Masjidku Terbakar Sepi

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Akbar Kasmiati

Masjid Miftahul Jannah terletak di sudut persimpangan empat  Jalan Seruni dan Jalan Domba. Almarhum Haji Agus Salim adalah tokoh masyarakat yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid ini. Beliau juga yang memberi nama Miftahul Jannah agar masjid kelak menjadi salah satu kunci untuk masuk surga.

Secara fisik masjid ini sangat megah yang memiliki luas separuh lapangan sepakbola dan berlantai dua. Lantai dan Separuh dindingnya dipasangi tehel keramik berwarna abu-abu. Dindingnya dihiasi kaligrafi yang cantik dan berwarna warni. Pelukis kaligfarinya dulu sengaja didatangkan dari pesantren yang ada di Jawa.

Kemegahan masjid ini bertolak belakang dengan jumlah jamaah yang rutin shalat berjamaah lima waktu. Shalat subuh, zuhur, dan dan isya hanya berjumlah setengah shaf, sedangkan shalat magrib dan ashar satu saf. Itu pun hanya orang tua yang berumur sekitar 50 tahun ke atas dan anak-anak yang berusia 7-13 tahun yang rutin ikut shalat berjamaah. Saat bulan Ramadhan pun jamaah hanya terdiri dari tiga shaf hingga pekan kedua Ramadhan, setelah memasuki pekan ketiga, jamaah kembali berkurang jadi satu shaf. Masjid ini baru ramai saat shalat Jumat, perayaan Maulid, Isra Miraj, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Sangat sedikit warga yang ingin memakmurkan masjid. Warga lebih senang memakmurkan pasar malam atau hajatan perkawinan yang dihibur oleh orkes elekton. Panitia pembangunan masjid pun lebih mengutamakan  membangun fisik masjid daripada membangun jamaahnya. Untung saja ada Ustadz Amir yang suka rela mengajar saya dan anak-anak yang lain mengaji tiap sore pada hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Kegiatan mengaji inilah yang sedikit meramaikan masjid.

***

Sore itu selepas mengaji, aku dan empat orang temanku keluar dari masjid lalu mallebba kalicubbu. Saat aku mencari tempat persembunyian, kulihat sebuah mobil bermerek Avanza berwarna biru singgah di depan masjid. Delapan orang yang mengenakan baju kurung, celana tergantung di atas mata kaki, memakai songkok haji dan berjenggot. Tiga orang diantaranya dahinya berwarna hitam.

Satu orang berjalan menuju ke arahku lalu bertanya.

“Di mana tempat wudunya, Nak?”

“Di sana, Pak!” jawabku sambil menunjuk sebuah bangunan yang terletak di arah utara masjid.

Setelah mereka berwudhu lalu melangkah masuk ke dalam masjid. Terdorong rasa penasaran yang tinggi, aku mengintip mereka melalui jendela. Aku lihat mereka mengerjakan shalat.

***

Cecuitan burung mengantarku menelusuri jalan menuju ke sekolah. Tiap harus ke sekolah, aku harus lewat pasar pagi. Saat melintas di depan penjual sayur, aku melihat dua orang dari rombongan itu sedang belanja. Orang yang kemarin menanyakan tempat wudhu melihat ke arahku lalu tersenyum. Aku membalas senyumannya. Ramah juga orang ini, kataku dalam hati. Senyumannya semakin menambah rasa penasaranku.

***

Ketika pulang dari mengaji, aku mendapati tiga pasang sandal tergeletak di depan pintu rumah. Tak biasanya ada tamu jika hari sudah sore begini. Aku masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang lalu berjalan ke dinding penyekat antara ruang tamu dan ruang tengah. Aku menempelkan telingaku ke dinding.

“Kunci surga itu, Pak, adalah shalat...” Terdengar dari ruang tamu.

Aku penasaran karena baru kali ini ada orang yang ceramah di rumah, biasanya di masjid. Aku lalu mengintip melalui tirai yang tersingkap. Ternyata mereka, empat orang dari rombongan yang datang ke masjid dua hari yang lalu.

Setelah mereka pergi, Ayah masuk ke ruangan tengah.

“Mereka siapa, Ayah?” tanyaku.

“Mereka mengajak Ayah shalat berjamaah di masjid,” jawab Ayah.

Selain mengajak Ayah, rombongan itu juga mengajak anak muda yang biasa nongkrong di perempatan jalan. Aku melihat metode ceramah mereka lain dari kebanyakan ustadz. Jika selama ini ustadz selalu ceramah di masjid, rombongan ini ceramah dari rumah ke rumah. Selama menetap di kampungku, rombongan ini tinggal di masjid. Aku penasaran dan ingin bertanya, apakah mereka tak punya rumah dan apakah mereka tak punya pekerjaan? Tapi aku malu bertanya, jadi rasa penasaranku ini kusimpan.

***

Samar-samar kudengar azan berkumandang di sela-sela derai hujan. Kulirik jam wekerku, jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendek menunjuk angka 5. Terdengar pintu berderit. Aku mengintip keluar kamar, kulihat Ayah keluar rumah mengenakan sarung bermotif kotak-kotak berwarna biru dan baju gamis berwarana biru laut. Di atas kepalanya bertengger peci hitam. Aku keluar kamar dan bertanya.

“Ayah mau ke mana?”

“Mau ke masjid. Kau mau ikut?”

“Iya Ayah tapi tunggu aku ganti baju dulu.”

