Orang-orang yang Menunggu Mati

Dan sampailah kami di sebuah rumah. Bersih. Sangat bersih bahkan. Ternyata di dalam rumah itu sudah ada banyak anak-anak lain yang seumur denganku. Sepertinya mereka memang anak-anak dari kampungku juga. Mereka sedang bermain. Riang. Gembira. Tidak ada duka di wajah mereka. Bahkan tidak ada luka di tangan, di kaki, atau di bagian tubuh lainnya.

Mereka benar-benar bersih. Seperti lelaki yang juga menggendongku. Yang saat ini membawaku masuk kesebuah kamar. Setelah meletakkan tubuhku di atas ranjang, yang bersih juga, ia keluar sebentar. Kemudian masuk lagi dengan membawa air hangat. Masih sambil tersenyum, ia membuka kain-kain yang membalut lukaku. Entah sudah berapa lama Ibu tidak mengganti balutan ini. Dan dengan hati-hati, ia mulai membersihkan lukaku dengan air hangat itu. Ada rasa nyaman yang kurasakan. Juga rasa tenang. Aku mulai mengantuk. Dan masih sempat kulihat sebuah senyuman dari wajah laki-laki ini, yang bertopi putih, dengan kain yang melingkar di sekitar pundaknya, sebelum akhirnya aku tertidur. Pulas.

***

Suara gaduh membangunkanku. Suara anak-anak lain yang ada di luar dekat kamar tempat aku tidur yang membangunkanku. Tidak pernah aku merasakan kenyamanan yang seperti ini saat bangun dari tidur. Biasanya, setiap kali aku bangun dari tidur, aku merasakan mataku semakin redup saja. Tubuhku semakin sakit saja. Dan hanya kematian saja yang aku harapkan. Tapi saat ini, saat aku bangun dari tidur di tempat lelaki ini, aku tidak melihat kematian.

Bangkit dari tempat tidur, aku langsung berjalan menuju arah jendela. Di luar, aku melihat anak-anak seumuranku sedang ramai bermain air. Dengan diawasi lelaki itu. Lengkap dengan topi putih, dan kain yang melingkar dipundaknya. Bermain? Tidak. Mereka tidak sedang bermain. Tapi mereka sedang belajar. Belajar dengan air. Apa yang sedang mereka pelajari?

Aku melihat. Satu per satu dari mereka membasuh wajah masing-masing tiga kali. Kemudian membasuh kedua tangan. Kemudian sebagian kepala yang mereka basuh. Kedua telinga, dan berakhir dengan membasuh kedua kaki. Setelah itu, mereka menghadap ke matahari yang hampir tenggelam. Menengadahkan kedua telapak tangan ke langit. Sedikit mengangkat wajah. Dan mengucapkan sesuatu. Seperti mendapat sesuatu dari langit, mereka mendekapkan kedua tangan mereka kedada. Dan berhamburan memasuki rumah kembali.

Aku berpikir. Dan aku yakin. Apa yang mereka lakukan adalah sebuah ritual yang menyebabkan penyakit ini sembuh. Aku yakin itu. Dan aku juga yakin, lelaki itu yang mengajarkannya kepada mereka.

“Itu namanya wudhu…” kata lelaki bertopi putih, dengan kain yang melingkar di pundaknya, yang ternyata sejak tadi sudah ada di belakangku.


Jogja, 21122008

Seribu lebih warga Zimbabwe tewas akibat kolera. (TV-One 18122008)”

Halaman: 1 | 2 | 3 | 4 |