Melukis Senja Jogja

Fashion-Styles-for-Girls-Online

melukis-senja-jogja.gif

Penulis : Elzam

Kusam dan legam. Wajah lelaki itu menghampiri saya dan kedua kawan saat Malioboro beranjak menghitam dari keriangan siang yang tadi begitu ramai. Rasa sesak dan kaki saya yang begitu keluh berjalan membuat saya mengeluh. Lantas lelaki tua bertopi pets butut, menyerupai sangkar burung yang telah ditinggal penghuninya lalu jatuh ke tanah itu menyapa. Ekor mata saya telah melihatnya sejak kami memulai perbincangan. Apakah menukar ketiga pasang kaki kami menggunakan roda becak atau jejak kuda penarik andong.

Engkau pun akan bingung seperti halnya saya. Ketika dihadapkan pada orang-orang yang sama kusamnya dengan lelaki tua namun bermata sayup itu, bertransaksi berapa harga yang pantas membayar keringat sekujur tubuh mereka yang kita tak tahu, kapan terakhir kali diisi nasi. Tiba-tiba dia berani mendekat saat melihat saya menatapnya. Sekonyong-konyong saja. Padahal saya tak punya pretensi apa-apa. Sementara gelap meruang menjelajahi Jogja ketika senja. Oranye bercampur mega, dan hitam menelisik setiap inci poros becak yang menyepi tepat di belakang pemiliknya. Membekaskan warna langit yang jatuh di aspal berbau kaki-kaki dunia itu. Datang dan pergi.

Kaki saya telah enggan lagi, bersantai menjejak langkah bersama mata menikmati derajat batik emperan Malioboro dan kaos Dagadu berharga  selayaknya anak tangga. Dari seharga beberapa bungkus nasi kucing sampai harga satu kali duduk di restoran cepat saji untuk tiga empat porsi.

"Naiklah becak saya, mau kemana toh? Ke Stasiun Tugu, saya antar. Bertiga pun bisa," tawarnya. Khas Jawa yang medok. Rupanya dia paham arah tujuan kami bertiga. Diam-diam dia menyimak saya dengan seorang kawan yang mau bertanya ke petugas Stasiun Tugu jam keberangkatan ke Kutoarjo besok pagi. Seharian saya bersama Kharismawan, teman saya dari Jakarta berjalan kaki didampingi Samin, lelaki asli Palembang tapi telah enam tahun mencumbui Jogja sejak kuliah dan kini menjadi guru di sekolah yayasan Islam.  Pagi memulai hunting baju kaos bermerek Jogja dan pernak-pernik, mengelilingi pasar malam di depan Kraton (waktu itu perayaan Sekaten baru saja dimulai), sholat ashar di Masjid Kauman, lalu berbalik lagi ke Malioboro meluapkan dahaga belanja. Sampai saya sempat kesal karena Kharismawan yang bingung memilih batik sang Biyung dan longdress ibunya. Seketika ibunya akan melempar pemberian apa pun jika tak memenuhi hatinya. "Norak, tidak berkelas, dan buat apa menghamburkan uang untuk barang ini?" Begitu wanita yang telah melahirkan kawan saya ini menegaskan seleranya tanpa tedeng aling-aling di depan si pemberi.

Saya menarik Samin yang hendak menghampiri pengayuh becak serupa, lelaki lain yang tertidur ayam namun meringkuk bulat layaknya ular di pelepah pinang tua terperosok semak-semak kering. Ada ikhtiar ada hasil, kata Allah mengenai rezeki. Samin paham, jika ingin menikmati becak dengan eksotisme senja, gunakan kepiawaian menawar. Bagi saya peduli apa dengan eksotisme untuk sekarang ini. Saya ingin ke Stasiun Tugu dengan cepat dan nyaman. Tak tahan lagi jalan kaki karena Malioboro belum lagi setengah terlewati sejak dari perempatan gedung tua Kantor Pos tadi. Belum lagi ditambah mampir dan mengubek-ubek berbagai galeri seni. Tujuan kami memilih becak ke Stasiun Tugu karena didera lelah. Samin masih saja menahan harga versinya, ketika lelaki itu menyebut selembar rupiah seharga tips yang biasa saya beri jika pulang larut malam naik taksi dari kantor di Jakarta. Sudahlah, kata saya melerai pertengkaran adu jago praktik ekonomis dua lelaki di hadapan saya.

