Merah di Hattin

Fashion-Styles-for-Girls-Online



Penulis: Saran Annisa

 


Damaskus, 580 H/ 1184-1185 M

Dari balik jendela karavan Fatimah memandang hamparan Hijaz dengan gelisah. Sejauh mata memandang bermandikan cahaya matahari. Musim panas yang ekstrem membuat peluhnya merembes  hingga ke niqab (kain penutup wajah pada cadar). Roda-roda karavan yang berputar ditarik unta bergesekkan dengan jalanan mengepulkan debu yang khas. Debu daerah Timur Tengah  di mana-mana sama. Debu di Damaskus ini sama dengan debu di Mesir, mengingatkannya akan rumahnya, anak-anaknya….

“Ada apa?” tanya suaminya, Mahmoud, yang menunggangi kuda di sisi jendela karavannya.

Fatimah menggeleng. Entah mengapa sedari tadi ia merasa tak tenang. Ada sebuah perasaan takut tak terjemahkan dalam benaknya. Apakah ini efek karena ia terlalu jauh dari rumah dan anak-anaknya? Rasanya tidak juga. Fatimah sudah lama memimpikan perjalanan ini dalam tiap sujudnya. Mendekapnya dalam doa agar suatu saat kelak Allah Azza Wa Jalla memberikan kesempatan baginya untuk berhaji bersama suaminya Mahmoud yang juga belum pernah naik haji. Dan di sini lah mereka, berada dalam rombongan haji dengan karavan, unta dan kuda. Memenuhi panggilan-Nya untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, setidaknya sekali seumur hidup mereka.

Lantas, apakah yang membuatnya gelisah? Bayang-bayang Benteng Karak yang menjulang angkuh dan mengawasi mereka kah? Rasa waswas menguasai Fatimah. Selama berabad-abad sudah menjadi berita umum bahwa rute perjalanan menuju Hijaz selalu terancam oleh para perampok Badui. Kini bukan hanya para perampok Badui, tirani Benteng Karak membuat kaum Muslim yang melintasi rute ini terus-menerus khawatir. Setiap rombongan haji yang melewati rute ini terpaksa membayar sejumlah upeti dan membuat perjanjian dengan kaum Frank di Karak yang pemimpinnya terkenal sangat anti pada Islam, Reynald dari Chatillon atau Reynald de Chatillon, lebih dikenal dengan nama Arnat bagi kaum Muslim.

“Aku takut, entahlah…aku merasa perjalanan ini begitu berat.”

Mahmoud tersenyum, “Semuanya akan baik-baik saja. Memang inilah perjalanan menuju haji. Berat, susah, meninggalkan seluruh kelezatan dunia… untuk sebuah ibadah yang agung. Inilah mengapa perjalanan ini terasa berat.”

Ada sedikit ketenangan menelusup batin Fatimah ketika mendengar kata-kata suaminya. Khayalan mengelilingi Ka’bah, berlari antara Shofa dan Marwah, wukuf di Arafah serta mencium Hajar Aswad bercampur dengan hasratnya yang menggelegak untuk mencapai Mekkah Al-Mukarammah.

“Labaikallahumalabaik…,” gumam Fatimah berkali-kali.

Srak!

Satu suara menyentak Fatimah. Segera ia buka tirai jendela karavan mencari asal suara.

“Allahuma!” Fatimah menjerit histeris. Mahmoud yang menunggang kuda menatapnya penuh harap, mulutnya berlumuran darah, sebuah panah menancap di dadanya…

“Fatimah, la…ri….” kata Mahmoud untuk terakhir kali sebelum matanya terkatup untuk selamanya.

Srak! Srak! Srak!

“Penyerangan! Kita diserang!”

Puluhan panah lainnya melesat secepat kilat, menghujam para penunggang kuda dalam rombongan mereka. Darah segar terburai berhamburan membasahi pasir yang panas. Unta-unta dan rombongan kocar-kacir berlarian menghindar serangan panah. Wanita dan anak-anak menjerit membahana. Karavan Fatimah roboh hingga terbalik ke tanah, tanpa pikir panjang Fatimah mendobrak pintunya sekuat tenaga dan berlari menyelamatkan diri. Bayangan Ka’bah dan Mahmoud terus berkelebat bergantian di antara deru napasnya. Karavan-karavan terbakar sudah. Seluruh muatan mereka telah habis dirampas. Kini Fatimah mengerti makna ketakutannya tanpa sebab tadi. Sebuah firasat yang mengisyaratkan adanya bahaya tatkala rombongannya berjalan semakin dekat melewati Benteng Karak yang penuh dosa dan kekejian. Oh, siapakah yang melakukan kekejaman ini? Demi Allah, mereka sedang berangkat untuk haji!

