Kucing Jamban

Fashion-Styles-for-Girls-Online

   

Penulis: Oksa Puko Yuza

 

Sudah tiga tahun ini kota kami dinobatkan sebagai kota terbersih (mendapatkan piala adipura). Kota kami memang bersih. Bagaimana tidak bersih, masyarakat di kota kami takut pada peraturan yang dikeluarkan walikota. Secarik kertas kecil atau satu bungkus permen karet dikenakan denda sepuluh ribu rupiah. Jika kau tidak percaya, datanglah ke kota kami, lalu meludahlah di jalan, maka jika petugas kebersihan melihatmu jangan salahkan kami jika uang merahmu harus ditukar dengan sembilan puluh ribu rupiah. Ya, meludah sembarangan saja kami tidak boleh. Untungnya perarturan ini tidak berlaku pada urusan buang angin.

Awalnya, banyak di antara kami yang melanggar. Sebab sangat jelas slogan di negeri ini hanyalah pemanis buatan. Percuma ada slogan buanglah sampah pada tempatnya. Anak-anak sekolah justru menganggap tempat sampah itu ada di dalam kelas atau di lapangan upacara bendera. Percuma ada slogan kebersihan itu sebagian dari iman. Kami menganggap kebersihan yang dimaksud adalah berwudhu sebelum sholat. Maka saat peraturan itu dikeluarkan, kami semua harus terkena denda.

Ada yang sampai berjuta-juta harus mengeluarkan uangnya karena banyaknya puntung rokok yang ia buang di atas bis kota atau karena banyaknya butir nasi dalam piring yang tidak habis. Kami protes. Kami melakukan demo di depan walikota. Tapi kami tetap kalah. Peraturan adalah peraturan. Sungguh, walikota kami memang berbeda dengan walikota-walikota yang pernah ada di dunia ini. Tidak percaya?

Walikota kami memang luar biasa. Menurut Koran harian yang aku baca, walikota kami sejak kecil dibiasakan hidup bersih oleh orangtuanya. Tidak pernah seumur hidupnya membuang sampah sembarangan, bahkan di rumahnya tidak terdapat kotak sampah tapi tetap selalu bersih. Piring sisa makan bersih seperti habis dicuci. Tidak ada sisa. Kebiasaan inilah yang ingin walikota tularkan kepada kami. Maka beberapa bulan setelah peraturan itu dikeluarkan, kota kami menjadi kota terbersih. Tidak ada kotak sampah di jalan-jalan. Kami harus mengubur dan membakarnya sendiri. Semua bersih, bahkan selokan-selokan yang ada seperti habis dipel.

Bukanlah negeri kami jika ada keganjilan yang tidak diberitakan. Ya, kota kami yang super bersih dianggap aneh. Kota kami disebut kota sihir. Maka banyak wartawan yang datang ke kota kami. Wartawan tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi ada juga dari negara tetangga, bahkan turis yang sedang asik menikmati pulau dewata menyempatkan diri datang ke kota kami. Kota kami yang semula diabaikan karena tidak punya pemandangan yang indah seperti di pulau dewata, kini menjadi topik di headline berita-berita mengalahkan topik korupsi yang semakin menjadi-jadi.

“Bagaimana Bapak bisa mengatur masyarakat untuk taat pada peraturan yang Bapak keluarkan?”

“Sederhana saja. Jangan hanya memberikan peraturan tapi pemimpin harus menjadi contoh bagi yang dipimpinnya,”

Begitulah walikota kami menjawab salah satu pertanyaan wartawan. Seharusnya presiden seperti walikota kami. Seharusnya mereka yang ada di gedung perwakilan rakyat seperti walikota kami. Seharusnya gubernur seperti walikota kami. Seharusnya walikota seperti walikota kami. Seharusnya pemimpin seperti walikota kami. Tetapi sayangnya tidak ada pemimpin atau pejabat yang mengikuti jejak walikota kami. Mereka seperti sengaja menutup mata. Mereka seperti sengaja menutup telinga. Malahan yang sering terdengar adalah banyaknya pemimpin yang pergi dari kotanya karena dikejar-kejar pahlawan pembasmi korupsi.

Kami bangga tinggal di kota ini, meski tidak ada pemandangan yang indah, tapi ini lebih dari sekedar indah. Sungguh, kami tidak berbohong. Percayalah.

***

Tiga tahun piala adipura bersarang di kota kami. Di tahun ke empat kota kami tetap menjadi kota terbersih. Hanya beberapa minggu ini keganjilaan yang sejati benar-benar terjadi. Ada apa ini? Kami yang biasanya menikmati udara pagi dengan damai. Wajah kami yang biasanya berseri saat matahari tersenyum. Yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Kami diliputi ketakutan. Hidung kami ditutupi masker.

Dimana-mana tidak ada aroma yang dapat memberikan kejukan hati. Aktivitas kami benar-benar terganggu. Sekolah diliburkan, kantor-kantor diliburkan, mall diliburkan, semua diliburkan. Hanya kantor walikota yang masih buka. Walikota kami sangat terganggu dan memikirkan apa sebenarnya yang terjadi dengan kota ini.

