Mata Ruji

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Guntur Alam


Mereka bilang aku dusta! Mana bisa dipercaya omongan seorang bocah laki-laki berumur dua belas tahun yang matanya buta? Untuk melihat batu di depannya saja harus dibantu dengan tangan sepotong kayu. Apalagi melihat dayang-dayang surga yang hilir mudik di atas langit Gaza? Pendusta! Itu kata mereka.

Tak tahukah dirimu, Kawan? Bahwa aku berkata jujur, aku bisa melihat apa yang kamu lihat. Jet-jet tempur Israel yang berseliweran memuntahkan roketnya. Moncong-moncong panas orang-orang Jewish yang menyalak-nyalak di malam buta. Mencari tubuh empuk bocah-bocah Palestina untuk bersarang. Merobek mimpi dan tidur-tidur nyenyak mereka.

Aku pendusta! Itu kata mereka. Ketika aku mengatakan kalau senjata yang ditembakkan Israel mengandung cairan mematikan. Cairan yang aku tak tahu apa? Hanya saja aku bisa mencium baunya di antara sesak mesiu yang bergumul di udara Gaza. Jangankan tahu cairan, melihat wujud peluru Israel saja aku tak mampu, itu kata mereka lagi. Entah, dengan cara apa aku mengatakan kepada mereka? Bahwa aku tidak dusta!

Dulu, dua tahun yang lalu. Saat akhir tahun masehi seperti saat ini. Anak-anak Israel itu kembali membombardir tanah tumpah darahku: Palestina. Gaza luluh lantak oleh roket-roket yang mereka tembakkan. Tak terkecuali rumah mungil kami. Aku tak tahu kemana abi dan ummi-ku, apalagi adik dan kakak-kakakku. Semua raib dan hilang tak tentu rimba ketika roket itu meratakan rumah kami dengan tanah.

Sebab, sebuah benda asing yang panas membuatku meraung-raung. Aku ingat sekali, Kawan. Ingat sekali malam menakutkan itu. Sebab, senja kemarin terakhir bagiku melihat warna-warni sileut matahari. Hijaunya daun kurma dan betapa ringkihnya Al Quds. Mereka tak hanya merampas keluargaku tapi juga sepasang mataku.

Rasanya, ruhku seperti hendak dicabut dari ragaku. Panas, perih, sakit bergumul-gumul. Memelukku erat sekali. Napasku sesak. Kulitku seperti dikuliti seinci demi seinci. Sakit sekali. Rasakan saja, bagaimana sakitnya jika kuku kaki atau tanganku dicabut paksa oleh penjepit baja? Atau cobalah jika kamu bernyali besar, siram kepalamu dengan air panas yang bergelora. Tentu batok kepalamu akan melepuhkan kulitnya. Begitulah yang aku rasakan di kedua mataku. Tak terkira dan tak terlukis dengan kata-kata.

Ingin rasanya aku meminta kepada Allah untuk menghadirkan saja penghulu maut di depanku. Mengajakku mengucapkan ijab qabul atas pernikahanku dengan surga. Agar aku terbebas dengan rasa yang begitu menyiksa. Telingaku mendengar, dayang-dayang surga mengaminkan doa hatiku. Langit tujuh tahta berkuah air mata, tak tega melihatku dan juga beberapa bocah-bocah yang tak henti merobek malam dengan kidung air mata; perih teramat perih untuk dirasakan bocah seumuran kami.

Sejak saat itu bagiku dunia adalah hamparan luas padang gurun gelap. Pekat meraja. Hitam bertahta. Hingga, sering kali aku terjatuh dan tak tahu harus berlindung di mana jika orang-orang Jewish itu kembali menerbangkan roket-roket mereka mencari tubuh-tubuh kami; bocah-bocah malang Palestina.

Benarkah aku berdusta, Kawan? Jika aku katakan orang Israel itu sengaja menembaki kami; anak-anak Gaza? Hamas hanyalah sebuah alasan yang membuat mereka merasa legal untuk mencicipi tubuh mungil kami. Darah bocah kami lebih manis dan segar, kata mereka. Kulit tubuh kami masih empuk untuk dihujamkan peluru perak. Rasanya, lebih berselera jika tubuh tanpa nyawa kami berada di atas meja makan pagi mereka. Akan lebih hangat di musim dingin, saat malam-malam di daerah berpadang pasir membawa gigil, mengangkat gelas-gelas perak berisi darah segar kami. Nyenyak membawa tidur mereka di atas busa.