Tiga lelaki muda menaiki becak. Saya di tengah dan terjepit. Saking sempitnya kedua kawan saya mesti melipat kakinya seperti duduk para perawan yang asyik membaca di beranda, agar saya kebagian tempat. Lelaki itu mengayuh pedal dengan tenaga tak bisa saya takar. Pelan saja. Lalu ngilu mengiris-ngiris sampai hati saya tak tahu harus saya letakkan di mana.

Bodohnya, eksotisme melukis senja pada akhirnya mencelat juga. Pada jalan Malioboro yang berlubang dan bergunduk-gunduk, becak berjingkrak-jingkrak. Pada kehebohan tiga lelaki muda yang disapa gadis-gadis yang juga naik becak berselisih jalan. Lantas senja menaburkan banyak keriangan-keriangan lain yang nampaknya syahdu untuk dinikmati orang-orang semacam saya dan teman saya yang biasa lelah bertransportasi umum di Jakarta. Lelaki tua dan kayuhan pedal becak beritme senada dengan ritmis senja yang mengantar kami ke Stasiun Tugu tersebut bertanya ini itu. Saya juga tidak tahu apa yang ada di benaknya ketika sambil berkelakar kami mengambil banyak gambar di atas becaknya dengan kamera digital yang saya bawa. Bukannya saya tidak mau tahu, saya ingin abai soal itu. Akan malu memikirkannya.

melukis-senja-jogja.gif

Lelaki itu menanyakan ke mana lagi tujuan kami setelah Stasiun Tugu. Lalu satu di antara kami mengatakan kalau kami sudah terlalu lelah. Akan segera pulang dan membenamkan diri untuk istirahat. Meski Jogja masih sangat baik untuk dilihat suasananya pada malam hari. Begitu banyak kisah yang menarik jika saya menahan kedua kawan supaya menunda pulang. Lelaki bertopi pets itu tetap semangat mengayuh becaknya. Sesekali peluh ia hapus dengan punggung telapak tangannya karena tidak membawa handuk kecil. Rupanya ia ingin memperpanjang rute pelayanannya mengantar saya dan kawan saya berkeliling Jogja. Ia menanyakan apakah kami sudah membeli bakpia. Jujur saja saya menjawab tidak akan membeli bakpia. Sekantong kresek besar makanan kecil telah siap dibawa. Tidak ada bakpia di situ. Kebetulan saja. Saya dan Kharismawan juga malas memberat-beratkan bawaan untuk menyenangkan perut yang hasilnya sama saja. Berakhir pada kenyang dan toilet. Toh kami telah pernah menikmati bakpia waktu-waktu lalu. Tidak ada alasan untuk membeli makanan manis berisi macam-macam tersebut, kecuali jika satu di antara kami menderita bakpiaholic misalnya. Saya tertawa terkekeh. Lelaki itu menyebutkan Bakpia X sebagai bakpia paling terkenal. Janganlah saya  disuruh mengungkapkan apa X itu. Khawatir jika nanti engkau anggap ujung-ujungnya kapitalis cerita ini.

"Sayang kalau melewatkan datang ke Bakpia X. Semua yang ke Jogja pasti ke sana, bakpia yang terkenal dan masih hangat berbaris di rak-rak toko. Jika mau, setelah Stasiun Tugu tinggal memutar sebentars." Ia memberi info seakan-akan sales promotion boy menawarkan produk baru. Meski tadi sempat menolak, dia tetap menceritakan perihal toko bakpia yang konon juga terbesar di Jogja. Perlahan saya paham maksudnya. Jika pengayuh becak yang jumlahnya berjubel di kota budaya ini membawa pelancong ke Bakpia X. Maka dengan senang hati mereka akan memberi sebuah kaos sebagai imbal jasa. Tidak ada pemberian bila sebelumnya engkau tak memberi sesuatu untuk usaha kami survive. Begitulah kira-kira.

 

"Hahaha, begitu ya, Pak? Sebenarnya kami benar-benar tidak ingin membeli bakpia. Juga harus segera pulang untuk istirahat," aku saya jujur.

"Saya cuma menawarkan lho. Semua terserah pada Mas-Mas ini kalau tidak keberatan. Tidak memaksa. Nanti tambahlah beberapa rupiah ongkosnya. Saya antar ke tempat naik bus Trans Jogja langsung. Nanti saya dapat kaos untuk ganti baju ngayuh becak." Suaranya tetap pelan, takut-takut, juga bernada segan. Ah, siapa yang suka di bawah. Memang tak enak. Terjepit dan nyelekit bila menunjukkan pada orang lain.

"Boleh saja, Pak. Hanya saja kami akan makan dulu setelah ke Stasiun Tugu. Sebentar saja di sana. Berapa membayar ongkos tambahan?" tanya saja biar menjadi jelas dan tak ada rasa tidak enak di akhir pemakaian jasa selesai. Dia mengatakan jumlah tambahan dan kami bertiga tidak ada yang berniat menyela.

