Meneladani Ketekunan Imam 4 Mahzab dalam Menuntut Ilmu

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban dan keharusan yang dilakukan bagi seluruh umat. Dalam menuntut ilmu Sobat Nida akan mendapatkan banyak pelajaran, nasihat dan pengalaman sehingga dapat berproses menjadi manusia yang lebih baik. Namun dalam menuntut ilmu terkadang Sobat Nida akan dihadapkan oleh suatu rintangan dan tantangan yang tidak mudah. Diperlukan ketekunan, kegigihan serta niat yang penuh untuk menuntut ilmu agar menjadi sebuah keberkahan. Oleh karena itu, simak ketekunan Imam 4 Mahzab berikut ini, dalam menuntut ilmu agar dapat dijadikan contoh dan motivasi bagi Sobat Nida.

1. Imam Syafi’i
Semasa Imam Syafi’i menuntut ilmu beliau sangat tekun dan giat. Imam Syafi’i rahimahullah yang saat itu yatim dan masih kecil diajak oleh ibunya ke Madinah untuk mengikuti pengajian hadits Al Muwattho’ kepada Imam Malik rahimahullah. Kondisi ibunya yang saat itu miskin membuatnya tidak mampu membeli pena dan alat tulis untuk anaknya, Imam Syafi’i. Meski begitu, Imam Syafi’i tidak kecewa dan patah semangat. Beliau tetap giat dan tekun untuk mengikuti majelis Imam Malik. Imam Syafi’i menggunakan telunjuk kanannya sebagai pena yang ditempelkan ke lidahnya dan menjadikan tangan kirinya sebagai buku.

Melihat hal tersebut Imam Malik merasa terganggu hingga memanggil Imam Syafi’i dan berkata kepadanya. “Lebih baik kamu pulang saja, kamu melakukan perbuatan yang sia-sia di sini.” Lalu Imam Syafi’i menjawab “Aku ke sini untuk belajar wahai Imam, aku tidak melakukan perbuatan yang sia-sia.”

Imam Malik kembali bertanya “Lantas mengapa setiap aku menyampaikan pelajaran, engkau selalu mencolek lidahmu dengan telunjukmu, bukankah itu perbuatan sia-sia?” Imam Syafi’i menjawab “Wahai Imam, aku adalah seorang anak yatim yang miskin, ibuku tidak mampu membelikanku alat tulis untuk belajar, sehingga aku tulis seluruh hadis yang kau sampaikan dengan telunjukku dan tangan kiriku ini kujadikan buku.”

Mendengar penjelasan Imam Syafi’i, Imam Malik terkejut serta penasaran dan beliau pun berkata “Kalau begitu sebutkan hadits-hadits yang telah aku sampaikan!” tidak diduga, ternyata Imam Syafi’i mampu menyebutkan seluruh hadist dan pelajaran yang disampaikan Imam Malik tidak kurang sedikitpun.

Dari cerita Imam Syafi’I inilah Sobat Nida bisa mengambil banyak pesan dan hikmah. Salah satunya yaitu bahwa dalam menuntut ilmu tidak perlu merasa kecewa ataupun malu atas keterbatasan yang kita miliki. Tetap semangat dan tekun dalam menuntut ilmu, sebab hal terpenting adalah bagaimana kesungguhan kita dalam menyimak dan mempelajari ilmu tersebut sehingga ilmu yang didapat mampu untuk diingat dan diamalkan.

2. Imam Malik
Sobat Nida, sejak kecil Imam malik hidup dalam kesederhanaan dan kecukupan serta tidak hidup berlebihan. Slain itu beliau juga diajarkan adab sopan dan santun. Sejak Imam Malik kecil ibunya telah mencarikan guru yang memiliki banyak ilmu dan beradab baik. Guru yang bernama Nadhar tersebut menjadi guru pertama bagi Imam Malik.

Bukan hanya itu Sobat Nida, Imam Malik juga belajar adab dan ahlak dalam belajar dari ibunya. Karena semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, Imam Malik mampu memahami bidang ilmu hadist, tafsir, dan fiqih dengan mudah.

3. Imam Hanafi
Sejak belia Imam Hanafi telah semangat mengkaji dan menghafal Al Qur’an. Beliau tekun mengulang bacaanya hingga ayat-ayat  tersebut tetap terjaga dengan baik dalam ingatannya. Beliau juga mendalami makna yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut. Imam Hanafi aktif mempelajari ilmu fiqih dan mendalami ilmu hadist. Selain itu Imam Hanafi biasa melakukan perjalanan dalam mencari ilmu. Imam Hanafi dikenal sebagai seseorang yang tekun dalam menuntut ilmu. Tak heran jika beliau dikenal sebagai seseorang yang sangat dalam ilmunya, ahli zuhud, sangat tawadhu, dan sangat teguh memegang ajaran agama.

4. Imam Hambali
Sobat Nida, Imam Hambali telah tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya memiliki peran yang besar dan sangat penting dalam mendidik dan membesarkannya. Meski keadaan Imam Hambali saat itu yatim dan miskin, namun beliau memiliki semangat yang tinggi. Imam Hambali pertama kali mendapatkan pendidikannya di Kota Baghdad, lalu pada saat berumur 14 tahun setelah tamat menghafal Al Qur’an dan mepelajari ilmu bahasa Arab di Al-Kuttab beliau melanjutkan pendidikannya ke Ad-Diwan.

Ketika menginjak usia 16 tahun Imam Hambali tertarik untuk menulis hadist dan melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman, dan lainnya. Imam Hambali terus menuntut ilmu dengan tekad yang kuat dan tidak mudah goyah.

Sobat Nida, begitulah ketekunan para Imam 4 Mahzab tersebut yang patut dijadikan contoh dan motivasi untuk menuntut ilmu. Bahwasannya menuntut ilmu tidak harus selalu di satu tempat saja namun dapat dipelajari dan dicari dari berbagai tempat. Selain itu, menuntut ilmu tidak harus dengan tersedianya penunjang belajar yang sempurna. Menuntut ilmu juga dapat dilakukan meski dalam keterbatasan dan kesederhanaan. (Fikriah NurJannah)

Sumber : Abanaonline(dot)com, islampos(dot)com
ilustrasi: google 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...