Fatimah terus berlari dan berlari tanpa menoleh lagi di bawah sinar matahari yang menyengat. Tubuhnya semakin lama semakin lemah kehabisan tenaga, penglihatannya semakin kabur dalam gradasi siang, dan semuanya menjadi benar-benar gelap….

Bruk! Fatimah tak sadarkan diri.

Rasanya seperti terperangkap dalam mimpi buruk yang sangat lama hingga akhirnya Fatimah terbangun dengan kepala sakit luar biasa, lalu mendapati dirinya berada di tengah-tengah sekumpulan orang dalam sebuah tempat seperti sel penjara yang pengap dan sempit. Fatimah mengamati wajah-wajah di sekelilingnya, wajah-wajah itu… amat ia kenal. Mereka adalah orang-orang dalam rombongannya. Lalu dimana Mah… ah, hati Fatimah seakan tersayat belati. Mahmoud telah tiada. Mahmoud terbunuh.

“Siapa yang melakukan ini semua?!” teriak Fatimah tak kuasa menahan emosinya. Tangisnya pecah. Tangis pertamanya yang jatuh setelah melihat Mahmoud meregang ajal.

Seorang ibu setengah baya langsung memeluk menenangkan Fatimah, “Ssst! Sudah, tenanglah… kaum Frank yang melakukan ini semua, kemudian menahan kita di sini. Mereka melanggar perjanjian. Allah mengutuk mereka dalam jahannam. Sudah, tenanglah… kita semua sedang menunggu giliran untuk disiksa… atau mati, ” terang ibu setengah baya itu sambil ikut menangis. Anaknya yang masih kecil terpanah dalam karavan.

“Aku tak mau mati di tangan orang kafir!” seru seorang lelaki tua dengan marah. Berpuluh tahun ia simpan angannya untuk naik haji namun ia justru terdampar di penjara bawah tanah yang busuk ini sebagai pesakitan menunggu hukuman mati.

Fatimah melepaskan pelukan ibu setengah baya di sampingnya. Rahangnya mengeras, matanya berkilat-kilat menyiratkan marah. Setan-setan itu! Pengkhianat! Mereka melanggar perjanjian padahal kaum Muslim sudah membayar upeti. Tak hanya itu, mereka telah melanggar perjanjian damai antara Shalahuddin Al-Ayubi yang adil dan Baldwin IV, raja mereka sendiri! Perbuatan keji ini, menyerang dan menawan kaum Muslim tak bersenjata yang hendak pergi haji… siapa lagi yang lebih tega melakukannya selain Reynald de Chatillon? Fatimah bersumpah dalam hati tak akan pernah melupakan wajah Mahmoud ketika sedang sakaratul maut di atas kudanya. Fatimah tahu sekali, mati syahid adalah hal yang paling diinginkan Mahmoud lebih dari apapun. Lebih dari hidup bersama selamanya dengan dirinya. Tak lama lagi kita akan kembali bersama, Suamiku. Insya Allah, Insya Allah.

“Jika kita mati di sini, mati di tangan mereka, kita ini syahid. Bukankah kita sedang dalam perjalanan haji? Ingat?” sahut Fatimah dengan dingin seolah sedang bicara pada dirinya sendiri. Membuat semua orang di sel yang mendengarnya langsung berhenti dari sedu sedan. Beramai-ramai mereka menggemakan kalimat takbir.

“Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!”

Tiba-tiba terdengar sebuah langkah kaki yang berat masuk dan membuat mereka berhenti bertakbir. Fatimah menegakkan tubuhnya berjaga-jaga. Lalu muncul lah seorang lelaki tambun berambut pirang yang kusut masai dan jubah putih bergambar tanda salib merah.

“Kalian tahu siapa aku?” tanya lelaki itu sambil menampakkan seringainya yang bengis. Suaranya menggema di dinding-dinding penjara yang tebal. Tak ada yang menjawab. Membuat Reynald de Chatillon merasa di atas angin, meresapi tiap butiran ketakutan dari tawanannya.

