunyai saudara kembar, namanya Suluh. Kami bersama selama 5 tahun. Setelah itu Suluh dibawa ayah dan belakangan aku tahu namanya diganti menjadi Peter.” Mata teduh itu memandang lembut Larasati.


“Kau pernah bertemu ayahmu?” Larasati menyandarkan kepalanya di bahu Anggoro.


“Hanya sebentar. Aku melihatnya merebut Suluh dari ibuku. Kau tahu kan, ibuku korban nafsu lelaki itu. Dia dengan seenaknya ingin mengambil anak yang telah ditelantarkan.”


“Boleh tahu nama ayahmu?” Larasati memandang suaminya. Wajah itu, rahangnya kokoh, mulutnya mengatup rapat menunjukkan ketegasannya, sorot matanya lurus ke depan sebagai pertanda kemantapan pikirannya. Wajahnya menunjukkan wajah seorang pemikir. Namun Anggoro juga seorang yang gesit ketika terjun di lapangan.


“Kumsius. Itu namanya.” Anggoro terdiam, lalu ia menghela napas, “Dalam keadaan seperti ini, mungkin hubungan nasab tidak begitu berarti. Jika kelak aku bertemu ayah atau saudaraku dalam peperangan, tidak menutup kemungkinan kami akan saling bunuh,” kata Anggoro mantap.


Larasati menatap bulan purnama. Airmatanya mengalir. Itu adalah saat terakhir mereka memandang bulan purnama bersama. Lamunannya membawa dirinya kembali pada satu purnama yang lalu. Memandang bulan purnama bersama Anggoro adalah saat terindah yang dia punya.


………


Aina menatap Peter dengan rasa ingin tahu.


Peter yang sudah sadar sejak dua hari yang lalu tersenyum manis padanya. Sudah kesekian kali gadis kecil itu menatapnya dengan rasa ingin tahu. Terbata ia berkata, “Siapa namamu gadis kecil?”


“Aina. Paman mirip dengan ayah, tapi kata ibu paman bukan ayah.”


Peter membelai rambut lurus Aina. Ada sebagian kemiripan antara dirinya dan gadis itu. Setidaknya wajah mereka mirip. Ia jadi teringat akan saudara kembarnya. Adakah gadis kecil itu anaknya?


“Apakah paman sudah tidak sakit lagi?” Ai mendekati Peter dan mengelus lembut luka sayat di perut Peter.


Peter hanya mengangguk. Ia seperti sudah mengenal gadis kecil itu bertahun-tahun yang lalu. Gadis kecil itu tidak asing baginya. Mungkinkah gadis kecil itu yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya tiga tahun terakhir ini?


Bilangan waktu semakin merekatkan hubungan Ai dan Peter. Ai merasa seperti menemukan pengganti ayahnya. Peter juga mulai beradaptasi dengan orang-orang yang ada di situ. Beberapa memandangnya sinis penuh curiga, dan beberapa lagi mau menerima kehadirannya


“Ibu bolehkah Ai memanggil ayah pada paman Peter?”


Larasati membelalak. “Tidak boleh. Dia bukan ayahmu. Ai, sorot mata itu bukan sorot mata ayah. Apa Ai tidak merasakannya?” suara Larasati meninggi.


Ai ketakutan melihat ibunya marah. Ia terdiam memandang ibunya.


Tersadar akan sikapnya, Larasati memeluk Ai, “Maafkan ibu, sayang. Sekarang kita berkemas ya, kita akan segera pergi dari sini.” kata Larasati. Kemarin terdengar desas-desus bahwa ada penghianat dan tempat mereka sudah ketahuan musuh oleh karena itu sekarang mereka harus segera berkemas.


“Apakah paman Peter akan ikut?” tanya Ai polos.


Belum sempat Larasati menjawab pertanyaan anaknya, tiba-tiba ia diserang oleh seseorang. Didengarnya di luar terjadi keributan. Ia berusaha melindungi Ai. Kondisinya terdesak dan tiba-tiba seseorang menolongnya, menyeretnya dari keributan dan membawanya lari.


