Harum Kesturi di Tepian Gaza

Penulis: Farhan Yusuf Rizza

 

15 Ramadhan 2003

Siang di Gaza memang selalu panas. Walau bukan musim panas, hawa yang menyengat tubuh pasti ada, karena memang dingin tak akan mungkin meredam panas. Panas dunia dan panas perang yang melanda Palestina. Perang yang tiada peduli dengannya. terkecuali mereka yang benar-benar membuka lebar-lebar daun telinga dan kelopak matanya.

Dentuman meriam memekikkan suasana, terlihat tank-tank merkava milik negeri tak punya rasa berjalan gagah menubruk semua yang ada di hadapannya, tak peduli apa dan siapa.

“Naj, ayo cepat lari mereka mengejar kita!” kata Rama dan Samah.

“Biar! Aku tak takut pada mereka!” jawab Najah.

“Tapi……mereka bersenjata ampuh, kita hanya  bertangan kosong, mungkin hanya batu-batu di kanan kiri kita sebagai senjata.”

“Ya, benar kau Rama, oleh karena itu aku ingin melihat kejantanan mereka, aku yakin Allah pasti menolongku begitu juga kamu jika kita berani!” kata Najah mantap.

Kendaraan berlapis baja pun semakin dekat dengan mereka, terlihat tentara bertopi hitam, bersiap meluncurkan rudal dia makin congkak dan arogan.

“Najah, tank itu semakin dekat!” kata Rama lagi.

“Sudahlah kalau kalian takut, lari sajalah kalian, tinggalkan aku, biarkan aku di sini sendiri!” Najah menyuruh Rama dan Samah.

“Hayya baz, Rama adzunnu annahu yastathi’u an yadfa’a nafsah.” Samah berpendapat.2

“Laakin, Samah, akhoofu Najah….”

“Labbaik, Samah!”3 Rama menjawab meskipun masih tersisa keraguan.

Rama dan Samah pun berlari meninggalkan Najah. Mereka mencari tempat persembunyian. Dan mereka bersembunyi di balik gundukan rompahan gedung rumah yang telah lama hancur. Mereka masih memperhatikan temannya yang satu itu. Mereka mengintip Najah dibalikgundukan. Sedangkan Najah semakin mendekat dengan tank itu, dia menegakkan badan dengan di tangannya sebuah batu cukup besar. Dia pun berteriak:

“Hai, tentara monyet! Beranikah kau kepada anak kecil sepertiku? Beranikah kau kepada hamba Allah seperti aku? Kalau kau jantan turun, sini hadapi aku!”

Kelihatannya tentara zionis marah mendengar perkataan Najah. Mereka seperti tertantang dengan perkataan Najah. Perkataan Najah bak sambaran petir bagi mereka.

Dengan menenteng senjatanya mereka turun dengan wajah merah penuh arogan.

Laksana binatang buas yang melihat hewan buruannya dan ingin menerkamnya. Mereka semakin mendekat dengan Najah. Tetapi Najah tak gentar. Bahkan sepertinya tentara itu semakin ragu dan takut. Dengan keberanian Najah mereka pun berhenti melangkahkan kaki seperti kehilangan tenaga.

Najah pun mempersiapkan tangannya untuk melemparkan batu.

“Hai, zionis drakula! Kenapa berhenti? Takut kalian?” Najah mengejek penuh sindiran.

“Heh, sini keturunan monyet bunuh aku, kalian membawa senjata kenapa harus takut, aku yang hanya membawa batu saja tidak takut, berarti kalian banci!” ledek Najah lagi.

Mendengar cemoohan dan sindiran Najah yang berulang kali, sehingga membakar kembali kemarahan mereka. Mereka mempersiapkan senjata, dan mengarahkannya kepada Najah. Saat itu Najah melemparkan Batunya ke salah satu tentara.
“Allahu Akbar, hiaaaa!” Najah bertakbir sambil melemparkan batu.

Batu melesat jauh. Tepat mengenai sebelah mata salah satu tentara.

“Ahh....awas kau bocah kecil!!” teriak lengking tentara itu.

Dan tentara lain pun terkejut atas perbuatan Najah itu.

“ Hayya qottilni,4 bunuh aku…!” Najah berkata penuh keberanian.

Tentara lain pun siap meluncurkan timah panah kepadanya. Mereka tengah mengarahkan tembakan. Dann…

“Doorrrr…dorrrr…….dorrrrrrrrr.”

Tembakan tentara Israel memuntahkan amunisi tajam.

Halaman: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |