Orang-orang yang Menunggu Mati

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Wanto Robusta

Bagi kami, kematian adalah matahari yang akan terbit esok hari. Bukan lagi sebuah misteri yang entah kapan datangnya. Atau sebuah teka-teki yang entah di mana akan terisi. Sekali lagi, kematian bagi kami adalah matahari. Yang esok pasti terbit. Yang esok pasti akan terjadi.

***

Setiap kali matahari terbit di halaman pagi, setiap itu pula kematian hadir di sekitar kami. Tiga hari yang lalu, ayahku mati. Seminggu yang lalu, kakakku juga mati. Hari ini, entah siapa yang akan mati. Ibukukah? Atau aku? Karena hanya aku dan ibu yang tersisa dalam keluargaku. Tapi tidak ternyata. Ibuku masih bangun dari tidurnya. Aku pun masih melihat matahari terbit. Berarti aku masih hidup. Ibuku juga.

Tapi bukan berarti tidak ada yang mati hari ini. Saat aku keluar rumah, banyak yang mati sepanjang jalan. Atau ada saja yang keluar dari rumah masing-masing dengan menggendong tubuh yang tak lagi bernafas. Itu pasti salah satu keluarga mereka, yang baru saja mati hari ini. Kematian dan kehidupan, tidak ada bedanya bagi kami. Kematian dan kehidupan, bukan lagi jarak antara bumi dan langit. Kematian bukan lagi sesuatu yang asing bagi kehidupan kami.

Kematian, kami mengenalnya seperti kehidupan. Bahkan, kematian seperti tidak ada beda dengan kehidupan. Kematian, kami temui setiap hari, setiap saat, seperti kami merasakan kehidupan yang setiap hari dan setiap saat pula. Tidak ada kokok ayam di pagi kami. Tidak ada kicau burung di pagi kami. Pagi kami hanya dihiasi dengan orang-orang mati. Siang kami hanya sibuk dengan membuang orang-orang mati. Bukan untuk dikubur. Tetapi untuk dikumpulkan dalam satu tempat. Bahkan kami tidak pernah mengumpulkannya dengan meletakkan tubuhnya. Tetapi melemparnya. Dalam ke sebuah lubang. Sebuah lubang yang dibuat oleh orang-orang bertopeng. Orang-orang dengan pakaian loreng. Dengan senjata laras panjang, dan lengkap dengan peluru tajam tentunya. Di sini memang tidak sedang perang. Tapi senjata tetap mereka butuhkan. Untuk berjaga-jaga dari kami.

Mereka takut kami mendekat. Atau tepatnya mereka tak ingin kami medekati mereka. Jika di antara kami ada yang mendekat, mereka tak segan untuk mengusir kami. Jika tak menghiraukan, senjata yang akan mereka gunakan. Itu untuk menjaga agar mereka tidak menjadi seperti kami. Bahkan, untuk membagikan jatah makan, mereka melemparnya dari dalam mobil. Tak jarang makanan yang meraka lempar, lebih dulu didapatkan anjing-anjing liar yang ada di mana-mana. Atau berhamburan karena menghantam batu. Dan tidak ada ganti. Kami harus berebut dengan anjing untuk makan. Atau memunguti yang berhamburan tadi. Karena hanya itu harapan kami untuk makan. Untuk hidup. Untuk menunggu giliran mati.

***

Siang ini, seperti siang-siang yang lain sebelumnya. Aku duduk di depan pintu rumah. Memandang jalanan. Memandang lengang. Dan kekosongan. Dan memang seperti inilah kampung kami. Sejak lima tahun yang lalu, kampungku tertutup bagi umum. Tidak ada penjual sayur. Tidak ada penjual es krim. Tidak ada tukang pos, yang mungkin membawa sedikit berita bahagia untuk kami.

Lima tahun yang lalu, sejak orang-orang bertopeng itu datang ke kampung kami. Dengan mobil berlapis baja. Dengan senjata laras panjang, dan lengkap peluru tajam tentunya. Di ujung kampung, mereka membuat tempat. Tempat untuk mereka tinggal. Berlindung. Dan entahlah apa lagi yang mereka lakukan di ujung kampung itu.

Sejak mereka datang itulah orang-orang kampungku mulai sakit-sakitan. Gatal-gatal. Sekujur tubuh merah. Kemudian menjadi luka karena selalu digaruk dengan kuku. Akhirnya, tubuh kami, tubuh seluruh orang kampung, membusuk. Semakin lama, semakin gatal. Semakin busuk. Semakin sering kami menggaruk, dan daging tubuh kami sedikit-demi-sedikit lepas.

