Nadia dan Senja

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Donny Muhammad Ramdhan

 

How can I be lost?

If I got nowhere to go…

—Metallica, The Unforgiven III

 

Senja Pertama.

Nadia menatap langit. Biru membentang laksana kubah raksasa yang melingkupi kota Bandung. Berhias semburat jingga di ufuk barat, membias pada polesan tipis awan, memberinya corak bak marmer halus nan indah. Indah… sangat indah. Biasanya Nadia akan tersenyum dan menarik nafas panjang saat melihat cakrawala senja seperti ini. Dia memang punya “rasa” terhadap senja. Tapi, sepertinya senja kali ini perhatiannya berada di tempat lain… atau lebih tepatnya berada di satu jam sebelum shift kerjanya sebagai perawat berakhir.

Saat itu, Nadia berada di atap gedung rumah sakit tempatnya bekerja, bersama seorang dokter bernama Aysah. Dokter itu sebaya dengan Nadia—well, sebenarnya mereka bersahabat sejak SD, namun sempat terputus saat mereka lepas bangku SMA, saat Aysah memutuskan menggapai cita-citanya ke Amerika sana. Awalnya komunikasi tetap terjaga lewat teknologi, tapi… jarak tetaplah jarak; komunikasi perlahan meredup dan akhirnya menghilang. Kini setelah hampir sepuluh tahun, Aysah kembali dan berusaha menjalin kembali persahabatan itu… atau bahkan lebih dari sekadar persahabatan.

“Sebenarnya sederhana, Nad. Kamu mencintai kakakku atau tidak? Itu saja!” Ucapan Aysah yang menjadi penutup pembicaraan di atap rumah sakit itu terngiang-ngiang di telinga Nadia, menggema dalam batin Nadia, menyulut sesuatu dalam dadanya yang… yang dipaksanya padam oleh ekspresi, “Seandainya sesederhana itu, Aysah!” Ekspresi yang tidak ia utarakan, yang ia kubur untuk dirinya sendiri.

Belum sebulan dokter muda itu di rumah sakit ini—dan sebenarnya Nadia senang akan kembalinya Aysah, hanya saja, Nadia mulai merasakan atmosfer kerja yang tak nyaman. Rekan sesama perawatnya mulai nyinyir, mulai menghubungkan segala hal yang baik yang diterima Nadia dalam pekerjaannya adalah karena kedekatannya dengan dokter Aysah.

“Ah, dia kan punya backing Dokter Aysah!” kalimat itu sempat Nadia dengar setelah pembagian jadwal shift baru dua hari yang lalu, dan Nadia memang mendapatkan shift yang… convenient. Ah, sebenarnya Nadia tidak terlalu memedulikannya, meski perasaan tidak nyaman tetap saja ada.

Dari jutaan rumah sakit yang ada di dunia ini, kenapa kamu pilih rumah sakit ini, Aysah? Pikiran itu sempat hinggap di benak Nadia, tapi tentu saja segera ditepisnya karena seharusnya Nadia tahu kalau pertemuan dengan sahabat lamanya itu sebenarnya sebuah keniscayaan. Rumah sakit tempatnya bekerja adalah hasil jerih payah keluarga besar Aysah. Tak perlu heran kenapa Aysah memilih bekerja di rumah sakit ini. Justru Nadia-lah yang patut dipertanyakan, karena dari jutaan rumah sakit yang ada, kenapa dia memilih rumah sakit ini?

Jawabannya termanifestasi pada sosok dokter bedah syaraf muda bernama Aravat, yang tak lain kakaknya Aysah. Sosok yang Nadia kagumi bahkan sejak ia masih kanak-kanak. Dan sampai sekarang, Nadia hanya bisa mengagumi…. Aravat-lah yang menjadi alasan kenapa Nadia berusaha untuk bisa bekerja di rumah sakit itu. Sekadar mengaguminya dari jauh….

Nadia menarik napas panjang. Ia tangguhkan pikirannya sejenak untuk menghentikan sebuah angkutan kota dan menaikinya. Nadia duduk di bagian belakang. Lewat jendela belakang angkot itu, akhirnya Nadia bisa memperhatikan indahnya langit senja, dan dia pun tersenyum.

