Ketika Sampai Pada Koma

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Adi Zam Zam

Langkahku tergesa menyusuri pagar. Bau keberadaannya begitu menyengat di sini. Aku teringat kucing saat mengendus tikus. Atau anjing penjahat saat mengendus jejak penjahat. Ya, seperti itulah aku sekarang. Instingku kuat bahwa dia pasti sedang mematung di salah satu sudut pasar ini.

Kira-kira, apa yang didapatinya sekarang? Anak-anak jalanan yang menggelandang di pasar? Pengemis cacat? Seorang pedagang yang dipusingkan dengan utang kios padahal pedagang itu sebenarnya tidak membutuhkan kios itu karena dagangannya lebih laku di trotoar ketimbang di pasar? Seorang penjual daging sapi yang menjual bakso daging babi? Keajaiban seorang pedagang kacang asin yang bisa berangkat naik haji? Akhirnya aku menemukannya sedang teronggok lesu di sebuah kios kosong di belakang pasar.

“Kau mendapatkan apa?”

Ia menarik nafas berat. “Apalagi yang bisa kudapat? Penamu sudah pernah berkenalan dengan semua penghuni pasar ini.”

“Jadi seharian tadi kamu cuma melamun sia-sia di sini?”

“Bukankah seharusnya kau sudah bisa menduga itu? Tempat mana lagi sekarang yang belum aku kenalkan padamu? Semua kehidupan sudah pernah kau tulis. Pasar, stasiun, terminal, lokalisasi, pesantren, gedung perwakilan rakyat, rumah susun, gelandangan di bantaran sungai, perkampungan nelayan, kampung pecinan, masjid, kebun binatang, hutan, apalagi yang belum pernah singgah dalam imajinasimu?” aku menangkap nada kesal dalam suaranya.

“Kau terdengar lelah,” aku lalu menjejerinya. Mencari posisi yang enak untuk bercakap.

“Entahlah. Kadang aku cuma merasa muak dengan apa yang aku lakukan. Coba kau pikir lagi. Dulu kita pernah berikrar bahwa niat kita adalah demi membela kaum tertindas, menyingkap kebusukan-kebusukan yang disembunyikan, membangunkan dunia yang sedang tertidur, menjunjung tinggi kebenaran. Tapi sekarang aku merasa sebenarnya kita seorang oportunis. Kita mendapatkan untung dari ketidakberuntungan orang lain.”

Aku segera teringat kasus lokalisasi yang tumbuh di dekat sebuah pesantren itu. Tentang para santri bunglon. Tentang makhluk mengerikan bernama kemiskinan yang menjerat para wanita malang itu. Aku juga membidik para kyai yang sering menistakan para pelacur itu tanpa menyadari bahwa para pelacur sebenarnya juga merupakan korban. Tapi apa yang kemudian terjadi? Rangkaian imajinasiku itu berbuah petaka. Di mana-mana karyaku dicerca padahal belum tentu mereka semua membacanya, atau kadang mereka cuma membaca bagian yang beraroma saja. Bahkan ada yang mendoakan aku masuk neraka!

Aku memang tak gampang tersulut amarah meski serapah menghujaniku di mana-mana. Toh nyatanya semakin mereka menghujatku, semakin lakulah apa yang aku tulis. Aku cukup menikmati itu. Yang membuatku sedih hanyalah mereka menganggap kritik hanya sebagai upaya untuk menjatuhkan semata. Padahal misiku sebenarnya adalah membuatkan cermin untuk memeriksa diri sendiri.

“Kau sudah mendapatkan penawar rasa muakmu?”

Pandangannya kosong menerawang. Ia tak menjawab pertanyaanku.

***

Hari-hari selanjutnya penaku jadi kehilangan arah. Sering terhenti di tengah rangkaian imajinasi. Sering termangu di depan mesin ketik. Jika melihat mesin ketik itu, aku selalu teringat dengan salah seorang sahabatku yang kini meraih cita-citanya menjadi seorang dosen. Ia selalu saja memaksaku cerai dengan benda berisik itu dan kawin lagi dengan komputer. Tapi tak kuturuti nasihatnya itu. Aku memang gaptek (gagap teknologi), tapi semangatku masih terus membara untuk terus berbagi rasa dengan dunia.

“Lama-lama kau akan terlindas zaman, Bro. Tak semua media menerima tulisan mesin ketik kan? Ayolah, kau boleh melamarnya dua juta saja lengkap dengan printernya.”

“Aku tak berniat kawin lagi, Yog.”

“Lalu kenapa akhir-akhir ini tak pernah kujumpai lagi karyamu?”

