Nini Thowong

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Gusrianto

Kalau kupikir-pikir, dalam beberapa hal nasibku hampir sama dengan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim adalah putra dari seorang pembuat berhala terkenal di zamannya. Bahkan berhala-berhala buatannya sampai masuk ke dalam istana raja. Begitu juga dengan bapakku, beliau adalah seorang pembuat nini thowong yang terkenal. Nini thowong buatan Bapak juga laris manis tanjung kimpul, banyak yang memesan, bahkan sampai ke luar kampung.

Nini thowong merupakan permainan tradisional dari desaku, sebuah desa kecil di kabupaten Bantul. Permainan ini sudah turun temurun dari dulu, bahkan sewaktu masih duduk di bangku SMP aku sering disuruh untuk menjadi salah seorang yang memegang nini thowong sewaktu dimainkan. Kalau kuingat-ingat kejadian itu, aku jadi malu sendiri, bagaimana mungkin saat itu aku turut percaya bahwa nini thowong bisa mengabulkan segala doa? Selain sebagai permainan, nini thowong juga dianggap sesuatu yang sakral, kalau tidak dipercayai, bisa mendatangkan bala.

Liburan semester kali ini (setelah hampir tiga tahun tidak pulang), aku bertekad untuk meluruskan akidah bapak, simbok dan orang-orang kampung.

***

Assalamualaikum……Mbook…!” kuketuk pintu depan sambil memanggil Simbok. Seperti apakah dia sekarang? Kurus, makin gemuk, atau masih seperti dulu? Dari dalam rumah kudengar langkah kaki mendekati pintu. Aku menarik nafas dalam-dalam, rasa haru tiba-tiba menyeruak.

Ati…kamu tho, ndhuk? Aduuh…pulang juga kamu.” Simbok memelukku erat. Rindu. “Bagaimana kuliahmu? Lancar?”

Aku tersenyum, “Alhamdulillah, Mbok.” Lalu simbok mengajakku masuk, duduk di kursi rotan. Mataku menyapu seluruh ruang tamu, boleh dikatakan tidak ada yang berubah, hanya rumahnya saja yang kelihatan semakin tua. Kulihat simbok terus memandangiku. Aku jadi risih. Simbok sepertinya begitu terpaku.

Ini benar kamu kan, Ti?” aku tergelak mendengar pertanyaan simbok. Apakah aku begitu jauh berubah sehingga simbok sampai meragukan kalau aku memang anaknya? Perasaan nggak ada yang berubah dalam diriku. Atau mungkin di mata simbok aku tambah cantik? He..he..

Piye sih, Mbok, ya jelas ini Sumiati, satu-satunya anak Mbok dan Bapak.”

Habis… kamu sangat jauh berubah.” Aku melongo mendengar ucapan Simbok. Benarkah? “Apalagi dengan jilbabmu itu….”

Ooohhh…baru kusadari. Memang, sejak keberangkatanku dari rumah tiga tahun yang lalu, aku belum pernah pulang. Liburan semester kugunakan buat bekerja, sebab memang uang kuliah dari kampung tak bisa begitu kuharapkan, kadang ada kadang tidak. Kalau ada itupun tak mencukupi untuk membiayaiku. Lagipula, Jakarta-Jogja bukanlah jarak yang dekat, butuh ratusan ribu untuk bisa pulang kampung.

Untunglah dengan kemampuanku menulis cerpen, puisi, dan artikel-artikel yang kukirim ke redaksi-redaksi majalah dan surat kabar begitu membantu lancarnya kuliahku. Dan kabar tentang hijrahnya aku untuk memakai jilbab hanya kutulis lewat surat. Dari surat balasan simbok, aku tahu kalau dia tidak keberatan, hanya saja bapak yang katanya kurang setuju. Oh ya, berpikir tentang bapak, di mana dia?

Bapak mana, Mbok?” kualihkan perhatian simbok dari menatapku.

Di belakang, lagi menyelesaikan pembuatan nini thowong, pesanan Pak Lurah.” Deggg…hatiku berdetak. Nini thowong…teringat lagi tujuan kepulanganku, bukan hanya untuk mengobati rindu, tapi juga….ah, sanggupkah aku menghentikannya? Sanggupkah aku menghadapi bapak? “Ayo, temui dia dulu, dia juga kangen lho..”

