Layangan Dullah

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sore yang masih saja terik. Dullah, seorang bocah berusia lima tahun tertawa riang di area rel kereta. Anak-anak, remaja, dewasa, pun orang tua hiruk dengan kegiatan mereka. Rel kereta di daerah Pademangan – Jakarta itu telah beralih fungsi, bak lapangan tempat memainkan layangan, bak pasar tempat menjajakan dagangan, bak cafe tempat nongkrong sembari ngopi dan rokok-an, bak TPA, tempat membuang sampah  hingga tercipta gunungan-gunungan menjijikkan di sisi kiri dan kanan. Diantara dua rel kereta terdapat dua deret kasur usang berwarna kecokelatan, kasur itulah yang dialih fungsikan menjadi cafe, tak jarang kasur itu dipakai tiduran, bahkan tidur betulan. Ah, rel kereta bau itu memang menjijikkan tapi penuhkehangatan. Satu-satunya tempat bercengkerama gerombolan orang-orang melarat, melupakan sejenak keluh hidup yang menjerat.

            Si kecil Dullah masih terus tersenyum, dengan binar ia memandang layangan yang membumbung. Ia membayangkan, jika punya layangan ia akan menerbangkannya paling tinggi. Tinggi sekali hingga tetangga pada bersorak sorai. Ibu dan ayahnya akan bangga, hingga ia tak akan pernah dimarahi lagi, dan ibu pasti mau membelikanya gula-gula setiap hari. Harapan yang begitu lagu. Dullah membayangkan sambil senyum-senyum. Dullah menerawang layangan-layangan yang tersangkut pada kabel di atas rel, ingin rasanya ia raih sebuah. Namun apa daya tangan tak sampai. Menjelang magrib ia pulang, rumahnya nyempil di pinggiran rel, sangat minimalis, hanya terdapat kasur, sebuah TV, dapur dan kamar mandi seadanya. Ayah dan Ibu Dullah asli orang Jawa, ayahnya dari Ngawi dan ibunya dari Klaten, mereka bertemu di perantauan saat sama-sama jadi babu, mereka saling jatuh cinta. Menikah dan memutuskan untuk hidup mandiri. Mbangun usaha sendiri. Ah, merantau di Jakarta ternyata tak membuat kehidupan jadi lebih baik.

Ayah Dullah seorang tukang becak, dan ibunya penjual gorengan. Ibu sedang memasak saat Dullah tiba di rumah. “Bu, belikan Dullah Layangan?” rengeknya sembari menarik-narik ujung daster ibunya.

          “Dullah! Ibu masih sibuk, main dulu sana!”

          “Layangan, layangan, layangan.” Dullah menangis, masih sambil menarik-narik ujung daster ibunya.

“Dullah, jangan ganggu ibu, ibu masih masak.” Tangis Dullah malah semakin kencang.

          “Anak nakal ...,” telinga Dullah dijewer. Ia ditarik ke kasur.

          “Diam di sini! Jangan ganggu ibu!” Dullah pun terus menangis hingga ia tertidur.

          Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Dullah duduk manis di bantalan rel kereta, sesekali ia menyingkir saat ada kereta yang melintas. Lalu dengan cepat duduk manis lagi. Ia sedang menunggu. Menunggu layangan. Siang menjelang sore anak-anak berduyun membawa layangan masing-masing, lantas berlomba-lomba membumbungkannya. Dullah senang bukan kepalang, matanya  berbinar. Tak henti ia memandangi layang-layang yang terbang. Sepulang dari rel, ia merengek lagi. Begitu seterusnya, hingga seminggu berlalu Dullah masih terus saja rewel. Ibunya yang kesal menumpahkan amarah pada suaminya.

          “Mas, belikan anakmu layangan! Aku sudah lelah mendengar rengeknya setiap hari!”

          “Buat apa? Dullah masih kecil, dia gak bakal bisa menerbangkannya.”

          “Mas! Aku pusing dengerin Dullah nangis tiap hari, apa kita segitu miskinnya sampe beli layangan buat anak aja gak mampu?” ayah Dullah masih santai menonton TV.

          “Mas! Mas kerja sampe tengah malem, gak jelas apa yang mas kerjakan di luar sana, tapi hidup kita tetep gini-gini aja. Uang yang mas kasih buat belanja cuma 50 ribu per hari, buat beli bahan gorengan juga itu gak cukup, Mas!”

          “Mas kerja keras, mempertaruhkan hidup dan mati itu juga buat kamu sama Dullah!”

          “Nggedabrus! Aku gak mau tahu, Mas. Aku gak mau di ganggu rengekan Dullah setiap sore. Titik!”

          “Iya, Mas janji akan mengurus Dullah setiap sore, agar kamu gak terganggu rengekan anakmu itu,” jawab suaminya tak kalah ketus.

Setelah istrinya terlelap, ayah Dullah mengambil kresek hitam dari tas lusuhnya, membuka lantas mengeluarkan lembaran-lembaran uang lecek. Diam-diam ayah Dullah menabung, ia bertekad akan menyekolahkan Dullah sampai tinggi, agar kelak anaknya tak bernasib sama sepertinya. Karena itu berapapun uang yang ia dapat hanya 50 ribu yang ia berikan pada istrinya, sisanya ia tabung untuk Dullah, tahun ini Dullah harus masuk TK. Biaya sekolah di Jakarta mahal, ayah Dullah sudah kehabisan akal bagaimana cara mendapatkan uang. Akhirnya nyopet ia jadikan pekerjaan sampingan selain menarik becak, demi mimpinya menyekolahkan Dullah dapat terwujud. Setiap sore setelah narik becak, ayah Dullah pergi ke pasar, tempat wisata atau di manapun agar ia bisa melancarkan aksinya.

