Lembah 21

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis: Muhammad Shamil Basayev

Ada tiupan lembut yang mendorong dan membuatku jatuh terkaget di saat hujan sore mengguyur Kota Nostean dengan derasnya. Dalam keadaan terduduk kaku di atas kolam air hujan, fisikku memilih berdiam meskipun bagian bawah tubuhku terendam air yang kotor. Aku seperti dibungkam suatu tanya yang tiada bisa kujawab dengan pasti, pikiranku tak berkutik sedikitpun, hanya mataku saja yang sibuk mengawasi dan menerjemahkam semua hal yang bergerak disekitarku. Angin itu  dengan nafas yang tergesa-gesa, terasa mencoba berlari dan mendekatiku, aku pun dengan nafas yang tergesa-gesa berusaha mendorong mundur tubuhku yang terduduk dengan cara menghempaskan kaki ke tanah yang bau amis dan penuh pulau-pulau air. Angan-angan angin itu memburu, ada percikan yang membercak kala aku menghempaskan kaki, mengacaukan ketenangan air, dan pada pergeserannya yang tak beraturan, pantatku menyapu puing-puing kecil kayu rumah yang terendam genangan air hujan, dan air yang kecokelat-cokelatan itu terasa merembes ke dalam celana kemiliteranku ketika aku menggeser-geser pantatku dengan paksa. Ada paku yang menusuk paha belakangku, aku menyeringai, pandanganku membuyar, tenagaku meletih, tapi ketakutan memberikanku tenaga tambahan, dan air-air yang bergelantungan di setiap penghujung topiku melompat dengan girangnya ketika punggungku menabrak batas tembok yang sudah mengusang dan menua. Air hujan mengalir menuruni jalur kerutan bajuku, dan nyawaku bernafas sebentar, menghirup udara yang sangat berat, sembari mengawasi keadaan yang mencekam dengan satu mata, nafasku terengah-engah, terus meminum udara kematian yang sangat pekat.

Pandangan mata kananku menyebar ke seluruh penjuru area dengan sipitnya, dan mencoba membuka lebih lebar kelopak mata kiri yang rapat oleh luka, darahnya mengucur mesra mengecup-kecupi pipi kiriku, keberanianku seperti kabur dari kungkungan batinnya, mungkin dia sudah tidak mencintai lagi tempat lahir hakikinya.  Hatiku sudah padam suasana, tapi masih bisa merasakan pahitnya kematian, keringatku tak kalah derasnya dengan rintik hujan yang mengguyur kota empat musim pada waktu itu. Dengan kedua tanganku yang kikuk, terbeku-kan dinginnya air hujan, aku sodorkan moncong Thompsonku ke arah hembusan yang menelanjangi keberanianku dengan sisa modal kegagahan yang bergetar, kelembutan angin itu semakin terasa mendekat dan semakin memojokkanku pada tembok tua dengan tekanan yang sangat kuat, mataku risau keperihan, terlilini serbuk jiwa-jiwa pembunuh, kala wajahku diusapi tangan’nya’ yang penuh dengan teriakan-teriakan orang yang terluka. Batinku tersedu-sedu bercampur rasa takut pula, dan mimik wajahku berubah seketika, menjadi tempat pembendungan ketakutan, lalu bocor tertusuk paku keputus-asaan. Dengan garis bibir yang menggelayut, dahi yang berkerut histeris, mataku melirik peluh kesah genangan air yang bercampur darah tepat berada di bawah pahaku, aku melihat bayangan wajahku-adalah-iblis padam api.

Aku memejamkan mata masih pada nafas yag terengah-engah, letih sudah emosiku. Dan hujan yang semakin deras, memukul-mukul kecil kepalaku.

Kurasakan rohani tersuntik bisikan lembut, lantunannya merasuk pada wilayah paling sensitif di antara semua bagian rohaniku, bisikan itu mencabik-cabik kepercayaanku mengenai ada tidaknya Tuhan Allah, menggerogoti semua peradaban yang pernah kujalani, karena ia bertanya. Apakah Tuhanmu tertawa atau menangis? Menantimu atau mengusirmu? Apakah Dia hidup atau mati?

Sakit rohku  terasa mengerang dan menjerit-jerit, karena tak kuasa menahan rasa pedih itu, rohaniku memilih menyembelih dirinya sendiri dan menyerahkan jasadnya yang hidup kepada makhluk tak bernama.

