Menggali Hikmah dari Supir Taksi yang Terus Belajar

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Momen Islamic Book Fair 2015 yang digelar di Istora Senayan, Jakarta akhir Februari sampai awal Maret lalu menyimpan banyak cerita hikmah untukku.

Bukan, kali ini bukan dari penulis-penulis keren dengan segudang karya mereka yang menginspirasi banyak orang, aku mendapatkan hikmah. Namun malam Minggu itu, malam ketika aku dan dua orang teman sempat panik karena halte busway polda sudah gelap bus transjakarta hanya berhenti di halte bunderan Senayan, sedangkan jam sudah lewat menunjuk angka 10 sedangkan kami bertiga di tiga tempat yang berjauhan; Tanjung Priuk, Cakung dan Matraman. Fiyuhhhhh!

Keputusan pun harus dibuat. Keputusan yang sebenarnya biasa-biasa saja kalau dompet kalian penuh dengan lembaran merah Soekarno Hatta atau di ATM tersimpan tabungan 2 atau 3 digit. Hehehe.

Kami pun menggunakan jasa taksi dengan rute Jaksel (Senayan), lanjut ke Jakut (Priuk), lalu ke Cakung (Jaktim) untuk sampai kemudian berhenti di Jakpus (Matraman), lokasi terakhir adalah sekre Kammi, tempatku menginap selama di Jakarta. Rute keliling Jakarta yang benar-benar menguras kantong anak muda yang sedang berjuang jadi entrepreneur sepertiku. Eaaaa.

Malam Minggu justru teramat berkesan bukan karena jualan online buku yang kujalani ludes buat bayar taksi, tapi pak tua yang mengemudikan taksi itu menurutku unik dan spesial. Kalau dari segi penampilan biasa saja memang, pria baya dengan kulit sawo matang dan rambut yang memutih. Tubuhnya gemuk dengan perut seperti ibu hamil, wajahnya kusam tak beda dengan buruh bangunan atau tukang becak.

Untuk membunuh rasa bosan, aku mengobrol ngalor ngidul dengan pak tua ini. Dengan sedikit pengetahuan tentang taksi "E" yang mobilnya dikreditkan dan sopir taksi bisa memilikinya dalam 3 tahun --yang langsung dikoreksi bukan 3 tahun tapi 6 tahun oleh pak tua-- obrolan pun mengalir membelah jalanan tol dalam kota dari Senayan ke Tanjungpriuk.

"Udah berapa lama jadi supir taksi, Pak?" tanyaku akrab.

Aduh... Bodohnya aku, Kawan, aku lupa berapa tahun si pak tua ini menyambung hidup sebagai supir taksi. Karena justru cerita berikutnya dari pak tua ini yang kuingat sampai kapanpun.

Aku mungkin blak-blakan ketika bilang Pak tua ini wajahnya kusam seperti buruh bangunan atau pekerja kasar, namun alangkah kagetnya ketika aku tahu bahwa si Pak tua ini dulunya penarik becak di daerah Grogol, tak jauh dari kampus Trisakti itu, Kawan.

"Terus gimana ceritanya bisa jadi supir taksi, Pak?" tanyaku lagi.

Pak tua pun cerita panjang lebar. Saat pemda Jakarta mulai rajin-rajinnya menertibkan becak, dia lalu belajar jadi ke temannya yang supir bajai untuk mengendarai kendaraan roda tiga tersebut.

Rasa respek dan takjubku bertambah pada pak tua ini karena di saat dia alih profesi jadi supir bajai, dia pun belajar ke temannya yang supir taksi untuk belajar jadi supir taksi. Widihhhhhhh!

Aku yang ke mana-mana mengantung tas LPDP di punggung saja (yang sering dikira dapat beasiswa S3 di mana padahal aku belum kuliah) jadi sangat kagum pada supir taksi ini daripada sarjana yang sering mengeluh jika pekerjaan atau salary mereka tak sesuai dengan gelar yang didapat.

Tidak hanya sampai di situ, setelah berpetualang dari satu brand taksi ke brand taksi lainnya, pak tua ini pun menemukan taksi "E" yang mengkreditkan mobil untuk para supirnya, jadilah dia menjadi supir taksi "E" sampai sekarang.

Kawan, apakah kau melihat apa yang aku lihat dari pak tua ini?

Betapa sering kita mengutuk keadaan. Tak terhitung kita menghujat bahwa dunia ini tidak adil.  Tapi sudahkah kita hijrah dari keadaan yang menyulitkan ke titik yang lebih baik? Apakah kita telah belajar untuk mengupgrade alias meningkatkan kualitas diri kita? Sehingga diri ini lebih besar daripada masalah yang kita hadapi?

Kawan, pernah mengetikan nama lengkap kita di google? Kalo pernah setidaknya pasti muncul akun sosial media atau blog kita atau kalau kita menang lomba dan rajin nulis di media, di halaman pertama google akan muncul daftar tulisan kita di media dan berbagai lomba yang kita menangkan.

Sampai akhir aku tak tahu siapa nama pak tua itu, aku bahkan tak yakin dia punya sosial media dan eksis seperti kita di sosial media.

Aku belajar mental pantang menyerah dari pak tua itu, Kawan. Tak peduli keadaan memburuk atau berubah menyakitkan, kita selalu bisa meningkatkan kualitas diri dan melewati kondisi menyakitkan itu.

Teladan atau hikmah yang kudapat dari pak tua ini di malam minggu itu, dengan belajar, dengan meningkatkan kualitas diri, kita selalu bisa lebih besar dari masalah kita.

Jam 11an malam akhirnya aku sampai ke sekre Kammi pusat di Matraman. Biaya tol dan ongkos taksi dari Senayan sampai Matraman ini menguras banyak keuntungan jualan buku.

Its okay, hari ini buat naik taksi saja terasa berat buat bayar ongkosnya.

Kawan, tapi aku percaya, segala yang kulakukan untuk belajar meningkatkan kualitas diri hari ini, akan membuatku lebih besar dari masalah yang terasa berat hari ini. :-)

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...