Nadia ingat, suatu hari saat masih SMP, Aysah dan keluarganya mengajaknya piknik; Aravat juga ikut. Entah piknik ke mana, Nadia tidak tahu, tapi ia ingat ke semacam daerah pegunungan dengan perkebunan teh yang membentang luas. Indah… sangat indah. Mereka menghabiskan waktu yang menyenangkan di sana, tapi yang paling berkesan bagi Nadia adalah ketika perjalanan pulang. Mereka mengendarai mobil yang tidak terlalu besar; Ayah Aysah yang mengemudi, Ibu Aysah di sampingnya, sementara Nadia, Aysah dan Aravat di belakang; Nadia dan Aravat terpisah hanya oleh Aysah. Saat itu matahari senja tengah berkilauan menerpa jendela di samping Aravat, memberi Nadia siluet dari wajah tampan Aravat yang tengah terlelap. Sementara itu langit di balik jendela tampak keemasan, dan laju mobil membuat gunung-gunung serta pepohonan di luar sana terkadang menyembunyikan cahaya, memberi pemandangan yang Nadia nikmati bak ilusi keabadian yang menoreh dalam pada ekpresi, “Aku ingin ini tidak pernah berakhir.”

Nadia menggigit bibir bawahnya, karena dia ingat dengan jelas, kala itu dia berdoa, “Oh, Allah… jika aku adalah jodohnya, tolong dekatkan. Aku mohon.”

Nadia menghela napas panjang. Tapi mendadak dia terbatuk-batuk. Barulah Nadia sadar ada asap rokok mengepul ke arahnya. Seketika Nadia melotot ke arah asal asap itu. Seorang pria duduk di hadapannya. Pria yang tak ada kata yang bisa mendeskripsikannya selain “bajingan”!

Bajingan itu menyeringai sebelum menghisap rokoknya kembali dan meniupkannya ke arah Nadia.

“Berhenti!” pekik Nadia dan angkot pun segera berhenti. Nadia turun, tapi sebelumnya ia beranikan menarik rokok dari bibir bajingan itu dan membantingnya sambil berkata sinis, “Itu bisa membunuhmu!”

Setelah membayar ongkos, Nadia berjalan sejenak. Awalnya ia berniat naik angkot yang lain, tapi setelah dipikir kembali, ia putuskan untuk terus berjalan. Jaraknya tidak terlalu jauh, plus Nadia bisa ambil jalan pintas. Ia masuki sebuah gang.

Gang itu mengantar  Nadia ke sebuah pemukiman yang cenderung kumuh. Suasana terasa ramai; tipikal senja di pinggiran kota. Ia melihat beberapa orang yang seperti dirinya baru pulang kerja. Ia juga melihat sekumpulan anak bermain kelereng. Saat berpapasan dengan sebuah warung, Nadia melihat sekumpulan ibu-ibu sambil menggendong anak kecil asyik bergunjing ria. Nadia juga melihat dua bapak-bapak yang menghabiskan sebagian badan gang untuk mencuci sepeda motor.

Keluar dari tata karma yang baik, tercetus niat untuk berucap, “Punten (permisi),” saat melewati kedua bapak itu. Tapi niat itu tidak jadi karena mendadak Nadia rasakan sesuatu yang panas menyentuh lengan kanannya. Nadia terperanjat! Ada luka bakar kecil di lengannya! Rasa kaget Nadia tiba-tiba berubah menjadi marah dan sekaligus takut, karena luka bakar ringan itu berasal dari puntung rokok yang dipegang bajingan di angkot tadi! Bajingan itu mengikuti Nadia?! 

Bajingan itu menyeringai.

“APA-APAAN KAMU?!” pekik Nadia seraya mendorong bajingan itu.

Seringai bajingan itu malah makin lebar.

Hey, hey, aya naon ieu? (Ada apa ini?)” Dua bapak yang mencuci motor itu memasuki adegan.

“Dia menyulut tangan saya!” jawab Nadia.

Ingkah siah! Tong nyiar masalah  di dieu! (Menyingkir kau! Jangan cari masalah di sini!)” Salah satu bapak itu mengacungkan telunjuknya ke si bajingan!

Bajingan itu masih menyeringai, tapi menyingkir juga. Tampak jalannya agak sempoyongan.

“Dasar tukang mabok! Teu nananon, Neng? (Nggak apa-apa, Nona?)”

 Nadia mengangguk. “Nuhun, Pak. (terima kasih, Pak)”

Kedua bapak itu kembali mencuci motor. Sementara Nadia terdiam sejenak, menenangkan diri sekaligus memastikan dirinya aman. Bajingan itu telah benar-benar menyingkir. Nadia kembali melangkah.

Gang yang Nadia tapaki berakhir di rute pulang biasanya; seruas gang lain yang diapit tembok besar sebuah pabrik dan sepetak kebun yang tak terawat.  Gang itu tak lama lagi akan mengantar Nadia ke petak-petak sawah yang luas, yang di seberangnya terdapat rumahnya. Sawah-sawah yang biasanya di bulan-bulan ini, akan tampak menguning dan mengundang burung-burung mengambil sedikit rezeki Tuhan yang disediakan sang bumi. Biasanya Nadia akan berhenti sejenak saat keluar dari gang itu, menghela napas panjang seraya menatap padang emas yang membentang di hadapannya. Tapi sayangnya kali ini dia tidak melakukannya. Dia tidak bisa, dan sepertinya tidak akan pernah lagi dilakukannya karena sawah-sawah itu sebenarnya sudah menghilang; dipanen lebih awal; dipanen untuk terakhir kalinya dan diganti timbunan tanah merah. Biasanya Nadia bisa langsung melihat rumahnya di seberang sana, tapi sekarang terhalang oleh spanduk besar bertuliskan “Akan Dibangun Kompleks Pergudangan!”.

“Suatu saat nanti manusia akan makan uang, karena nasi sudah hilang,” gumam Nadia pada dirinya sendiri, yang terus terang Nadia niatkan untuk berkelakar, tapi meleset; Nadia tidak merasa lucu. Nadia tahu ada kebenaran dari kelakarnya itu yang bisa dijadikan basis kepedulian atas hilangnya sawah-sawah itu, tapi… terus terang Nadia tidak terlalu peduli dengan hilangnya berton-ton beras dalam peredaran. Nadia lebih peduli pada sesuatu yang lebih pribadi, yang telah dirampas timbunan tanah merah itu.

Yah, sudah hampir dua puluh tahun ia tapaki rute pulang ini. Tentu saja ada kenangan yang melekat rapat di benak Nadia. Tidak akan mudah bagi Nadia untuk melepasnya begitu saja. Menatap tanah merah yang ditapakinya membuat Nadia merasa sesak. Pandanganya beralih ke langit.

Langit masih memperlihatkan indahnya senja. Tapi, entah kenapa yang dia lihat terasa… “dingin”. Berbeda… jauh berbeda ketika lahan ini masih menjanjikan kehidupan; kehangatan senja benar-benar kentara, seolah benar-benar menyambut Nadia pulang. Bahkan Nadia masih sangat ingat hari pertama kuliah, ayah-ibunya yang hanya buruh tani sedang memanen emas-emas organik di lahan itu. Jelas terlihat dari senyuman mereka, betapa bangganya mereka melihat putri satu-satunya berhasil mengecap bangku kuliah. Oh, betapa ingin Nadia mengulang hari itu, tapi tentu saja tidak bisa. Ayah-ibunya sudah tiada! Sawah-sawah itu sudah tiada! Semua sudah memudar menjadi masa lalu….

Dada Nadia terasa semakin sesak. Ia tutup rapat matanya sejenak, sebagaimana ia menutup benaknya dari kenangan. Ia buka matanya kembali ketika ia menyentuh sebuah ide. Sambil terus berjalan, ia lantunkan sebuah lagu dari Sting berjudul “Fields of Gold”.

You remember me

When the west wind moves

Upon the fields of barley

You forget the sun

In his jealous sky

As we walk in fields of gold

Cuma itu lagu yang Nadia tahu dari Sting. Bahkan Nadia tidak tahu kalau Sting hanyalah nama samaran dari seorang pria Inggris bernama Gordon Sumner. Nadia mengenal lagu itu di hari Aysah mengajaknya piknik; ketika pulangnya, ketika ia bisa menatap siluet tampan Aravat. Saat itu  Audio-player mobil ayahnya Aysah melantunkan lagu itu. Kenangan itu terpelihara dalam benak Nadia dan somehow bisa mengobati Nadia dari segala kenangan pahit. Nadia bersyukur Allah memberinya kenangan itu.

Tapi tiba-tiba, segala kenangan buyar, pecah atau hancur! Karena, Nadia dengar suara yang memekakkan telinga mendekat! Suara yang mewujud pada hembusan angin kencang saat sebuah truk proyek melesat cepat di depan Nadia! Dekat sekali! Seandainya Nadia berjalan lebih cepat, dia mungkin akan tertabrak! Truk itu terus melaju tanpa mengurangi kecepatan; angkuh dan tidak peduli!

