JURIG PARK ( Part 1 )

“Menurut Pak Misar, kelas neraka itu mestinya diapain?”

Pak Misar tersenyum—inilah yang membedakannya dengan orang lain yang ngomong dulu baru tersenyum.  

“MENURUT SAYA YANG LEMAH DAN HINA INI,” UJAR PAK MISAR DENGAN NADA SUARA LAMBAT-LAMBAT TAPI PENUH TEKANAN, PERSIS PENYAIR, “ANAK-ANAK ITU KUDU HARUS DIDEKETIN SECARA PERSON TO PERSON, ALIAS PRIBADI PER PRIBADI. SAYA YAKIN, YANG NAMANYA MANUSIA KAN PALING SENENG KALO DIAJAKIN NGOMONG SOAL DIRINYA SENDIRI, BUKAN SOAL DIRI ORANG LAIN.”

Tak disangka, tak dinyana, tak diduga. Semua guru yang hadir di situ terperangah tanda takjub dengan jawaban Pak Misar. Bukan saja karena mereka heran dari mana Pak Misar mendapatkan istilah person to person dan “kudu harus”, tetapi juga terus terang karena jawaban itu belum pernah terlintas sedikit pun di dalam otak mereka selama menjadi pengajar. Yang mereka lakukan selama ini ya bagaimana memenuhi petunjuk dan tuntutan kurikulum dari Depdiknas. 

“Wah, canggih juga nalar Pak Misar ini,” puji Pak Bejo Nababan, guru fisika yang keturunan pejabat alias peranakan Jawa-Batak. “Ah, kalau begitu saya mau mencobanya, siapa tahu anak-anak itu bisa saya taklukkan.”

“Jangan asal coba begitu, Pak Jo,” ujar Pak Romli, seperti biasa nadanya melecehkan. “Kita tanya dulu sama Pak Misar, apakah jawaban Pak Misar tadi sudah terbukti secara empiris.”

“Betul, Pak Jo,” timpal Bu Ninil Trinil, guru PPKN yang di saku bajunya selalu tersedia compact powder untuk keperluan P3K mukanya yang penuh jerawat. “Saya setuju dengan usul Pak Romli. Kita ini kan insan cendekia, jadi segala sesuatunya membutuhkan pengujian secara empiris.”

“Gimana, Pak Miras, eh, Misar? Apakah Bapak sudah pernah membuktikan jawaban Bapak itu secara empiris?” tanya Pak Bejo Nababan. 

“Yah, menurut saya yang lemah dan hina ini,” sahut Pak Misar, masih dengan gaya ngomong seperti di atas. “Bukti secara em atawa secara piris, yang kalo digabungin jadi empiris itu, bisa dibuktiin kalo kita mau nyoba. Saya sendiri udah pernah nyoba dan ngebuktiin. Anak saya yang paling bontot kan terkenal paling badung. Saya udah puyeng gimana cara ngomelin dia, karena semua cara ngomelin udah saya pake. Akhirnya, daripada mulut saya somplak gara-gara kebanyakan ngomel, saya ajak aja dia jalan-jalan ke kebon binatang. Di sono saya ajak si bontot ngobrol ngalor ngidul sambil merhatiin Wak Aung yang lagi pacaran. Eh, nggak saya sangka, pulang dari kebon binatang dia berubah jadi mendingan.”

“Maksud Pak Misar, si bontot jadi lebih baik kelakuannya?”

“Bukan. Maksud saya yang lemah...”

“Dan hina ini!” serobot Pak Romli dengan mimik serius tapi sebal.

“Hehehe...makasih atas bantuannya, Pak Romli,” Pak Misar nyengir bokir. “Maksud saya, mulai saat itu si bontot kalo saya omelin selalu ngajak ke kebon binatang. Dia bilang, “mendingan kita ke kebon bintang daripada Bapak ngomel melulu.” Gitu, Pak.”

Para guru saling berpandangan, bingung mau komentar apa. Tapi, akhirnya Pak Bejo Nababan memantapkan tekadnya untuk mencoba resep yang ditawarkan Pak Misar.

“Walaupun pembuktian secara empirik dari Pak Misar kurang begitu meyakinkan, buat saya ide Pak Misar itu tetap cemerlang. Saya akan mulai mencobanya besok.”

Macam-macam reaksi para guru yang lain. Ada yang bermimik mencemooh seperti Pak Romli, ada yang memberi dukungan seperti Pak Anwar, ada juga yang membantu dengan doa—tapi ini khusus dilakukan oleh Pak Misar, dengan maksud menyelamatkan dirinya dari tuntutan Pak Bejo kalau-kalau eksperimennya nanti gagal total.

Halaman: 1 | 2 | 3 |


Artikel Sebelumnya :