Maghna dan Charta

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Hilal Ahmad

 

“Oww!” aku memekik. Tubuhku terasa remuk. Aku mendarat tepat di atas bedcover berwarna pink. Kamar yang indah, dihiasi pernak-pernik berjejer rapi di lemari, dan sebagian lagi tergantung di dinding kamar. Pasti ini kamar cewek,

“Sebbe...ll!”

Aku mendengar suara seseorang berteriak. Kemudian terdengar ringtone hape bernyanyi nyaring. Aku menghela nafas dalam, suasana yang sangat membisingkan, berbeda jauh dari tempatku berasal. Aku terkaget dari lamunan saat tubuh mungil hape mendarat tepat di sampingku. Kulihat benda mungil elektrik itu tampak meringis kesakitan.

Siapa yang baru saja ada di monitormu?” tanyaku sok akrab. Benda mungil dengan banyak tombol itu terdiam, tampak air mukanya yang memberengut kesal.

“Maghna, gebetannya Charta.”

Aku terdiam sejenak. “Bukannya kau bilang kalau cowoknya Charta itu...,”

“Iya. Selain Khana, Sador, Anjar, entah Maghna ini yang ke berapa kali aku juga nggak tahu!”

Aku terdiam sampai suara si mungil itu terdengar lagi.

“Udahlah nggak usah dipikirin. Yang tadi suaranya Deza kok, bukan Maghna.”

Aku makin bingung dengan penjelasan si mungil elektrik itu. Rupanya kebingunganku tertangkap oleh si mungil yang berbusana pink itu.

“Sorry, aku tadi becanda. Abis aku kesel sih, Charta main banting aja. Btw, Maghna bukan cowoknya Charta kok. Deza suka iseng pake nomer Maghna buat neleponin Charta. Kayaknya sih tu cowok naksir sama Charta, tapi Chartanya kadung suka sama Maghna,” ucap si mungil panjang lebar.

“So...” belum sempat ucapanku dijawabnya, dering “Pencinta Wanita”-nya Irwansyah terdengar dari perut si mungil. Sebuah tangan halus segera meraihnya.

“Yap. Kapan. Ya udah deh, gue ganti baju dulu ya. Kafe Momina jam empat. Oke deh. Bye...”

Lima belas menit berlalu, aku terhenyak saat tubuhku ditarik paksa, juga si mungil yang kini tengah berada di dalam tubuhku.

Kafe Momina
“Gue akan ngelakuin apa aja, asal Maghna jadi cowok gue.”

“Ta, pliiis deh. Loe boleh pilih siapa aja buat jadi cowok loe. Anjar kek, Sador kek, Khana, atau yang lainnya. Tapi pliiis jangan yang ini. Cowok ini terlalu lurus untuk dijadiin korban loe selanjutnya.”

Charta menatap tajam pada wajah di depannya. “Nya, loe gimana sihh. Mestinya sebagai sobat gue, loe bakal dukung apa kemauan gue. Atau jangan-jangan loe ...”

“Ya ampun, Charta...” Gadis berambut sebahu itu geleng-geleng kepala. “Kapan sih gue nggak dukung loe. Anjar yang katanya gunung es aja, gue bela-belain nyelidikin buat loe. Bukannya ngungkit-ngungkit apa yang udah lewat, tapi yang satu ini pliis ya..., gue mohon, Ta.”

“Truss...maksud loe apa ngajak ketemuan di sini?” Charta menekuk lehernya, melipat kedua lengan di depan dadanya.

“Itu dia, Ta. Mungkin ini salah satu alesan kenapa gue minta loe ngejauhin dia.” Anya menatap manik mata cewek ber-rok mini dengan padanan tanktop menggantung lima senti di atasnya. “Menurut sumber yang gue percayai sih, doi anti pacaran, Ta.”

“Lalu....” Gadis berambut lurus sepinggang itu mengingat kembali sosok yang sedang mereka bicarakan. Benaknya membuka kembali memori tentang cowok berpostur tinggi dan berlesung pipi di wajah manisnya. “Jangan-jangan dia homo lagi!” Charta bergidik ngeri.

“Wah, gue nggak tau tuh. Tapi yang jelas...” kalimat Anya sengaja dibuat menggantung, ditelitinya wajah Charta yang tak dapat menyimpan rasa penasaran ingin mendengar kalimat selanjutnya. “Katanya tuh cowok pengennya langsung married.”

“Wao! Bagus dong!” Mata Charta langsung berbinar. “Gue siap kok nunggu. Apa sih yang nggak buat dia? Lagian kalaupun dia ngajakin married selepas SMA nggak pa-pa dehh...”

