Misteri Sebuah Nama

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis: DEE

Hari ini aku males, males, males! Males mandi, males sarapan, males ke sekolah, males ketemu orang, males ngomong, kadang juga males nafas. Namun karena tabung oksigen mahal terpaksa males nafasnya tak cancel terlebih dahulu. Males aku ini memang dah nggak kelutungan, kalau di dunia kesesatan sih bilangnya udah penyakit bronis dan harus segera diampuntrasi.

Jangankan sekedar males pergi ke sekolah yang secara logika memang dapat diterima karena capek, sulit, gurunya lebih galak daripada a****g tetangga sebelah. Bahkan untuk  makan saja aku sering nyuruh Mama untuk delivery ke kamar, itupun masih dilanjutkan dengan ritual males nyuap dan males ngunyah. Alhasil begitu aku kasih clue minta makan, Mama sudah tanggap membawakan aku bubur bayi yang berbeda rasa setiap hari.

Awalnya aku jelas tidak setuju, bahkan sempat mau demo tepat di depan gedung DPR (DaPuR). Namun Mama menasehatiku dengan jiwa motifmotor yang bersemayam di hatinya.

“Masalah terkadang sering membuat kita tidak bahagia bla..bla..bla.. maka makanlah CIMOL!” kata Mama dengan gaya ala Pak Vario injection yang sering diakuinya sebagai saudara jauh kami.

“Emang saudara dari arah siapa, Ma? Mama atau Papa?”

“Dari arah nabi Adam, mosok dari arah mata angin!” kata Mama sambil tersapu palu.

“Huffftt!” dengusku.

Segala daya dan upaya telah aku kerahkan. Mulai dari pasang jam weker, pasang banner dan poster kata-kata semangat, pasang foto-fotoku di setiap pesawat terbang yang pernah aku tumpangi, meski hal tersebut sering memaksa para petugas bandara ngejazz aku sebagai cewek RAGIL (RAda GILa).

Namun aku tetap tak keberatan karena hal tersebut adalah wangsit dari Mbah Bung Mesem Beringin yang mengatakan bahwa, “Pasanglah foto anda pada hal-hal yang anda ingin capai, jika anda ingin jadi penulis pasanglah foto anda di buku, jika anda ingin jadi foto model maka pasanglah foto anda di majalah.”

Dari situ dapat aku ambil benang hijau bahwa jika aku ingin jadi pilot perempuan pertama di Indonesia, maka aku harus tekun dan ulet menempel foto di pesawat terbang agar aku senantiasa termotifpanci untuk mewujudkannya.

Karena aku telah kehabisan stok ide dan belum punya modal untuk kulakan, cara mengubah rasa males ini maka aku mengunakan alternative terakhir yakni ngunyah daun biji berlembar-lembar yang konon katanya dapat nyembuhin penyakit mules. Secara analogi aku, antara males dan mules pastilah masih ada hubungan silsilah keluarga. Entah itu males sebagai kakaknya dan mules sebagai adiknya atau sebaliknya. Tapi yang pasti usahaku makan daun biji sia-sia belaka, aku masih teridentifikasi menderita penyakit males stadium olah raga.

Aku terus menerus mencari kambing putih dari sikap kemalasanku ini. Pencarian data akan aku mulai dari interview berbuka tutup dan narasumber mata air pertama dan utama adalah padamu Mama aku berjanji, padamu Mama jiwa raga ka… mi... (emalah nyenyong).

“Dulu waktu mengundang aku, Mama nyidam apa?”

“Apakah Papa di masa lalu pernah melanggar norma, baik itu norma agama, norma hukum, norma etika, norma susila atau bahkan norma Kamaru sehingga dikutuk dan akhirnya bersedia menandatangi surat kesediaan untuk mewariskan dosa kemalasan kepadaku? Kalau iya sungguh aku akan menyoret nama Papa di kartu keluarga, aku tidak sudi lagi mengakui Papa sebagai papaku, Papa durhaka! Aku kutuk Papa menjadi batu berlian. Maka dari itu kumohon kalian jujur!”

Mama kelihatan sangat terindimidasi dengan ancamanku barusan.

“Ma..ma.. Mama nggak nyidam yang aneh-aneh kok, Nak. Mama cuma nyidam punya suami seperti Mr Andreas, tetangga depan rumah. Namun papamu tidak mengabulkannya mungkin sebab itu kamu seperti sekarang ini, maafkan papamu nak... tolong jangan coret dia dari kartu keluarga?”

“Emang kenapa, Ma?”

“Karena… Ma..Mama sangat membutuhkannya,” kulirik Papa memasang mimik sangat bangga dengan pernyataan Mama barusan.

“Kita tidak mungkin bisa hidup tanpa Papa, Nak...” tambah Mama lagi, dan Papa semakin melayang.

“Emang kenapa, Ma?” sengaja aku terus bertanya agar kemesraan janganlah cepat berlalu….

“Lha kalau nggak ada Papa, siapa yang akan mbayar cicilan rumah, bayar listrik, bayar air dan bayar salon Mama, Nak?”

“Hufh... kirain!”ucap Papa kecewa lalu berdiri mengambil tali.

“Kumohon Pa... jangan lakuin ini!” cegah Mama sambil mendorong Papa memakai kakinya. Esalah sambil menahan Papa pakai kakinya maksudnya.