Harus kemana kami pergi, jika tidak ada tempat di kota ini yang bisa kami singgahi dengan damai. Indera penciuman kami hanya menangkap satu aroma yang jauh dari kata sedap. Bau kotoran kucing.

Ini sungguh aneh. Bagaimana mungkin di semua tempat ada bau kotoran kucing. Apakah populasi kucing di kota kami sudah mengalahkan pupulasi manusia yang ada di dalamnya? Ah, aku jelas tidak suka pada kucing. Aku alergi pada bulunya. Bagaimanakah aku berniat untuk memelihara kucing. Tapi anehnya di rumahku pun bau kotoran kucing juga ada. Ini sungguh sangat mengganggu. Hampir setiap malam kami terjaga tidak bisa tidur. Kalaupun ada yang tertidur, itu karena benar-benar terpaksa tidak bisa menahan lagi. Kami juga tidak bisa makan. Hambar sekali hidup ini. Lalu apa gunanya kota kami mendapat piala adipura jika kami tidak lagi nyaman hidup di kota ini.

“Saudara-saudaraku, bertahanlah. Ini ujian untuk kita semua. Kita harus sabar. Saya sendiri sedang berusaha untuk memecahkan masalah yang pelik ini,”

Setelah sekian lama merenung, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut walikota kami. Kalau dulu kami masih bisa menuruti setiap peraturan yang ia keluarkan. Tapi untuk urusan kotoran kucing, persetan dengan aturan. Banyak sudah yang terbang meninggalkan kota kami ke kota lain yang tentu saja tidak perlu memakai masker setiap waktu. Walikota kami benar-benar tidak dihargai lagi. Dahinya selalu berkerut, mulutnya tiada henti merafal doa. Sontak saja popularitas yang dulu pernah disanjung-sanjung kini habis manis sepah dibuang. Masyarakat kota yang dipimpinnya satu per satu meninggalkan kota ini.

Bagi yang punya uang berlebih bisa terbang ke kota lain. Jika yang punya uang pas-pasan cukuplah mereka ke kampung-kampung pedalaman yang ada di provinsi ini. Ternyata benar adanya. Bau kotoran kucing itu hanya ada di kota kami. Yang sudah meninggalkan kota terbahak mengucapkan selamat tinggal, mengabarkan bahwa di tempat sekarang telah hilang segala kecemasan dan kelaparan.

Hampir separuh penduduk kota hilang. Mereka yang bertahan di kota adalah mereka yang tidak punya uang berlebih dan tidak punya kampung untuk dikunjungi. Bukan mereka setia pada walikota kami yang sibuk dalam perenungannya. Tapi karena memang tiada pilihan lain, termasuk aku. Kota kami yang dulu terkenal karena kebersihannya, yang dulu setiap harinya masuk di headline berita-berita di seluruh media. Kini terulang lagi. Hanya yang disampaikan seperti mengabarkan neraka bukan syurga seperti dulu. Wartawan yang mengabarkan pun tidak datang langsung ke kota kami. Mereka hanya mengabarkan cerita dari masyarakat yang telah meninggalkan kota.

“Siapa pun yang punya atau menemukan kucing, tolong dimasukkan ke dalam karung dan berikan pada saya,” perintah walikota dalam pidatonya,

“Untuk apa? Membunuh kucing itu dosa,”

“Tenang saja. Hati saya masih bersih meski kota ini telah tercemari kotoran kucing,”

“Lalu?”

“Akan saya kirim ke hutan-hutan. Setuju?”

Kami serempak menjawab iya. Alhasil kami bersemangat mencari mahluk yang bernama kucing itu. Di kolong-kolong, di dapur, di ruang tamu, di jembatan, di remang-remang. Kami benar-benar berubah menjadi pemburu kucing. Memanggilnya meong-meong. Merayu anak kecil yang sudah sangat dekat dengat kucing belangnya yang sepanjang hari main saja. Semua harus dipisahkan dengan kucing. Barangkali saja kotoran dari satu kucing mencapai radius berkilo-kilo. Bisa jadi kucing di kota ini adalah kutukan syetan atau mungkin kemasukan dedemit kota ini.

Siang dan malam kami bergotong royong memasukkan kucing ke dalam karung. Ternyata kucing di kota ini memang banyak. Ada berkarung-karung kucing yang akan dibuang. Karung-karung itu dinaikkan di atas truk dengan sangat berhati-hati. Bagaimana pun kucing telah membuat polusi beracun, kucing tetap mahluk Tuhan. Itu yang dinasehatkan walikota kepada kami. Sungguh, walikota kami tiada duanya.

Semoga. Semoga. Semoga. Semoga setelah kucing-kucing itu dibuang ke hutan. Kotorannya pun ikut terbuang. Dan sayangnya, harapan hanya sebatas harapan, doa tinggal doa. Bukannya hilang malahan seperti ingin merusakkan indera penciuman dan kawan-kawan. Kami resah. Kami gelisah.

