Mengapa Tidak Berani Menikah?

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Berani nikah kalau udah lulus kuliah. Berani nikah kalau udah punya kerjaan. Berani nikah kalau udah punya rumah. Berani nikah kalau udah punya motor. Berani nikah kalau udah punya dunia dan lain sebagainya.

 

Ah, berarti secara tidak langsung, Kawan, kita mengakui kalau tidak berani nikah karena belum lulus kuliah, belum punya pekerjaan, belum punya rumah, belum punya motor, belum punya dunia dan lain sebagainya.

 

Ada seseorang pemuda yang berani menikah karena merasa sudah memiliki cukup uang, padahal tidak punya tabungan. Setelah dihitung-hitung setiap bulannya dia bisa dapat 4 juta, dari gaji bulanannya 2 juta sebulan dan dari gaji freelance bisa sampai 2 juta juga sebulan. Lalu dia pun taaruf bahkan sudah sampai khitbah gadis yang dia sukai. Tapi sang pemuda akhirnya tersadar bahwa gaji bukanlah hal yang membuatnya berani menikah, karena 3 minggu setelah khitbah sang gadis meninggal karena sakit dan sang pemuda pun akhirnya belum mau taaruf dengan siapapun lagi.

 

Pun jangan sampai, kita berani menikah atau lebih tepatnya terpaksa menikah karena sudah duluan berzina. Na’uzubillah.

Sama ketika kita ingin menjadi orang baik, Kawan. Sebelumnya kita harus tahu kriteria orang baiknya ini seperti apa, standar kita ingin menjadi baik menurut siapa? Menurut manusia kah atau menurut Allah dan RasulNya.

 

Kalau pakai standarnya manusia seseorang baru berani nikah bisa jadi kalau laki-laki usianya 25 tahun atau perempuan 20 tahun. Dan itu tadi, menurut masyarakat kebanyakan ya kalau orang berani nikah itu harus udah lulus kuliah dulu, harus punya kerjaan tetap, harus punya kendaraan , rumah dan lain sebagainya. Ukurannya dunia sekali. Jarang sekali atau amat sedikit orang-orang yang berpikir kalau standar seharusnya berani nikah itu ya dia sudah siap mempelajari agamanya, punya tanggung jawab dan kemandirian, kalau laki-laki ya solat lima waktunya mantep dan berjamaah di mesjid, punya kedewasaan dan bisa membimbing diri sendiri karena setelah nikah dia akan membimbing istrinya dan lain-lain.

 

Kawan, kita jarang sekali menyadari ada satu alasan sangat kuat yang bisa memicu keberanian seorang pemuda untuk menikah. Bahkan alasan ini sudah dijelaskan oleh Rasulullah lebih dari 14 abad silam.

 

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng). (HR Bukhari)

 

Seorang pemuda yang takut sekali mendurhakai Rabbnya, takut sekali mendekati zina apalagi sampai tergelincir pada zina. Dia akan punya keberanian untuk menikah dibandingkan orang-orang yang tidak takut zina. Karena sungguh menikah itu lebih menjaga diri ini dari zina. Orang-orang yang takut zina akan menjaga dirinya dengan berpuasa, akan mempersiapkan diri sedini mungkin untuk segera menikah.

 

Tak perlu menunggu lulus kuliah untuk menikah, karena iblis pun tak menunggu sang pemuda lulus kuliah tuk menjerumuskannya kepada zina. Tak perlu punya kerja tetap dulu, yang penting tetap kerja dan punya penghasilan tuk nafkahi keluarga. Tak masalah belum punya rumah, bisa ngontrak dulu kan. Tak apa belum ada motor atau mobil, hei masih ada angkot dan bus kan. Atau jangan-jangan kita lebih takut nikah daripada takut zina?

 

Orang-orang yang takut pada Rabbnya, orang-orang yang takut melakukan dosa besar, bahkan orang-orang yang mempunyai cinta yang tulus akan lebih memilih menikah dibandingkan bergelimang dosa mendekati zina.

Untuk kaum perempuan di seluruh dunia, jika ada seorang pemuda menyatakan cinta tapi tak siap menikah atau menunda-nunda nikah, percayalah kalau kata-katanya dusta belaka.

Di buku Taman Orang-Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu terukir kisah mulia, diceritakan ada seorang laki-laki yang mencintai wanita, dan wanita itu pun membalas cintanya. Suatu saat keduanya bercengkerama. Sang wanita merayu dan membujuknya untuk bercumbu. Tapi laki-laki tersebut berkata, “Sesungguhnya ajalku tidak berada di tanganku, dan ajalmu juga tidak berada di tanganmu. Boleh jadi ajal kita sudah dekat, lalu kita bersua Allah dalam keadaan durhaka kepada-Nya.” Sang wanita pun menjawab, “Engkau benar.” Lalu keduanya memohon ampun dan akhirnya mereka berdua menikah.

 

Kawan, banyak sekali alasan mulia yang bisa membuat kita berani untuk menikah. Tak hanya takut zina atau takut mendurhakai Allah yang bisa memacu keberanian kita untuk menikah.  Simaklah kisah di buku yang sama, tentang pemuda yang tulus cintanya dan membuatnya memilih menikah dibandingkan zina. Padahal jika dia mau berzina, dia bisa mendapatkan perempuan yang dicintainya.

 

Abdul Malik bin Quraib menuturkan, ada seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis, dengan cinta yang amat mendalam. Maka dia mengirim utusan untuk melamarnya. Namun wanita itu menolak lamarannya dan justru ingin hanya berhubungan dengannya tanpa ikatan nikah.

 

Pemuda itu berkata, “Aku tidak membutuhkan kecuali yang dihalalkan Allah.” Kemudian pemuda itu benar-benar menyatakan cintanya agar ada cinta yang juga merasuk ke dalam hati wanita yang dicintainya. Sang wanita siap melayani apapun yang diinginkan pemuda. Namun pemuda itu berkata, “Tidak demi Allah, aku tidak membutuhkan orang yang kuajak kepada ketaatan, sementara dia mengajakku kepada kedurhakaan.”

Boleh jadi sebagian dari kita ada tipe pemuda yang tidak dikejar cinta. Hehehe. Bisa menjaga diri dari zina terus juga nggak sedang mencintai gadis pujaan hati. Maka cukuplah alasan kalau nikah itu sunnah Rasulullah yang membuatnya berani menikah.

 

“Menikahlah, karena sesungguhnya aku akan membangga-banggakan jumlah kalian kepada umat-umat lain pada hari Kiamat, dan janganlah kalian seperti para pendeta nasrani.”  (HR Baihaqi)

 

Menikah bukanlah tentang udah lulus kuliah atau belum, udah kerja atau belum, sudah punya motor atau rumah dan ukuran-ukuran duniawi lainnya. Menikah seharusnya tentang seberapa takut kita mendurhakai Allah, tentang cinta yang mengantarkan pada ketaatan, dan juga tentang seberapa taat kita Rasul-Nya.

Penulis: Agung D. Iswanto

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...