***

Rumah sepi. Bapak dan Simbok katanya pergi ke rumah Pak Barjo, menghadiri acara selamatan 40 hari kematian istrinya. Ada-ada saja. Memang warga desaku mayoritas penganut Islam kejawen, yang mempercayai Islam, namun tidak begitu menjalankan syariatnya. Buktinya orang sudah meninggal malah dirayakan, ngadain selamatan segala. Macam-macam itu namanya, sedekah surtanah, sedekah nelung dina, mitung dina, matang puluh dina, nyatus, mendak pisan, mendak pindo dan sedekah nyewu. Katanya itu merupakan salah satu jalan untuk menolong keselamatan orang yang sudah meninggal di akhirat.

Dengan hati-hati kumasuki ruang kerja Bapak. Sebuah ruangan di belakang rumah tempat biasanya dia melakukan pekerjaannya. Beberapa tempurung kelapa tampak berserakan di lantai, juga bambu-bambu, ada beberapa boneka yang sudah siap kerangkanya dan bahkan ada yang sudah jadi, dua buah boneka nini thowong yang begitu mirip anak perempuan, lengkap dengan busana dan segala macam hiasannya. Mirip dengan ondel-ondel mini yang sering kulihat di Jakarta sana.

Ya Allah…harus kuapakan ini semua? Teringat lagi aku kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala buatan ayahnya di istana raja. Lalu, apakah boneka nini thowong ini juga akan mengalami nasib yang sama? Otakku berpikir, membayangkan reaksi bapak seandainya dia tahu hasil kerjanya porak poranda. Kupandangi lagi boneka nini thowong yang sudah jadi, dia juga menatapku, seolah tahu aku begitu membencinya. Menurut Simbok, salah satu boneka itu akan dimainkan untuk mengobati putri Pak Lurah yang sudah sakit selama dua minggu. Peran dokter benar-benar tidak diperlukan di kampung ini.

Tiba-tiba sebuah ide melintas di benakku. Sebuah ide cemerlang. Aku melangkah keluar, sebelum menutup pintu ruang kerja Bapak aku menatap nini thowong, tunggu nini…saatnya untuk kita membuat perhitungan akan tiba.

***

Pak…bapak percaya kalau nini thowong punya kekuatan?” Dengan hati-hati kuajukan pertanyaan itu, jangan sampai Bapak tahu kalau aku sudah mulai menjalankan misiku. Bapak menghentikan pekerjaannya membersihkan tempurung kelapa. Lalu memandangku.

Pertanyaanmu aneh, Ti…ya jelas percaya. Kekuatannya timbul karena roh yang merasukinya.”

Jadi apa benar ada roh yang masuk ke tubuh nini thowong?” tanyaku lagi.

Kamu ini piye tho? Bukankah dulu kamu sendiri yang sering memainkannya? Kamu ndak ngerasai to?”

Ati cuma mengikuti prosedur seperti apa yang diperintahkan. Saat itu Ati tidak tahu kalau ada roh yang masuk.”

Dulu aku sering memainkan nini thowong, memegang salah satu kaki nini thowong bersama tiga orang anak perempuan lainnya. Nini thowong merupakan simbol anak perempuan. Oleh karena itu kebanyakan yang bermain juga anak-anak perempuan. Di samping berfungsi religius magis seperti mengobati orang sakit, nini thowong juga berfungsi sosial, karena mampu mengumpulkan anak-anak desa bermain bersama, sehingga hubungan mereka makin akrab.

Ti…kamu dengarkan berita tentang meninggalnya seorang wartawan dan seorang turis Agustus lalu.” Bapak kini benar-benar menghentikan pekerjaannya dan menatap lurus ke arahku. “Mereka meninggal setelah selesai menyaksikan permainan nini thowong di lapangan kecamatan, usai 17 Agustus. Tahu kenapa mereka meninggal?”

Aku menggeleng, walau sebenarnya sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan Bapak.

Karena mereka tidak percaya bahwa di dalam tubuh nini thowong ada roh, sehingga roh itu marah dan membunuh orang itu…”

Ya Allah, dari mana Bapak dapat mengambil kesimpulan seperti itu? Apa memang dia berhasil mewawancarai roh itu?

Tapi Ati yakin bukan itu penyebabnya, Pak.”

