Lelaki Rokok

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 “Pakne, enggak nonton anakmu?!” terdengar panggilan dari dalam rumah. Tapi suasana yang terekam oleh telinga membuatnya malas. Semua orang terdengar hiruk di sana. Seperti baru pertama kali melihat televisi.

Gerah lelaki itu. Meski udara dingin sekali. Lengang pula suasana di jalanan. Orang-orang seperti sudah tahu kabar yang dibawa hawa dingin. Langit pun sudah penuh  emosi. Lidah cahaya menyambar-nyambar. Menambah muram perasaan.

“Pakne, ini dia sebentar lagi tampil loh!” sebuah kepala melongok sebentar dari balik pintu.

Ia hanya menoleh sekilas. Acuh. Melangkah ke kursi di depan kios. Warna coklat kehitaman mengingatkannya pada umur. Langit telah mulai menumpahkan beban kegelisahannya. Rintik-rintik.

Crash!

Sebatang rokok ia nyalakan. Asapnya seperti kenangan yang mengepul dari sebuah kepala.

Lelaki kecil itu adalah masa lalunya. Tampak tergesa-gesa pulang sekolah. Siang begini bapaknya pasti sudah siap menghafalkan lakon untuk nanti malam. Bapaknya akan menjadi Gatotkaca setelah beberapa malam sebelumnya menjadi Adipati Karna. Dan itu adalah hal yang paling ia tunggu-tunggu selama ini.

“Bapak lebih suka menjadi Karna daripada Gatotkaca,” tak disangka, itulah kalimat yang keluar dari mulut bapaknya.

“Kenapa, Pak?” tanyanya heran, tak lepas memerhatikan kostum yang dipersiapkan bapaknya untuk pentas Gatotkaca Gugur nanti malam.

“Hidup bukan cuma sekedar hitam putih. Kamu jangan berpikir bahwa setiap Kurawa itu pasti pendosa. Hitam mulanya juga dari putih, dan putih pun bisa menjadi hitam. Perjalanan hidupnyalah yang patut kamu perhatikan. Ingat itu baik-baik.”

“Kenapa harus begitu, Pak?” sebenarnya ia tak begitu paham dengan kalimat-kalimat bapaknya. Tapi ia yakin bahwa lelaki itu sedang mengajarinya sesuatu, yang kelak pasti akan berguna untuknya.

“Perjalanan itu sejarah, perjalanan itu sebab-musabab. Kalau kamu mengerti betul sebab-musabab suatu keadaan, maka kamu akan bisa memaklumi sesuatu, bahkan mungkin akan jatuh cinta dengan sesuatu itu. Ya… misalnya Adipati Karna itu. Karena Bapak paham betul sejarahnya, makanya Bapak lebih cinta memainkan tokoh Karna daripada Gatotkaca.”

Kepalanya jadi semakin didatangi banyak pertanyaan. Ia jadi penasaran dengan kisah hidupnya Adipati Karna. Apakah kisah hidup bapaknya mirip dengan kisah hidupnya Adipati Karna sehingga beliau jatuh cinta? Tapi sepertinya tak. Ia tahu bahwa bapaknya tak pernah dibuang oleh orang tuanya. Dari cerita-cerita yang ia dengar sendiri dari lelaki itu, kakeknya bahkan mengasuh bapaknya dengan baik, dan membiarkannya memilih kehidupan yang diingininya.

“Karna jatuh cinta dengan Kurawa setelah ia ikhlas menerima hidupnya. Bapak juga begitu. Bapak jatuh cinta dengan kehidupan Bapak sekarang,” bapaknya membuka rahasia suatu ketika.

 

Nyala rokok hampir kalah oleh hawa dingin. Hujan semakin menari-nari dalam sunyinya malam.

“Pakne, anakmu nyanyi, Pakne!” terdengar setengah berteriak.

Ia menghisap rokoknya dalam-dalam agar nyalanya tak kalah melawan dingin. Asap menyembul kemudian. Kenangan menyemak.

“Lagu apa itu? Lagu kere amoh!