Napas Nadia terasa tersekat, bahkan setelah truk itu berlalu. Dia tidak merasa lega telah lolos dari maut. Adrenalin yang mendadak menyembur dari anak ginjalnya malah membuat Nadia gelisah. Nadia seketika sadar kalau dia tidak seharusnya lewat sini…. Entah berapa lama lagi, rute pulang ini akan terhalang tembok besar. Ia mesti mengambil jalan memutar yang lebih jauh.

Napasnya masih terhambat saat Nadia memutuskan mempercepat langkahnya. Semakin cepat hingga akhirnya dia berlari. Ia seberangi jalan, ia gapai pintu pagar, ia raih gagang pintu rumahnya, dan masuk dengan cepat! Napasnya memburu saat Nadia sandarkan punggungnya ke pintu. Perlu waktu bagi Nadia untuk mengatur napasnya, menenangkan diri, dan meyakinkan dirinya telah aman di dalam lindungan rumahnya.

Ia dapati ruang depan rumahnya gelap dan kosong. Tidak ada yang menyambutnya…. Tidak ada kehidupan….

Lutut Nadia mendadak lemas. Ia melorot dan terduduk sambil bersandar ke pintu. Napasnya terhambat, dan semakin sulit saat ia tak kuasa menahan tangis.

“Sebenarnya sederhana, Nad! Kamu mencintai kakakku atau tidak? Itu saja!”

Kata-kata Aysah kembali terngiang di telinga Nadia. Entah kenapa. Tapi kali ini Nadia menjawab.

“Seandainya sesederhana itu, Dok! Lihat aku! Gadis miskin yang terseret-seret kenangan! Tidak akan sepadan bersanding dengan… dengan kesempurnaan semacam kakak kamu!”

Tidak ada respon. Yang Nadia dapati hanyalah sepi….

***

Senja kedua.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.” Nadia menoleh dan mendapati Dokter Aysah di belakangnya.

Mereka berada di atap rumah sakit.

“Aku minta maaf soal kemarin,” kata Aysah. “Tidak seharusnya aku mengatakan yang tidak-tidak. Terlebih lagi semua itu manifest dari rasa bersalahku.”

“Rasa bersalah?”

“Aku tidak ada saat ayah-ibumu meninggal. Seharusnya aku ada dekat sama kamu.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak menyalahkan kamu.”

“Aku yang menyalahkan diriku sendiri! Dan aku merasa perlu memperbaiki itu dengan menyatukan kamu dengan kakakku. Tapi, sepertinya aku cenderung memaksa, ya? Maafkan aku.”

Nadia tersenyum. “Tidak apa-apa.”

“Tapi terus terang, Nad, aku bisa melihat betapa banyaknya kebaikan yang bakal muncul kalau saja kamu berjodoh sama kakakku. Anak-anak kalian pasti lucu-lucu dan cerdas-cerdas!” Dokter muda itu melangkah dan berdiri di samping Nadia. Berdua mereka menikmati sang surya yang makin bergulir mencapai cakrawala.

Nadia masih tersenyum, tapi kemudian merunduk. Ada letupan dalam dadanya yang segera ia pendam. “Aysah, kamu ingat sama Pak Zainudin, guru agama kita waktu kelas satu?” tanya Nadia tiba-tiba.

“Ya, aku ingat. Memangnya kenapa?”

“Kamu ingat? Beliau pernah cerita tentang Zaid, seorang sahabat Rasulullah yang dijodohkan sama seorang sahabat perempuan yang punya status dan latar belakang sosial yang berbeda. Terus akhirnya mereka bercerai. Aku pikir, mereka saja yang dijodohkan oleh Rasulullah bisa nggak berjalan dengan baik, apalagi kita, ya, kan? Aku sama kakak kamu jelas berbeda…, jauh berbeda.”

Aysah terdiam sejenak. “Aku pernah dengar Metallica nyanyi seperti ini—lagu ‘Unforgiven’ kalau nggak salah—‘How can I be lost if I got nowhere to go?’”

“Metallica? Sumber kutipan yang aneh,” komentar Nadia.

Now that’s your usual mistake, Nadia!” seru Aysah. “Always missing the point!

Nadia mengerenyit.