Maksudnya…kamu juga ndak percaya bahwa nini thowong dirasuki roh?”

Aku menggeleng. “Kematian ada di tangan Allah, Pak, bukan di tangan nini thowong.”

Oalah..Ti…kowe bisa kuwalat.” Bapak menatapku cemas, seolah-olah di dekatku ada roh halus yang mendengar.

Pak, kita orang beragama. Islam melarang menyekutukan Allah. Syirik namanya. Dosanya besar…”

Mentang-mentang sudah sekolah tinggi, sekarang kamu berani nggurui bapakmu. Ndak baik minteri wong tuwo.” Bapak menatapku tajam.

Ati bukan nggurui, Pak. cuma meluruskan, kalau apa yang selama ini kita dan orang-orang desa percayai adalah salah. Dosa.”

Kamu itu baru lahir kemarin sore, masih kecil, belum tahu apa-apa. Ini tradisi nenek moyang kita. Tradisi leluhur, kamu jangan coba-coba menentang. Mau dapat bala, apa?” muka bapak mulai merah. Aku takut juga. Tapi ada yang lebih pantas untuk ditakuti, aku siap memerangi Bapak.

Pak, Ati memang masih kecil. Tapi tak selamanya kebenaran berasal dari orang dewasa. Bapak bilang ini tradisi leluhur. Jauh sebelum leluhur kita lahir, Baginda Rasulullah sudah…”

ATI!!” suara Bapak menghentikan khotbahku. Lalu membuang muka, melanjutkan pekerjaannya, seolah aku tak berada di situ.

Pak, dalam hal ini  Bapaklah yang punya dosa paling besar. Sebab dari tangan bapaklah berhala-berhala nini thowong lahir. Sadar, Pak, Islam…”

Keluar!! Segera tinggalkan ruangan ini!” Bapak berdiri sambil melayangkan tunjuknya ke arah pintu, mengusirku dengan tidak hormat.

Aku berdiri, “Sekali lagi Ati…”

Keluar atau kau benar-benar akan kuusir!”

Tergesa aku berlari keluar. Di depan pintu aku berpapasan dengan Simbok, aku berusaha menyembunyikan air mata yang mulai turun dan berlari ke dalam kamar.

***

Iring-iringan itu mulai memasuki daerah pekuburan. Matahari sudah hampir tenggelam. Beberapa obor yang dibawa beberap pemuda desa menerangi suasana pekuburan yang remang-remang. Yu Marti, salah seorang warga desa tampak berjalan paling depan sambil menggendong boneka nini thowong buatan bapak. Di sampingnya mengiringi seorang pawang yang nantinya akan membacakan mantra-mantra agar roh halus merasuki nini thowong. Pawang itu juga memegang sebuah baki besar, berisi bunga kenanga, bunga mawar, kanthil, kinang, boreh (bedak dingin tradisional), minyak wangi, kemenyan, sekeping uang logam dan setangkep pisang raja. Kesemua itu adalah sesaji buat nini thowong.

Di belakang Yu Marti dan pawang mengiringi beberapa orang anak-anak, dan beberapa orang warga desa, tua dan muda, juga Simbok dan Bapak. Setelah sampai dikuburan yang dituju, kulihat pawang meletakkan sesaji dan tak lama kemudian bau kemenyan memenuhi seantero pekuburan, menimbulkan suasana makin menegangkan. Kulihat pawang komat-kamit melafazkan sesuatu, entah apa. Tapi setahuku itu adalah mantra untuk meminta pada dhanyang agar memperkenankan meminjamkan roh anaknya, si bocah bajang...

Upacara pengisian nini thowong dengan roh halus tidak berlangsung lama. Lalu Yu Marti kembali menggendong boneka setinggi lebih kurang 130 cm itu, dan semua beranjak meninggalkan kuburan. Tujuannya adalah lapangan di samping rumah Pak Lurah, di sana nantinya nini thowong akan dibangkitkan untuk mengobati putri beliau yang sakit.

Ayo mupu bocah bajang, rambute abang arang…” beberapa orang anak perempuan  menyanyikan  lagu boyong berulang-ulang mengiringi nini thowong ke tanah lapang. Setelah sampai nantinya akan disambut dengan lagu bageya. Aku sampai sekarang masih hafal dengan semua  lagu-lagu itu. Tanpa sadar mataku dan mata  Bapak bertemu. Tatapannya seolah mengatakan Ati, kau dulu adalah salah satu dari anak-anak itu, jangan lupakan. Aku cuma menunduk, sejak kejadian tempo hari aku dan bapak tidak bertegur sapa. Tepatnya Bapak yang tidak mau menegurku.

