Kisah Tidak Disalibnya Nabi Isa

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, Nabi Isa 'alaihissalam adalah nabi yang mulia yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah swt. Salah satu yang perlu kita pahami nih, Sob, Nabi Isa 'alaihissalam bukanlah Allah atau anak Allah seperti yang sering dikoar-koarkan orang-orang Nasrani.

Mengenai ini, jelas disebutkan dalam firman Allah swt, “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (Az-Zukhruf: 59).

Kisah populer lain yang sering dikaitkan dengan Nabi Isa 'alaihissalam adalah beliau yang 'katanya' disalib. Apakah hal tersebut benar?

Tidak, Sob!

Nabi Isa 'alaihissalam adalah Nabi yang diutus oleh Allah swt untuk berdakwah pada Bani Israil. Kaum yang sombong, berhati keras, pembangkang, suka berbohong, ingkar janji, selalu mengingkari nikmat dan ayat-ayat Allah, serta hobi mengakal-akali perintah dan larangan Allah.

Saat Nabi Isa 'alaihissalam diutus pada Bani Israil, beliau mendapat ancaman kejahatan dari mereka. Beliau mendapatkan pendustaan, pengingkaran, gangguan, dan permusuhan.

Bani Israil iri dan dengki terhadap kenabian dan mukjizat Nabi Isa 'alaihissalam.

Saking dengkinya, Bani Israil berusaha membuat konspirasi untuk membunuh beliau dengan menghasut Raja Damaskus saat itu yang menjadi penyembah bintang-bintang. Mereka membuat fitnah-fitnah serta tuduhan dusta tentang Nabi Isa ‘alaihissalam, sehingga Raja yang mendengar hal itu menjadi marah dan memerintahkan perwakilannya di al-Quds (Yerussalem) untuk menyalibnya.

Setelah menerima perintah dari raja, wakil raja yang berada di al-Quds itu langsung berangkat bersama sekelompok Yahudi menuju rumah yang sedang ditempati oleh Nabi Isa ‘alaihissalam dan kemudian mengepungnya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka telah merancang tipu muslihat, dan Allah juga membuat tipu muslihat (terhadap mereka). Sedangkan Allah adalah sebaik-baik perancang tipu muslihat.” (Ali ‘Imran: 54).

Dalam keadaan terkepung, Nabi Isa ‘alaihissalam menanyakan kepada murid-muridnya tentang siapa yang bersedia diserupakan wajahnya seperti wajah beliau.

Beliau menjanjikan surga bagi siapa yang bersedia. Maka, salah seorang pemuda di antara mereka ada yang merespon beliau dengan jawaban, “Saya bersedia”. Kemudian Allah serupakan wajahnya dengan wajah Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah itu, Nabi Isa tertidur dan diangkat Allah ke langit dari rumah tersebut dalam keadaan demikian.

Saat para murid beliau keluar dari rumah itu, orang-orang Yahudi yang telah mengepung sejak sore menangkap dan menyalib lelaki tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir 1/293-294). Setelah itu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah membunuh Isa putra Maryam, yaitu utusan Allah.” (An-Nisaa’: 157).

Namun, Allah membantah perkataan mereka ini pada ayat yang sama, “Dan mereka sama sekali tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya. Akan tetapi, (orang yang mereka salib itu) adalah yang diserupakan (wajahnya dengan Isa) untuk mereka.

Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa sebelum menangkap lelaki tersebut, mereka menghitung jumlah orang-orang yang keluar dari rumah itu karena mendengar bahwa Isa telah diangkat ke langit. Setelah dihitung, ternyata mereka mendapatkan ada satu orang yang kurang. Sehingga mereka ragu apakah yang mereka tangkap itu benar-benar Isa atau bukan? (Tafsir ath-Thobari 9/371, Maktabah Syamilah).

Inilah mengapa Allah sebutkan di akhir ayat, “Dan sungguh, orang-orang yang berselisih padanya (urusan pembunuhan Isa) benar-benar dalam keraguan. Mereka itu tidak memiliki ilmu yang pasti tentangnya. Dan mereka tidak membunuhnya dalam keadaan yakin (bahwa yang dibunuh itu benar-benar Isa).” (An-Nisaa’: 157).

 

Baca juga: Kisah Bani Qainuqa yang Melakukan Pengkhianatan Pertama Kaum Yahudi terhadap Muslimin

 

Ulama bersepakat bahwa saat ini Nabi Isa 'alaihissalam masih hidup dan berada di langit. Seperti firman Allah swt, “Mereka tidak membunuhnya dalam keadaan yakin. Akan tetapi (sebenarnya), Allah telah mengangkatnya (Isa) kepada-Nya. Dan Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 157-158).

Allah swt juga berfirman, “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang yang kafir tersebut.” (Ali-‘Imran: 55).

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud wafat pada ayat tersebut adalah tidur. Maksudnya, Allah menjadikan beliau tertidur sebelum diangkat ke langit.

Dalam cerita yang dibawakan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, “Ketika Allah ingin mengangkat Isa -‘alaihissalam– ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat Al- Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air.

Lalu Isa mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.” Kemudian Isa berkata lagi, “Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku. Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.

Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, “Aku, wahai Isa.” “Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?” ujar Nabi Isa.

Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa 'alaihissalam. Beliau pun diangkat melalui lubang tembok di rumah tersebut menuju langit.

Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Lantas mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan menyalibnya.

Sebagian mereka pun mengkufuri Nabi Isa 'alaihissalam sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan.

Kelompok pertama mengatakan, “Allah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.” Mereka inilah Ya’qubiyah.

Kelompok kedua mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Mereka inilah An-Nas-thuriyah.

Kelompok ketiga mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Merekalah kaum muslimin.

Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketiga yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih sampai Ibnu ‘Abbas. An-Nasa’i meriwayatkan hadits ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Mu’awiyah serta semisalnya. 

Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari al-Hasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang Yahudi, “Sesungguhnya Isa itu belum mati. Dan ia akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat nanti.

Semoga menjadi jelas bagi kita, Sob, bahwa kita wajib mengimani Nabi Isa 'alaihissalam sebagai utusan Allah swt. Tetapi, kita nggak boleh salah kaprah mengenai beliau yang menjadi Allah ataupun anak Allah.

Semoga Allah swt menjaga hidayah senantiasa ada dalam hati-hati kita.

Allahu a'lam.


Referensi: dari berbagai sumber

Foto ilustrasi: google

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...