Tidak ada obat. Tidak ada bantuan. Yang ada, kampung kami tertutup. Tertutup bagi siapa saja. Juga tertutup bagi kami untuk keluar dari kampung. Tidak ada dokter. Tidak ada pemerintah, dengan obat-obatan mungkin, atau makanan mungkin, atau sedikit perhatian untuk berkunjung ke kampung kami. Memberikan sebungkus harapan. Menyampaikan secuil kesabaran. Atau apa saja. Tapi itu tidak ada. Benar-benar tidak ada.

Yang ada hanya orang-orang bertopeng itu. Berbaju loreng. Bersenjata laras panjang, dan lengkap dengan peluru tajam tentunya. Dan mungkin, memang itulah obat kami. Obat untuk kami agar sembuh dari penyakit ini. Juga sembuh dari sakitnya hidup. Menuju kematian.

Dan siang, dan lengang, juga aku, masih duduk di sini. Di depan pintu. Saat seseorang melintas di jalanan. Memecahkan lengang yang sejak tadi ku tatap. Seorang lelaki. Dengan topi khasnya. Berwarna putih. Bulat. Bukan seperti topi sebenarnya. Tapi lebih seperti kain kecil yang melilit kepalanya. Sesuatu yang asing bagi kami. Apalagi ditambah dengan kain yang menutup pundaknya. Melingkar di sekitar pundak dan leher.

Tapi sudah beberapa hari ini, mungkin sejak seminggu yang lalu, sejak kakakku mati, orang itu melintas di jalanan di depan rumahku. Entah siapa dia. Ibu tidak tahu. Aku juga tidak tahu. Begitupun orang-orang kampung, tidak ada yang tahu tentang lelaki itu. Dan siang kembali lengang, saat lelaki itu hilang dari jalanan di depan rumahku setelah sebelumnya menatap mataku. Dan tersenyum…

***

Malam menjadi tanda tanya yang besar bagiku. Tentang lelaki dengan topi putih, dan kain yang melingkar di sekitar leher dan pundaknya. Membuat mataku susah terpejam. Kulihat Ibu sudah tidur. Tapi aku, masih penasaran dengan lelaki itu. Setiap hari ia melintas. Wajahnya bersih. Berseri. Dia tidak jalan dengan pincang. Pertanda tidak ada luka di kakinya. Seperti luka di kakiku. Juga kaki-kaki orang satu kampung. Jari-jarinya tidak dibungkus dengan kain. Pertanda jari-jarinya masih utuh. Tidak seperti milikku yang telah hilang satu jari. Karena gatal. Dan terus kugaruk. Akhirnya lepas.

Lelaki itu, tidak seperti kami. Lelaki itu tidak sakit seperti kami. Tapi dia juga tidak seperti orang-orang bertopeng, berbaju loreng, dan senjata laras panjang, dan lengkap dengan peluru tajam tentunya. Lelaki itu tidak bertopeng. Tidak berbaju loreng. Apalagi senjata laras panjang, dan peluru tajam. Dia benar-benar berbeda dengan mereka. Tapi dengan kami juga. Tapi kalau dia tidak bersenjata, berarti dia tidak takut pada kami. Maksudnya kami dekati. Ah, siapa lelaki itu?

Besok siang, aku akan menunggunya. Dan mencoba mendekatinya. Itu jika aku tidak mati malam ini

***

Dan matahari terbit. Aku masih bisa membuka mataku. Merasakan sinar matahari yang menyelinap masuk lewat celah jendela rumahku. Berarti aku masih hidup. Belum mati. Aku bangkit dari tempat tidur. Membuka pintu kamar. Dan kutemukan sesosok tubuh tergeletak di lantai rumahku. Kaku. Tak bergerak. Ibu. Ibuku telah mati. Hari ini, pagi ini, ternyata ibuku yang mati.

Aku diam. Memandang tubuh Ibu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bahkan untuk menangis pun, aku tidak tahu. Karena kematian yang datang setiap hari, seperti matahari terbit, telah menjadikan aku, juga orang-orang kampung untuk tidak menangisi kematian. Kehilangan, kesedihan, serta putus asa yang kami rasakan tidak lagi dapat diwakili oleh tangisan. Bahkan untuk aku, yang hari ini kehilangan seorang ibu, yang saat ini telah menjadi sebatang kara di dunia ini, tidak lagi dapat menangis. Hanya sesak dan pandangan kosong, serta kebingungan yang aku rasakan.

Mengapa aku tidak mati saja malam tadi? Mengapa aku harus sendiri saat ini? Menunggu untuk mati? Bukankah ini tidak enak.