“Lepaskan aku. Kenapa kau membawaku lari?” tanyanya tajam. Namun matanya segera meredup demi melihat mata itu. Seandainya ia Anggoro. Tersadar, Larasati mengucap istighfar dan menundukkan pandangan.


“Aku menyelamatkanmu.”


“Aku tidak akan meninggalkan rombongan itu. Jika harus mati, aku akan mati bersama mereka. Aku tidak akan lari dari medan tempur dan menjadi pengecut. Tadinya tempat itu aman, kita juga selalu berpindah-pindah. Jadi kenapa tiba-tiba ada serangan? Apakah seseorang berkhianat?” Larasati memandang tajam penyelamatnya.


“Aku orang yang tahu balas budi . Jadi jangan menuduhku,”


Larasati menggendong Ai yang pingsan dan berlari kembali menuju medan tempur. Si penyelamat mengikutinya.


“Akan kubuktikan bukan aku pengkhianat itu,” si penyelamat terjun ke medan tempur, dikenakannya penutup wajah yang menyerupai ninja dan bertempur bersama pejuang muslim.


“Peter..” panggil Larasati. Namun yang dipanggil tidak menyahut dan terus bertempur. Setelah menyerahkan Ai pada salah seorang wanita, ia ikut bertempur.


Pertempuran yang berlangsung sengit itu akhirnya berpihak pada rombongan Larasati. Beberapa penyerang tertawan. Mereka diinterogasi satu persatu. Wajah Larasati mengeras ketika melihat orang yang begitu dikenalnya duduk sebagai tawanan.


“Maafkan saya mbakyu, tapi Wirya ikut melarikan diri bersama para penyerang, dan tadi kulihat ia menyerang orang kita, bukannya menyerang musuh,” jelas Danureja.


“Mbakyu, tolong saya. Saya terpaksa melakukannya. Orang-orang itu mencari Peter. Siapa yang bisa menemukan Peter maka akan mendapat hadiah 1000 gulden. Kita butuh uang itu,” Wirya memelas.


Larasati hanya bergeming. Selama ini yang bertugas menjadi teliksandi dan mencari informasi keluar adalah Wirya, tapi ia tak menyangka jika adiknya itu akan berbuat nekat demi uang 1000 gulden. Memang benar perang menegakkan panji Islam ini butuh biaya, tapi tidak harus menggadaikan diri menjadi mata-mata musuh dan menghianati saudara sendiri. Hatinya bergemuruh.


“Paman Mulyosentiko yang akan memutuskan. Kita akan segera bergabung dengan beliau.”


Larasati berbalik meninggalkan Wirya dan tawanan lainnya. Airmata yang berusaha ia bendung dari tadi akhirnya pecah. Kenapa Wirya adik kandungnya berkhianat, tapi Peter musuhnya malah menolongnya?


Larasati menjenguk Ai yang masih pingsan. Ia membelai kepalanya. Ia merasa bersalah pada Ai karena tak mampu menjaganya. Selain mengobati prajurit yang terluka, kadang ia juga ikut bertempur sehingga harus meninggalkan Ai.


“Ia tidak apa-apa, akan bangun sebentar lagi.” Sebuah suara, mengagetkan Larasati


Segera ia hapus airmatanya dan berkata pada orang itu. “Aku ingin bicara padamu sebentar.”


Peter mengangguk. Baru kali ini Larasati mengajak ia berbicara, meskipun Larasati pula yang merawat lukanya selama ini. Sebelumnya Larasati tak pernah menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, apalagi berbicara padanya. Bahkan ketika ia selamatkan tadi, Larasati mau berbicara karena marah.


“Setelah ini jalanilah kehidupanmu sendiri. Lukamu sudah sembuh. Kau telah menyelamatku jadi kita impas. Kau boleh pergi.” Larasati menatap lurus ke depan melewati Peter, seolah-olah Peter transparan.