Karena hidup, kita akan mati. Dan kematian akan melahirkanmu ke dunia tanpa tanda tanya.

***

Langit pagi 1949 di Kota Nostean itu amat muram dan terlihat batuk-batuk karena tersesaki kepulan asap hitam, kedatanganku tak sanggup lagi melihat dengan jelas, apa yang ada dihadapanku saat ini, lalu mataku dibersihkan oleh kedipan pertama, dan pada bayangan yang dibentuk fantasy, kusaksikan puluhan ribu rumah hampir tak beridentitas lagi, ribuan bongkahan lubang besar yang tergali oleh ledakan menuangkan pandanganku, semua tanahnya berwarna hitam, seperempatnya tersiram darah, dan setiap bangunan yang dulunya adalah sarang mencurhatkan kebahagiaan, sekarang beralihfungsi menjadi sebuah panggung berlatar neraka yang skenarionya ditulis langsung oleh tinta Tuhan. Mayat-mayat berserakan dan tampak dari belakang seperti meneguk darahnya sendiri, tersungkur, terjungkir, bersilangan, bertumpuk seperti bukit, dan bahkan ada yang menghiasi wajah-wajahnya dengan darah.

Aku berjalan lambat dan hampa menuju sebuah rumah yang setengah matang dibakar panasnya gelora dendam penguasa, sambil menyandarkan senjata AK-49 di bahuku, kubuka tali pengikat pintu pagar yang bercak-bercak, dan kuangkat pintu yang terbuat dari bambu itu sambil memberikan dorongan ke  arah kiri, kulangkahkan kaki kananku sebagai komando dari kaki kiri, ada seorang anak kecil berparas sunlas, memakai rok merah muda dengan jilbab biru kesayangannya, berlari-lari menuju arahku, menyapa dengan tawa yang ceria, “Lihat ayah! Kerudung baru yang tidak pernah terharu” dengan gaya yang congkak, ia pegang kedua ujung kerudungnya. Kupijakkan kaki kiri selangkah lebih depan dari kaki kanan, dan kusaksikan seorang anak yang lebih lucu dan kosong tanggung jawab mengintip kedatanganku dari kaca jendela, ia tersenyum.

Matahari mengeluh untuk memberikan cahayanya, tangis langit pun tak dapat ditahan lagi, kepalaku menengadah, melihat gegap gempita langit, getarnya terasa sampai ke tulang jiwa, mataku tertetesi bintik air yang turun dari laut langit. Kuluruskan kembali pandanganku, berjalan melewati rerumputan yang hangus. Aku tersenyum pada langkah kesepuluh, isteriku pun membalasnya dengan senyum terindah sembari menata bunga-bunga menawarkan harumnya pada hidung yang berhasrat, dengan diiringi nyanyian dua anak perempuan kesayanganku, wanginya semakin semerbak, tempat ini terlalu syurga, tapi waktu sering pindah cerita pada alur yang lain. Kulanjutkan menjelajahi jalan setapak dengan hati-hati menuju belakang rumah, kayu kerangka badan rumah berjatuhan, dan hujan terus mengguyurnya, membasahi kesedihannya. Ada Ibu yang sedang menggoreng masakan khasnya, kulitnya kerut keriput seperti baju yang belum disetrika, arus pandangannya sudah meredup, kekuatan tulang raganya merapuh, menyaksikan dirinya sendiri bisa membuat kesan mata mati rasa, tapi hatinya bagai berlian yang mempunyai cahaya sendiri.

Tiap tetes hujan yang turun dari langit memenuhi lubang-lubang bekas ledakan di tengah-tengah rumahku, yang dulunya adalah tempat kita sekeluarga berkumpul, bercengkrama, dan bersujud. Tak lama kemudian air itu tumpah, mengalir lemah kearah kaki polosku, menyentuh dingin telapak kakiku, dan menyelinap lembut pada celah-celahnya, kuangkat kedua tanganku seperti orang muslim melakukan kode permohonan pada Tuhannya, kuamat-amati garis-garisnya, terbayang lafadz Alloh, tanyaku meloncat,

 “Assalamualaikum wahai Tuhanku! Apakah engkau benar-benar akan membantu kami dalam peperangan ini? Apakah engkau bertindak dan memperlakukan umat-Mu atas asas sifat Asmaul Husna-Mu? Dan tidakkah engkau saksikan bahwa kami kecewa terhadap umat Al-Quran yang mencintai dunia daripada saudara atau masa akhiratnya? Lalu berkhianat pada alasan yang tiada ada apa-apanya di hadapan-Mu?” Sejurus kemudian datang suara yang telingaku sudah tak asing lagi mendengarnya.