“Orang mengutip orang lain untuk menguatkan pendapatnya, ya, kan? Bahkan tidak peduli kalau interpretasinya melenceng dari maksud sang empunya kutipan. Apa maksud kamu Rasulullah patut disalahkan karena menjodohkan Zaid?”

“Eh, bukan itu maksudku?” sanggah Nadia.


“Ya, aku tahu. Kamu hanya memilih untuk tidak mencoba karena melihat adanya obstacle. Seperti kata Metallica tadi, ‘Bagaimana aku bisa tersesat kalau aku tidak kemana-mana?’ Kamu memilih untuk tidak melangkah karena adanya possibility kamu bakal tersesat! Sanggah aku kalau aku salah, Nad! Memang bisa jadi kamu benar kalau kamu dan kakakku berbeda latar belakang dan ada kemungkinan tidak berjalan dengan baik, tapi kalau kamu memilih tidak mencobanya, kamu juga membuang kemungkinan kamu dan kakakku work-out really well, dan bisa bahagia selamanya. Ya, kan?”

Nadia merunduk. Nadia terpekur. Tidak menyangka kalau argumen yang dia ajukan bisa berbalik arah bak meludah melawan angin.

Aysah melanjutkan, “Aku lupa siapa, tapi ada yang pernah bilang seperti ini, ‘Ketika kita memilih, sebenarnya kita membunuh pilihan yang lainnya. Jadi kalau kita tidak memilih, sebenarnya kita membunuh semua pilihan!’ Bagiku sendiri ‘memilih’ bukanlah masalahnya, tapi mind-set kita saat memilih. Aku yakin Allah memberi setiap pilihan ada hikmahnya. Jika hikmahlah yang kita cari di setiap kita memilih, insya Allah kita tidak akan pernah menyesal! Apapun pilihan itu! Coba kamu perhatikan kasus Zaid itu; akhirnya sahabat perempuan itu dinikahi oleh Rasulullah, dan Zaid menjadi satu-satunya sahabat yang namanya tertera dalam Al Quran[1]! Mereka menjadi suri tauladan hingga akhir jaman! Hikmah apa yang lebih baik dari itu!”

Nadia terpekur.

“Maafkan aku, Nad,” ucap Aysah kemudian. “Kamu tahu aku sayang kamu, kan?  Bisa jadi aku salah, tapi kalau itu alasan kamu, sebaiknya kamu cari alasan lain. Sekarang malah skala prioritasku berubah; tidak lagi menjodohkan kamu sama kakakku, tapi berdoa semoga mind-set kamu itu berubah karena aku menilainya cenderung destruktif!”

Nadia tatap wajah sahabatnya itu dan kemudian berkata, “Sulit untuk mengubah pola pikir, bukan?”

Aysah membalas tatapan Nadia; cemberut meski ada senyum di matanya. Ia julurkan kedua tangannya, meraih pipi Nadia dan mencubitnya seraya berseru, “Good old Watson! You are the one fixed point in a changing age!

Nadia mengerenyit. “His Last Bow,” ucapnya menyebutkan sebuah judul karya Arthur Conan Doyle.

Aysah lepaskan cubitannya. “Kamu tahu Allah mengajarkan kita sebuah doa lewat Nabi Musa, supaya kita diberi kelapangan dada dan dimudahkan segala urusan, ya, kan? Dua unsur itu saling bertautan, Nad. Semudah apapun urusan kita, jika kita tidak lapang dada akan terasa sangat sulit; sebaliknya, sesulit apapun urusan kita, kalau kita bisa berlapang dada, aku yakin akan terasa mudah!”

Nadia terdiam.

“Sudahlah! Kita pulang sama-sama, yuk! Aku ingin lihat rumah kamu lagi! Nggak banyak berubah, kan?” Aysah merangkul lengan Nadia.

“Lain kali saja, ya? Aku masih ada urusan,” jawab Nadia.

Aysah melenguh kecewa. “Yah, terserah.  Aku duluan, ya! Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Nadia berbohong. Dia tidak punya urusan apa-apa selain pulang.

Senja bergulir menunjukkan pesonanya, tapi Nadia tidak bisa menikmatinya. Benaknya terlalu penuh untuk memperhatikan yang lain.

