Sakau

Rosa Malika. Begitu nama lengkap dari orang tuanya. Pernah aku bertanya, dua kata dalam namanya adalah adaptasi bahasa, antara Jawa dan Arab. Rosa artinya Roso (kuat) dan Malika artinya penguasa. Jadi, Rosa Malika bermakna penguasa yang kuat. Rosa hanya perempuan biasa dengan tampilan yang juga biasa, tetapi memiliki mimpi yang luar biasa, sebagaimana namanya, penguasa yang tak terkalahkan.

Ia membuat aku, Ubab, harus mengangkat topi untuk mengatakan uhibbukum (aku cinta kalian) di sebuah warung tetangga pondok, waktu itu. Aku tidak mengatakan “aku cinta padamu” (uhibbuki), tetapi “aku cinta pada kalian” (uhibbukum), menggunakan dlamir jama. Dalam alam ideaku, tak mungkin misi cinta akan mencapai kesempurnaan jika hanya mencintainya, tanpa mencintai lingkungan dan kaluarganya. Bukan berarti mendua, hanya ingin agar jalinan silaturrahhim berbasis cinta itu berjalan realistis dan apa adanya, nihil syarat, sebab, serta hilang dari kebutaan.

Ubab tidak mempercayai adanya cinta pertama. Yang pertama hanyalah suka, bukan cinta. Ingat pameo “cinta itu dari mata turun ke hati”, bukan? Dalam goresan ini Ubab hanya ingin mengatakan bahwa cinta yang sejati itu diciptakan, bukan ditemukan. Jangan kau salahkan Ubab mencintaimu, karena itu tumbuh dari Tuhan. Cinta Ubab kepadamu adalah cinta titik, bukan cinta koma. Cinta sesungguhnya bukan cinta karena, bukan cinta apabila, juga bukan cinta walaupun. Cinta Ubab, cinta titik.”

Itu goresan yang kutuliskan yang membebaskan dari jawaban. Tidak ada tuntutan baginya untuk menjawab, karena luapan kata itu bukanlah pertanyaan. Hanya pernyataan.  Seandainya aku bertanya misalnya, apakah kau mencintaiku, jelas menuntut sebuah jawaban. Aku tak mau membuat orang yang aku cintai terbebani. Hanya respon darinya yang ada dalam asaku. Entah respon membahagiakan atau tidak, aku selalu berlari-lari antara ketenangan dan kecemasan.

Lama demonstrasi cintaku terdiam dalam sudut arahan tak pasti. Sebulan ini Rosa tidak memperlihatkan kesibukan di dapur ndalem. Yang biasanya setiap pagi ia menyapu halaman ndalem, kini tidak ada. Azzah, Shofa, Hani, teman-teman se-ghotaan Rosa tak mengeluarkan sepatah kata ketika aku tanya keberadaannya. Pernah  sekali aku silturrahim ke rumahnya di Grobogan. Meskipun hanya sebentar aku bercengkerama dengan abahnya, sudah terbangun rasa cinta kepada keluarganya. Aku mencintai keluarganya juga.

Untuk kedua kalinya aku datang ke rumah sederhana itu, untuk mencari di mana ia berkelana.

“Sekarang dia di Tegalsambi, Nak,” jawab abahnya, Haji Ahmad.

“Berapa lama?”

“Bapak tidak bisa memastikan, dia hanya diutus Abah Yai untuk khidmah di pondok pesantren salaf di sana. Dia diminta mengajar fiqih. Tepatnya sejak sebulan lalu, Abah Yai datang ke sini sendiri untuk meminta keikhlasan dibolehkannya Rosa mengajar di sana selama beberapa waktu.”

***

Meski aku tidak mengharapkan jawaban, namun jujur, hati kecilku tetap berharap mendapatkan respon positif darinya. Dua puluh empat tahun adalah usia yang cukup matang untuk meluruskan niat membangun bahtera rumah tangga. Sayyidina Ali saja menikah pada usia 21 tahun, kurang tiga tahun dari umurku sekarang. Keyakinanku untuk mendampinginya tercipta sebelum riyadlah shalat istikharah selama seminggu. Meski guru hadits pernah mengatakan bahwa shalat tersebut hanya dilakukan ketika kita dalam keadaan ragu-ragu, namun aku tetap melakukannya, untuk takid dan tayid (penguataan).

Aku hanya ingin menegaskan agar mahabbah-ku kepadanya tidak beralih dari taraf yaqin (kepercayaan bulat) menuju syak (ragu-ragu) atau jutru wahm (percaya di bawah lima puluh persen). Aku tak pernah bermimpi usai shalat itu, tingkat kepercayaan yang semakin meninggi yang aku rasakan. Aku tidak ingin menuntut agar Tuhan mengirimkan “mimpi hijau” kepadaku. Sama arti dengan mendikte Tuhan. Guru tasawwuf-ku pernah berkata begitu. Untuk menjaga stabilitas perasaan ini, habis shalat maktubah, kukirim doa kepada sedulur papat limo pancer-nya. Hanya ingin memastikan Rosa dalam keadaan baik-baik saja, kendati ia berada jauh di sana. Bukan dia yang kukirim doa, namun sedulurnya, yang dalam bahasa Nabi disebut Qorin (yang menemani). Orang jawa menyebutnya Batur atau Batir. Dialah yang merawat kita, anak manusia, sejak lahir hingga menuju liang lahat. Dia yang menjaga, yang mengetahui perkembangan kita semua.