Ini adalah peristiwa pertama dalam hidupku: shalat subuh bersama Ayah di masjid. Biasanya Ayah shalat berjamaah di masjid hanya  magrib dan hari Jumat.

Perubahan bukan saja terjadi pada ayahku. Pak Salim, tetanggaku yang nanti saat Idul Fitri dan Idul Adha saja baru menginjakkan kaki di masjid, kini rajin juga shalat berjamaah seperti Ayah. Meski dia masih sering shalat sunat setelah shalat ashar.

Ardi yang tukang teler juga ikut rajin shalat berjamaah di masjid. Tapi kebiasaannya itu tidak berubah. Ardi pergi shalat magrib berjamaah dulu di masjid setelah itu minum satu hingga dua gelas. Saat waktu isya tiba, dia berangkat lagi shalat berjamaah kemudian bergabung lagi bersama temannya menenggak minuman keras hingga teler.

Karim, salah seorang preman di kampungku yang kerjaannya hanya sabung ayam, judi, dan mencuri ayam tetangga jadi rajin juga shalat berjamaah. Bila dia pulang dari shalat berjamaah, warga sering bercanda dengan berkata, “Mabbau surugano sedding, Karim”. Karim hanya tersenyum mendengar candaan warga itu.

Bukan hanya laki-laki, ibu-ibu rumah tangga dan gadis-gadis pun ikut  rajin shalat berjamaah.

Bahkan warga dari kampung sebelah datang juga ke masjidku padahal ada mesjid di kampungnya. Mereka  mengendarai sepeda, motor, atau mobil tapi umumnya mereka mengendarai motor.

Sekarang shalat subuh empat shaf, shalat duhur tiga shaf, shalat asar empat shaf, shalat magrib, dan isya lima hingga enam shaf. Jamaah wanita juga tak mau kalah, shalat subuh dan shalat ashar tiga hingga empat shaf, shalat duhur dua shaf, shalat magrib, dan isya empat hingga lima shaf. Bahkan ada wanita yang ikut salat Jumat.

Warga sangat menghormati shalat berjamaah. Mereka meninggalkan pekerjaannya bila tiba waktu shalat.  Warga yang juga kebetulan mengadakan hajatan perkawinan menghentikan hiburan orkes elektonnya bila tiba waktu shalat berjamaah. Bahkan di tengah jalan dipasang papan peringatan sementara bila waktu salat berjamaah tiba yang bertuliskan "hati-hati sekarang waktu shalat".

Sejak kedatangan rombongan itu dengan metodenya mengajak warga dari rumah ke rumah untuk salat berjamaah, Masjid Miftahul Jannah benar-benar telah makmur.

Saya juga bertambah semangat pergi ke masjid untuk shalat dan mengaji karena banyak anak-anak seusiaku juga datang. Saya jadi mendapat banyak teman untuk mallebba kalicubbu setelah mengaji dan shalat berjamaah.

Informasi mengenai rombongan itu pun telah kudapatkan dari Ayah. Mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda. Mereka rela meninggalkan pekerjaan dan keluarganya demi mengajak orang untuk rajin salat berjamaah di masjid. Ada yang meninggalkan rumah sepekan, sebulan bahkan hingga setahun bagi mereka yang belum memiliki istri. Profesi mereka pun beragam, ada guru, dosen, pegawai negeri sipil, petani, nelayan, dan pedagang.

***

Ketika aku sedang bermain di halaman mesjid kulihat puluhan warga berjalan menuju masjid. Ada warga yang membawa parang, tombak, dan balok kayu. Akhirnya warga mengepung masjid.

“Wei, Ustadz, keluar kamu dari mesjid!” teriak Karim sambil mengacungkan parangnya.

Rombongan itu tetap bertahan dalam masjid.

“Katanya Ustadz tapi kelakuan binatang!” teriak warga yang lain.

“Jangan mengotori masjid kami dengan perbuatan mesum!”

Caci maki warga pun makin mengalir deras menerjang rombongan itu. Tiba-tiba puluhan polisi datang dan menenangkan massa. Sebagian polisi mengamankan rombongan yang ada dalam masjid lalu dibawa ke kantor polres.

Ayah mengatakan bahwa salah seorang dari rombongan itu dituduh menyodomi Iqbal, teman mengajiku. Dia melakukan perbuatan bejat itu di WC masjid saat Iqbal selesai mengaji. Aku masih tidak percaya namun sulit pula untuk mengingkari kenyataan ini.

Sejak peristiwa itu masjid kembali sepi. Jamaah yang shalat berjamaah kembali seperti sebelum rombongan itu datang. Karim kembali mencuri ayam, Ayah tak lagi salat subuh berjamaah, kebiasaan teler Ardi bertambah hebat dan warga tetap beraktivitas meski azan telah berkumandang. Aku sangat sedih.

Dua bulan berlalu, akhirnya tersiar juga kabar gembira bahwa menurut hasil pemeriksaan kepolisian, perbuatan sodomi bukan dilakukan oleh salah seorang dari rombongan itu. Pelakunya sekarang sedang dalam pengejaran pihak kepolisian. Aku sangat senang karena warga pasti akan kembali lagi shalat berjamaah di masjid.

Sehari, dua hari, seminggu hingga sebulan Masjid Miftahul Jannah tetap terbakar sepi.

Pinrang, 28 Januari 2010

Keterangan:
Mabbau surugano sedding: Sepertinya kamu sudah beraroma surga
Mallebba kalicubbu: bermain petak umpet

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...