”Wassalamualaikum…!”

Lamunanku serentak tergoyah, suara itu datang dari ruangan tempat ayahku biasa membaca koran dan Al-Quran. Ayahku menyapaku dengan senyuman, dan memberikan sorotan mata terbaik selama masa hidupnya. Ayahku menghampiriku dengan memakai baju rohani, tapi ia hanya memelukku dengan jawaban-jawaban yang sederhana.

Sedihku mengambang ke permukaan udara, aku menunduki pasang surut air mata, dan hujan pun tetap mengguyur jasadku, dengan seksama ku balikkan badan perlahan, dan kuseret kembali senjata AK-47ku yang bersemangat sekali menembus batas-batas kehidupan oran-orang yahudi, kulihat tanpa sengaja ketika memalingkan kepala memutar kiri seekor lebah diam pada melengkunnya daun ilalang, kadang kulihat dirinya mengikuti lantunan sang daun, dan bergoyang sesuai dengan nada-nada nyanyian angin, otakku pening untuk bisa stabil menghendaki apa yang dimaunya, ada wajahku berkaca pada beningnya dan lambat laun lantunan itu membuat pikiranku merasuk pada matanya. Jalur semacam gorong-gorong urat syarafnya ku lalui, melintasi sel-sel, mengawang di lembah yang merah, lalu secepat kilat melesat pada cahaya selingkar karet gelang.

Aku terbang dan merasa melayang, ada kepakan, seruntutan suara hasil getaran sayapnya berulang-ulang kudengar begitu dekatnya, aku dengan penuh kehati-hatian mengamat-amati lingkungan sekitarku yang berubah aura, teriakan-teriakan anak kecil kudengar begitu jelasnya, aku terus mengepakan sayap rangkapku guna mencoba mencopoti rasa penasaran, lalu berbelok miring ke sebelah kanan, mendapati darah yang berceceran, seorang tentara yahudi terlihat menendang wajah anakku dengan sepatu berlapis besinya, mencongkel matanya, memotong tangannya, menyobek perutnya, dan memotong semua leher anggota keluargaku. Dengan marah yang terasah, aku berteriak dengan sekuat tenaga. Tapi fantasy tidak bisa berbuat apa-apa.

***

Pada bangun mataku setelah pingsan entah berapa lama di atas tanah yang basah kuyup, kulihat pesawat jet mirage melintas begitu cepat walau ku melihatnya dengan setengah sadar, asap hitamnya mengekori gerak-geriknya, pandanganku tak bisa mengikutinya karena pesawat itu hilang terhalang rimbunnya dedaunan hutan lembah 21. Rintik hujan menitik-nitik wajahku yang kusam, telingaku masih tak berlubang, padat oleh dentuman meriam.

“Ay*! Ba****” teriak seorang prajurit.

Tubuhku terasa terjerembab ratusan kilogram besi, tak sanggup menahan dan mengangkat beban ini, maka dari itu aku terbaring saja tanpa kata, tapi dua prajurit menarik lenganku, dan menegakkan ragaku tegak lurus, meskipun terkadang mendoyong lemah ke depan. Ku lihat beberapa peluru ganas menancap dan kadang menembus batang-batang pohon dibelakangku, pelesatannya hampir mengenai telingaku, aku tertunduk, dan lalu merayap ke garis depan tempat para tentara muslim menahan serangan, di belakang parit yang tingginya satu meter, ku isi senjata AK-47ku dengan sisa amunisi yang tiada berkecukupan untuk menandingi kecanggihan alat-alat militer tentara yahudi, ku sedikit mencuri celah dengan melongokan kepalaku beberapa sentimeter lebih atas dari garis tertinggi parit, di rimbunnya rumput-rumput yang menghalangi pandanganku, ku amat-amati tiap titik-titik yang bercahaya, dan kutembaki dengan penuh konsentrasi. Puluhan infantry yahudi tegas berjatuhan.