Tak ubahnya iman, aku harus menjaga tumbuhnya keyakinanku kepadanya dengan dzikir (mengingat) kepadanya, mengenalnya. Nabi pernah mengatakan:  jaddidu imanakum biqauli la ilaha illah; perbaharuilah iman kalian dengan mengucapkan la ilaha illa Allah. Aku ingin memperbaharui cinta itu dengan mengenal karakternya, kepada teman-teman, ketika ada kesempatan ngobrol di dapur.

“Dia itu tak pernah memiliki rasa dendam kepada kawannya. Tak pernah bermaksud mencela teman-temannya, meskipun ia punya hak untuk melakukannya,” terang Shofa kepadaku.

“Rosa orangnya pintar bergaul dengan siapa saja, hanya di pondok saja dia itu membatasi pergaulan, karena aturannya memang demikian. Aku pernah main ke rumahnya, semua orang menyambutnya dengan hangat, hingga Pak De dan Bu De-nya ikut menyediakan hadiah khusus pas pulang dari pondok. Dia terlalu disayang keluarga. Maklumlah, putri pertama yang paling cantik. Hehehe….” Hanik membuatku terkesima.

Santri putri asal Jepara ini banyak bercerita tentang Rosa kepadaku. Rupanya dia yang paling dekat dengan Rosa. Dia sebenarnya mengetahui keberadaan Rosa selama sebulan ini, namun pantang memberitahukannya kepadaku, atas pesan Rosa sendiri. Kepada teman-teman yang lain, Rosa berpamitan boyong, namun tetap berpesan agar tidak membuka mulut kepadaku.

Tubuhnya memang tidak berada di sini, namun aku merasakan sebuah kedekatan. Dengan mengenalnya; menjaganya dengan doa. Perkenalanku kepada Rosa datang setelah kata cinta. Barangkali itu adalah hikmah. Kalau boleh diibaratkan, cinta adalah doktrin, sementara proses mencintai adalah hikmah. Aku mencintai Rosa bukan karena sebab, bukan juga karena ada syarat. Anjing dalam doktrin Islam adalah najis, adapun penemuan adanya bakteri membahayakan bagi manusia dalam tubuh binatang tersebut, itu adalah hikmah tersendiri yang dicapai dalam perkembangan teknologi. Cintaku kepada Rosa mengandung hikmah, kendati ia belum memberikan respon balik.

Aku menceritakan itu kepada keluargaku. Ada keyakinan yang terbangun bahwa Rosa akan menjadi pendamping hidupku. Kepada Bapak aku meminta persetujuan.

“Bapak menyerahkan pilihan kepadamu, Nang. Yang penting dia memiliki nasab yang baik.”

“Kenapa harus nasab yang Bapak syaratkan? Bukankah Nabi pernah mengatakan kalau memilih zaujah itu yang alim agama, fadzffar lidzati diniha taribat yadaka; carilah yang pintar agama, kamu akan beruntung.”

“Dalam hadits itu Nabi sebenarnya tidak mengharuskan pintar agama, namun hanya menyatakan kalau kebanyakan perempuan itu dinikahi laki-laki imma limaliha aw lijamaliha aw linasabiha (adakalanya karena hartanya, kecantikannya atau nasabnya). Kemudian Nabi meneruskan, fadzfar lidzati diniha taribat yadaka.”

“Berarti ada prioritas yang ahli agama. Bukan begitu, Bapak?”

“Kamu lihat bagaimana Nabi menggunakan kata imma (adakalanya). Hadits tersebut sangat manusiawi, Nang. Orang kaya pasti mencari orang kaya, orang terhormat kebanyakan ingin mendapatkan yang sederajat. Fiqih kan mengajarkan agar kita mencari pasangan yang sekufu, sepadan. Bapak ingin mencari yang nasabnya baik karena garis keturunan itu tidak bisa diciptakan. Kalaupun bisa, membutuhkan waktu yang melintasi abad. Masalah harta itu bisa dicari bersama. Kalau mementingkan kemolekan dan kecantikan itu hal yang relatif, anakku. Toh, kecantikan itu sementara. Agama juga bisa dipelajari. Kalau keturunan, mau cari ke mana, Nang?”

“Luwih apik gawe nasab daripada golek nasab, kata Abah Yai begitu?”

“Saiki nek awakmu ra iso piye, nang?” Aku termenung.

“Nasab yang baik itu yang bagaimana?”

“Ya pokoknya yang nenek moyangnya tidak ada yang tersohor sebagai pelanggar syariat. Seandainya yang kau dapatkan itu pintar, kaya dan cantik, hafal Quran lagi, namun kakeknya ada yang terkenal ahli zina, pemabuk, pencuri misalnya, bagi Bapak lebih baik mencari yang lain saja. Bapak tidak ingin punya keturunan yang berpotensi meniru kakek-neneknya. Bapak ingin agar anak-cucu Bapak menjadi keluarga terhormat.”

Halaman: 1 | 2 | 3 | 4 |