Metamorfosis

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis: Yanti Sipayung

Al-Jihad semakin perkasa. Setelah beberapa kali dipugar, kini masjid itu menjadi bangunan yang paling gagah berdiri di antara bangunan yang mengelilinginya. Warna hijau muda yang mendominasi tembok-temboknya bisa menyegarkan pandangan yang kering. Beberapa tumbuhan yang sengaja ditanami dan dibonsai rapi mampu menyejukkan jiwa yang rusuh. Ada lagi, di masjid yang sekarang telah dilengkapi dengan lapangan badminton itu, para remaja, orangtua, atau siapapun yang minus aktivitas bisa menyinggahkan dirinya untuk mengembangkan bakat atau berlatih di sana. Maka tak heran, Masjid Al-Jihad beberapa hari terakhir meraup pengunjung dan jamaah yang tak terkira banyaknya.

Ini sedikit merepotkan aku dan ketiga temanku yang di masjid. Kami yang telah hampir dua tahun ditugasi membersihkan Al-Jihad, sepulang atau sebelum kuliah bergantian terus memantau kebersihan pekarangan masjid. Demi keprofesionalan menjalankan tugas sebagai marbot, aku dan Dodi rela menggeser waktu kuliah di sore hari, sedang Ali kuliah di malam hari dan Hans tetap di jamnya yang lama, kuliah pagi. Selain bertujuan mulia agar masjid tetap bersih, tentunya ada maksud lain yang mewajibkan kami untuk tetap bertugas sebaik-baiknya mengurusi masjid, yaitu menjaga agar BKM tetap memakai kami dan tidak memecat apalagi mengusir kami untuk menginap di kamar khusus marbot. Biaya indekos sangat mahal, sehingga jika ada ruangan masjid yang bisa kami gunakan untuk tempat tinggal, sungguh sangat baik karena membantu meringankan biaya bulanan yang harus dikirimi orang tua.

Malam hari pun Al-Jihad masih ramai pengunjung. Ada sekitar lima belasan muda-mudi yang selalu singgah. Setelah tilawah beberapa ayat, mereka membicarakan banyak hal, dari yang berkenaan dengan urusan remaja masjid hingga masalah yang mereka temukan sehari-hari.

Menjadikan masjid sebagai tempat yang paling disenangi, ini memang bagian dari program baru Remaja Masji Al-Jihad, sehingga masjid yang biasanya hanya ramai pada hari Jumat siang, di bulan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, tetap menjadi tempat favorit bagi remaja yang pada umumnya kurang tertarik untuk menyapa rumah peribadatannya sendiri.

Al-Jihad yang manis. Ya, di masjid itulah untuk pertama kalinya aku bertemu dia dalam wiridan rutin yang diadakan setiap Jumat malam. Dengan t-shirt lengan pendek, bercelana jeans panjang dan hanya menumpangkan selendang tipis di kepalanya, ia tiba di majid tanpa merasa sungkan. Ini sungguh membuat kami; aku, Dodi, Ali, dan Hans, risih melihatnya.

“Siapa, Ki?” Ali bertanya kepada Kiki seraya mengerlingkan matanya ke arah gadis itu.

Kiki, pemangku jabatan sekretaris Remaja Masjid Al-Jihad sekaligus teman sekampusku, meneliti keganjilan dengan tatapan kami.

“Namanya Ruri. Tetangga baru di depan rumahku. Dia baru masuk kuliah. Aku yang ajak dia. Sepertinya dia bisa menjadi perangkat-perangkat yang nantinya mampu membantu kita mengembangkan Remaja Masjid yang masih sepi peminat dan kegiatan.” Kiki memperkenalkan teman barunya yang tengah duduk di sudut ruangan.

“Tapi … kok gaya teman baru kamu itu kayak gitu, Ki?” Dodi yang terlihat paling tidak senang dengan penampilan Ruri memajukan bibirnya. “Udah tau mau ke masjid, mau Yasinan, takhtim, tahlilan, bukannya pakai baju yang sopan, tertutup, pake jilbab gitu.”

Aku dan teman-teman setempat tinggalku tertawa berjamaah.

“Cukup sopanlah, Dod, untuk ukuran wanita zaman sekarang. Untung aja dia nggak pake … apa tuh namanya baju tali satu. Hahaha…” Hans menimpali disambut senyam senyum kami yang mendengarnya.

“Jangan menganggap rendah begitu,” sergah Kiki. Mungkin dia tidak senang temannya itu ditertawakan. “Gimana dengan si Eva, anggota kita dulu? Idola kalian para cowok. Berjilbab ke mana-mana. Tapi begitu dapet jodoh, nikah, kok malah berubah drastis. Sekarang ke mana-mana pake celana pendek. Siapa sangka dia bisa seperti itu sekarang.”

Kami menutup tawa yang terbit sedari tadi. Ada sedikit malu di hati. Benar kata Kiki, wanita yang pernah kami besar-besarkan caranya berpenampilan dulu dan pernah kami nobatkan sebagai contoh berpakaian muslimah bagi anggota-anggota junior ternyata bisa menyeleweng jauh sekarang.

