Membeli Laki-laki

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Irhayati Harun

Perasaanku campur aduk menjadi satu. Antara marah, juga malu. Meski Mande sangat senang karena Apak-nya (adik lelaki Abak) berhasil mencarikan calon untukku. Marah, kenapa sih nasibku harus berakhir seperti ini? Malu, di saat usiaku sudah melewati kepala tiga, belum juga ada lelaki yang bersedia menikah denganku.

“Sudahlah, Pik. Apak kira, Mandemu bermaksud baik. Dia hanya khawatir anak padusi-nya hidup melajang terus.”

“Tapi, Apak, tidak dengan cara seperti ini! Memangnya Upik wanita yang tidak laku-laku hingga harus membeli seorang lelaki untuk menjadi suami! Upik juga punya harga diri.”

“Kamu belum melihat calonnya, Pik! Selain lulusan sarjana, dia juga seorang yang baik dan taat beragama.”

“Upik tetap akan mencari sendiri lelaki pilihan Upik, tanpa perlu membeli seperti ini. Upik gengsi, Apak!”

“Kamu tak perlu gengsi, Pik! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Para ninik mamak hanya ingin memberikan uang jemputan pada pihak keluarga laki-laki untuk biaya menyelenggarakan acara pernikahan dirumah mereka. Lagipula, uang jemputan itu akan dikembalikan pada kita selesai baralek nanti.”

Aku hanya diam terpaku mendengar jawaban diplomatis dari Apak. Walaupun hatiku berontak karena merasa Apak terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadiku. Bukankah hati tak bisa dipaksakan? Tapi mengingat Apak sudah bersusah payah mencarikan lelaki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupku, aku akhirnya menurut juga.

Aku sadar, bila aku tak segera menikah, Mande akan berkecil hati. Mengingat sudah lama Mande ingin menimang cucu dari anak semata wayangnya ini. Apalagi selama ini, Mande harus berjuang seorang diri dalam membesarkanku, hingga aku berhasil menjadi guru di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta.

“Tugas Mande sebagai seorang ibu rasanya belum sempurna sebelum melihat kamu menikah, Nak,” begitu selalu ucap Mande padaku.

Bukannya Aku tak pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Sebagai anak yang berbakti, dulu aku tak ingin menentang Abak.


“Abak hanya ingin melihat anak padusi Abak satu-satunya menikah dengan Urang Awak juo.”

“Kenapa harus dengan Urang Awak, Bak? Lelaki yang bukan satu suku sama kita juga banyak yang berkualitas. Baik dari segi kepribadiannya, juga ibadahnya.” Aku mencoba mendebat Abak.

“Masalahnya tidak sesederhana itu, Pik. Kalau kamu nanti menikah dengan lelaki yang bukan urang awak, maka kebanggaanmu sebagai anak padusi di suku kita akan musnah. Kamu kan tahu, posisi anak padusi begitu dijunjung tinggi di Padang Pariaman, karena dianggap sebagai bundo kanduang.”

“Maksud Abak apa?”

“Dalam suku kita, anak padusilah yang dominan kedudukannya. Tak hanya menerima warisan lebih banyak dari anak laki-laki,  juga…”

“Punya kuasa membeli laki-laki. Iya kan, Bak?”

“Bukan membeli, hanya membayar uang jemputan, karena pihak keluarga anak daro begitu menginginkan agar anaknya bisa menikah dengan lelaki yang mereka sukai, ” jawab Abak tersenyum bijak.

Sungguh! Aku tak bisa lupa kata-kata Abak itu. Meski di hati kecilku, aku tak suka kalau dalam melamar pria pilihan hati, harus disesuaikan harga pinangannya dengan tingginya pendidikan dan jabatannya. Seperti sebuah barang saja, yang bisa ditawar-tawar. Tapi tradisi membeli laki-laki (membayar uang jemputan dari pihak keluarga wanita) masih berlaku sampai sekarang di suku Pariaman.

  Suatu hari, ada urang awak yang senang padaku. Dan aku pun tertarik padanya, karena pribadinya yang ramah dan supel. Tapi nasib baik tak berpihak padaku. Lelaki yang kukira serius menjalin hubungan denganku itu, ternyata tak bersedia untuk diajak berumah tangga, dengan alasan belum siap.

Aku pikir, dia hanya ingin bersenang-senang saja denganku. Setelah hampir dua tahun kami bersama, tak jua ada kepastian darinya untuk mengikat hubungan kami dalam sebuah lembaga yang bernama pernikahan. Akhirnya, kutinggalkan lelaki yang tak memiliki komitmen itu.