Seperti biasa dia menaiki angkutan kota. Setelah beberapa lama, ia turun di mulut sebuah gang. Gang itu sebenarnya tidak sempit, hanya terkesan sempit oleh tembok tinggi pabrik yang mengapitnya. Gang itu sepi, hanya Nadia yang melewatinya. Memang tembok-tembok tinggi itu membuat gang itu terkesan mencekam, tapi Nadia tidak keberatan. Nadia sudah terbiasa; sudah lebih dari sepuluh tahun dia lewat sini. Memangnya apa yang bisa terjadi di gang sempit macam itu? Lagipula gang itu tidak terlalu panjang; tak lama kemudian langkah Nadia sampai ke gang yang hari kemarin ia lalui; ruas gang yang diapit tembok tinggi dan kebun yang tak terawat. Sepanjang gang itu Nadia merunduk dan terdiam—tentu saja terdiam! Dia sedang sendirian, bukan? Tapi, sepertinya ada semacam desakan dalam dadanya yang memaksanya bergumam pada dirinya sendiri, “Apa yang mesti aku ubah dari diriku, Aysah? Selama ini aku baik-baik saja sampai kamu datang kembali!”

Tiba-tiba, bak sebuah respon, sebuah tangan kuat membekap mulut Nadia! Nadia tercekat! Terlebih lagi ketika ia dengar bisik busuk menderu telinga kirinya!

“Sekarang siapa yang bisa menolongmu, Manis?”

Ya! Bajingan yang kemarin! Tangan itu milik bajingan yang kemarin! Satu tangan membekap mulut Nadia, sementara tangan yang lain mulai menggerayangi tubuh Nadia!

Nadia panik! Untunglah ada sisa kesadaran yang membuat Nadia bisa mengangkat kaki kanannya dan menginjak kaki bajingan itu kuat-kuat! Sepatu Nadia bukan hak tinggi, tapi tumitnya cukup keras hingga membuat bajingan itu mengerang dan mengendurkan cengkramannya. Dengan cepat Nadia memutar badannya, mengayukan sikut kanan hingga menghantam pipi bajingan itu! Seketika Nadia melihat secelah sempit kesempatan untuk berlari, dan Nadia pun berlari!

Meski kesakitan, bajingan itu berhasil menjambak kerudung Nadia! Nadia sempat terhentak, tapi momentum larinya sudah cukup besar hingga membuat kerudungnya robek dan terlepas! Peniti kecil di kerudungnya sempat memberi luka di dagunya, tapi Nadia tidak ambil pusing! Dia terus berlari meski kepalanya tak lagi tertutupi, dan dia tahu kalau bajingan itu mengejarnya!

Terdengar di belakang Nadia makian kotor si bajingan! Nadia terus berlari secepat yang ia bisa! Dia berhasil mencapai timbunan tanah merah dan terus berlari! Tentu saja Nadia berlari kearah rumahnya, tapi kemudian tersadar kalau di rumahnya tidak ada siapa-siapa! Tersadar kalau dia sebenarnya berlari ke sebuah perangkap! Pikiran itu membuat Nadia semakin panik! Dan panik itu membuat kakinya limbung dan tersungkur jatuh!

Nadia balikkan badan dengan cepat! Berniat melindungi diri sebisa mungkin! Ia lihat bajingan itu berhenti mengejar dan menyempatkan diri menyeringai puas!

Hanya saja, seringai bajingan itu mendadak lenyap! Cepat! Secepat datangnya angin kencang yang mengiringi deru laju sebuah truk proyek! Yang seketika menghantam bajingan itu!

Nadia terbelalak! Nadia pernah melihat banyak darah. Nadia pernah melihat banyak tubuh yang tak lagi sempurna. Tapi apa yang Nadia saksikan membuat Nadia tak berdaya; tidak menyangka kalau tubuh manusia bisa serapuh itu! Perasaan tidak berdaya itu membuat Nadia sadar kalau truk proyek itu telah menyelamatkan dirinya! Tapi ada bagian dari diri Nadia yang tidak bisa menerima kenyataan itu! Truk proyek itu telah menyelamatkannya, itu artinya proyek pembangunan kompleks pergudangan ini yang telah menyelamatkannya, yang artinya juga, hilangnya sawah-sawah itu yang sebenarnya telah menyelamatkannya! Apa yang dia cibir kini telah menyelamatkannya! Itulah kenyataan! Dan Nadia tidak bisa menerimanya, tapi juga tidak berdaya menolaknya!

Mendadak Nadia mengerang! Melenguh pedih bak hewan buruan yang terluka! Dengan cepat ia bangkit dan berlari ke arah rumahnya!

