My Name is Satan

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Sadry SS

Nama            : Iblis
Nama Pena    : Setan
Tgl. Lahir       : 1-1 tahun perintah sujud kepada Adam
Alamat           : Hati orang lalai
Agama          : Kekufuran
Pekerjaan      : Merusak iman
Kekayaan       : Semua yang haram
Hobi              : Menyesatkan manusia
Cita-cita         : Manusia Masuk Neraka
Istri               : Semua yang terbuka auratnya
Anak              : yang durhaka pada orang tuanya
Musuh            : orang yang beriman
Teman           : orang yang rakus, sombong, Dll
Motto             : Hidup Neraka, Mati Neraka

Itulah biodata yang tertulis besar di kamar pribadiku. Setiap saat kumelirik biodataku itu sebagai motivasi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Kamarku adalah ruangan sempit lagi menyempitkan. Namun, itulah tempat favoritku sejak kecil, toilet.

Aku ditugaskan oleh majikanku di sebuah keluarga manusia yang kaya di suatu negeri. Memang negeri itu sangat beragama, namun tak seirama dengan keluarga ini. Sepasang orang tua dengan satu orang anaknya hidup tanpa aroma agama. Orang tuanya hanya sibuk dengan pekerjaan mereka. Hingga si anak hidup liar dengan kekayaan yang didapatkan dari orang tuanya.

Tiap si anak bangun pagi tanpa shalat subuh, yang ia lihat hanya hidangan sarapan serba mewah yang terlunta di meja makan. Sedang orang tuanya sudah berhamburan menuju sumber rejeki mereka yang melenakan. Maka tak heran anak ini bergaya hidup bebas mengikuti haluan dunia kekinian.

Ibunya bekerja di perusahaan jasa telekomunikasi dan ayahnya di sebuah instansi pemerintah. Keluarga ini sangatlah berkecukupan. Malahan bisa lebih dari cukup. Anak tunggal mereka beri kebebasan seluas mungkin. Hinggalah nuansa agama tak lagi dihiraukan sebagai bekal hidup si anak.

Perusahaan kami terkenal dengan nama PT. Setan Makmu. Banyak manusia yang menginvestasikan dosa-dosa mereka kepada pabrik ini. Juga tenaga kerja yang cukup ramai untuk memproduksi dosa-dosa yang diperbuat manusia agar lebih banyak keuntungan yang diperoleh si pemilik perusahaan. Aku salah satu pekerja mereka yang cukup sukses. Sekarang aku ditempatkan di sebuah rumah mewah dengan penghuninya adalah lumbung dosa untuk perusahaanku. Kamarku pada sebuah toilet yang cukup mewah dengan keramik yang menawan.

Tiap hari aku hanya melihat kekosongan penghuni rumah. Yang ada hanya pembantu berjilbab yang selalu membuatku gerah. Dia baru saja satu minggu bekerja di sini. Sebelum dia, aku sangat nyaman berada di rumah manusia sumber rejekiku. Namun semenjak kehadirannya, aku merasakan hawa yang sangat panas ketika seluruh ruangan telah diisi dengan lantunan ayat-ayat Al-Quran yang setiap saat dibaca oleh pembantu tadi. Shalat menjadi senjatanya untuk melawan seranganku. Kamarku jadi berantakan ketika ia masuk ke dalamnya seraya melafazkan doa dan melangkah dengan mendahulukan kaki kirinya. Jilbabnya sesuai yang dianjurkan Al-Quran. Wajahnya berseri dengan siraman air wudhu yang setiap saat ia jaga. Aku lelah.

Aku semakin muak. Si anak yang tadi hanya sibuk dengan urusan dunianya, kini sudah mulai tersentuh hatinya ketika ia melihat pembantunya sedang melaksanakan shalat tahajud. Saat itu anak tersebut sedang larut dengan mimpinya yang telah kubumbui dengan aroma kegelapan hingga ia terbangun dari tidurnya tengah malam itu. Segera gadis kecil 13 tahun itu keluar menuju kamar mandi. Terlihatlah si pembantu tadi sedang melaksanakan shalat. Aku mencoba untuk menghalangi hal ini. Anak itu kubisikkan dengan rayuan ampuhku. Namun si anak malah semakin mendekat untuk menanyakan sesuatu tentang shalat itu kepada si pembantu tadi yang baru saja menyudahi shalatnya dengan zikir serta doa.

“Bi, sedang shalat apa? Kok tengah malam begini?” dengan lugunya si anak melontarkan pertanyaan itu kepada si pembantu.

Sambil mendudukkan anak tersebut di kursi samping tempat ia shalat, si pembantu tersenyum, “ini namanya shalat tahajud, Neng. Kalau Bibi lagi sedih atau ada masalah, Bibi pasti curhat sama Allah lewat tahajud ini. Neng Yofi kok tengah malam bangun? Ada apa? Gak tidur?”

“Fi tadi mimpi, Bi. Jadi kebangun deh. Bi, ajarin Fi shalat ya. Fi banyak masalah bi. Gak tenang hati Fi jadinya. Ya, Bi,” balas si anak.