“Sebelumnya jawab dulu petanyaanku, kenapa kau menolongku? Apakah kau tahu siapa aku?”


“Aku menolongmu karena aku bertugas mengobati prajurit yang terluka. Aku tahu kau adalah Peter putra Kumsius. Sayang ayahmu sudah terbunuh dalam pertempuran yang lalu.”


“Di mana saudaraku kini berada? Kau istrinya bukan?” Peter bertanya getir. Entah kenapa ia tidak perduli akan ayahnya yang tewas. Berita kematian itu sudah ia dengar beberapa hari yang lalu. Kematian ayahnya terasa seperti belenggu yang terlepas dari dirinya. Ia merasa seperti manusia seutuhnya dan bukan lagi boneka milik ayahnya. Ia merasakan kedamaian di tengah kesederhanaan para pejuang, merasakan indahnya lantunan kitab suci yang baru pertama ia dengarkan. Bagaimana mungkin ayahnya tega menghancurkan orang-orang ini? Mereka adalah orang yang penuh cinta kasih. Orang-orang yang mempunyai ikatan persaudaraan kuat hingga membuatnya iri.


“Tepatnya aku jandanya. Anggoro telah syahid. Benarkah kau saudaranya?” Larasati bertanya sinis. “Saat seperti ini hubungan kekeluargaan sudah tidak berarti. Jalanmu dan jalannya sudah berbeda,” lanjutnya tegas.


“Engkau pernah mempunyai nama Suluh. Itu berarti pelita. Temukanlah jalanmu sendiri. Jika kelak kita bertemu dalam peperangan sebagai musuh, aku tak akan menolongmu untuk yang kedua kali.” Larasati menggendong Ai dan meninggalkan Peter.


“Larasati, tunggu!” teriak Peter. Pikirannya berkecamuk. Apakah kedamaian yang baru ia rasakan akan sirna?


“Pergilah, dan jangan cari kami lagi!!” balas Larasati tanpa menoleh. Ia memantapkan tekadnya. Setelah ini ia akan menghadap Komandan Mulyosentiko, mengakui kesalahannya. Seharusnya Peter menjadi tawanan perang, tapi ia malah merawat dan membebaskannya. Ia hanya ingin memberikan kesempatan kedua.


“Ya Alloh, aku bukanlah orang semaqom Zainab yang melindungi suaminya yang seharusnya menjadi tawanan Rosululloh. Ampunilah kekhilafan hambaMu ini ya Ghoffar...” Larasati bergumam lirih.


Setelah mengubur prajurit yang syahid, Larasati dan sisa pasukan di bawah pimpinan Danureja meninggalkan tempat itu. Kini mereka sudah siap kembali bergabung dengan Komandan Mulyosentiko yang telah pergi lebih dulu karena dipanggil Pangeran Diponegoro.


………


Juli 1830. Pertempuran antara Belanda dan Pangeran Diponegoro mencapai puncaknya. Di tengah-tengah pertempuran itu Larasati melihat seorang berpenutup wajah yang bertempur bersama kaum muslimin. Hatinya berdegup, ia kenal orang itu.


Meskipun kaum muslimin sudah berjuang mati-matian, namun akhirnya mereka kalah oleh tipu muslihat musuh. Kaum Belanda mengajak perundingan damai, namun berbuntut pengkhianatan. Pangeran Diponegoro ditangkap dan perjuangan pun meredup.


Larasati bertemu orang berpenutup wajah itu dan dilihatnya mata orang itu menyipit, tanda ia tersenyum dibalik penutup wajahnya.


“Perjuangan ini tidak akan berakhir hingga panji Islam tegak,” kata orang berpenutup wajah itu. “Aku akan terus membuktikan bahwa aku bukan penghianat,” lanjutnya dan ia pun segera berlalu memacu kudanya pergi meninggalkan Larasati yang berdiri mematung berlatarkan purnama.


Larasati terdiam, ia merasa kehilangan Anggoro untuk kedua kalinya.


 

Selesai. 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...