Ia masuk dengan cepat! Membanting pintu dan terpuruk di lantai! Nadia menangis! Menangis dengan keras! Sekeras yang ia bisa! Menangis dan menunggu…. Menunggu ada yang datang menyentuh pundaknya, atau mengelus kepalanya, atau memeluknya.

Tapi, tidak ada siapa-siapa….

***

Senja ketiga

“Aku memang mencintai kakak kamu,” ucap Nadia di atap rumah sakit itu. Lirih, tapi tanpa keraguan.

Di samping Nadia, Aysah mendengarkan.

“Sebelum kamu datang, aku sering berharap bisa menemukan celah untuk bisa mendekatinya. Berencana mengajukan diri membantunya di ruang operasi, atau sekadar mencari kesempatan untuk bisa berpapasan di lorong. Lalu ketika kamu datang, celah itu mendadak terbuka lebar. Tapi itu malah membuatku takut. Berbagai kemungkinan seketika muncul. Membuatku sadar siapa aku, betapa tidak pantasnya aku…. Lalu ketika kamu berniat menjodohkan aku dengannya, aku malah melihat ancaman. Aku tidak ingin tersakiti, atau yang lebih parah lagi menjadikan Aravat sebagai berhala….

“Tapi kemudian, kamu membuat aku sadar kalau aku ternyata sudah menjadikan banyak hal berhala, bahkan ketakutanku sendiri…, kenanganku sendiri. Lupa kalau segala hal yang ada di dunia ini fana…, yang ujung-ujungnya segalanya akan kembali kepada Allah. Aku tahu kalau aku niatkan segalanya karena Allah, apapun hasilnya adalah yang terbaik…. Tapi sekarang aku tidak tahu harus bagaimana…. Tidak tahu apa yang mesti aku lakukan…. Satu hal yang aku tahu pasti; aku tidak mau sendirian lagi….” Setitik air mata menetes di pipi Nadia.

Aysah merangkul pundak Nadia. “Kamu tidak sendirian, Nad! Aku sahabat kamu, kan? Aku akan tetap menjadi sahabatmu! Aku tidak punya banyak teman—banyak yang bilang aku punya masalah emosi soal pertemanan, tapi aku tidak peduli! Aku punya kamu! That’s why I can’t afford losing you! Kamulah satu-satunya alasan aku pulang dan memilih bekerja di sini!”

Aysah melepaskan rangkulannya dan melanjutkan. “Begini, Nad, aku berencana mengajak kamu makan malam; sama Papa, sama Mama, juga Aravat. Mungkin kita bisa mulai dari sana. Tidak apa-apa, kan?”

Nadia mengangguk pelan. “Terima kasih, Aysah.”

Aysah tersenyum. “Dengar, Nad. Apa yang akan aku katakan ini jangan pernah dibicarakan lagi, oke? Apalagi sama Aravat, soalnya dia pernah membuatku bersumpah untuk tidak mengatakan ini. Dia pernah curhat sama aku kalau dia tidak bisa menikahi perempuan lain selain kamu. Katanya, cuma kamu satu-satunya pribadi yang dia kenal. Selama kita sekolah dulu, dia selalu memperhatikan kamu.”

Nadia tatap Aysah. Tidak percaya.

“Aku pikir, ada baiknya kamu juga tahu,” lanjut Aysah. “Dalam hal tertentu, kakakku itu sebenarnya pengecut. Kamu jangan menganggapnya super atau semacamnya. Dia manusia juga.”

Aysah menarik napas panjang sejenak, kemudian tersenyum lebar seraya merangkul kembali bahu Nadia dan mengguncang-guncangnya. “Kamu tahu betapa bahagianya aku sekarang? Kita akan terikat sebagai saudara ipar!” pekiknya riang.

Nadia merunduk, tapi ada senyum di bibirnya. Senyum bahagia. Kemudian ia mengangkat wajahnya, menatap cakrawala senja. Ia dengar lagi Aysah menghela napas panjang dan membuat Nadia berpaling menatapnya saat mendengar Aysah melantunkan sebuah lagu. Nadia tersenyum makin lebar dan mengikuti lantunan Aysah.

Never make promises lightly,

There have been some that I’ve broken,

I swear when the days still left,

We’ll walk in fields of gold…

We’ll walk in fields of gold…

***

 

 

Alhamdulillah, selesai….

 

 

 

 

 



[1] Al Ahzab ayat 37

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...