Aku tersenyum masam. Bagi kami, mesin ketik dan komputer adalah perempuan yang sering kami ajak bercinta sehingga lahir berpuluh anak karya tulis.

“Dia sakit.”

“Dia?” sang dosen meraih kursi ke dekatku.

Kutunjuk kepalaku. “Dia sakit. Dia tak mau lagi keluar dan ikut memikirkan carut-marut dunia.”

“Kenapa? Karena hujan kritik kemarin itu?” sang dosen menatapku serius. Kami memang terbiasa saling menguatkan jika salah satunya mengalami kebuntuan dalam kepala.

“Muak, ia merasa telah menjadi oportunis.”

“Kau telah terpengaruh oleh para musuh kita, Bro!” sang dosen menepuk bahuku. “Kau telah termakan oleh perasaan buruk sangkamu sendiri.”

“Tapi itu memang betul, Yog. Aku akan marah jika honorku telat. Aku butuh uang itu untuk menyambung hidupku. Aku kurang cakap dalam pekerjaan apapu selain berimajinasi. Karena itulah aku menekuni profesi ini...”

“Heh, dengar dulu perkataanku. Pertama kali ayahmu memaksamu untuk sholat, apa yang beliau iming-iming kan kepadamu?” Aku tahu ia sedang berusaha menarikku dari jurang kemacetan. “Surga. Itu juga yang pertama kali dijanjikan Tuhan kepada para penyembah-Nya. Surga bolehlah kau samakan dengan uang. Uang itu surganya dunia, surga adalah bonus yang tak terelakkan bagi mereka yang mengabdikan diri pada Tuhan. Begitu juga honor, adalah bonus yang seharusnya diterima oleh kita yang bekerja.”

“Dengan memanfaatkan dunia orang lain kan?” aku menyindir diri sendiri.

“Kau malah sedang menunjukkan ketimpangan yang ada tapi tertutupi.”

“Entahlah,” malas sekali rasanya menelan obat yang disuapkan sahabatku itu.

“Tugas nelayan menangkap ikan. Tugas petani menanam padi. Tukang kayu hanya bisa mengolah kayu. Tugas guru adalah menurunkan segala pengetahuannya. Lalu tugas kata-kata itu apa, Bro? Tugas kata-kata hanyalah kejujuran dan kebenaran, tak peduli banyak mata telinga gerah ketika melihat dan mendengarnya.”

Demamku rasanya semakin bertambah parah.

***

Di tengah malam nan senyap aku mendapatinya tengah termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan. Jika ada yang bisa melihatnya, mungkin orang itu akan mengiran bahwa ia adalah seorang peronda yang kesepian atau mungkin seorang pencuri yang kebingungan.

“Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang melamun di sini. Ayo pulang!”

Seperti terkejut dengan suaraku yang tiba-tiba. Tapi tak kunyana dia malah langsung lari ke seberang, aku mengejarnya.
“Jangan ingkari takdirmu!” teriakku.

“Lari dari masalah hanya akan menimbulkan masalah baru!” teriakku lagi.

Tapi ia terus saja berlari. Terus saja berlari. Meski di jalan ia melihat segala sesuatu yang dulu dianggapnya tak beres dan selalu ingin disuarakannya dalam tulisan. Sepertinya ia sedang ingin mengejar sepi.

***

Hari-hari setelahnya pergi aku jadi seperti orang linglung. Tak tahu harus berbuat apa. Penaku benar-benar tak mau menari. Kepalaku benar-benar kosong melompong. Aku pun telah kehilangan selera untuk menyentuh mesin ketik usang itu lagi.

Di saat-saat seperti ini, masa lalu yang memuakkan itu jadi terlalu sering menerorku. Bapak, yang seorang maestro lukis, pernah menasihatiku, “Jangan pernah bercita-cita menjadi seorang seniman jika takut hidup sengsara.”

Aku tak pernah takut, Pak. Aku telah mempelajari siapa sengsara itu hingga sel-sel terkecilnya. Bahkan hingga aku jatuh cinta kepadanya dan selalu ingin menenteramkan mereka yang selalu merasa teraniaya oleh kesengsaraan yang memiliki anek rupa; miskin, cacat, bodoh, kalah, jelek, dan sebagainya. Istrikulah yang penakut, Pak. Ia telah meninggalkan aku dan membawa buah cinta kasih kami ke seorang laki-laki yang lebih bernafsu terhadap wajah lain kesengsaraan. Ia belum tahu bahwa harta juga kadang bisa menjadi wajah lain kesengsaraan. Ia belum tahu caranya bercinta dengan kesengsaraan sehingga apapun rupa kesengsaraan sebenarnya adalah anugerah kehidupan. Kehidupan sedang ingin mengajarkan sesuatu kepada kita. Jika ingin lari dari kesengsaraan, sekali lagi ia hanya belum tahu, bahwa kesengsaraan itu ada di mana-mana. Kesengsaraan tipis sekali jaraknya dengan kebahagiaan. Kesengsaraan dan kebahagiaan adalah satu koin lain muka; kehidupan.