Remang-remang neon dalam kolong tobong1. Di dalam cermin, di samping wajahnya ia melihat bocah lelaki itu lantas melipat lagi poster yang tadi ia bentangkan dan lalu terdiam memandang langit-langit. Sebuah poster anak-anak muda zaman sekarang. Mereka terlihat sok keren menenteng gitar. Ia pernah hampir membuang poster itu, tapi terhalang oleh bocah lelakinya.

“Kalau punya keinginan itu yang wajar-wajar saja. Kalau tak bisa meraihnya, bisa stress kamu nanti.” Mengusapkan jelaga ke dagu, membentuk jenggot. Di bawah hidung harus lebih tebal, agar terlihat lebih gagah. Terakhir di kedua alis. Jelaga itu ia buat sendiri dengan cara menyalakan ublik, pelita kecil yang bersumber dari minyak dalam kaleng. Asap ublik ditampungnya di pelepah batang pisang. Setelah dicampur minyak rambut, jadilah bahan rias murah meriah.

Dhandhanggula2 sudah hafal?”

Di dalam cermin, bocah itu malah terlihat mlungker3. Sayangnya irama gendhing di atas kolong—yang ia tempati bersama keluarganya dan empat keluarga pemain lainnya—sudah memanggil-manggil. Ia harus segera keluar.

“Ayo nonton Bapak, besok aku kasih sangu,” iseng menjawil si bocah. Namun si bocah malah langsung memunggunginya. Bocah itu sudah tahu bahwa bapaknya bohong.

“Lagu kere amoh enggak bakal bisa buat kamu kaya,” gerutunya. Mahkotanya terantuk atap bilik saat keluar dari pintu. Tinggi pintu itu hanya sebatas dada orang dewasa.

 

Lelaki itu mendengar samar-samar denting gitar di sesela riuh hujan. Ia yakin itu berasal dari dalam kepalanya sendiri. Bibirnya tersungging ketika ingat bahwa bocah itu tak pernah sekalipun menonton aksinya di panggung. Bocah itu bahkan selalu punya cara untuk mendapatkan sebuah gitar.

“Ya begitu itu anakmu, suka ngurusi barang kere amoh.”

“Apa anakku itu bukan anakmu? Jelek-jelek begini, aku ndak pernah ngerunduk4, Kang.”

“Kalau dia anakku, mana miripnya? Dulu, aku enggak pernah disuruh-suruh untuk belajar sama Bapak. Tapi kau lihatlah itu bedegul5mu.”

“Buang itu gitarmu, So. Apa kamu mau jadi pengamen?!”

Bocah lelaki itu beranjak dari tempat duduknya dengan membawa raut muram.

 

Crash!

Rokok kedua dinyalakan. Meski kedua kakinya kedinginan, tapi kepalanya tak. Kedua matanya menyipit saat angin menamparkan asap rokok ke wajahnya.

“Rokoook melulu yang ada dalam otakmu. Mbok yo mikir to, Kang. Nyari makan saja susah, masiiih saja nagih rokok!”

“Kamu nyesal menikah denganku?”

Di sudut gelap, ia tahu bahwa anak lelakinya juga sedang menatapnya jengkel. Hawa tak enak itu dimulai sejak kemarin. Martini—adik iparnya yang tinggal di Mojokerto—datang berkabar bahwa Larasati selalu ngotot minta pulang ke Solo. Tapi ia tak mengizinkannya. Dan ia pun tak mengatakan alasan kenapa ia tak mengizinkan bocah itu pulang kepadanya.

Ia merelakan anak bungsunya itu diadopsi Martini ketika umurnya masih satu tahun. Dalam sebulan, ia masih bisa pentas tiga kali kala itu. Martini bilang agar dirinya terpancing lekas punya anak. Dalam perjanjian, Martini bilang akan membebaskan pilihan Larasati kelak—apakah akan ikut dirinya atau kembali pulang ke bapak-emaknya—jika ia sudah punya anak. Jika Larasati memilih untuk tetap tinggal bersama Martini, perempuan itu berjanji akan tetap menganggapnya sebagai anak kandung.