“Setahun lagi dong, Ta.” Anya memandangi wajah sahabatnya takjub. “Tapi, Ta, katanya lagi nih, tuh cowok suka sama cewek yang jilbaban.”

“Apa?!” Bibir mungil milik Charta terbuka lebar, sehingga membentuk huruf o.

Aku tersenyum menyaksikan tingkah Charta yang mati kutu kayak tadi. Habis, kriteria yang disebutkan Anya memang bukan Charta banget sih. Kulirik sosok sebangsaku yang sama-sama teronggok di meja, tengah tertawa cekikikan. Namun tawa itu segera lenyap, karena baik Charta maupun Anya segera meraih kami untuk keluar dari kafe itu.

Pagi hari di sekolah.
Tidak biasanya gadis cantik itu berjalan begitu perlahan. Langkahnya seperti terbebani beban ribuan ton, sehingga langkahnya tampak terseok-seok dan begitu dipaksakan. Biasanya sampai mual aku dibuat pontang-panting karena gaya jalannya yang serudukan. Alasannya selalu sama setiap harinya, kesiangan.

Ups, aku baru sadar. Pantas tadi pagi, lama sekali aku menunggui Charta yang tengah asyik mematut-matut diri di depan cermin. Siapapun pasti tidak percaya dengan penampilannya hari ini. Wao, lihatlah rok mininya berganti dengan rok lebar ala princess dari negeri-negeri dongeng. Bukan cuma itu, aku baru ngeh kalau penampilan Charta agak lain dari biasanya. Ada sehelai kain lebar yang menempel di kepalanya.

“Hai, pinky! Kok lemes banget sihh. Biasanya loe jadi sibuk kalo kesiangan dikit aja. Sekarang udah hampir lima menit loe telat, tapi kayaknya have fun aja tuh!” Gadis berambut ikal menghampirinya.

Aku tertegun. Pinky, aku mencoba mengurai kata yang dilontarkan gadis berambut ikal tadi. Oh ya, aku baru sadar, bukankah aku dipilihnya di sebuah butik terkemuka karena Charta menyukai warnaku.

“Wao, kayaknya Zaskia Mecca lagi bertandang ke kelas kita nih,” celetuk yang lain saat Charta menjejakkan kakinya di kelas.

“Pangling deh gue. Pasti deh loe kebanyakan nonton film Ketika Cinta Bertasbih deh.” Seorang cewek berbadan tambun melemparkan kata itu dari mulutnya yang dipenuhi cemilan, seakan tanpa beban.

Charta hanya tersenyum menanggapinya. Padahal biasanya gadis itu akan segera meradang pada siapapun yang berani mengejeknya.

“Hai, semua selamat pag...” Anya tidak meneruskan kalimatnya. “Charta, mimpi apa loe semalem?!”

“Ada dehh...” Gadis itu mengedipkan mata pada Anya, lalu melangkah ke bangkunya.

Seharian Charta bersikap manis, tidak ada keluhan dan kegaduhan yang disebabkan keisengannya hari ini. Tidak ada lagi acara kencan dadakan saat jam istirahat di kantin sekolah. Tak ada lagi agenda gosip bareng saat guru tidak ada di kelas. Pokoknya suasana kelas udah mirip-mirip kuburan, sepi benget. Semua itu hanya karena biang recoknya bersikap anggun, seanggun putri keraton.

Yang paling penasaran dari seluruh penghuni kelas adalah Anya. Berkali-kali cewek itu menanyakan alasannya tapi hanya dijawab; “Ntar deh gue jelasin, abis bubaran sekolah.”

Bel terakhir bunyi, menandakan pelajaran siang itu harus segera disudahi. Setelah membereskan alat tulis yang berserakan di atas meja, Anya langsung menagih janji. Tapi Charta malah celingak-celinguk ke arah mushala.

“Nya, ngomongnya di mushala aja yuk.”

Kontan saja Anya kaget. “Gue yang salah denger, apa loe yang salah ngomong, Ta?!”

“Gue cuma ngomong sekali doang kan, Nya.” Nada gadis itu penuh penekanan.

Anya jadi yakin kalau yang di depannya bener-bener Charta. “Ta, jangan bilang kalo yang loe lakuin ini, semua karena untuk ngerebut simpati Maghna?” Bukan jawaban pasti yang Anya dapet, tapi sebuah tatapan mistis yang mengisyaratkan “drakula haus darah”.

“Ikut gue sekarang.” Charta tak memedulikan tatapan teman sekelas yang mengernyitkan dahi beberapa kali.