Di lapangan sudah banyak orang yang menunggu, ingin menyaksikan upacara pengobatan tersebut. Tampak Pak Lurah sedang mendampingi putrinya. Sebentar lagi nini thowong akan dibangkitkan. Sebentar lagi…aku menarik nafas dalam-dalam, memohon kekuatan pada Allah, sebentar lagi segalanya akan dimulai.

Empat orang anak perempuan sambil duduk memegang rangka kaki nini thowong, mengangkat-angkatnya. Lalu terdengarlah lagu ilir-ilir, lagu khusus untuk membangkitkan nini thowong. Sang pawang berdiri tak jauh dari mereka.

Tiba-tiba aku menjerit, histeris, keringat dingin mengalir dari seluruh tubuhku. Sorot mataku tajam menatap orang-orang di sekitar lapangan. Tanganku mengejang, mataku melotot, lalu kupegangi leherku.

Tidaaaakk….keluaaarrr !” aku berguling-guling, lalu bangkit lagi. Semua terkesima, apalagi Bapak dan Simbok.

Ati…kenapa, ndhuk?” Simbok berlari menghampiriku.

Pergi !” suaraku parau, aku menunjuk Simbok. Simbok tampak sangat kaget. Lalu kudengar orang-orang mulai berbisik-bisik.

Ati kesurupan….”

Iya, bocah bajang merasuki dirinya….”

Berarti dia tidak percaya adanya roh tersebut, bukankah bocah bajang hanya menyerang orang yang tidak mempercayainya?”

Pak, Ati kenapa, Pak?” Simbok berlari mendekati Bapak, menangis. Bapak hanya diam.

Tiba-tiba aku tertawa. Lepas. “Bocah bajang, kau pikir aku takut?” aku berkata, suaraku kuusahakan setenang mungkin.
“Kau akan kubunuh!” itu suara bocah bajang, tapi juga berasal dari mulutku,  intonasinya sangat tajam.

Bunuh? Coba saja,” jawabku kembali.

Orang-orang tampak terpaku menyaksikanku. Sebenarnya sudah ada beberapa orang pemuda berusaha mendekatiku, namun aku melototkan mata sebesar-besarnya, dengan eksepresi yang sangat menakutkan, sehingga mereka kembali mundur.

Lihat, Ati bercakap-cakap dengan roh itu..” kembali kudengar beberapa suara.

Lalu aku berteriak, “Allahu akbar...” dan dengan suara keras kulantunkan ayat kursi dengan irama sebagus mungkin. Dilanjutkan dengan tasbih, tahlil dan beberapa ayat Al-quran lainnya.

Hentikaann…!” aku berteriak dengan suara lantang. Wajahku tampak sangat tegang.

Kau takut?” ujarku lagi, dengan mimik tampak sangat senang, puas. Aku berhasil membuat bocah bajang ketakutan.

Ya…aku takut….aku…kalah.” Aku berkata dengan suara gemetaran, wajahku berubah jadi mimik ketakutan. Kembali kudengar desas-desus orang-orang yang  menyaksikan dengan wajah tegang. Ada juga yang ketakutan, ya…Simbok.

Roh itu kalah…” suara di belakangku.

Roh itu menyerah…” kali ini bapak-bapak yang tak jauh di depanku bersuara, tampaknya dia senang.

Yu Ati hebat….Yu Ati hebaaatt…” teriak beberapa bocah sambil melonjak kegirangan.

Tadi Ati baca apa?” Yu Marti melirik pawang yang sedari tadi begitu terpaku menatap aksiku melawan bocah bajang.

Itukan ayat-ayat Al-Quran,” seseorang menjawab tanya Yu Marti.

Setelah bisik-bisik hilang semua kembali menatapku, simbok tampak terguncang dipangkuan bapak, tapi kini wajahnya sudah tidak setakut tadi lagi.

Bocah bajang…” aku kembali buka mulut, “Benarkah kau sanggup mengobati putri Pak Lurah?”