“Kalian tahu siapa aku?” ulangnya sambil tertawa puas.

“Ya, aku tahu siapa kau!” sahut Fatimah setengah membentak. Semua mata langsung mengarah padanya. Tanpa basa-basi, Reynald langsung merengsek maju menghampiri Fatimah dengan jumawa. Wajah Fatimah terus terangkat, tak sedikit pun merasa gentar. Jarak mereka kini hanya sedepa, hanya dibatasi selapis jeruji besi.

“Kalau begitu siapa aku, Nona?” tantang Reynald de Chatillon dengan mata menggoda.

“Kau!” Fatimah berusaha menahan dirinya, tangannya mencengkram jeruji besi kuat-kuat, “Kau Arnat, penguasa Karak sekaligus pemimpin di neraka! Kau tak pantas mengenakan jubah Tentara Salib! Pengkhianat! Kau hanyalah seekor tikus pengacau!”

Reynald de Chatillon tersenyum sadis, “Kau tahu banyak tentangku, Nona. Apakah aku seterkenal itu hingga Mesir? Hahaha. Baiklah, jika aku memang pemimpin di neraka, beritahu Muhammad agar membebaskanmu. Dia sudah mati bukan? Tetapi jika dia memang seorang nabi, mengapa dia tak bisa menyelamatkan kalian semua?”
Mendengar nama Rasulullah SAW dihina sedemikian rupa membuat Fatimah dan seluruh tahanan naik pitam. Dengan marah mereka menghantam-hantam jeruji besi, menendang-nendang dengan kalap sambil mencaci maki Reynald, riuh meronta mendobrak ingin keluar dari jeruji besi dan menghabisi nyawa orang terkutuk itu. Sementara Reynald de Chatillon terus tertawa dan berlalu dengan riang. Kepada penjaga penjara dia berhenti sesaat lalu dengan tenang memerintahkan sesuatu.

“Cambuk mereka semua. Kecuali wanita tadi…penggal dia!”

***

“Kau sudah gila, Reynald” ujar Guy de Lusignan sambil tertawa. Wajahnya merah padam karena kebanyakan minum anggur.

“Hahaha! Dan akhirnya mereka kulepas tanpa perbekalan apa-apa di gurun pasir yang panas! Kusuruh mereka naik haji dengan pakaian compang-camping seperti itu. Pasti mereka sudah mati kehausan sekarang sebelum sampai Mekkah!” timpal Reynald yang keadaannya tak jauh beda dengan Guy. Sebentar lagi ia akan mabuk berat.

“Adakah yang memberontak?” tanya Guy ingin tahu. Sungguh naif kaum Muslim itu, pikirnya geli. Berpergian jauh tanpa senjata sama saja bunuh diri dan naik haji sungguh ibadah yang aneh dan menyusahkan.

“Tentu saja tidak ada yang berani padaku. Hahaha!” Reynald menghentikan tawanya, teringat sesuatu, “Ada satu orang wanita…sudah kupenggal dia. Kukatakan padanya untuk mengadu saja pada Muhammad! Hahaha!”

Reynald terus tertawa sementara Guy terkesiap. Tawanya buyar, ia tercenung lama. Dihempaskannya gelas anggur ke meja.

“Apa kau tahu siapa yang akan kau hadapi, Reynald?” tanya Guy dengan nada serius. Pertanyaan yang dilontarkan mulutnya membuat benaknya sendiri merinding.

“Aku tahu! Saladdin! Menyebut namanya saja membuat seluruh kaum Frank bergetar…lalu kenapa?! Apa kau takut padanya, Guy?!” tantang Reynald dengan mulut penuh busa. Nafsunya yang meletup-letup untuk menyerang dan menghancurkan Hijaz, Kota Suci Mekkah dan Madinah membuat akal sehatnya semakin tumpul.
Guy berdiri tegak sambil wajahnya tegang. Ia menggeleng kuat-kuat, “Tidak, bukan Saladdin. Kau telah menghina nabi mereka, Muhammad.”

Reynald mengibaskan tangannya, “Aku tak peduli.”

“Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Reynald. Kau berhadapan dengan Muhammad, manusia paling berpengaruh, yang umatnya rela membunuh dan mati untuknya,” kata Guy dengan penuh penekanan sambil berlalu.

