SAMUDERA

"Sam, bagaimana? Verifikasinya besok terakhir. Kau jadi ambil beasiswa itu kan?"
"Hmm, sepertinya aku ambil, Dry."
"Best desicion! Oh, ya. Pendaftaran Ujian Masuk Bersama PTN sudah dibuka, Sam. Kamu kemarin menanyakan hal itu kan?"
Mataku terbelalak menerima informasi dari Andry teman kuliahku dulu.
"Oke, thanks, Dry!" Kuputus sambungan melalui Hp-ku itu. Aku pun segera menemui Gond. Kabar ini akan menjadi pintu baru untuk Gond langkahi.
"Gond...!" teriakku. Aku berlari menghampirinya yang sedang menimba air di sumur umum. Mita juga ada di sampingnya.
"Kak Sam, ada apa, Kak?" tanyanya heran. Nafasku masih terengah-engah. Sesaat kutarik nafas dalam-dalam. Menetralisir suasana.
"Ada tes masuk PTN, Gond!" seruku.
"Beneran, Kak? Kapan?" refleks Gond terlihat girang.
"Bulan depan. Sekarang pendaftaran onlinenya sudah dibuka."
"Terima kasih, Kak. Aku pasti ikut!" tangan Gond mencengkeram bahuku kuat. Berbinar sebuah harapan dari bola matanya yang hitam kelam. Ia segera menjinjing seember air bersih itu ke rumahnya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya terampil menggendong Mita. Ia menolak untuk kubantu. Kabar baik itu meningkatkan volume energinya.
"Kak, sebenarnya ada hal yang mengganggu pikiranku," ucap Gond yang duduk di sampingku di beranda rumah yang tak layak huninya itu.
"Kenapa, Gond? Ceritakanlah."
"Kemarin ada seorang bapak separuh baya menemuiku. Kata bapak itu, aku ini anaknya. Berdasarkan bukti-bukti yang ditunjukkannya, sepertinya memang benar. Ibu dan bapak pun baru mengakui, aku bukan anak mereka. Aku terpukul, Kak."
Aku memahami perasaan Gond. Beruntunglah ia, dapat berjumpa orang tua kandungnya.
"Hanya butuh waktu untuk menerima. Manusia tempatnya salah. Setauku, kau seorang anak pemaaf. Apalagi yang kaurisaukan?"
"Berdasarkan alasan yang bapak itu jelaskan, aku sudah memaafkannya, Kak. Tapi, yang aku bingungkan, bapak itu mengajakku tinggal bersamanya. Aku tidak mungkin bisa. Di sinilah keluarga yang membesarkanku. Aku sangat menyayangi mereka."
Aku tersenyum. Terharu dengan ungkapan perasaan Gond.
"Kenapa dibingungkan? Ungkapkan saja. Jika bapak itu seorang yang bijak, pasti dia mengerti keinginanmu."
"Hm, iya, Kak."
Baru saja dibicarakan, dalam hitungan detik sebuah Avanza hadir di pelupuk mata. Seorang pria membuka pintu mobil dan menghampiri kami. Ternyata itu bapak kandung Gond. Dia tersenyum. Menatapku lebih lama. Sepertinya bentuk fisikkulah yang membuatnya menatap iba ataukah pandangan jijik. Ah, aku tak mau berburuk sangka.
"Gond, bisa ikut Bapak sebentar? Bapak ingin mempertemukanmu dengan ibumu," ucapnya.
Gond menatapku. Aku memberi sinyal positif. Gond pun mengangguk setuju. Dengan syarat aku harus ikut dengannya. Kini kami berada dalam mobil mewah itu. Menelusuri jalan keluar dari pemukiman kumuh tempat tinggal Gond. Kami memasuki sebuah restoran. Mata Pak Rudi lincah mencari seseorang dari deretan meja. Ia pun mengajak Gond dan aku menuju salah satu meja. Kulihat ada seorang perempuan dan pria duduk di sana. Pria itu..., rasanya aku kenal dia.
"Maaf menunggu lama," ucap Pak Rudi. Bapak Gond. Pada perempuan yang duduk di salah satu meja Asia Resto.
"Iya, tidak apa-apa," jawabnya lembut. Dan mempersilakan kami duduk.
"Ini, Gond. Gondwana," jelas Pak Rudi. Tidak butuh waktu lama untuk melebur haru. Ibu itu menghambur memeluk Gond erat. Isak tangisnya membuatku terharu. Membuatku iri pada Gond. Sekarang giliran ibu itu, memperkenalkan anak lainnya yang hilang. Pria yang kukenal itu segera memeluk Gond. Aku benar-benar berbaur dalam kesedihan dan kebahagiaan mereka. Menjadi saksi kumpulnya sebuah keluarga yang tercerai berai. Setelah suasana kembali netral, Bu Shinta menolehku.
"Ini siapa?" tanyanya. Mas Kasa tersenyum lebar. Menepuk pundakku.
"Sahabat terhebatku, Bu," ucapnya lantang.
"Lho, kok? Ikut dengan Gond?"
"Karena Kak Sam ini juga sahabat terhebatku, Bu," jawab Gond. Mereka tertawa. Aku tak menyangka, kedua sahabat yang aku cintai adalah kakak beradik.
"Namamu, Sam?" tanya Bu Shinta kembali. Pertanyaannya kali ini di balut rasa heran.
"Iya, Bu. Samudera," jawabku. Aku pun undur diri. Mengingat ada hal yang belum aku kerjakan.
Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti, seperti rangkaian nada. Inilah masa untuk Gond dan Mas Kasa merasakan denting kebahagiaan.
***



