KISAH CINTA MINI GEMBUL (Part 2)

“Astagfirullah, mimpi apa aku semalam? Pangeran yang dulu menolakku kini berada di hadapanku. Bahkan mengucapkan kata yang sedari dulu ingin kudengar langsung dari bibirnya,” batin Mini. Matanya kini berkaca-kaca memandang lelaki di hadapannya itu. .
“Apa kamu akan menolakku?” tanya Galang membuyarkan angan Mini. Senyum tipis terpampang di wajah lelaki itu, yang makin menambah ketampanannya di mata Mini. Ingin rasanya ia anggukkan kepalanya, sebagai pertanda ia menerima Galang. Tetapi, sejurus kemudian kenangan pahit masa lalu terbersit kembali di fikiran Mini. Suasana hatinya mendadak berubah.
“Aku harus pergi,” jawab Mini seraya berbalik meninggalkan Galang yang terkejut dengan respon Mini.
"Mini, tunggu dulu. Apa kau masih marah? Baiklah, aku minta maaf. Mini, Min...," Mini tak memperlambat langkahnya walau selangkah. Ia justru semakin mempercepat langkah tanpa menoleh sedikit pun ke Galang. Ia takut hatinya hancur seperti dulu, karena kenyataannya ia masih menyimpan harap pada Galang.
“Aku akan mendapatkanmu, Mini!” batin Galang meyakini.
***
Mini menghempaskan tubuhnya di atas spring bed corak strawberry kesayangannya. Pikirannya kembali tertuju pada kejadian tadi siang. Sesekali dia tersenyum. “Ada apa sih dengan Galang? Kok dia seperti nembak aku, ya? Ini terlalu cepat. Aku belum siap,” wajah Mini kembali memerah. Lalu dipeluknya Teddy Bear yang sudah kucel dengan erat.
Beberapa menit kemudian, bundanya Mini muncul sambil membawa segelas susu coklat buat Mini. “Dari tadi senyam-senyum terus. Ada apa, toh? Jatuh cinta?” perkataan wanita itu membuat bibir Mini manyun. “Nih, susunya diminum dulu. Pasti seminar tadi banyak menguras energimu. Ya, kan?” Mini mengangguk sambil segera meneguk susu sampai tidak tersisa.
“Ceritain, dong, sama Bunda, kejadian di seminar yang udah bikin kamu senyam-senyum kayak tadi,” wanita itu mengatur posisi di samping Mini. Ia dan ibunya dari dulu memang sudah akrab sejak Ayah Mini meninggal dua tahun silam. Persis kayak perangko, sehingga keduanya pun selalu berbagi cerita di tiap ada moment bersama. Seperti biasa, dengan semangat 45 Mini mencurahkan semua pengalaman bersama Galang siang tadi.
“Jadi begitu, Bun. Menurut Bunda gimana?” tanya Mini antusias.
“Hmmm... Bunda curiga. Itu terlalu mendadak. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan.”
“Aih…. Bunda ini, kok, jadi parno gitu, sih? Yang jelas Mini yakin kalau Galang itu serius sama Mini,” kilah Mini optimis.
“Mini, Bunda lebih faham tentang lelaki daripada kamu. Bunda nggak mau kamu kenapa-kenapa,” tegas Bunda. Mini hanya mengangguk lemah.
"Cinta itu fitrah semua manusia, Min. Kita berhak jatuh cinta pada siapa pun yang kita cintai. Namun, percayalah pada Bunda. Jangan sampai cinta lamamu ini membawa kepada kesenangan sesaat, hingga kau melupakan cita-cita muliamu dulu. Melanjutkan semangat Ayah menolong yang lemah, menjadi dokter untuk kaum miskin yang semakin banyak di negeri ini, kan? Bunda harap kamu dapat terus menorehkan lebih banyak lagi prestasi. Ok, tidurlah. Biar besok bisa bangun pagi," itulah Bunda yang nasihat-nasihatnya selalu berhasil menundukkan hati Mini. Salah satu nikmat yang sangat ia syukuri memiliki Bunda sepertinya.
***
Hari ini Mini berangkat ke kampus lebih awal dari biasanya. Mulutnya tak henti mendendangkan lagu cinta sejak melangkahkan kaki dari rumah. Bukan cinta kepada Galang atau laki-laki lain, melainkan kepada kedua orang tua yang telah mendidiknya untuk menjadi manusia yang mampu menebar manfaat bagi sesama dan menorehkan prestasi demi agama yang sejak kecil ia yakini.
Hati dan semangatnya benar-benar secerah mentari yang bersinar pagi ini. Setiap orang yang dia lewati, disapa dengan senyuman terbaiknya. Hingga sesampainya di depan ruang kuliah, Putri, sahabat Mini berlari-lari kecil menghampiri Mini. Gadis kurus itu tampak bersemangat.