“Iya, Neng. Nanti subuh kita shalat bareng ya. Habis tu kita baca Quran bersama-sama. Insya Allah hati kita tenang,” terang si perempuan separuh baya ini.

Kembali aku coba memperdaya si anak dengan bisikan, “tidur aja dulu di kamarmu. Nanti subuh baru bangun. Kamarmu dikunci aja, biar gak ada yang ganggu tidurmu.”

“Ya udah, Bi, Yofi tidur dulu ya. Nanti subuh kita shalat.” Si anak menyudahi pembicaraan seraya beranjak dari si bibi dan masuk ke kamar sambil menguncinya.

“Ya, Neng,” jawab si pembantu polos.

Kali ini misiku hampir berhasil. Tinggal menunggu subuh hari saja dengan harapan si anak tertidur pulas tanpa doa agar rencana shalat subuh bersama pembantunya yang sok alim itu gagal. Aku tidur di sisi si anak. Menyelimutinya dengan penuh harap. Mengatup matanya dengan sentuhan kenikmatan tidur.

***

Subuh tiba. Kumandang azan memekakkan telinga, mengompori tubuhku. Si anak masih tertidup lelap dengan mimpinya. Aku mencoba menutup telinga si anak agar tidak terdengar panggilan si bibi yang dari tadi menggedor-gedor pintu kamar. Setengah jam dari waktu subuh sudah berlalu. Si anak masih saja larut dalam dunia tidurnya. Misiku pun hampir sukses. Si pembantu tua itu kalah pagi ini dengan trik-trik jituku. Aku dilawan.

Akhirnya. Matahari terbit juga. Si anak sudah mulai merasa aroma pagi hingga terbangun dari tidurnya sambil mengusap-ngusap mata dengan keadaan masih menguap. Aku coba mengelabuinya supaya ia lupa dengan rencananya untuk shalat Subuh tadi malam.

“Neng, lupa ya shalat subuhnya tadi? Ya udah, habis Neng pulang sekolah. Nanti kita shalat zuhur bareng ya. Lagi pun dua hari lagi kita masuk bulan Ramadhan. Kita wajib puasa. Kita puasa ya,” ajak si bibi sambil menyiapkan sarapan pagi si anak. Orang tuanya sudah sejak pagi pergi kerja. Kini hanya tinggal dua orang yang masih berada di rumah.

Dengan girangnya si anak menjawab, “iya, Bi. Udah mau puasa ya. Asyik. Fi suka bulan puasa.”

“Tapi jangan cuma puasa aja. Kewajiban shalat fardhu jangan diabaikan. Juga diiringi dengan ibadah sunnah yang lain. Seperti shalat sunat, baca Al-Quran, sedekah, mendalami ilmu agama, dan lain-lain. Baru terasa keajaiban puasanya, Neng.”

“Gitu ya, Bi? Pokoknya temani Yofi selama puasa ya. Biar Yofi bisa kek bibi yang taat beribadah. Ya. Ya!” bujuk si anak dengan semangat.

Inilah yang membuatku gerah. Si anak kembali termakan oleh rayuan si tua itu. Tak kuasa lagi aku menyuguhkan bujuk rayu agar si anak kembali ke aktivitas biasanya yang penuh dengan hura-hura. Kali ini tidak. Ia sudah mulai dicelupkan dalam telaga hidayah, warna-warna Islam sudah bermain dihatinya.

Sebagai bangsa setan yang profesional, terlahir dari kalangan intelektual dunia setan, kuliah di USI (Universitas Setan Internasional) Fakultas Bujuk Rayu, tentunya memiliki tekad serta profesionalisme yang dahsyat untuk menjerumuskan manusia ke dalam telaga dosa. Berbagai macam metode pemurtadan kuterapkan pada si anak tadi. Tapi hampa.

***

Ramadhan hadir. Subuh itu si anak dibangunkan oleh bibi untuk melaksana sahur. Imsyak yang hanya tinggal 15 menit itu disempatkan oleh mereka berdua menyantap makanan yang tersedia. Sedangkan orang tua si anak masih saja terridur pulas, enggan melaksanakan salah satu perintah dari rukun islam itu. Mereka jarang berkomunikasi antara anggota keluarga.

Si anak merasa seakan tak memiliki orang tua. Yang ada hanya ketidakpedulian. Mereka hanya simbol saja. Itu yang kusuka. Namun si pembantu tak suka.

Beberapa hari menjalani ibadah puasa yang dihiasi dengan ibadah lainnya, aku semakin kurus. Obsesiku sebagai setan hampir pupus. Kamarku pun sudah mulai hangus. Si pembantu telah mengajarkan si anak tentang tata cara buang air yang sesuai syariat Islam. Kali ini aku memang jatuh.

Aku semakin kaku. Bisnis dosaku bangkrut. Tentunya karena takut dihukum oleh bos perusahaanku. Iblis-iblis lain pun tentu akan mengejekku. Mana mau kuletak harga diri ini. Mengurus anak kecil saja tak bisa. My Name is Setan, malu aku menyandang kata itu lagi. Taubat manusia inilah hal yang sangat kutakutkan dari dulu. Akhirnya muncul juga.

Sungaipakning, pangkal juli 2010

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...