Ribuan kilometer dari Benteng Karak dimana Reynald de Chatillon dan Guy de Lusignan mabuk-mabukkan, seorang pemimpin mengibaskan jubahnya dan bangkit dari duduknya dengan penuh amarah. Sosoknya yang perkasa dan penuh wibawa berdiri tegak dengan tatapan mata setajam elang. Tatapan mata yang selalu ia tampakkan tatkala menebas leher-leher musuh Allah. Keberanian dan kehebatannya di medan perang telah tersohor ke seluruh dunia. Sejarah emas kepemimpinannya selalu membuat segan seluruh lawan dan kawannya. Sedikit kemarahannya dapat membuat ciut nyali seluruh musuhnya. Kaum Frank menyebutnya The Great Saladdin.

Shalahuddin mengangkat tangannya, memandangi kedua tangannya yang sudah tak terhitung lagi berapa kali menghunus pedang. Tangan kiri dan kanan dengan buku-buku jari yang kuat itu perlahan mengepal, seiring hatinya yang sakit tersayat. Shalahuddin telah mengetahui segalanya. Penyerangan yang dilakukan si Pengacau Reynald de Chatillon dan Guy de Lusignan pada kaum Muslim yang hendak pergi haji ketika melewati rute utama Damaskus, kemudian menawan dan menyiksa mereka. Setelah puas menyiksa, mereka dilepaskan begitu saja di gurun pasir yang ganas. Beberapa pasukan Shalahuddin berpapasan dengan para tawanan yang tersisa sedang berjalan terkatung-katung dan beberapa di antara mereka sudah mati kehausan. Sekali lagi Reynald de Chatillon melanggar perjanjian penting. Membuatnya reputasinya begitu buruk bagi pihak Tentara Salib maupun kaum Muslim. Ia seperti seekor babi buta yang menyeruduk tanpa tahu resiko fatal apa yang akan ia timbulkan. Dan di atas semua itu, ia telah menghina Rasulullah SAW sehingga Shalahuddin telah memutuskan tak ada hukuman yang pantas bagi manusia kafir dan kejam itu selain tebasan kepalanya sendiri.

“Dimana rombongan haji itu sekarang? Pulangkan mereka semua yang tersisa ke Mesir dan Suriah!” perintah Shalahuddin dengan tegas.

“Wahai Tuanku Shalahuddin, mereka tidak mau pulang,” jawab Imaduddin, orang kepercayaan sekaligus sejarahwan Shalahuddin.

“Tidak mau pulang?”

“Mereka meminta perbekalan yang cukup dan pengawalan. Mereka tetap ingin pergi haji, Tuanku.”

Tanpa sadar setetes air mata turun mengaliri pipi Shalahuddin. Betapapun perkasanya ia di hadapan musuhnya, Shalahuddin tetaplah pria yang memiliki hati selembut kapas. Hatinya terenyuh mendengar perjuangan kaum Muslim Mesir dan Suriah itu untuk tetap naik haji. Semua itu pasti didorong oleh cinta yang kuat pada Illahi dan kerinduan teramat sangat pada Tanah Suci.

“Semoga Allah SWT melindungi mereka di mana pun mereka berada,” kata Shalahuddin sambil menutup wajahnya, kemudian mengangkat kedua tangannya menunjuk angkasa, “Dengarkan ini, Imaduddin! Allah Yang Maha Tinggi menjadi saksi. Aku bersumpah bila Allah Yang Maha Kuasa memberiku kemenangan atas Reynald de Chatillon, akan kubunuh dia dengan tanganku sendiri. Akan kubalaskan penghinaannya atas Rasulullah SAW!”
Imaduddin membungkuk hormat, “Allahumashali ala Muhammad!”

Jauh di Yerussalem, seorang raja yang tubuhnya lemah karena lepra menunduk dalam-dalam. Merutuki kebodohan salah satu baron (raja kecil) nya Reynald de Chatillon dan adik iparnya Guy de Lusignan. Raja Baldwin IV serta merta berdiri. Ia harus menyiapkan pasukan bertahan sekarang.