“Jangan sok. Boleh jadi di mata kita memang kurang baik, tapi di mata Allah siapa tau. Boleh jadi dia sekarang seperti itu, siapa tau nantinya malah dia yang lebih baik daripada kita.” Kiki berucap kesal dan meninggalkan kami untuk kemudian bergabung bersama kaum perempuan di tempatnya.

 

Prediksi Kiki tentang kemampuan Ruri tak salah. Perempuan yang baru tiga bulan ini bergabung dengan kami menjadi anggota Remaja Masjid Al-Jihad, telah menampakkan kebisaannya di segala bidang. Selain aktif, ide-idenya cukup unik dan brilian, cara kerjanya untuk mewujudkan setiap program yang diembankan kepadanya sangat fantastis. Ini tentunya membuat kami mendecak kagum akan kepiawaian orang baru yang kerap kami gunjingkan cara berpenampilannya itu.

“Saya biasa aktif dari SMP dulu. Sampe sekarang udah jadi mahasiswa tetap nggak bisa diam. Jadi setiap organisasi yang bertujuan baik dan tidak menyimpang selalu saya ikuti. Makanya saya nggak canggung lagi waktu diajakin Kak Kiki gabung di RM sini, walaupun masuk ke organisasi keagamaan memang baru kali ini.”

Ruri bercerita banyak ketika kutanyakan perihal kepiawaiannya saat rehat dalam kesibukan menyusun buku-buku di rak-rak yang telah dibersihkan. Membuat perpustakaan Masjid. Ini juga ide Ruri. Ia bersedia berjibaku memelas sumbangan dan mencari pendonor buku untuk melengkapi perpustakaan yang akan menjadi salah satu fasilitas Masjid Al-Jihad.

“Oh, ya. Nggak apa kan, Kak, kalau saya tetap pakai jeans gini? Emang saya dari dulunya nggak punya rok. Baju juga adanya yang kayak gini doang, koleksinya t-shirt gombor semua.” Ruri seolah-olah membaca isi hatiku.

“Tapi kalau dibandingkan dengan pakaian-pakaian orang yang berjilbab tapi nggak sempurna, menurut saya lebih baik saya lho, Kak.”

Kukernyitkan alis meminta penjelasan dari pernyataannya itu.

“Lihat deh, Kak di luar sana, banyak perempuan yang berkerudung, tapi pake baju dan celana ketat, bentuk-bentuk tubuhnya membayang semua. Apalagi kaum pria kan suka tergoda sama … maaf… sekitar dada dan paha.” Ruri tertawa lepas. “Saya tau itu karena saya lebih banyak bergaul dengan laki-laki daripada perempuan. Makanya saya selalu pakai baju-baju dan jeans gombrong gini, Kak. Selain nyaman, juga tidak memancing pandangan kaum Adam.”

Aku menahan senyum. Sepertinya apa yang baru saja dia katakan ada benarnya.

“Tapi kalau berjilbab dengan jilbab yang sebenarnya itu lebih baik daripada sekarang.” Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku.

“Ya, Kak, insya Allah. Saya akan berusaha.” Pandangannya lari ke luar jendela. “Sementara ini mungkin saya belum bisa sesempurna teman-teman di sini. Saya masih sedang belajar. Saya ingin melaksanakan semua kewajiban sebagai Muslimah dengan didasari penguasaan tentang pengetahuan kewajiban dan larangan itu sendiri. Jadi ketika telah memahami detail setiap perintah Allah, termasuk hikmah-hikmahnya, saya yakin tidak akan ada kebimbangan dan rasa malas untuk melaksanakan segala kewajiban kita. Sebaliknya, semangat untuk tetap beribadah akan tetap tertanam di hati kita.” 

Tak kenal maka tak sayang. Kiranya ungkapan itu benar adanya. Semakin mengenal kepribadian gadis itu, kian tipis pula kekurangannya yang selama ini kami besar-besarkan.

“Saya tau, dari cara kalian memandang saya, kalian tidak begitu senang kan melihat saya?” Ruri mungkin menangkap satu adegan dimana Dodi dan Hans saling mengangkat alis begitu melihatnya sibuk memberi kode buku-buku sumbangan.

“Kalau Kakak-Kakak ada waktu dan mau mendengarkan saya bercerita, mungkin…”

“Saya sedang tak sibuk,” aku menyela.

Dodi dan Hans saling berpandangan, tak percaya mereka mendengar jawabanku.

“Kami semua sedang tidak ada tugas kok. Silakan bercerita, kami sangat senang hati mendengarnya.” Aku menambahkan.

Ada baiknya kita tau, Ri. Barangkali ada hikmah yang bisa kami ambil dari apa yang kamu ceritakan.” Kiki menyetujui.