“Allohu Akbar..!!!Allohu Akbar…!!” Seru seorang prajurit yang jauhnya hanya empat-tiga meter di kiri dan kananku dengan cuatan mata yang tenang tapi bergejolak.

“Syaahid..!Syaaahid..!!Syaaahiiid..!!!” kudengar panggilan yang menyentak telingaku membuat konsentrasi menembakku pudar sejenak.

“Syahiid..! Di sebelah sini!” tampak seorang sersan dengan posisi merangkak di cembungnya parit melambai-lambaikan tangan. Lalu kujawab dengan menghampirinya pada cara merangkak pula. Di tengah perjalanan, tiba-tiba tanah yang ada dihadapanku memuncrat bersamaan dengan darah, dan begitu lengket menempel di depan wajahku, bersemayam di penampang punggungku, suara ledakannya membuat telingaku tak bisa mendengarkan apa-apa lagi, hanya bunyi tinggi yang panjang dan menyakitkan, nafasku terengah-engah,   aku kembali menundukkan kepala, menutupi dan melindunginya dengan pelukan kedua tangan, kembali dua sampai empat ledakan menghancurkan semangat perangku, peluang hidupku berbicara pesimis, tak ada harapan untuk hidup.

“Allohu Akbar…!!!” mataku mengintip di antara lubang sikutku untuk mengetahui apa yang terjadi, hatiku mendidih dan meluluh, kusaksikan seorang bocah berusia sepuluh tahun berdiri dan menyanggah senjata, lalu menembakannya ke arah yang tak beraturan, tapi peluru tahu apa target utamanya, dan darah apa yang harus dihisap pahit-pahitnya. Segenggam peluru berentetan menembaki kepala bocah itu, rubuh dan meremukan.

Aku kembali merangkak, dan menggulirkan diri ke arah kiri, menghadapi bidang parit yang berwarna coklat gelap, kembali berdiri dengan hati-hati, dan kuamat-amati apa yang ada dihadapan mataku pada detik ini, ada sepuluh buah phanser yang terletak berjauhan dan berformasi 5-3-2 mendekati. Tak tahu kenapa, pada kondisi segenting ini magasen AK-47ku macet, dengan tergesa-gesa kubanting-banting ia pada tanah yang membidang, tapi aku tahu ia sudah enggan untuk berperang, lalu kulempar senjata itu dekat dengan jenazah bocah tadi, “apa yang akan engkau lakukan pada kondisi seperti ini wahai anak pemberani yang menganut Al-Qur’an?”…bola matanya keluar dari kepalanya yang hancur, menggelinding lemah, dan tergeletak lurus pandang pada mataku, seakan-akan ia tersenyum.

Aku pun tersenyum dengan wajah yang menengadah, menghayati rintik hujan yang ujung-ujungnya menampilkan wajah-wajah keluargaku, menetas di pelapis mata, menetes mengikuti alur, dan pecahannya bertanya-tanya tentang keadaan keluargaku, karena rata-rata kudapati cerita dari semua keluarga militansi muslim mati terbunuh dengan cara yang sadis, hampir tanpa kepala. Tapi aku ragu akan kondisi keluargaku jika harus menjelmakan cerita para militansi muslim tersebut.

Pada pandanganku yang menengadah, sedetiknya setelah lamunanku, tiga pesawat tempur bertabrakan di atas sana, udara seperti marah dan mengadukan tiap benda yang terbang, puing-puingnya berserakan jatuh berkilat tanda tajam, menelusuri kehampaan udara, menancap pada tanah yang tergenang air hujan, termasuk seluruh artileri yahudi kena tusuk tanpa terkecuali, meledak seketika puing-puing yang sebagian utuh yang tersisa daripadanya kepala atau badan pesawat, membumbung asap tebal mendekati atmosfir bumi. Seorang militansi melemparkan sebuah senjata laras panjang padaku, dan dengan senyumannya ia memerintahkan sesuatu pada diamku, kami menambah kekacauan itu dengan menghujani mereka secara horizontal dengan peluru-peluru yang sudah terasah oleh kesedihan.