“Iya, Pa... aku tahu semua ini alibi Papa saja untuk menutupi dosa padaku. Namun bunuh diri bukanlah acting laki-laki sejati, Pa. Toh Papa bisa beli surat indulgensia surat pengampunan dosa. Papa juga bisa mandi kumbang 7 semur dan yang terakhir Papa sholat Tomat,” ucapku memberikan tambahan referensi tidak jadi gantung diri pada Papa.

“Siapa juga yang mau bunuh diri? Lha Baim Wong Papa cuma mau ambil tali buat gantung jemuran yang talinya putus nyambung, putus nyambung kayak lagunya BBB (Bukan Bulan Biasa) kok.”

“Oh... kirain...” jawabku kompak sama Mama.

“Lagian cakep-cakep gini dulu waktu masih muda Papa bisa dikategorikan dalam kelompok orang ALIM (Anggota Lima Munyuk) bersama Dji, Sam, Soe, Din yang memiliki visi dan misi yang jelas untuk kemaslahatan ummat, jadi mana mungkin Papa punya dosa warisan?!”

“Visi misinya apa, Pa?” tanya Mama penasaran.

“Iya, apa Pa?” tambahku yang juga makin penasaran.

“Maaf ya... untuk hal ini Papa nggak mau sesumbar takut dibilang ompong, lumer atau tak kabur.”

“Alah... Papa gitu deh, apa sih Pa?!” rengek Mama.

"Kami putra-putra Indonesia beristri 1, istri kaya raya. Kami putra-putra Indonesia berbesan 1, besan tua renta. Kami putra-putra Indonesia menjunjung tinggi matre kesatuan, matre Indonesia.”

Aku segera membayangkan Mama akan marah mendengar penjelasan Papa, ternyata...

“Ya ampuh... Papa roma kelapa banget… so switer bangetz.”

“Ah… kalian apa-apaan sih! Malah serius terus, gimana ni masalahku?” ucapku kaktus.

“Ya udah tinggal telfon Adi bin Sentosa aja minta PIN (Pekan Imunisasi Nasional) BBnya Eyang Makmur, belok tanya penyebab kemalasanmu itu, siapa tahu gara-gara bisikan nyata?” terang Papa penuh keyakinan.

“Ihhhhh… Ogah Syaputra! Ntar dijadiin istri ke 9 lagi!”

“Emang ia pedopil, kapsul, atau tablet apa?”

                                                         ***

Hari berganti Hera, ikhtiar lahiran maupun persalinan telah aku lakukan, mulai dari menonton acara Andai Aku Menjanda hingga acara Minta Lontong yang sekarang sudah tidak tayang, ternyata tidak memberikan efek samping apapun.

Di pucuk keputusasaanku, pagi itu aku melihat Papa dan Mama menyembunyikan sesuatu. Awalnya tentu aku tidak percaya dengan perubahan sikap mereka yang tiba-tiba rajin beribadah, rajin menasehati aku dan yang pasti sering sangat menghawatirkan aku, bahkan sering menangis daun bawang saat melihatku tidur. Saat aku tanya “ada apa” mereka cuma memberikan clue untuk melihat kaset DVD film Korea terbaru yang baru saja Mama beli dari pasar ikan.

Ternyata berkisah tentang seorang anak yang akan segera meninggal. Dikacangin seperti itu tentu aku tidak percaya. Namun setelah istrumen observasi berupa rating scale menunjukan bahwa sikap Mama dan Papa positif menunjukan kegilaan dengan memberikan kado ulang tahunku yang ke 14 dengan sebidang tanah di Jeruk Purut dengan bonus kain kafan sutra warna pink, menyesuaikan warna favoritku, akhirnya aku takut juga.

“Jadi serius nih? Allah udah kangen banget ma aku ya, Ma?” tanyaku mengoda.

“Bukan hanya serius sayang, duarius Sinatria malah.”

“Terus rencananya pas acara tujuh hari meninggalmu, Papa mau nyetak buku tahlil dan surat Ya siin. Terus karena kamu anak semata wayang golek, wayang kulit, wayang purwa, maka Papa akan kasih kesan dan pesan kamu selama hidup di halaman belakang, untuk itu kamu harus ganti nama yang lebih monumental... yakni Nasyita.”

“Amazing… ide Papa bener-bener bilyard! Kalau gitu aku semaju. Nasyita? Wau keren! Aku janji memberikan kesan terindah Dewi Persik, Pa!” kataku sambil menitihkan air sumur.

Dan mulai hari itu aku berusaha bangun dengan lebih giat, berusaha jalani hidup dengan semangat dan mengharamkan diri kembali ke lembah kenistaan seperti kata pepatah “Bagai air di atas daun malas” demi satu tujuan yakni kesan yang baik setelah kepergianku.

Tiga tahun berlalu, tepat saat ultahku yang ke 17 agustus tahun 45, aku memberanikan diri bertanya,

“Pa... Ma... kenapa aku nggak mati-mati?”

“Allah telah ngasih voucher isi ulang umurmu, Nak...”

"Maaf ya, Nak, kami terjaksa membohongimu. Sebenarnya kemalasanmu selama ini disebabkan karena kesalahan kami memberimu nama Kaslana yang kata Ustadz Soldier berarti malas, sedang Nasyita artinya rajin sebagai pertanggung jawaban kami padamu.”

WARNING!

AL-ISMU AD-DUA’, NAMA ADALAH DOA maka berilah nama yang baik untuk anak anda.

Selesai.

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...