“Kita harus mendatangkan orang pintar. Ada yang tidak beres dengan kota ini,” usul seorang laki-laki berkumis tebal,

“Betul. Kalau dibiarkan. Kita akan mati,”

“Betul…”


Kami telah menyatu berkumpul berpendapat. Usul kami pun sampai ke telinga walikota. Segera walikota mengundang kami ke kantornya.

“Saudara-saudaraku bersabarlah. Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar. Jika kita lebih percaya pada orang pintar, Tuhan akan sangat membenci kita,”

“Tapi pak walikota. Sampai kapan kami bisa bersabar. Sampai kapan kami harus makan bercampur bau taik kucing. Kami tidur tapi susah bernafas. Sampai kapan kami tersiksa seperti ini,”

Keinginan kami untuk mendatangkan orang pintar sungguh tak terbendung. Bapak walikota yang terhormat pun tak mampu mencegah kami. Tak peduli dengan nasehatnya yang menyatakan bahwa Tuhan akan membenci kami. Lagi pula apa salah kami? Kami telah bersama-sama menjaga kebersihan kota ini. Bukankah Tuhan mencintai kebersihan. Tapi apa sebab Tuhan menghukum kami. Apa?

“Rasa-rasanya seluruh rakyat Indonesia sudah tahu dengan keadaan kota kalian,”

“Lalu apa yang harus kami lakukan, Mbah?”

“Kota kalian telah terkena kutukan siluman kucing. Karena di kota kalian kucing malu untuk membuang kotorannya. Kucing malu karena kota kalian begitu bersih,”

“Jadi semua masalah ini timbul karena walikota kami, Mbah?”

“Betul sekali. Jika kota kalian ingin kembali tenteram. Walikota harus diganti, peraturan harus diganti,”

Kami saling pandang. Kau tahu, kami sangat segan dengan walikota kami. Walikota kami itu istimewa, kami tidak mungkin tega untuk melengserkannya.

“Apalagi yang kalian pikirkan. Turunkan walikota kalian. Sekarang,”

Seperti dihipnotis, kami langsung berdiri meninggalkan orang pintar itu.Kami bergegas ke kantor walikota. Oh, walikota yang kami cintai, maafkan, ini semua kami lakukan demi kembali damainya kota ini.

“Turun…turun…turun..”

“Ada apa ini?”

“Karena Bapak, kota ini terkena kutukan. Bapak harus mengundurkan diri dari jabatan bapak sebagai walikota.”

“Apa saudara-saudara sudah tidak menyukai saya?”

Seketika kami kembali saling pandang. Lama.

“Jika benar penyebab semua masalah ini adalah saya. Hari ini juga saya mundur dari jabatan saya,”

Oh… Sungguh walikota yang istimewa. Bagaimana ini? Mungkin di negeri ini hanya satu pemimpin bijaksana seperti walikota kami. Ya, tak ada yang lain. Bersamaan dengan ucapan pengunduran diri dari walikota kami bersama itu pula gelegar petir membahana, hujan pun turun. Sungguh hujan kali ini sangat berbeda seperti ada kepiluan dari peri-peri yang menangis di langit sana. Mungkin mereka menangis, karena walikota setegar itu harus pergi dari istana kota ini. Jujur, aku pun menangis. Entah kenapa.

***

Perihal pengunduran diri walikota kami tersebar ke seluruh negeri. Lagi-lagi kota kami disebut sebagai kota yang aneh, karena apa yang dikatakan orang pintar tempo hari benar-benar nyata. Bau kotoran kucing yang menyeruak di mana saja, kini hilang bersama berhentinya hujan yang selama dua malam mengguyur kota.

Benarkah kutukan itu berasal dari walikota kami? Entahlah. Beberapa bulan kemudian, dilakukanlah pemilihan walikota yang baru. Ada empat pasangan dan lucunya dari satu pasangan itu terdapat orang pintar yang mengusulkan kami untuk menurunkan walikota dari kursinya. Dan lucunya lagi orang pintar itu menang telak dalam pemilihan. Barangkali karena jasanya menyelamatkan kota kami dari kutukan. Barangkali saja.

Tahukah kau apa yang terjadi dengan kota kami setekah orang pintar itu diangkat menjadi walikota? Kota kami menjadi kota terjorok di negeri ini. Banyak penyakit aneh-aneh yang datang. Banyak orang kaya tapi perutnya seperti terkena busung lapar. Banjir selalu datang setiap musim hujan. Tawuran antar pelajar sering terjadi. Banyak terjadi pembunuhan hanya karena memperebutkan uang seribu rupiah. Bau kotoran kucing memang telah pergi tetapi kota kami yang sekarang lebih busuk dari kotoran kucing yang dulu pernah datang. Aku merindukan walikota kami yang dulu.

Palembang, 24-11-11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...