Sekarang gadis kecilnya itu telah berumur dua belas. Dan seperti janji yang pernah ia ucapkan, Martini tidak merahasiakan siapa orang tua kandung gadis kecil itu. Sayangnya keadaan masih belum berubah sejak dua belas tahun silam. Bahkan sekarang malah lebih parah. Kehidupan tobong telah kocar-kacir. Meski impian menjadi seniman terkenal telah tercapai, tapi materi tak mau setia mengikuti. Jika ada orang yang masih mengenalnya, hanya senyuman lebar yang bisa ia suguhkan. Selebihnya hanya cerita-cerita kenangan. Bahkan rumah seadanya yang kini ia tempati adalah pemberian seseorang yang pernah menyewanya sebagai jurkam. Kini setelah orang itu jadi petinggi negara, janji-janji untuk memperjuangkan apa yang ia pegang tak pernah ditepati. Ia dilupakan. Orang lebih cepat berubah daripada zaman.

“Aku enggak mau ribut, Kang,” suara perempuan itu menyeruak kilasan ingatannya.

“Aku lebih tahan lapar daripada tak ngebul6

“Kang Trio harus pengertian penghasilannya berapa. Apa anak istrimu harus…”

“Alaah… Sri, Sri, kok gampang lupa dengan janjimu sendiri to? Katanya enggak masalah hidup di tobong, katanya betah jadi istrinya seniman. Seniman itu ya begini ini.”

Perempuannya itu terdiam kemudian. Sementara ia buru-buru keluar saat mendengar genjrang-genjreng gitar di teras.

“Buang gitar itu,” menatap tajam anak lelakinya.

Tak ada tanggapan. Ada hati yang langsung terbakar.

“Aku menyekolahkanmu bukan untuk jadi pengamen,” menyemplak gitar di tangan anak lelakinya. Entah gitar itu milik siapa karena setahunya anak itu tak pernah pegang uang.

Dua amarah itupun bertemu dalam tatapan mata.

“Tak ada yang melarang Bapak menjadi pemain ludruk. Lalu kenapa Bapak suka melarang-larang aku?!” bangkit, meninggalkan lelaki tua yang langsung terpaku.

 

Crash!

Rokok ketiga menyapa bibir. Asapnya seperti pikiran yang sedang bergelut. Hujan terdengar seperti tangis dan kadang tawa.

“Kenapa Bapak suka menjadi pemain ludruk?” ia tak berkedip memerhatikan bapaknya yang tengah merias diri.

“Itu bukan semata soal suka atau tidak suka. Kamu akan paham kalau kamu sudah mengalaminya nanti.”

Kalimat itu tak pernah kikis dari dalam album ingatannya. Bahkan semakin menghunjam ke yang paling relung seiring hari-hari menua. Pernah ia menangis dalam sepi, sebulan penuh malam dibajak hujan sehingga panggung tak pernah nyala. Ia mulai paham maksud dari kalimat bapaknya; rasa suka itu lahir dari pilihan hati. Selebihnya adalah sesuatu yang tak bisa dijabarkan dengan perkataan.

Tapi elokkah jika ia tertawa dengan keadaan yang sekarang? Meski telah mendapatkan apa yang ia pilih, tapi keadaan sungguh jauh dari apa yang pernah dibayangkannya dulu.

 

“Pakne, anakmu masuk final, Pakne! Anakmu masuk final!” terdengar riuh dari dalam rumah.

Nyala rokok telah kalah dengan dingin. Ia hampir saja tertawa mendengar suara istrinya, namun tertahan oleh sesuatu yang menyesak dalam dada. Tersenyum. Lelaki itu lalu turun ke jalan menemui hujan. Ia tahu, semua ini hanya soal masa. Ada waktunya untuk segala sesuatu. Dan hujan ini pasti akan berhenti nanti, meski tak tahu kapan persisnya. Ia ingin menenangkan pikiran sekarang. Ia ingin mencari tempat tenang selain di depan kepulan asap rokok yang cepat sekali menghilang.



[1]               Tempat (pertunjukan) yang sifatnya darurat, biasanya dibuat dari bambu

[2]               Nama sebuah lagu (Jawa) tradisional

[3]               Tidur melingkar

[4]               Selingkuh

[5]               Nama panggilan berkonotasi kasar

[6]               Merokok 

 

oleh Nur Hadi, Juara 3 Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) Annida XI

 

Foto ilustrasi: google

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...