Mahar

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis : Wien*


Mahar!


Ada yang menohok batinnya ketika ia mengingatnya. Sesuatu yang membuatnya hampir seperti orang yang gila harta. Menjadi budak nafsu, pergi pagi pulang petang hingga akhirnya nekat terbang ke Kalimantan.


Siapa yang salah?


Ia hanya bisa pasrah, tak ada yang bisa dijadikan kambing hitam. Emaknya yang sudah setahun lebih menjanda atau si bungsu Sari yang baru saja menikah diusianya yang belum genap enam belas tahun. Tidak juga pada nasib, tidak ada yang berhak dipersalahkan atas semua yang kini mau tak mau menjadi beban hidupnya.


Dulu, ketika ia belum begitu hafal akan tradisi. Mahar adalah sesuatu yang jauh dari targetnya, baginya menikah yah menikah. Jika calon sudah ada tinggal meminangnya dengan izin orang tua.


Tapi ternyata duganya salah, tidak semudah apa yang dibayangkan. Ada kewajiban pertama dan kedua yang harus ia penuhi, yakni mahar dan penghantar.


Jika saja ia tak menginginkannya atau malu bisa ditambal dengan kata maaf, ia tak akan seperti ini. Apa yang bisa dilakukan dari seorang lulusan sekolah tingkat dasar desa di Pulau Seribu Sungai, kalau bukan kuli bangunan dan hanya sebatas laden bukan tukang yang gajinya dua kali lipat darinya.


Andai saja waktu bisa diulur mundur, ia akan menuruti kata Emak saja, kerja di lembur. Meski serabutan dan hasilnya pun jauh dari pas-pasan, tapi masih bisa tertawa bersama Emak dan Nyi Sari sambil menunggu singkong rebus di dapur tua milik Mak dan menikmati seruput hangat kopi hitam racikan Mak.


Rindu dan mahar kini menjadi dua bagian tak terpisahkan dari pikirannya. Ia ingin segera pulang, agar rindu bisa bermuara tenang dan mahar yang ia janjikan bisa menghantarnya di pelaminan.

***


Mahar.


Mengapa sulit sekali baginya untuk merengkuh dalam nyata padahal niat baik itu sudah mendahului fajar menggenapkan dien. Padahal dulu dengan cincin dari besi saja sudah terijab-qabulkan.


“Ini tentang harga diri engkau dan juga keluarga ini!” Begitu kata pamannya yang ngotot tak akan ikut rombongan seserahan jika mahar bukan yang kemilau.


“Kau mau memberi makan anak-anakmu dengan apa, Man? Dengan hasil meminta pada Emak? Dengan hasil kerja serabutanmu itu?” Bibi menimpali, membuat Emak semakin terpojok di sudut kursi bambu tua.


“Bukan itu saja yang harus dipikirkan, ada seperangkat seserahan dan saweran. Mau ditaruh di mana harga diri keluarga kita kalau barang bawaan tak sebanding yang mengantar.”


Ia melihat Emak semakin menggelengkan kepalanya, matanya basah. “Sudah Man, tunda dulu keingannmu!” Begitu yang terasa di hatinya.


Dan inikah jalan keluar itu?

Sudah setahun lebih mahar, emak, dan calon jodohnya malah menjadi sesuatu yang semakin sulit dijangkau.

Padahal dulu semuanya dekat, udah dekat. Ia masih ingat jawaban tulus sang rembulannya.


“Karena-Nya aku menerimamu, bukan karena harta, bukan karena tahta, aku sudah instikharah, dan mendapatkan kemantapan ini, tak perlu kau dengarkan semua aturan adat yang membebankan. Aku hanya ingin menikah. Cukup dengan pernikahan yang sederhana. Tak perlu siraman, seserahan, saweran, lengseran, di tengah kemegahan tirai pelaminan. Aku tak perlu itu karena bagiku menikah itu ibadah yang dipermudah. Bagaimana pula kita mengharapkan kebarakahan dari sebuah acara sakral jika kita membebani diri kita sendiri dengan aturan-aturan yang jelas-jelas tak dicontohkannya. Bukankah lebih baik biaya pernikahan secara adat itu disedekahkan daripada digunakan pada hal-hal yang mubazir menurutku. Sudah kujelaskan dari awal, niatku menikah hanya karena-Nya dan aku tak mau membuatmu merasa terbebani dengan mahar serta penghantar. Apa yang kau punya, apa yang kau ikhlaskan untuk kau berikan padaku sebagai mahar. Apapun itu akan kuterima.”

           
Namun karena kasihan pada Emak, akhirnya ia pergi jua. Ah sebenarnya bukan kasihan, karena kalau benar-benar menyayangi Emak, ia tak akan tega pergi merantau. Lebih tepatnya mungkin ia ingin menunjukkan pada paman dan bibinya, jika dirinya juga bisa seperti Wawan yang telah menghadiahi kehormatan pada keluarga. Ia tak ingin dirinya dan Emak menjadi bahan perolok-olokan lagi. Apa namanya kalau tidak diperolok, tatapan mereka dari hari ke hari makin sinis.