Tapi mungkin istriku ada benarnya juga. Ada banyak sekali orang sepertiku yang kemudian termakan oleh idealismenya sendiri. Setelah kalah menghidupi imanajinasi yang kalah dahsyat dibanding dengan kenyataan yang ada, menggantung pena pun seperti laiknya menyerah dan membiarkan diri terombang-ambing kehidupan. Ada yang cuma menjadi pedagang kaki lima yang sering dikejar tramtib, buruh pabrik, bahkan ada yang terus saja lontang-lantung hingga menjelang hari tua. Itulah kenapa banyak yang memanfaatkan penanya untuk mencari jabatan, mencari kesempatan. Mereka membayar murah idealisme seorang pejuang pena.

Wajarlah kalau dalam kepalaku sering muncul pertanyaan, apa yang sudah kau dapat dari semua ini? Kemahsyuran macam Andrea? Kekayaan macam Rowling? Nobel? Hah, omong kosong! Para tetanggamu yang disibukkan kemiskinan bahkan tak mengenal dan tak pernah membaca karyamu yang katanya banyak membela kehidupan mereka. Kau, di mata tetanggamu, dianggap sama saja sedang berjuang melawan kemiskinanmu sendiri. Kamu malah dianggap sebagai orang aneh karena sebagian besar waktumu hanya kau habiskan untuk membaca, mengetik, dan mengetik. Padahal kau bukan pegawai perusahaan manapun. Apa yang kau dapat? Apa yang kau dapat? Idealisme tak bisa meneduhimu dari hujan atau bahkan mengenyangkan perutmu yang sering keroncongan. Jadi jangan salahkan istrimu yang dulu pergi meninggalkanmu.

Aku tahu, ibarat pertaruhan, hidup ada yang kalah ada yang menang. Mungkin aku hanyalah salah seorang di antara mereka yang kalah dan harus segera berkemas-kemas menuju tempat lain. Tapi, di suatu malam yang penat aku melihat dia telah berdiri di ambang pintu rumahku seraya tersenyum menenteng cahaya. Entah benda apa yang terang benderang itu.

“Kau pulang?” tanyaku tanpa selera.

“Kau keberatan?” ia duduk di kursi kayu ruang tamuku. Tiba-tiba ia menelan cahaya itu.

“Kenapa kemarin kau pergi?” aku merasakan kehangatan menjalari dadaku. Ada yang memanggil-manggil, sepertinya aku kenal dengan suara itu.

Ia tertawa. “Apa yang kau lakukan setelah aku pergi, Sobat? Kau mulai bisa melihat dirimu sendiri kan? Kau sama seperti mereka yang di luar itu. Kau hanyalah orang biasa yang suka bergaul dengan kata-kata dan imajinasi.”

“Aku baru saja hendak menjual mesin ketikku.”

“Kau gila. Kau mau hidup dengan apa? Bukankah benda itu adalah nyawamu?” dari mulutnya aku masih bisa melihat berkas-berkas cahaya yang tadi.

“Mereka bisa hidup tanpa mesin ketik. Kenapa aku tidak?”

“Kau sendiri kan yang bilang bahwa kita tidak bisa mengingkari takdir?”

“Takdirku, akulah yang membuat,” suara itu semakin riuh memanggil. Seperti sebuah kerinduan.

“Kau mau membungkam hati kecilmu?”

Tiba-tiba suara itu dapat jelas kudengar.

“Lalu kenapa kemarin kau pergi dari kepalaku?”

“Selama menulis, dengan sesukamu kau meletakkan koma di manapun kau mau. Kenapa aku tak boleh? Aku hanya ingin memberikan jeda sejenak kepadamu untuk memikirkan sesuatu yang lebih dari sekadar idealismemu. Sekarang kau sudah mendengarkan suaranya kan?”

Kali ini ia benar-benar membuatku termenung. Ia butuh koma? Sepertinya aku juga butuh koma. Semua orang butuh koma untuk mengambil nafas, untuk melihat sejenak sedang sampai pada bagian mana. Aku harus menilik ulang ke arah mana penaku bergerak. Ya Allah...

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...