Dimulai dengan senyum getir, Ruri menguraikan kisah hidupnya. Ada setangkup iba dan kekaguman begitu mengetahui lika-liku hidupnya. Ruri anak ketiga dari pasangan suami istri yang bergelimang kemewahan. Ayah dan ibunya berstatus pengusaha sukses yang berangkat dari usahawan mikro. Karena kesibukan yang semakin dari hari ke hari, orangtuanya lalai akan tugas dan tanggung jawab utama mereka untuk membesarkan dan mendidik anak-anak mereka. Ruri dan kedua kakaknya besar dan dewasa sendiri. Mereka hidup semau mereka tanpa arahan dan didikan dari orangtua. Etika, sopan santun, akhlak dan semua ilmu agama tiada mereka dapatkan sehingga otomatis menjadikan mereka remaja-remaja tak terarah dan lepas kendali. Beruntung Ruri berjalan tak sejauh kedua kakaknya. Ruri masih bisa berpikir logis di usianya yang belia. Tak mengikuti kebiasaan Radith dan Ratih, dua kakaknya yang menjadi budak narkoba dan telah terpasung dalam istiadat seks bebas.

Astaghfirullah… desisku dalam hati.

“Ayah dan Ibu akhirnya bercerai akibat saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Sementara Kak Radith dan Kak Ratih hidup bergelimang dosa karena kecanduan barang dan perilaku haram.”

Ruri memandangi kami silih berganti.

“Saya tak pernah mendapatkan pelajaran agama, termasuk kewajiban dan larangan bagi seorang wanita Muslim. Maka ketika Kiki mengajak saya bergabung dengan remaja masjid ini, saya sangat bersemangat. Mungkin ini adalah petunjuk dari Allah, lewat wadah ini, saya bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan bagaimana harusnya hidup dan berperilaku sesuai dengan agama yang saya anut.”

Dodi dan Hans terpaku dalam bisu.

“Untuk itu, Kakak-Kakak sekalian. Saya mohon kesediaan kalian mengajari, membimbing dan membantu menuntun saya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Allah memposisikan kalian hidup lebih beruntung dibanding saya. Kalian memiliki orangtua yang sadar akan tugas dan tanggung jawab dalam membina dan mendidik anak-anaknya, kalian memiliki saudara-saudara yang saling mendukung kepada kebaikan, dan kalian masih dicucuri Allah dengan hidayah yang tak ternilai harganya.” Ruri berkata pelan sementara Kiki memegang pundaknya, mengalirkan kekuatan dan semangat baru.

“Jangan memandang jelek kami, orang-orang yang minim ilmu agama. Terlebih bagi mereka, seperti Kak Radith dan Kak Ratih yang sudah kadung masuk ke lembah nista. Jangan malah mengisosilasi mereka dan membenamkan mereka lebih dalam lagi ke lubang lumpur yang menjijikkan. Apa salahnya orang yang berilmu saling membahu menyelamatkan para saudaranya yang belum mendapatkan hidayah. Seperti Kiki yang mau mengajak saya, yang jika dilihat sepintas adalah anak urakan, tomboy dan tak berminat bergabung ke organisasi keagamaan. Terkadang orang-orang seperti kami terlalu bimbang memulai melangkahkan kaki sendiri berjalan di jalan yang benar. Kami butuh genggaman tangan, rangkulan, dan dorongan untuk mengeluarkan kami dari jurang tempat kami selama ini tinggal. Agar kami bisa bersama kalian, orang-orang yang lebih baik, demi menjemput ridho dan hidayah dari–Nya.”

Hening sesaat. Aku melihat teman-temanku tertunduk, entah apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran mereka.

“Maafkan kami yang selama ini memandang Dek Ruri sebelah mata.” Hans membuka suara. “Mungkin benar yang Dek Ruri katakan, bahwa selama ini kami merasa diri kami lebih baik. Padahal sifat itu jelaslah tidak baik. Mahasuci Allah yang telah menegur kami lewat Dek Ruri. Sekali lagi, maafkan kami ya, Dek…”

Aku dan Dodi mengangguk, bersama mengiyakan pernyataan maaf yang telah terlontar dari mulut Hans.

“Terima kasih, Dek Ruri telah mengingatkan kami,” sambungku.

“Ya, Kak. Bantulah Ruri menjemput hidayah-Nya.”

***

Gemericik air begitu berisik, mengganggu telinga dan serta merta menghilangkan nyenyak tidur di penghujung malam bagi insan yang masih lelap. Kokok ayam dari sekian penjuru memang telah ramai. Tapi jangan salah, waktu belum lagi genap pukul 03.00 dini hari. Namun, Ruri telah membasahi beberapa tempat di tubuhnya demi menjumpai Sang Khalik, bercakap-cakap dengan-Nya hingga waktu subuh menyentuh, membuktikan segenap kecintaan kepada-Nya.

“Kak, bangunlah. Udah hampir shubuh. Shalatlah dulu.”

Tubuhku menggeliat. Seperti malam yang sebelumnya, ternyata aku tak bisa menjadi subjek, tetap menjadi objek. Aku tak bisa terjaga lebih awal dan membangunkannya lebih dahulu. Ah, malunya diri ini kepada perempuan yang kunikahi setahun lalu itu. Dia yang telah bermetamorfosis, menjadi pribadi yang teguh iman dan bersemangat dalam menjalankan perintah-Nya.

 

Medan, Juli 2010

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...