           
Tak bisa dipungkiri, ia pernah bersu’udzon juga. Mungkin mereka iri, anaknya Wawan yang sudah menjadi orang  mendapatkan gadis desa yang tak bisa disebut sebanding dengan sang rembulannya bukan karena sekadar kecantikan luar tapi juga kecantikan dalam dan juga pendidikannya. Di samping pula sang rembulannya adalah putri satu-satunya yang terpandang di desa ini, putri Pak Kyai Sepuh.

           
Tak heran jika pamannya pernah berkata, “Jangan karena harta orangtuanya kau menjadi memudahkan segalanya, jangan karena mereka menerimamu apa adanya, rasa malumu kau jual.”

           
Hmm, ah sekali lagi ia tak boleh menyalahkan nasib. “Terima, jalani dengan ikhlas dan lapang dada, Man!”


            ***

           


Pada lima gram cincin emas ia layangkan pandang, akhirnya setelah susah payah ia dapatkan juga. Cincin yang seyogyanya akan ia berikan untuk mahar pernikahannya nanti. Mahar yang bisa menyelamatkannya dari rasa rindu yang kian memuncak bukan pada Neng Fatimah, sang rembulan yang menerima lamarannya. Tapi pada Emak yang katanya kini sering sakit-sakitan.


Terakhir dari surat Nyi Sari, tiga bulan yang lalu. Emak terus menerus menyebutnya dalam suara parau di tengah demamnya, Emak terus menerus menanyakannya di tengah sadar menyapa, Emak sering terdengar menangis dalam doa selepas shalat, meminta perlindungan dan pertolongan Sang Maha Kuasa atas anak laki semata wayang yang sudah hampir dua tahun tak pernah ia rasakan kehadirannya.


Gara-gara mahar ia harus mengorbankan perasaan Emak, gara-gara mahar ia harus berpisah dari sepetak sawahnya. Kabar dari Nyi Sari, kini harta satu-satunya sisa peninggalan bapak itu harus ludes juga untuk berobat Emak. Ia sangat sedih, tidak bisa berbuat apa-apa selain doa dan air mata.


Sekarang pasti mereka benar-benar berada dalam kesusahan, kasihan Mang Endin suami adiknya itu. Kini menjadi satu-satunya tumpuan mereka. Sudah tertimpa tangga, jatuh pula. Ah bukan lebih tepatnya, sudah tertimpa tangga masuk jurang. Kini pasti Mang Endin sedang berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari jurang kemiskinan, jurang kesulitan, dan jurangnya jurang yang sangat menakutkan, jurang ciptaan si lintah darat.


Ia semakin ingin pulang. Seandainya ada lorong waktu, tak mungkin lagi ia bertahan di tempat ini. Biar pulang dengan membawa apa adanya, biar tak jadi menikah juga, biar diperolok juga yang terpenting ia bisa pulang, dan sedikit meringankan beban Mang Endin, ayah dari keponakannya itu.

***


Tapi sayang, pulang adalah sesuatu yang jauh dari rengkuhannya untuk membeli cincin ini saja, ia harus berjuang susah payah selama dua tahun ini.


Kini mahar sudah di tangan, tapi untuk penghantar dan terbang. Ia gelengkan kembali harapan semunya.


“Man, jangan melamun saja, mau kerja tidak kamu itu?”

Bayangan Emak dan kampung halaman menguap seketika.


Ia harus bekerja seperti biasa, menjadi buruh angkut batu yang beratnya kini sudah tak terasa. Biasa hanya tangan dan bahunya lah menjadi saksi segala perih dan letih.


Perih menahan beban yang bertambah menumpuk. Hutang terbang awal, hutang budi Pak Surip yang telah mengangkatnya sebagai buruh angkut. Belum hutang kesalahan pada Pak Dirman, karena ia telah minggat dari kontrakan dan usaha kuli bangunan. Hanya gara-gara mahar.


Bukan kebetulan kalau cincin yang dibelinya itu sama dengan cincin yang dibeli anaknya Pak Dirman yang semenjak kedatangannnya menaruh hati padanya. Namun, karena teringat sang rembulan, ia tutup hatinya dan lebih memilih untuk diam.


Pun ketika tudingan bertubi-tubi dilimpahkan padanya. Ketika cincin Neng Ratih raib, tanpa menunggu waktu fajar. Ia segera tinggalkan rumah singgah pertama di pulau Seribu Sungai ini, membawa mahar dan dua potong baju gantinya.


Malang nasibnya sungguh malang, tak terpikir sebelumnya jika kepergiaannya justru telah membuat tembok besar yang semakin tinggi untuknya sekadar menengok kampung halaman. Ia lupa gara-gara mahar, ia belum bisa pulang.


Apa yang bisa dilakukan seorang lulusan sekolah dasar tingkat desa di kampung orang ini, tanpa modal tanpa kemampuan.


Kini mahar jadi teman bukan teman nyatanya, namun sekadar teman khayalan. Ketika pelarian itu cincinnya hilang. Dirampas Pak Dirman ketika pengejaran berbuah manis.


Mahar! Pulang! Terbang! Bertambah lagi satu hal jika dia bisa menerawang. Emaknya tersayang tepat ketika pengejaran itu telah berpulang.

           
Mahar oh mahar! Kembali ia layangkan pandangan pada lima gram cincin emas yang kini malah berkarat di hatinya.

 

Selesai

 

 

 

 

Biodata penulis :

Nama Pena : Wien

Akun fb : Wien

Alamat e-mail : ri.winda@yahoo.co.id

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...