Namaku Lyvina

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Farinka Nurrahmah A.


Kulihat tayangan berita di televisi, berkelebat potret ketakutan para anak dan wanita jalur Gaza, yang anehnya tidak sedikitpun membuatku merasa iba atau bersedih. Aku hanya tersenyum tipis.

Bagiku itu hal yang pantas mereka dapatkan setelah sekian lama menduduki tanah yang seharusnya milik kami, bangsa Israel. Ya, siapa bilang jalur Gaza milik bangsa Palestina yang mengenaskan itu? Tanah itu hanya milik Israel dan tidak bisa diganggu gugat.

Mataku masih asyik menekuni berita televisi itu. Sebuah bom meledak, beratus orang meninggal, minimal luka bakar. Aku tertawa lepas.

Baguslah, semakin banyak rakyat Palestina yang meninggal, semakin senang hatiku. Kebencianku pada mereka sudah teramat dalam. Sedalam palung laut yang terdalam. Bangsa Palestina harus musnah! Titik.

Oh ya, perkenalkan namaku Lyvina Vizi. Dari dulu hingga sekarang aku selalu tinggal di tanah yang dijanjikan ini. Ayahku mantan tentara Zionis yang disegani. Sedangkan ibuku seorang aktivis sebuah partai yang sedang berjaya. Sebagian dari kampanyenya menyerukan tentang pentingnya agresi militer untuk bangsa Palestina. Jadi, kalian telah memahami mengapa diriku sangat membenci bangsa Palestina.

Aku sendiri adalah seorang relawan yang merawat tentara Israel yang sakit dalam peperangan. Jujur saja, hari ini hari yang besar bagiku. Agen rahasia Israel telah memintaku dan Shareen untuk menyusup di tengah-tengah rakyat Palestina untuk mengetahui markas rahasia pejuang Hamas.

Bagiku tawaran ini adalah tantangan yang mengasyikan meski teramat berbahaya. Setelah dipikir matang-matang, akhirnya aku dan Shareen menyetujui rencana tersebut.

Sekitar sepuluh menit lagi kami berangkat.

Kumatikan televisi dengan segera ketika mendengar suara langkah kaki memasuki apartemenku yang tidak dikunci.

“Sudah siapkah engkau, Lyvin?” tanya Shareen sembari mengangkat kopernya yang berisi perlengkapan penting. Gadis itu mengenakan jilbab dan gamis. Dengan wajahnya yang sangat Arab itu, nyaris tidak akan ada yang mencurigai bahwa ia “orang Palestina” gadungan.

“Kau tidak perlu menanyakan hal itu! Aku selalu siap untuk menghancurkan para ghayim (binatang. Julukan untuk orang non-Yahudi)!” Tawaku lepas, membahana memenuhi ruangan. Shareen terlihat takjub.

“Kau bisa tertawa Lyvin? Aku sungguh merasa was was dengan misi kali ini.”

“Tidak perlu gugup! Bukankah tugas kita sama seperti biasa, merawat korban yang terluka?”

Shareen mengangguk. Aku masih mempertahankan senyum lebarku.

Di luar telah terdapat sebuah Monil Van yang siap menjemput kami dan mengantar kami ke perbatasan sebuah tempat di jalur Gaza. Dalam perjalanan tak henti-hentinya aku tersenyum sendiri. Seperti ada hentakan bahagia bertalu-talu di jantungku. Akhirnya, ada jasa yang bisa kuberikan kepada bangsaku, Israel yang tercinta.

***

Kami berhenti di sebuah jalan gersang yang tak luput dari pengeboman yang dilancarkan Israel kemarin. Puing-puing bangunan ini seperti sebuah artefak yang terbalut dalam sejarah kepahitan.

Shareen terpana melihat sekeliling. Sempat kulihat matanya memerah. Aku tak tahu itu karena iba atau karena ada debu yang masuk ke matanya. Bagiku tangisan yang tumpah bagi bangsa Palestina adalah sia-sia. Menjijikkan malah.

Aku dan Shareen mendaftar pada sebuah klinik di Yareem. Sebuah perkampungan yang dicurigai sebagai tempat perawatan pejuang Hammas. Bermodal dokumen palsu, kami diterima tanpa curiga. Lagi pula mereka kekurangan tenaga sukarelawan untuk mengurus begitu banyak pasien yang menjadi korban.