Tentara-tentara yahudi porak poranda, hanya selamati hidup saja yang dipikirkannya, komandannya pun tak tahan lagi melihat realita yang mencekam nyawanya, lalu menyuruh anak buahnya untuk mundur ke garis belakang, atau maju menuliskan nama pada daftar kematian. Aku merasa pernah melihat wajah dari komandan yahudi operasi II ini sebelumnya, tapi entah di mana atau kapan?

“Hey..!! akh lindungi aku sebisamu pada bidikan terbaikmu!” perintahku pada seorang prajurit yang ku anggap paling handal dalam mengatasi jarak pandang yang biasanya menjadi masalah yang besar bagi seorang prajurit,

“Baik.” jawabnya dengan tegas,

“Shyakeeh Amati gerak dan rute runawaynya!” penugasanku lagi pada seseorang yang berada disamping Akh.

“Apa yang hendak engkau lakukan wahai saudaraku?” tanyanya dengan tenang sambil mengawasi gerak-gerik musuh yang kelabakan.

“Apapun yang bisa kulakukan saat ini adalah membunuh rasa penasaranku secepatnya, aku berniat mengejar gerombolan tentara yahudi yang hendak kabur itu.” sahutku.

“Sulfi..! Zasti..! Akro..! ikut denganku! Kita ambil rute dataran tinggi!” mereka mengangguk kompak simbol pengertian yang sehati.

Kami merangkak dan meloncati bidang parit, lalu berlari sambil menunduk penuh kehati-hatian, dan menelusuri rumput-rumput setinggi hak tinggi, melompati kawah-kawah kecil bekas ledakan, mengembarai nafsu pembalasan, menunggangi angin kerinduan.

Empat jam sudah berlalu dimakan aktivitas membuntuti, dan hujan tiada bosannya mengguyur lembah 21 ini, kami mendapati tentara dan komandan yahudi itu istirahat sejenak di sebuah rumah tua yang sudah roboh tertimpa bom mereka sendiri, puing-puingnya megingatkanku pada puing-puing yang kurindui, senjataku ku pasangi teleskop 12x3, dan kubidikan moncong senjata laras panjangku dengan tenang tepat di tengah kepala komandan yahudi itu, benar, aku pernah bertemu dengannya, tapi ingatanku masih mengacak-ngacak file memoriku, entah kusimpan di mana? Sulfi, Zasti, dan Akro pun sudah siap dengan target mereka. Ku tarik gagang pengendali tembakanku dengan ketenangan telaga, siap menembuskan peluru nafsuku pada kepala berambut putihnya, mata angkuhnya, dan ekspresi bengisnya. Tapi sesalnya aku belum mengetahui siapa dia? Meskipun pahamku mengajari bahwa semua orang yahudi terlibat dalam kasus pembantaian di Kota Malangbong, tapi setidaknya aku harus membasahi dahagaku dengan jawaban yang pasti, supaya keheranan ini tidak bergentayangan.

Langit masih tetap menangis, mengguyur Lembah 21, Suara tembakan begitu menggema memecah kesunyian, membelah udara, burung-burung pun lari tegang dengan kecepatan terbaiknya, darahku mengalir deras karena satu peluru Dygtarev menembus tengkorak kepalaku, dan tembakanku sepuluh senti meleset dari target awal, hanya menepis kulit alis kirinya, aku ingat siapa dia. Dengan marah yang terasah, aku berteriak dengan sekuat tenaga. Tapi fantasy tidak bisa berbuat apa-apa, teriakanku hanya menjadi sebatas tiupan lembut.

 

***

Langit pagi 1999 begitu cemerlang, selembar daun muda gugur dari rantingnya, didekatinya dengan malu-malu oleh seorang anak kecil yang memakai rok merah muda,  berkerudung biru, dan dituliskan sesuatu kata di atasnya.

Air hujan yang duduk-duduk di lembaran daun yang kasat, meluncur lembut tertarik mulut sang dewa ditendang angin utara, air yang tunggal itu menetas di pelapis mata kiri anak kecil imut tadi.

Ia pergi meninggalkan daun yang beberapa menit bisa dikenalnya itu dengan air mata yang sedikit demi sedikit mengalir habis.

Daun setengah hijau tadi membaca tulisan anak berparas sunlas itu, “S-Y-A-H-I-D”.

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...