***

Hattin, 4 Juli 1187

Bulan Juli adalah puncak musim panas. Tanda-tanda kekalahan Tentara Salib sudah jelas terbaca sejak awal. Pasukan Tentara Salib yang kehausan tak juga menemukan mata air, ditambah lagi kuda-kuda yang menolak untuk minum sebelum berangkat ke medan pertempuran. Semua tidak terjadi secara kebetulan. Keadaan semakin diperparah dengan kayu yang sengaja dibakar hingga menimbulkan asap membumbung, membuat mata para Tentara Salib berair dan semakin tersiksa kehausan. Kesalahan fatal mereka mendekati sumber air di Bukit Hattin tak disia-siakan oleh Shalahuddin, Panglima Taqyuddin dan Muzafaruddin Gokbori untuk mengepung dan menyerang mereka dengan mudah dan memperoleh kemenangan telak. Allah dan hamparan Bukit Hattin menjadi saksi.

Petang akhirnya datang, tatkala segala pertempuran di atas Hattin telah usai.  Shalahuddin menyandarkan tubuhnya yang teramat lelah di peraduan dalam tenda perkemahannya.

“Alhamdulillah… Alhamdulillah… Allahu akbar!”

Syukur segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam tak putus-putus mengalir dari bibir Shalahuddin dan seluruh pasukan kaum Muslim yang bersamanya. Hari ini pasti telah ditetapkan atas kuasa-Nya, dunia akan mencatatnya, dan kaum Muslim akan terus mengenangnya. Ternyata telah digariskan harus disini, di Hattin ini, di antara pusat-pusat kekuatan Tentara Salib yang terbesar, Tiberias dan Acre.

Shalahuddin tersenyum penuh kemenangan pada dua orang laknat di hadapannya. Ekspresi wajah Shalahuddin menyiratkan kelegaan dan bahagia luar biasa. Akhirnya hari ini datang jua, memutus segala hasratnya dalam penantian selama tiga tahun terakhir akan terjadinya hari ini. Hari di mana Allah mempertemukan dirinya dengan musuh-Nya, Reynald de Chatillon dan Guy de Lusignan yang telah menjadi Raja Yerussalem. Begitu juga tokoh-tokoh petinggi Tentara Salib seperti Geoffrey de Lusignan, Marquis Guglielmo del Monferrato, Humprey II de Toron, Gerard de Ridefort, uskup Liddle dan baron-baron lainnya berhasil takluk dalam tawanannya. Tokoh-tokoh tersebut dibawa ke tenda perkemahan Shalahuddin.

Shalahuddin memandangi satu-persatu tokoh perkasa yang kini tak berdaya di hadapannya. Wajah mereka begitu pasrah menanti ajal mereka masing-masing di ujung pedang Shalahuddin. Guy, Gerard de Ridefot…dan pandangannya terhenti pada Reynald de Chatillon, manusia terkutuk yang masih saja berani mengangkat wajahnya. Tak ada yang tahu, darah Shalahuddin terasa begitu mendidih melihat Reynald. Shalahuddin tak akan pernah lupa malam-malam di mana ia melangitkan doa di sela-sela tangis kerinduannya yang mendalam pada Rasulullah SAW yang agung. Doa dalam gelegak dendam, memohon dengan sangat pada Allah Yang Maha Kuasa untuk memberikan kuasa padanya agar dapat membunuh mahluk yang begitu jahatnya menghina Rasulullah SAW. Kini Shalahuddin merasa inilah saatnya. Ajal Reynald sudah dekat. Gerbang neraka sudah terbuka lebar menantinya. Sekarang tinggal bagaimana mengakhiri dan membalaskan dendam ini, tekad Shalahuddin dalam hati.

Gurat kehausan yang mencekik di wajah Guy mendorong Shalahuddin bermurah hati menawarkan segelas air dingin. Kejahatan musuhnya tak lantas membuat Shalahuddin gelap mata pada kemanusiaan. Selain itu, menurut pertimbangan Shalahuddin, Guy bukanlah penyulut utama seluruh aksi yang merugikan kaum Muslim sipil. Sementara itu raut muka Guy yang tegang langsung mengendur seketika saat Shalahuddin mengulurkan gelas air dingin itu. Dalam adat Arab, tawanan yang menerima minuman atau makanan dari orang yang menawannya artinya sudah dijamin tak akan disakiti. Guy segera menerima gelas air dingin itu tanpa sungkan. Menenggaknya dalam-dalam, namun disisakan sedikit untuk sahabat seperjuangannya, Reynald. Sebuah perbuatan setia kawan yang berakibat sangat fatal.