***

Sampai siang, aku masih diam di sisi tubuh ibu. Masih bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Mengangkat mayat Ibu dan membawanya ke lubang pembuangan? Tentu saja aku tidak kuat. Bahkan untuk membawa tubuhku berdiri dan menuju ke pintu untuk menunggu lelaki bertopi putih saja aku tidak kuat. Aku lemas. Hingga tiba-tiba pintu rumahku bergerak. Terbuka. Dan sesosok tubuh terlihat jelas olehku sedang berdiri di depan pintu.

Seorang lelaki, dengan topi putih dikepalanya, dan kain yang melingkar di sekitar lehernya. Sejenak, ia melihatku. Melihat mayat ibuku. Kemudian ia masuk ke dalam rumahku. Mengambil kain selimut yang dipakai ibu. Digunakan untuk menutup seluruh tubuh ibu.

Kemudian ia membawa tubuh ibu ke belakang rumah. Mengambil sekop. Mulai menggali. Membuat lubang yang besar dan dalam. Kemudian menguburkan Ibu. Bukan dengan dilempar. Tetapi dengan penuh hati-hati. Bahkan sebelum menutupnya dengan tanah kembali, ia sempat menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit. Ia seperti berdoa. Mendoakan Ibu mungkin. Setelah menguburkan Ibu, ia menghampiriku. Tersenyum. Dan menggendongku. Membawaku pergi dari rumahku sendiri.

Dan sampailah kami di sebuah rumah. Bersih. Sangat bersih bahkan. Ternyata di dalam rumah itu sudah ada banyak anak-anak lain yang seumur denganku. Sepertinya mereka memang anak-anak dari kampungku juga. Mereka sedang bermain. Riang. Gembira. Tidak ada duka di wajah mereka. Bahkan tidak ada luka di tangan, di kaki, atau di bagian tubuh lainnya.

Mereka benar-benar bersih. Seperti lelaki yang juga menggendongku. Yang saat ini membawaku masuk kesebuah kamar. Setelah meletakkan tubuhku di atas ranjang, yang bersih juga, ia keluar sebentar. Kemudian masuk lagi dengan membawa air hangat. Masih sambil tersenyum, ia membuka kain-kain yang membalut lukaku. Entah sudah berapa lama Ibu tidak mengganti balutan ini. Dan dengan hati-hati, ia mulai membersihkan lukaku dengan air hangat itu. Ada rasa nyaman yang kurasakan. Juga rasa tenang. Aku mulai mengantuk. Dan masih sempat kulihat sebuah senyuman dari wajah laki-laki ini, yang bertopi putih, dengan kain yang melingkar di sekitar pundaknya, sebelum akhirnya aku tertidur. Pulas.

***

Suara gaduh membangunkanku. Suara anak-anak lain yang ada di luar dekat kamar tempat aku tidur yang membangunkanku. Tidak pernah aku merasakan kenyamanan yang seperti ini saat bangun dari tidur. Biasanya, setiap kali aku bangun dari tidur, aku merasakan mataku semakin redup saja. Tubuhku semakin sakit saja. Dan hanya kematian saja yang aku harapkan. Tapi saat ini, saat aku bangun dari tidur di tempat lelaki ini, aku tidak melihat kematian.

Bangkit dari tempat tidur, aku langsung berjalan menuju arah jendela. Di luar, aku melihat anak-anak seumuranku sedang ramai bermain air. Dengan diawasi lelaki itu. Lengkap dengan topi putih, dan kain yang melingkar dipundaknya. Bermain? Tidak. Mereka tidak sedang bermain. Tapi mereka sedang belajar. Belajar dengan air. Apa yang sedang mereka pelajari?

Aku melihat. Satu per satu dari mereka membasuh wajah masing-masing tiga kali. Kemudian membasuh kedua tangan. Kemudian sebagian kepala yang mereka basuh. Kedua telinga, dan berakhir dengan membasuh kedua kaki. Setelah itu, mereka menghadap ke matahari yang hampir tenggelam. Menengadahkan kedua telapak tangan ke langit. Sedikit mengangkat wajah. Dan mengucapkan sesuatu. Seperti mendapat sesuatu dari langit, mereka mendekapkan kedua tangan mereka kedada. Dan berhamburan memasuki rumah kembali.

Aku berpikir. Dan aku yakin. Apa yang mereka lakukan adalah sebuah ritual yang menyebabkan penyakit ini sembuh. Aku yakin itu. Dan aku juga yakin, lelaki itu yang mengajarkannya kepada mereka.

“Itu namanya wudhu…” kata lelaki bertopi putih, dengan kain yang melingkar di pundaknya, yang ternyata sejak tadi sudah ada di belakangku.


Jogja, 21122008

Seribu lebih warga Zimbabwe tewas akibat kolera. (TV-One 18122008)”

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...