Kedua cewek tadi berjalan beriringan, Charta mengurungkan niatannya menuju mushala, karena tampak ramai dengan anak-anak yang hendak menunaikan shalat zuhur. Keduanya menuju kantin sekolah yang kebetulan lengang.

“Sorry, Ta, gue keceplosan tadi,” Anya membuka pembicaraan.

“Never mind. Ngejawab pertanyaan loe tadi, emang kalau iya gue begini karena Maghna kenapa?” Gadis itu menjawabnya dengan ekspresi berseri-seri. Tentu saja Anya jadi heran, tumben-tumbenan biasanya Charta langsung nyolot. Sebegitu besarkah dahsyatnya pengaruh Maghna di hati Charta. Sepertinya itu yang terlintas di benak Anya melalui sorot matanya yang menyelidik.

“Ta, gue takut nasib loe kayak...”

“Kayak cerita di teenlit-teenlit githu. Nyantai aja lagi, itukan cuma cerita rekaan. Atau loe terlalu ngeresapin ceritanya Me Versus High Hell kali. Don’t worry gals, gue bukan Sasha yang rela berubah cuma untuk cinta tololnya Arnold.”

“Trus, apaan dong alesan loe kalo bukan untuk ngedapetin cintanya Maghna. Hello...Ta, wake up. Matahari tepat di atas kepala kita, panas kali. Jelas-jelas apa yang loe alamin sekarang nggak jauh beda sama yang ada di cerita Sasha.”

“Ya jelas beda...” lagi-lagi gadis cantik itu tersenyum. “Gue ngelakuin ini...” ekor matanya yang lentik megamati seragam sekolah yang tengah dikenakannya. “Udah deh nggak usah dijawab. Tapi satu hal yang perlu loe ketahui, Nya, Maghna bukan Arnold.”

“Tapi Maghna satu spesies dengan Arnold, jenis yang menjijikan dan suka ngobral janji dan nyakitin hati.”

“Hallow..” Kali ini malah Charta yang terheran-heran pada ucapan sahabatnya. Anya begitu ekspresif mengungkapkannya. “Tapi bukan berati loe nggak suka sama yang namanya cowok kan, Nya.” Charta mengamati Anya yang menjadi sahabat kentalnya setelah sama-sama suka film The Sisterhood and Traveller Pants dan mereka membeli celana seperti yang ada dalam film yang mereka dari tempat rental film di samping sekolah.

“Udah deh, Ta, ngak usah berkelit. Sekarang kita nggak lagi ngomongin gue kan, tapi tentang loe. Loe tau kan kalo Maghna nggak mau pacaran dan pengennya langsung married, itu berarti nasib loe nggak bakalan jauh dari nasib Sasha,” nafas Anya nampak tersengal-sengal. “Lagian, apa kata dunia...”

Charta tersenyum simpul. “Biarin aja, paling-paling dunia berkata, hei lihatlah Charta yang berlagak alim dengan bertamengkan gaun tertutup cuma untuk ngedapetin cowok. Paling cuma itu.”

“Tapi loe nggak pernah ngebayangin kalo loe bakal ditolak cowok kan? Karena selama ini loe selalu berhasil ngedapetin hati para cowok yang loe suka.”

Relung hati Charta tertohok oleh ucapan gadis cantik berlensa mata di depannya. Mereka saling diam, tidak ada suara. Hanya desiran halus angin menawarkan kesejukan di siang hari yang lumayan terik.

Aku menatap keduanya yang memandang kosong objek di depannya. Tampak gurat keresahan pada kedua gadis itu, entah dengan alasan serupa atau tidak.

***

Aku tahu, akhir-akhir ini Charta tampak resah. Tapi aku bersyukur, ia sudah jarang membantingku lagi sepulang sekolah. Gadis itu malah banyak berdiam diri di depan cermin.

Aku dan Charta baru saja pulang selepas mengikuti acara kajian yang diadakan Rohis sekolah. Charta duduk manis di sana, bersama siswi-siswi yang menutup seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sangat berbeda jauh dengan dunia bising Charta yang dulu, dunia pemandu sorak yang memamerkan betis dan anggota badan lain yang seharusna ia tutupi.

Kulihat cairan bening mengalir bening dari mata indahnya. Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita yang begitu lembut. Aku baru mengetahui dari rekan sebangsaku, yang teronggok di sebelahku, wanita yang tengah bersuara lembut itu bernama Ustadzah Aniyah. Ia bercerita banyak, di antaranya bahwa ia rutin menghadiri acara yang digelar seminggu sekali.