***

Pada minggu pertama kami merawat begitu banyak korban perang yang terdiri dari warga sipil. Tak pernah nampak batang hidung pejuang Hammas sekalipun. Hal ini membuatku kecewa. Namun, mau tahu kegiatan apa yang sedikit membuatku bahagia? Yaitu membunuh rakyat sipil sesekali.

Hal ini kulakukan kepada rakyat sipil yang  telah koma, atau yang kemungkinan sembuh sedikit sekali. Kusuntikan sebuah bahan kimia berbahaya yang langsung mematikan saraf organ penting. Tak lama kemudian mereka pasti akan mati. Kulakukan ini sesekali saja agar para perawat lain tak merasa curiga.

Aku menikmati setiap ”pembantaian” yang telah terjadi. Tak pandang bulu, anak-anak dan juga perempuan Palestina banyak yang meregang nyawa di hadapanku. Bagiku, setiap nyawa yang nmelayang memberiku ruh kebahagiaan yang tak terperi. Aku berubah menjadi psikopat yang terlatih di sini.

***

Suatu hari Shareen mendatangiku secara diam-diam ketika memergoki kejahatan yang telah kuperbuat.

“Lyvin, seharusnya kau tak melakukan itu, kawan!” suaranya tercekat di tenggorokan, matanya nyalang menatapku, “Tugas kita hanya mencari tahu di mana letak pejuang Hamas berada bukan?”

“Persetan dengan perkataanmu, Shareen. Bagiku bangsa Palestina dan Hamas sama, mereka semua harus hancur. Setidaknya aku membantu pemerintah Israel sebisaku.”

“Aku tahu kau sangat-sangat membenci bangsa ini, namun tak bisakah kau menyisakan sepercik rasa kasihan? Bukankah mereka rakyat sipil! Mereka bukan target kita!”

“Tiada rasa kasihan untuk para ghayim!” jawabku singkat. Aku sendiri heran dengan respon berlebihan yang ditunjukkan Shareen itu.

Lalu tanpa kuduga Shareen mengamuk, ia mengataiku sebagai manusia biadab tak berperasaan. Aku terheran-heran melihat dirinya seemosional itu. Ini bukan Shareen yang kukenal, selama ini Sharen tidak pernah marah.

Saat ini dia bahkan membuatku kecewa karena tiba-tiba tampak begitu peduli dengan rakyat Palestina yang selama ini juga ia benci.

“Ini bukan pertama kalinya bukan?” Shareen seperti sedang menggertakku, matanya semakin melebar. Hampir-hampir membuatku gentar. “Sudah berapa kali kau lakukan ini?”

Aku menatap tajam mata Shareen, “Kurasa aku tak perlu menjawabnya.”

Shareen mendesakku ke dinding.

“Selama ini aku hanya diam agar kau tak terlibat masalah, namun semakin lama aku semakin tak tahan dengan kebiadabanmu, kau tak punya perasaan, Lyvin. Dulu kau adalah gadis lembut yang penyayang. Bahkan melihat binatang luka saja kau akan merawatnya. Sekarang…  kau bahkan lebih kejam daripada iblis!”

Aku terkejut bukan alang kepalang. Bagaimana bisa Shareen berkata seperti itu? Seharusnya dia tahu, kebencianku pada Palestina telah menjalar bagai spora di tempat lembab. Seharusnya dia tahu itu dan tidak perlu heran dengan apa yang kulakukan!

“Aku tak mengerti kamu, Shareen!” lirihku, semakin bingung melihat mata Shareen yang kini mulai memerah dan kemudian meneteskan bulir bening.

Shareen menangis?

“Kau menangis untuk para ghayim, Shareen?” cukup sudah! Aku muak melihat tingkah anehnya ini.

“Tidak! Aku menangis atas kematian nuranimu!”

Baru saja Shareen mengatakan hal menjijikan itu, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara dentuman yang amat dekat. Dinding-dinding bergetar. Aku terpana.

Tentara Israel menghadiahi bom untuk klinik kecil ini? Bukankah mereka tahu aku dan Shareen masih bertugas di sini! Apakah karena kami tidak mengabarkan progres apapun mengenai markas rahasia Hamas sehingga mereka hendak meluluhlantakkan tempat ini?

Satu lagi suara dentuman terdengar. Aku makin terperangah.

Shareen menarikku untuk berlari menyelamatkan diri. Tapi terlambat, atap klinik runtuh tepat menimbunku. Debu-debu yang bertebangan segera memenuhi rongga pernafasanku.

Sebelum aku kehilangan kontrol atas kesadaranku, sempat kudengar Shareen memekikkan namaku.

“Lyvinaaa….”

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...