Tanpa pikir panjang Reynald langsung menyambar gelas air dingin itu dan menggaknya hingga habis. Menyaksikan itu semua, kontan air muka Shalahuddin berubah marah.

“Kau!” tunjuk Shalahuddin persis di depan batang hidung Guy, lalu melirik tajam pada Reynald yang masih bertahan dengan sikap angkuhnya.

“Orang terkutuk ini minum tanpa seizinku dan karena itu ia tidak termasuk dalam perlindunganku!” bentak Shalahuddin dengan penuh angkara murka.

Dengan sombong Reynald menyeringai meremehkan kata-kata Shalahuddin dan berkata pada seluruh hadirin, “Raja-raja selalu bertindak demikian. Padahal aku tidak melakukan apa-apa lagi.”

Shalahuddin muntab. Tanpa berkata-kata lagi ia langsung mencekram Reynald, menyeretnya keluar tenda dan menghempaskannya hingga berlutut ke tanah. Shalahuddin mengeluarkan pedang di punggungnya dengan cepat hingga menimbulkan bunyi desingan pedang. Tangan kiri Shalahuddin menjenggut rambut Reynald dengan kuat, menengadahkan kepalanya sementara tangan kanannya kini sudah mengayun ke udara, sebentar lagi mengayun ke leher Reynald dan menebasnya hingga putus.

“Kau! Kau tak pantas bicara padaku! Aku tahu semua yang kau lakukan! Usahamu untuk menyerang Mekkah dan Madinah, penyerangan kapal umat kami, membantai orang-orang yang hendak pergi haji, melanggar semua perjanjian… laknat Allah bersamamu!”

Reynald tak sanggup berkata-kata apa lagi. Matanya tak kuasa memandang sorot mata Shalahuddin yang setajam elang dan penuh kebencian padanya. Pedang di tangan Shalahuddin berkilat-kilat udara menimbulkan kengerian teramat sangat.

“Dan di atas itu semua, kau menghina Rasulullah SAW! Kau menyakiti hatiku! Kau menyakiti hati seluruh kaum Muslim! Aku! Aku orang yang akan melakukan pembalasan untuk Muhammad padamu!”

Trang!

Pedang Shalahuddin jatuh bersamaan dengan jatuhnya kepala Reynald. Membawa rohnya dengan cepat ke neraka yang menyala-nyala. Seonggok kepala itu menggelinding begitu saja. Shalahuddin menyentuhkan jarinya ke tetesan darah merah yang mengalir dari tubuh Reynald yang ambruk lalu tetesan darah itu ia lumuri sedikit ke wajah sebagai tanda dendam yang terbalas. Guy de Lusignan dan tawanan lainnya gemetaran menyaksikan itu semua. Wajah mereka pucat pasi, tubuh mereka membeku di tempat karena begitu terkejutnya. Mereka sungguh takut akan menjadi sasaran tebasan pedang Shalahuddin selanjutnya.

Shalahuddin berbalik dan menghampiri Guy. Guy sudah sangat pasrah jika hari ini menjadi hari kematiannya. Tanpa disangka-sangka, Shalahuddin memasukkan pedangnya kembali ke sarung lalu tangannya.

“Kehormatan telah ditegakkan. Seorang raja tidak akan membunuh raja. Aku yakinkan kalian semua aman, kecuali dia !” seru Shalahuddin menunjuk kepala Reynald yang kini digantung di atas sebuah tombak yang terpancang, “Dia adalah seorang pengkhianat! Orang paling kafir di antara orang-orang kafir!”

Langit sore semakin memerah di Hattin. Semerah pembalasan dendam dan darah yang mengucur dari pertempuran sepanjang hari itu. Hari mulai tertutup sempurna ketika Shalahuddin menyingkirkan pedangnya, terduduk dan bersujud khidmat. Ya Allah, limpahkanlah keagungan, rahmat dan kesejahteraan selama-lamanya kepada Rasulullah SAW, keluarganya dan para sahabat. Selamanya.

Selesai.

 

*Catatan: kisah ini adalah interpretasi dari berbagai sumber kisah Perang Salib dalam sudut pandang Islam.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...