“Charta berapa kali sih gue bilang, akhiri permainan konyol ini.”

“Ini bukan permainan, Nya.”

“Hehh,” Anya menyunggingkan senyumnya. “Hampir tiga minggu loe kayak gini.” Gadis itu menghela nafas dalam, lalu menghempaskannya kasar. “Apa pernah cowok sok alim itu ngelirik loe?! Yang ada malah loe yang ikut-ikutan acara ngebetein kayak gitu!”

Tak ada jawaban, hanya wajah Charta yang tertunduk dalam-dalam.

“Gue emang salah, Nya.”

Anya menjadi terenyuh mendengarnya, ia merasa kepribadian Charta yang dulu hilang sudah. Hanyut seiring perubahan yang dialaminya tiga minggu belakangan ini. “Honey, gue cuma sayang sama loe. Kita kan sobatan udah lama. Gue nggak mau loe...” Anya mendekap tubuh Charta yang kian tertunduk dalam.

“Sebenernya ada apa...?” Anya mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya.  Tapi Charta lebih memilih untuk menekuri tanah yang dipijaknya, menyembunyikan beningan kristal yang siap meluncur dari kelopak matanya.

“Gue juga malu, Nya. Ternyata apa yang selama ini gue anggep baik itu belum ada apa-apanya di sisi Sang Kuasa. Gue ngelakuin ini bukan karena Dia.”

“Loe ngomong apaan sih? Oke, besok gue samperin tuh cowok.”

***

Cuaca siang itu cukup menyengat. Sebenarnya aku malas keluar, tapi Charta yang memaksaku. Aku bertanya-tanya dalam hati, ke manakah Charta akan membawaku pergi?

Gadis cantik yang rambutnya tidak tergerai bebas lagi, kini tengah singgah ke toko pakaian di sebuah pasar tradisional. Benar-benar perubahan yang sangat signifikan.

Aku merasa gerah, karena di sini tak ada ac seperti butik atau distro yang kerap Charta kunjungi. Tak biasanya ia mengajakku ke sini. Paling banter gadis itu mengajakku ke department store, walau sekadar menemaninya untuk cuci mata.  Tapi kali ini, aku dibuatnya tidak mengerti.

Dipilihnya beberapa gaun panjang, lalu membayarnya sebelum pergi. Aku mengerti sekarang, gadis itu hendak menukar isi lemarinya, yang dipenuhi busana minimalis, dan menggantinya dengan gaun yang serba maksimalis.

Charta merapikan kerudungnya sebelum bergegas dari toko pakaian tadi. Langkah gadis berperawakan tinggi itu terhenti, beberapa langkah di depannya berdiri sosok yang amat dihafalnya. Gadis berhidung mancung itu berjalan memutar, namun terlambat, cowok tadi kadung mengetahuinya.

“Charta?” sapa cowok tadi.

“Maghna...”

Oh, emji, aku hampir memekik keras. Inikah cowok yang selalu membayangi benak Charta.  Wajar saja bila Charta sampai harus merombak habis penampilannya demi cowok ini. Kalau pernah melihat tampangnya Daniel Radclieff atau Aaron Carter, mungkin ia adalah perpaduan dari keduanya. Lihat saja senyumnya, membuat wajahnya tampak imut dan babyface. Tapi siapa sangka persyaratan untuk menjadi ceweknya begitu ribet, seperti yang dilakukan Charta.

Charta tampak gugup, “Eh..hai...” gadis itu menundukkan wajahnya.

“Kamu lebih cantik dari yang aku kira. Aku hampir tidak mengenalimu dalam balutan busana seperti ini.”

Gadis berkerudung biru langit itu jadi salah tingkah. Tak biasanya ia seperti ini. Siapapun tahu, baik Khana, Sador, dan lain-lainnya, justru cowok- cowok itulah yang selalu tingkah jika berhadapan dengan Charta.

Tapi sekarang, jangankan memelototi cowok di depannya, memandang wajahnya pun ia tidak sanggup. Bukan karena sosok Maghna yang selalu dirindukannya sekian lama. Aku melihat ada alasan lain di manik matanya. Aku kerap melihat ia termenung, jika selepas bertandang dari rumah Ustadzah Aniyah.

“Ayolah, Manis, aku sudah tahu semuanya. Kamu seperti ini karena aku kan?”

Wajah Charta memerah seketika, pias. Bukan hanya karena ucapan cowok itu yang di luar dugaannya, tapi karena tangan Maghna yang berlaku kurang ajar hendak menyentuh wajahnya.