          Sore itu Dullah kembali duduk manis di rel kereta, Ayah Dullah yang kepalang janji pada istrinya menghampiri Dullah dan mengajaknya pulang. Dullah menggeleng. “Ayah ajak jalan-jalan?” Dahi Dullah berkerut, mengalihkan pandangan pada layangan yang membumbung, memandang ayahnya lagi. “Dullah mau lihat layangan saja.”

“Kalau Dullah mau ikut ayah, nanti ayah belikan layangan.”Dullah mengangguk, digendongnya ia di pinggang. “Kemana, Yah?”

“Kita jalan-jalan ke Monas, tapi Dullah harus janji tidak rewel minta ini itu.” Lagi-lagi Dullah hanya mengangguk.

Sampailah mereka di Monas yang ramai, Dullah hanya diam di gendongan. Dalam bayangannya sudah berkelebat layangan yang membumbun  tinggi di udara. Ia hanya terdiam, sementara ayahnya mengambil beberapa dompet dari saku orang yang hiruk pikuk berwisata. Jam 8 malam mereka kembali, duduk di atas rel kereta, menghitung beberapa lembaran uang lalu memasukkannya ke kresek hitam.

“Kenapa ayah ambil uang dari dompet orang?”

“Ayah pinjam, supaya ayah bisa membelikanmu layangan berbentuk Rajawali.”

Demi mendengar itu, senyum di bibir Dullah mengembang. “Janji ya, Yah!” ucap Dullah dengan mata berbinar. Malam itu Dullah terlelap dengan senyuman, sementara ayahnya kebingungan, dua bulan lagi ia harus mendaftarkan Dullah masuk sekolah, sementara uang yang ia tabung belum cukup untuk membayar semua biaya.

          Lagi-lagi dari pagi Dullah sudah berada di rel kereta, ia bercerita pada teman-teman sebayanya bahwa ia akan dibelikan layangan berbentuk rajawali oleh ayahnya. Teman-teman berdecak kagum. Sorenya ia kembali ikut ayahnya nyopet di pasar, angkot dan kawasan ramai lainnya.

          “Dullah, sebentar lagi kau akan masuk TK, apa kau senang?”

          “Dullah senang,” jawabnya.

          “Anak pintar,” ucap ayah Dullah sembari mengelus kepala anaknya. “jadilah anak baik! Sekolah yang pintar!”

          “Dullah mengangguk, “Ayah, kapan kita beli layangan rajawali?”

          “Sabar ya, Le! Ayah belum sempat beli.” Dullah hanya mengagguk.

Begitu seterusnya selama seminggu, teman-teman Dullah mulai mempertanyakan layangan berbentuk rajawali. Dullah mulai jengah, ia mulai di olok-olok pembohong. Dullah jengkel, Dullah marah.

          Malam itu hujan mengguyur Jakarta, bukan aroma segar tanah sehabis hujan yang menguar. Namun bau sampah busuk dan selokan mampat yang mengernyit. Dullah sudah terlelap, ayahnya mengecup kening Dullah lantas berbisik, “Besok ayah belikan layangan berbentuk Rajawali.”  Keesokannya, seperti pagi-pagi sebelumnya. Dullah duduk manis di rel Kereta Api. Namun hingga sore tak ada satupun anak-anak yang bermain layangan. Karena hujan semalam tak ada angin yang berembus hari ini. Dullah sedih, layangan rajawali terus mengiang di kepalanya. Ia pun bangkit, berjalan tanpa tujuan. Ia melewati pasar yang ramai, ia melihat berderet-deret kios, mulai dari kios baju, buah, alat elektronik, juga kios mainan. Di kios mainan itulah terpajang indah berbagai bentuk layangan, layangan rajawali berwarna biru tua membuat Dullah terpana, ia melangkah ke kios mainan, penjual sedang sibuk melayani pelanggan. Ia melihat kanan-kiri persis seperti yang biasa ayahnya lakukan. Tak ada orang yang melihat, diam-diam ia mengambil sebuah. Ia pun berlari. Penjual yang menyadari Dullah telah mencuri berteriak, “Maling! Maling!” Dullah yang ketakutan berlari sangat kencang. Ia peluk layangannya erat. Hingga saat ia menyeberang jalan sebuah mobil hitam menabraknya. Dullah terkapar, masih dengan layangan dalam pelukan. Orang-orang di pasar mengerumuninya, bisik-bisik timbul tenggelam. “Masih kecil udah berani maling.” Celoteh salah satu di antara mereka. “Iya ya kecil-kecil kok maling.” Timpal seorang lainnya.

          Sementara ayah Dullah mengayuh becaknya dengan gembira, ia pulang cepat hari ini. Layangan berbentuk rajawali bertengger dengan megah di kursi becaknya.

 

Pademangan-Malang, 2015

Tentang Penulis:

Zahra Annisa, mantan mahasiswa fisika yang suka sastra. Senang sekali jika bisa bertegur sapa, FB: Zha, Email: annisazhaa15@gmail(dot)com.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...