Ti…ti..dak…” jawabku terbata.

Lalu bagaimana dengan kejadian Agustus lalu? Kau atau mungkin temanmu yang lain yang membunuh dua orang di desa ini?”

Tidak….bukan…bukan aku, memang….. sudah ajalnya.” Walaupun terbata aku yakin itu cukup didengar oleh yang hadir. Tiba-tiba aku berlari menghampiri seorang anak perempuan yang memegang nini thowong, dia tampak ketakutan. Kurebut nini thowong dari tangannya dan dengan sekuat tenaga kubanting ketanah. Sesaat sebelum nini thowong menyentuh tanah aku berteriak dengan kuat, dengan suara menggigil ketakutan.

Tidaaaaak….ampuni akuu…”

Praak…tempurung kelapa yang menjadi kepala nini thowong pecah. Kubuang nini thowong ke tanah, kuinjak-injak. Tiba-tiba kurasakan sekelilingku gelap. Pingsan.

***

Ina dan Dian menatap tak percaya ke arahku. Mereka adalah temanku di rohis kampus.

Aku nggak percaya kamu mampu melakukan itu, Ti..” ujar Dian.

Iya, kami mengakui aktingmu di teater kita  memang hebat. Tapi…untuk itu..” Ina menatapku tak berkedip.

Aku cuma tersenyum. Memang…itu adalah hal tergila yang mungkin pernah kulakukan. Beraksi di depan warga desa, berbuat seolah aku dirasuki roh halus. Mengubah suara? Jangankan dua macam…lima jenis suara berbeda aku bisa melakukannya.

Tapi kok pakai acara pingsan segala sih?” Dian kembali bertanya.

Habis mau gimana, wong aku juga bingung mau bersikap bagaimana setelah itu. Ya sudah, jalan terbaik memang aku harus pura-pura pingsan. Lagipula orang kerasukan biasanya juga ada pingsan-pingsannya.” Aku jadi  ingat bagaimana beberapa orang pemuda desa menggotongku ke rumah waktu itu.

Lalu bagaimana reaksi Bapak, simbok, dan orang-orang desa setelah itu?”

Keesokan harinya aku ke rumah Pak Lurah. Minta maaf  karena telah merusak upacara itu, tapi aku juga berusaha meyakinkan beliau bahwa perbuatan yang telah mendarah daging di tubuh masyarakat adalah perbuatan syirik, menyekutukan Allah, aku juga menyarankan agar putrinya di bawa ke rumah sakit. Pak Lurah hanya mengangguk-angguk. Namaku pun langsung terkenal, bahkan cerita aku berhadapan dengan roh juga sampai  ke desa sebelah. Bapak hanya diam, tak ada komentar, tapi kulihat dia tak lagi memasuki ruang kerjanya.” Aku menarik nafas. “Mudah-mudahan semua percaya bahwa yang mereka yakini adalah salah. Tapi….apa aku nggak berdosa telah membohongi sekian banyak orang?”

Ti, berbohong untuk kebaikan nggak ada salahnya kan? Lagi pula ini menyangkut akidah.” Dian menjawab keraguanku.

Jalan dakwah itu nggak cuma satu, Ti. Dan tak ada jalan yang mudah. Surga itu memang mahal, Ti.”

Yuk, masuk, ntar telat lagi.” Ina mendahului kami menuju ke kelas, saatnya mengikuti kuliah. Sambil berjalan aku ingat Bapak, Simbok, dan warga desaku. Aku yakin…walau mereka sulit menerima kenyataan itu, tapi mereka akan meninggalkan kebiasaan itu. Setidaknya Bapak tak lagi menjadi seperti ayahnya Nabi Ibrahim. Aku sendiri tak tahu bagaimana kehidupan di desa setelah kejadian itu, karena dua hari setelah malam itu, aku kedapatan telegram dari ibu kost, katanya dia butuh orang buat menjaga toko dan rumahnya, berhubung orang yang biasa membantunya sedang ada keperluan ke luar kota.

Tapi itu baru satu episode dari sekian episode yang harus kujalani. Ya…masih banyak hal-hal yang perlu kubenahi di desaku, terutama dalam hal akidah. Ladang dakwah selalu menantiku, di kampung halamanku sendiri.***

 

Tuk Siska di Bantul, thanks atas kiriman literaturnya.

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...