“Maghna!” Charta mendongakkan wajah, menatap tajam ke bola mata Maghna. Ada keanehan di sana, mana mungkin seorang yang baik seperti dikatakan Anya berlaku kurang ajar seperti itu. Atau ini hanya akal bulus keduanya.

“Tak kusangka  matamu sungguh indah. Aku sungguh merindukan dirimu di setiap malamku.”

Ucapan cowok itu lagi-lagi membuat Charta tercekat. Tubuh gadis itu menggigil seperti orang kedinginan. Sudah lama aku tidak melihat ekspresi wajah Charta seperti itu, tepatnya sejak ia hadir dengan penampilan barunya.

“Tidak menyesal rasanya memanfatkan Anya untuk mendapatkanmu. Walau dengan seribu akal sekalipun.” Maghna semakin meracau.

Charta tertunduk diam, entah apa yang dirasakannya kini. Akui tersadar, saat cairan hangat jatuh dari sudut matanya, dan tepat mengenai tubuhku.

“Maghna sayang, ke mana aja sih kamu? Kok dicari-cari malah nggak ada...” tiba-tiba suara genit terdengar, bersamaan dengan cewek seksi mendatangi mereka. Pemilik suara genit itu segera saja menggandeng lengan cowok yang tampak tergagap itu.

“Charta?”

Gadis itu mengangkat mukanya, dan untuk kedua kalinya ia tercekat. Karena pemilik suara genit tadi adalah sosok yang sangat dikenalnya, Anya.

Charta segera meninggalkan keduanya tanpa basa-basi, yang membuat dua makhluk itu terdiam bisu. Selanjutnya keributan kecil tertangkap sayup-sayup dari telinga Charta yang berlari kencang menerobos keramaian pasar tradisonal.

***

Dua hari sudah aku menemani Charta di ruangan ini. Selama dua hari pula tak kuhirup udara segar alam sekitar. Hape mungil bersarungkan pink bergambar Barbie Pegasus, tampak tertidur lelap. Tiada musik yang mengalun dari tubuh mungilnya, yang terdengar hanya isak kecil milik Charta. Diary bergambar Minnie Mouse menatap pilu ke arahku, ialah yang petama kali tahu apa yang dirasakan Charta saat ini.

“Kasihan Charta,” sang Diary mengawali pembicaraan. “Cinta yang dipujanya, malah membuat hatinya terluka.”

“Di, aku khawatir kalo...” ujarku pada si Minnie Mouse.

“Semua akan baik-baik saja. Ia cuma butuh waktu untuk menenangkan emosinya. Kamu tahu kan, Charta sudah banyak berubah akhir-akhir ini. Mungkin inilah yang dinamakan keajaiban. Sang Maha Kuasa dengan mudah untuk berkehendak mengubah siapa saja yang diinginkannya.”

“Tak kusangka Anya membohonginya. Padahal ia kan sahabatnya sejak dulu,” ujarku.

“Ya aku tahu itu. Tapi apa kau tahu, apa yang dikatakan Anya segalanya tentang Maghna adalah bohong.”

“Termasuk bahwa Maghna adalah cowok hanif yang...”

“Ya. Kamu masih inget kan, kenapa Anya bersikeras menggagalkan niat Charta?” Aku terdiam, mencoba mengingat apa yang dikatakan Diary.

“Untung niat itu tidak batal, sehingga Charta menjadi Charta yang lebih terkendali.”  Ada jeda kebisuan selama beberapa detik. “Kamu tahu apa yang ditulis Charta?”

Aku memilih mendengarkan lanjutan kalimat buku manis berwarna pink di depanku. “Ia bilang, cinta pada sesama makhluk itu bukan segalanya. Ia menyadari, jika keputusannya untuk berubah hanya karena Maghna adalah salah fatal. Ada sebuah alasan yang lebih mulia dan tidak akan sia-sia. Ada sebuah cinta yang kita takkan pernah mengecewakan jika kita mengharap cinta kepadanya. Yakni cinta Sang MahaKuasa.”

Aku tertegun mendengar ucapan sang Diary. Begitu indah kata itu terdengar dan begitu syahdu. Aku beruntung karena tidak diciptakan sebagai manusia yang memaknai hidup sebegitu rumitnya. Aku juga beruntung bertemu dengan Charta, seorang gadis yang berani mengambil keputusan. Dan keputusan itu tepat. Yang paling membuatku bahagia adalah, aku beruntung karena aku hanyalah seonggok tas.

Antara Serang dan Lampung, aku terkepung.

                                 
     

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...