Apakah aku masih berdusta, Kawan? Ketika aku menceritakan, sebuah ambulans yang membawa tiga orang perawat dari Bulan Sabit Merah hancur, luluh lantak dimamah roket Israel. Aku masih menyaksikan sendiri, tubuh ketiga tim medis itu roboh mencium tanah saat moncong-mocong senjata itu menghujani mereka dengan peluru. Aku melihat, baju putih berlambang Bulan Sabit Merah di dada kiri mereka benar-benar memerah rata. Hingga hilang gambar bulan merahnya. Setelah itu mereka menghancurkannya dengan roket. Menjadikan ambulans dan perawatnya berkeping-keping.

Aku berdusta, kata mereka. Sebab dalam kode etik perang, tak boleh mencelakai tim medis dan juga jurnalis. Hah? Benarkah aku berdusta, Kawan? Tak ingatkah dirimu cerita Allah dalam Al-Quran? Betapa anak-anak Israel ini tak pernah sekalipun mematuhi kode etik. Jangankan kode etik perang yang dibuat manusia. Hukum dan perjanjian dengan Allah saja, berani mereka langgar. Aku ingin tertawa mendengar mereka berkata, aku pendusta! Siapa yang berdusta?

Membunuh Nabi saja anak Israel mampu. Menggubah Sepuluh Perintah Tuhan yang diwariskan Musa saja mereka sanggup. Apalagi ini, hanya sekedar kode etik perang! Jangan berharap mereka perduli. Buktinya, puluhan tenaga bantuan dan berton-ton obat-obatan masih tertahan di Rafah. Karena Israel tak menginginkan mereka datang. Aku heran, kemana nyali keturunan Firaun yang bertahta di sepanjang aliran sungai Nil? Dulu, ayah mereka gagah perkasa menantang Allah dan memperbudak anak Israel. Sekarang, sepertinya terbalik. Mereka meringkuk ketakutan dalam piramida-piramida yang ayahnya bangun untuk mengubur jasad. Hingga, tangan mereka tak berani membuka pintu gerbang perbatasan agar kami–anak Gaza–bisa menyebrang.

Aku masih berdusta, kata mereka. Ketika aku mengatakan, anak-anak Israel menggali kembali terowongan dari dinding kuil Candi Sulaiman menuju Al-Quds. Bagaimana aku bisa melihat ke dalam tanah? Sedang melihat permukaan tanah saja aku tak bisa! Tak tahukah mereka, telapak kakiku bisa melihat itu. Getar tanah yang berongga akibat mesin penggali telah memberi tahu telapak kakiku. Anak Israel tetap konsisten dengan  misi utama mereka; menghancurkan Al-Quds!

Entah, Kawan. Bagaimana aku bisa memberitahu mereka kalau aku tidak berdusta? Kalau aku melihat tiap hari darah mengalir menyuburkan tanah ini. Kalau aku setiap saat melihat tubuh hancur diluluh lantakkan roket mereka.

Dulu, saat mataku masih ada saja, mereka juga tak percaya dengan ceritaku. Apalagi ketika roket Jewish itu telah mencuri mataku. Mereka bertambah tak percaya. Semakin yakin mereka mengatakan aku berdusta. Padahal, waktu itu mataku melihat sendiri Muhammad Ad-Durra dan abi-nya, Jamal Ad-Durra, tewas ditembaki tentara Israel di persimpangan Gaza. Seorang wartawan TV juga merekamnya, sayang mereka merebut kamera itu dan menghancurkannya. Mereka juga membawa wartawan itu, aku tak tahu nasibnya. Aku bersembunyi di sebuah toko karena ketakutan.

Waktu itu, aku ingat, Muhammad dijemput abi-nya dari sekolah. Karena Israel kembali melancarkan serangan darat di Gaza. Aku berlari-lari di belakang mereka, berniat hendak bersama. Tetapi, itu urung aku lakukan. Karena tiba-tiba saja terdengar tembakan yang hingar di atas langit Gaza. Peluru-peluru tak bertuan mencari takdirnya. Mencari mujahid yang namanya telah tertulis di badan mereka, mengantarnya sebagai pengantin surga atas undangan perak yang Israel sebarkan.