Tak lama kemudian, aku pun berkenalan dengan seorang lelaki yang benar-benar memenuhi kriteria di mataku, juga di mata Abak. Selain pintar, tampan, dan tekun beribadah, dia masih keturunan urang awak juga. Kepribadiannya juga baik dan menarik. Dan yang terpenting, dia serius untuk menjadikanku sebagai istrinya.

Namun, siapa yang bisa melawan takdir! Satu bulan sebelum pernikahan, lelaki yang kuharapkan bisa menjadi imamku itu, dipanggil Tuhan dengan cara yang sangat mengenaskan. Mati tertabrak mobil saat pulang dari kampung halamannya, ketika ingin meminta restu dari kedua orang tuanya.

Abak pun menghibur hatiku dengan mengatakan mungkin dia bukanlah jodohku, sehingga aku bisa kembali menjalani hari-hariku dengan hati yang lapang. Setelah sebelumnya tak bisa menerima kenyataan, akibat rasa terpukul yang amat dalam. Tapi sekarang, Abak tak lagi bisa menghibur hatiku yang merasa begitu terhina, karena harus bisa menerima saran pihak keluarga untuk menjemput  laki-laki yang telah mereka pilih dengan sejumlah uang jemputan yang sudah ditentukan oleh pihak keluarga laki-laki.

Pagi ini aku harus bersiap-siap untuk mengikuti Mande ke rumah calon suamiku. Tak ada salahnya aku mengikuti ajakan Mande, demi menyenangkan hatinya. Soal aku bersedia atau tidak, itu perkara nanti. Yang penting, aku bisa melihat lagi rona bahagia di wajah Mande. Setelah sekian lama tak aku dapati keceriaan di wajah keriputnya.

Dalam hati, aku merasa sangat bersalah bila kali ini tak bisa memenuhi harapannya. Sebagaimana aku juga menantikannya. Masalahnya, aku tak mudah untuk berbagi cinta dengan seorang pria. Siapa sih yang tak ingin hidup berbahagia sampai kakek-nenek dengan orang yang ia sayangi?

“Upik! Sudah belum dandannya? Nanti kita kesiangan sampai dirumah Bagindo Sulaiman,” ucap Mande dari luar kamar.


“Sebentar, Mande. Upik lagi memakai kerudung,” jawabku sambil menarik nafas yang dalam.

Tampaknya Mande sudah tak sabar ingin segera bertemu calon menantunya. Semoga Allah mengabulkan doa-doa Mande agar aku segera mendapatkan pendamping, walaupun dengan cara  seperti ini. Terus terang, aku sendiri tak lagi mempermasalahkan kesendirianku. Bagiku, jodoh sudah ada yang mengatur. Mau nikah di usia kepala empat sekalipun, tak menjadi soal bagiku. Namun, Mandelah yang menjadi beban pikiranku. Aku tak ingin lagi mengecewakan hatinya yang lembut dan penuh kasih itu.

Dengan tergesa-gesa aku keluar dari kamar, saat Apak ikut memanggilku. Dia juga tengah menungguku dil uar. Rencananya, kami akan pergi naik mobil kijang miliknya. Begitu sudah berada didalam mobil, Mande tak pernah berhenti menatapku dengan wajah sumringah..

“Begitu mengenal Zainal, kamu pasti jatuh hati, Pik,” ucap Mande sambil melirikku. “Dia anak yang sopan dan hormat sama orang tua.”

 Aku hanya diam membisu. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. Mungkin aku kelewat nervous. Jantungku masih berdegup kencang meski aku telah berusaha sekuat tenaga menetralisir perasaan gugupku. Ketika mobil Apak sudah memasuki halaman rumah Uda Zainal, jantungku semakin bertambah kuat degupnya.

Ya Tuhan…hilangkanlah kepanikan didalam diriku. Panik, kalau-kalau perjodohan ini tak berjalan seperti yang aku dan Mande harapkan.

“Pik…kamu tak perlu cemas. Semuanya akan berjalan dengan baik,” Apak berkata setelah kami turun dari mobil, seolah-olah mengerti apa yang tengah kurasakan.

Iya, Apak. Upik tahu apa yang terbaik buat hidup Upik.” Aku pun kembali tersenyum sambil menggamit tangan Mande untuk segera mendekati rumah bercat biru laut didepanku. Begitu sampai di depan pintu, Mande mengucapkan salam. Tak lama kemudian, keluarlah seorang wanita yang kutaksir umurnya tak jauh beda dengan Mande.

“Ini si Upiak? Amboi, rancak bana wa-ang! Anak Ambo pastilah tertarik.”