Sekarang becak semakin riang berputar, semakin kuat. Kekuatan dari rupiah yang kami tambahkan tadi ataukah sepotong kaos yang mungkin sekali bermerek Bakpia X. Di Stasiun Tugu saya dan Kharismawan turun, berjalan cepat-cepat  ke arah penjualan tiket. Tidak ada yang buka, sudah terlalu senja. Akhirnya saya berinisiatif menanyakan kepada petugas penjaga peron. Hasilnya, pagi jam tujuh kurang 15 menit kereta api berangkat ke Kutoarjo setiap hari.

Kembali ke becak yang menunggu di seberang jalan, saya lihat Samin khusyuk berbincang. Menemani lelaki tua yang setia membawa kami nanti ke Bakpia yang ia ceritakan. Sekarang sekuat nafsu kami ke restoran cepat saji yang arahnya harus berbalik ke Malioboro. Dari tadi hati saya remuk-remuk tak jelas mengingat acara makan-makan. Ia menunggu di Stasiun Tugu. Ia menunggu di depan pintu restoran. Saya ingin bilang sesuatu ke teman saya tapi saya khawatir. Jadilah saya mengikuti saja langkah mereka masuk ke ruangan yang semerbak wangi junkfood, dengan dingin AC yang mendesis-desis. Ngilu.

Sambil menikmati ayam gorengnya, Samin bercerita. Sedangkan saya mencoba lahap teriyaki di kotak styrofoam yang membelalak menampakkan imajinasi rasa. Seharian tadi, lelaki seusia bapak saya itu mengatakan belum mendapatkan satu pun penumpang. Alasan inilah juga membuat ia memberanikan menawarkan becak yang diakuinya milik pribadi. Saya percaya karena sayalah yang pertamakali menemukan matanya. Lalu saya katakan pantas saja dia tidak menyia-nyiakan penumpang pertama dan mungkin sekali terakhir untuk hari ini.

Tiba-tiba saya menyela. "Saya akan take away seporsi makanan untuk beliau. Jangan-jangan ia sedang makan juga bersama kita dalam bayang-bayang di depan sana." Tiba-tiba juga kata-kata saya bernada hormat.

"Tak usahalah. Lebih baik tambahkan saja ongkosnya nanti," kata Samin memahami. Saya diam saja, membenarkan sarannya. Lelaki itu pasti mampu memutuskan untuk apa uang tips yang saya usul ditambahkan.

Suasana mencair ketika kami menuju Bakpia X usai makan. Bincang demi bincang mengalir . Lelaki itu, yang sampai saat saya kembali bergelut dengan Jakarta tak saya ketahui namanya bercerita. Seorang anaknya kuliah di Universitas Borobudur, Jakarta. Selepas kuliah dia menjadi pelukis jalanan, yang saya tak heran mengapa anak muda itu bisa melukis. Anak lanang berinduk semang Jogjakata Bung! Itu saja sudah cukup menjadi alasan. Mungkin menelusuri megapolitan lebih banyak uang di dalamnya daripada mencoba melukis senja di Jogja. Beromantis-romantis di Jogja tapi punya sedikit sekali uang di kantong, apalah artinya?

"Tak pernah dia meminta uang dengan bapaknya. Kuliah sendiri, hidup sendiri... Kalau pun minta pada saya, memang saya bisa beri apa." Terdengar begitu getir. Ada juga bangga sedikit. Lalu dia menyambung kakak pelukis ada juga di Bandung, bekerja apa adanya. Di sudut Bantul, ia masih menghidupi satu isteri dan kedua anaknya yang Madrasah Aliyah dan kelas lima SD.

Lelaki yang akhirnya membenamkan saya pada sosok ayah saya di tanah Sumatera itu kini tetap giat bercerita dan bekerja. Lalu senja yang tadinya memerah yang menggelap penuh membuat kerjanya mulai payah. Di tikungan menanjak nafasnya satu-satu terdengar meloncat panjang pendek. Romantisme Jogja untuk lelaki tua pinggiran dengan kesetian becak dan penumpangnya bisa menjadi objek lukis calon maestro.

