DIALOG TENTANG TUHAN

dialog-jadi--1256006700.gif

Penulis : Muhammad Abdullah

Waktu terus bergulir, tanpa mau berhenti, walau hanya sesaat. Berlalunya waktu seiring dengan berlalunya kehidupan dan perkembangan terus berjalan. Meskipun kesesatan yang sedang berkembang dan kebenaran malu untuk diungkap.

   Malam yang sunyi detengah ramainya kota. Jeritan penyanyi yang mengalun merdu justru seolah menyumbat pendengaranmu. Kau bimbang.


* * *


   Sabtu pagi dua bulan lalu, kau ditelepon seseorang. Kau terkejut.  Yang menelepon Pete, teman akrabmu kala SMA. Dia mengajak bertemu secepatnya. Kau janji bertemu besok pagi di pertigaan taman kota Dailiy. Pete, negro atheis yang pernah satu grup band denganmu kala SMA di Brigestone. Pria hitam tapi menarik dan familiar dan sangat kukuh memegang faham atheis dan kebebasan itu kini berubah entah apa, tapi itu yang kau rasakan. Dia bersandar pada bangku hitam kursi bermotif daun di pertigaan jalan tama.

   Tamat SMA kau mengambil fakultas hukum, dan dia mengambil fakultas seni. Kau tahu sebenarnya dia sangat merindukan Tuhan. Tapi sejak perceraian kedua orang tuanya, kala SMP membuat dia kecewa pada Tuhan dan memilih sebagai sebagai seorang atheis.Setelah perceraian itu, dia hidup dengan ibunya dan bekerja sambilan.

Halaman: 1 | 2 | 3 | 4 |