Aku hanya tersipu-sipu malu mendengarnya. Dengan ramah, wanita tua di hadapanku mempersilahkan kami masuk. Dengan sedikit enggan, aku mengikuti Mande duduk di kursi ruang tamu. Tanganku rasanya dingin semua. Bagaikan seorang terdakwa yang duduk di kursi persidangan. Menunggu nasib hidupku selanjutnya, yang sebentar lagi akan diputuskan.

Lalu, menit-menit berikutnya kami menunggu seorang pria yang sebentar lagi akan keluar menemui aku, Mande dan Apak di ruangan ini. Sedangkan wanita ramah tadi masuk kedalam. Mungkin segera memanggil anak lelakinya. Tak lama kemudian,


“Iko Zainal anak Ambo yang paling tuo.”

Laki-laki di depanku tersenyum manis ke arahku, sebelum akhirnya duduk berhadapan denganku. Tak kuduga, wajahnya sangat tampan! Mirip bintang film KCB 2, dengan janggut tipis di dagunya.

“Memangnya, Uda belum pernah punya kekasih sebelumnya, hingga di usia 35 tahun belum menikah?” tanyaku setelah beberapa menit saling diam, karena malu.. Sementara Mande dan yang lainnya pergi ke ruangan lain. Mungkin sengaja, agar kami bisa saling mengenal lebih dekat lagi.

“Yah, begitulah! Bukannnya tidak ada yang mau, hanya saja Uda kelewat sibuk bekerja, hingga tak punya waktu buat pedekate dengan seorang gadis,” jawabnya serius.

“Upik sendiri bagaimana?” tanyanya lagi dengan hati-hati.

“Terus terang, Upik pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang pria. Tapi semuanya tak pernah sampai ke pelaminan.” Aku pun menceritakan pengalaman pahitku padanya. “Mungkin belum berjodoh Da,” aku mengakhiri ceritaku dengan perasaan sendu.

“Mudah-mudahan kita berjodoh ya, Pik,” ucap Uda Zainal spontan. Aku yang mendengarnya tak urung menjadi malu. Wajahku pun bersemu merah, karena berbunga-bunga. Amin…doaku di dalam hati. Tak terasa, hampir dua jam aku dan Uda berbincang-bincang.

Ternyata, Uda Zainal asyik diajak bicara, meski orangnya serius dan agak pendiam. Dan aku berusaha untuk terus memancing pembicaraan, agar suasana tidak bertambah kaku. Dan hari-hari berikutnya kami saling ngobrol lewat telepon genggam, sebab Uda Zainal orang yang sangat sibuk. Hatiku pun semakin tertawan dengan Uda Zainal. Begitu juga sebaliknya. Uda Zainal mengaku serius dengan hubungan kami.

Hingga di suatu hari yang cerah, aku mendekati Mande.

 “Jadi, kapan kita membeli Uda Zainal, Mande?” tanyaku tak sabar.

“Apa maksud Upik?”

“Memang Mande belum menanyakan berapa harga pinangan yang harus kita bayar untuk melamar Uda Zainal?” tanyaku sekali lagi dengan penasaran.

“Itulah masalahnya, Pik! Mereka tidak mau menerima uang lamaran yang Mande ajukan,” jawab Mande dengan serius.

“Masa hanya gara-gara tak cocok harga, mereka menolak lamaran kita, Mande! Kalau begini, Upik urungkan saja niat untuk menikah!”

“Pik, Pik… Mande kan belum selesai bicara, kok kamu langsung tersurut begitu. Zainal itu memang orang Pariaman. Tapi, dia kurang setuju kalo pake uang jemputan segala, karena bukan jamannya lagi laki-laki mau dibeli. Itu hanyalah sebuah kebiasaan saja, bukanlah adat dalam perkawinan. Jadi, merekalah yang akan menjemput kamu. Dan besok, akan datang iring-iringan pelamar dari keluarga si Zainal. Kamu siap-siap aja.”

Duh! Betapa malunya aku, karena telah berburuk sangka. Aku semakin yakin bahwa Uda Zainal memang sesuatu yang sangat berharga. Dan benda berharga itu adalah cinta  Uda Zainal padaku.

Catatan:
Mande: Ibu
Abak: Ayah
Padusi: anak perempuan
Anak daro: anak perempuan
Bundo kanduang: sebagai yang dihormati dan menduduki posisi sentral dalam keluarga
Uda: abang
Urang awak: suku kita
Rancak bana wa-ang: cantik sekali kamu
Ambo: Aku
Iko: ini
Paling Tuo: anak pertama/sulung



 

 

   


   

   

   

   









.





 
   


Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...