Aku masih membawa gigil hingga senja hari. Hampir gelap aku berani keluar dari toko itu, pemiliknya telah tewas dengan luka tembak di dada. Saat tak lagi kucium bau mesiu di udara, ketika telingaku tak menangkap lagi salakan suara senjata. Aku membawa lari kakiku untuk pulang. Malamnya, orang-orang baru datang mengambil jenazah. Anehnya, jenazah Muhammad tak tampak. Ia raib, entah kemana.

Aku heran, ketika Israel mengumumkan, mereka telah berhasil membunuh lima belas tentara Hamas yang selama ini menjadi target perang mereka. Benarkah Muhammad tentara Hamas yang sangat Israel takuti? Aku tak pernah sekalipun bisa memasukkannya ke dalam otak kecilku. Temanku, Muhammad, tentara Hamas!

Apa benar bocah berumur sepuluh tahun –saat itu—seperti Muhammad bisa memanggul sebuah Kalashnikov? Memuntahkan peluru dari moncongnya untuk menghujami tentara Israel. Rasa-rasanya, tidak mungkin. Kalau melempar batu kami memang mahir. Hanya sayang, batu itu tak pernah bisa melukai rompi anti peluru mereka. Jadi, benarkah aku berdusta, Kawan?

Entah, kepada siapa lagi aku mencari kepercayaan? Aku tak tahu, Kawan. Sebab, mereka tetap saja mengatakan aku pendusta. Aku berdusta kalau Israel sengaja menembaki kami bocah-bocah Palestina, agar negeri para Nabi ini kehilangan generasi penerus perjuangan untuk melindungi Al-Quds dan Islam!

Aku berdusta kalau ratusan korban pembantaian Israel adalah bocah-bocah tak berdaya. Bukan anggota Hamas yang mereka gembar-gemborkan. Aku berdusta kalau mengatakan mereka telah membunuh lebih dari dua puluh tim medis sejak serangan yang mereka lakukan dua pekan terakhir ini. Aku berdusta mengatakan seorang jurnalis telah tewas oleh mereka, sengaja mereka membunuhnya!

Aku berdusta, sebab aku seorang bocah buta! Itu kata mereka.

Nyata sekali, Kawan. Aku melihat dayang-dayang surga hilir mudik di langit Gaza, mengepak-ngepak sayap mereka di antara asap mesiu yang berterbangan. Beberapa pelayan surga sibuk, hilir mudik di antara bunga-bunga api yang terpercik dari roket-roket Israel. Menyiapkan perjamuan surga! Itu yang mereka lakukan.

Lihatlah, mereka berbondong-bondong turun dari tujuh lapis langit. Membawa segala kain bersulamkan permata, membawa guci-guci penuh wangi kesturi, membawa air-air surga yang semerbak. Membasuh tubuh-tubuh penuh luka di sepanjang jalur Gaza. Riuh suara mereka berebut tiap inci tubuh pengantin surga yang telah luluh lantak di makan roket Israel.

Ruh-ruh pengantin surga mereka rengkuh dan peluk dengan cinta. Dengarlah senandung surga mulai didengarkan oleh daun-daun di tujuh tahta surga. Ribuan pria bersayap dengan paras elok rupawan menyambut kedatangan mereka. Aku melihatnya, bocah-bocah Palestina tertawa riang di kebun surga.

Apakah aku benar berdusta, Kawan? Apakah karena mataku buta hingga mereka mengatakan aku berdusta? Sebenarnya, siapa yang benar-benar buta, Kawan? Akukah atau mereka–dunia? Apakah mereka buta hingga tak melihat tanah Palestina menjadi ladang pembantaian? Apakah aku yang tak melihat atau mereka, bocah-bocah Gaza tergeletak tanpa nyawa? Sekarang, apakah kamu percaya Kawan kalau aku tidak dusta?

Bekasi, Cempaka 59, 120109. Ketika mata tak sanggup lagi melihat derita Gaza

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...