Apakah karena tak ingin melukis Jogja anak muda itu ke Jakarta? Melukis bapak-bapak sosialnya di setiap sudut Jogja, emperan Malioboro, berkejaran di depan Keraton Sultan. Saya tangkap keliaran pikiran saya tentang anak kuliahan, jika kesempatan menemukan mereka pada pelukis dan objek lukis. Pelukis dan bapak biologis. Memang baiklah engkau mengembara mengais selain di Jogjamu ini!

melukis-senja-jogja.gif

Biarkan romantisme terang dan tenang di alam pikiran saja, bukan pada estetika karya yang pada akhirnya kau harga lembaran rupiah. Di waktu-waktu kau  hasilkan lukisan senja wajah bapakmu, bapak-bapak yang banyak.

Kembali ke Bakpia X, di toko tadi mesti terpaksa membeli dua kota bakpia, saya tetap usaha mengikhlas-ikhlaskan. Lumayan juga untuk oleh-oleh di tempat kawan saya, tempat menginap. Dan petugas dengan telaten mencatat nama pengayuh becak kami bertiga. Minggu depan datang lagi katanya untuk mengambil jatah kaos bermerek tersebut. Lelaki itu diam saja. Jika ingin mendapat hasil, berdamailah dengan waktu yang bernama menunggu. Ia pahami saja itu.

Sampailah saya harus mengakhirkan hubungan dengan lelaki itu. Terbersit janji, jika menemukan pelukis jalanan di Jakarta nanti, akan saya tanyakan kabarnya. Becak kami masih di seberang shelter Transjogja, harus menyeberang dulu. Lelaki itu lelah tapi ia sadar kerja belum selesai. Jogja tambah larut dalam gemerlap lampu malam yang terang samar-samar. Sampai saya dan kedua teman masuk ke Transjogja menuju daerah Tegalturi. Dua bus Transjoga melaju di kejauhan selurus mendekati bus di mana saya di dalamnya. Lelaki itu saya lihat samar-samar disinari temaran lampu hias Jogja masih dengan menggenggam uangnya. Lalu membalikkan becaknya dan sigap menaikinya menyeberangi Malioboro yang sisi kiri kanan banyak tempat-tempat duduk anak muda berpasang-pasang. Begitu luas pinggiran jalan Malioboro untuk arena menautkan hati-hati dan diri manusia.

Transjogja yang saya tumpangi mulai melaju. Tiba-tiba saya tersentak ingin turun, sayang tak bisa karena shelter pemberhentian masihlah jauh. Kerumunan itu! Semoga bisa membantu membawanya ke rumah sakit terdekat. Kedua kawan saya heran memandang air muka saya yang pias. Wajah yang sama mereka kembalikan pada saya ketika saya menunjuk ke belakang, mencuri pandang di antara kasak-kusuk orang kaget mendengar kata-kata saya yang berdiri di dekat jendela belakang.

***

Beberapa detik ketika membelakangi badan Jalan Malioboro, ia buru-buru berbalik dan menyeberangi jalan tempat menjejal romantisme Jogja itu. Tanpa sadar Transjogja meluncur manis pada tempat dan detik yang sama. Menghujam setengah bagian badan becaknya hingga terpental. Lalu lelaki itu? Matikah? Saya gugup, belum tampak bagaimana keadaannya karena tertutup punggung orang-orang yang berkerumun.

Dalam debar nafas tertahan, akhirnya lega juga saya. Kharismawan dan Samin yang juga terpaku dari tadi ikut lega. Keduanya diam tak bisa berkata-kata. Dari celah kerumunan tampak lelaki itu menyingkir dibantu seorang pemuda bertas cangklong. Untunglah. Dia tidak apa-apa, ah, atau mungkin terkilir saja karena jalannya sedikit bengkok.  Mungkin karena becak itu belum begitu masuk ke tengah jalan dan lelaki ringkih itu sepertinya belum sempat menaiki sadelnya sehingga dia bisa selamat. Saya hanya menduga-duga dalam kelegaan luar biasa.

Orang-orang terlihat meminggirkan becak yang remuk itu. Bus Transjogja meluncur semakin jauh. Saya tidak bisa melihat lagi rupa sambil menyaksikan becak yang baru beberapa menit mengantarkan kami berkeliling miliknya. Dalam diam dia duduk di trotoar. Lalu mengecil bersama orang-orang berseliweran.

Ah, sudahlah. Saya menghibur diri. Saya yakin anaknya akan tetap sekolah madrasah dan SD, yang kuliah akan tetap bertahan di Jakarta.  Dan isterinya segera akan mengencangkan kain dengan ujung simpul di dadanya. Membuat telor hias, menjual jamu, nasi kucing, sate kerang atau apa saja. Hidup tak seharusnya menangisi apa-apa yang hilang, apalagi meratapinya.

                                                                        Utan Kayu, 20 Maret 2009

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...