Pahlawan Islam yang Wajahnya Tidak Ingin Dilihat Rasulullah

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, kalau ngomongin pahlawan, pasti kita akan ngomongin sosok yang dielu-elukan banyak orang. Semua orang pasti pengen deh ngelihat dan bertemu dengan sosok sang pahlawan.

Tapi, gimana kalau ada pahlawan yang malah dihindari? Dihindarinya nggak main-main loh, Sob. Dihindari oleh Rasulullah hingga beliau tidak mau melihat wajah pahlawan itu. Siapakah dia? Berikut ini ulasan Nida.

Kita mengenal Wahsyi sebagai pembunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, 'sang singa Allah'. Pembunuhan yang sadis dan kejam, karena kita tahu bahwa setelah Hamzah meninggal akibat lemparan lembing Wahsyi, Hindun binti Utbah yang sangat memendam dendam pada kaum muslimin, terutama pada Hamzah bin Abdul Muthalib, membedah dan mengambil hati Hamzah, mengunyahnya, lalu memuntahkannya kembali.

Karena Wahsyi bersekongkol dengan Hindun, kita menganggap bahwa Wahsyi sama kejam dan sadisnya dengan Hindun. Tapi, tahu nggak sih, Sob, bahwa kepentingan Wahsyi membunuh Hamzah saat itu hanya agar dirinya bisa bebas dari perbudakan.

Wahsyi adalah budak Jubair bin Muth'im, seorang bangsawan Quraisy. Paman Jubair, Thu'aimah bin Adi tewas dalam perang Badar di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib. Jubair sangat sedih dan geram atas kematian pamannya dan menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam.  

Kaum Quraisy pun mengambil keputusan pergi ke Uhud untuk menghukum Rasulullah dan para sahabat yang telah membunuh kawan-kawan mereka saat perang Badar.

Jubair bin Muth'im pun menjanjikan kemerdekaan dari perbudakan pada Wahsyi bila berhasil menewaskan Hamzah bin Abdul Muthalib. Kemampuan Wahsyi dalam melempar lembing sangat bisa diandalkan. Lemparannya tidak pernah meleset sedikit pun dan dengan cara itu ia menewaskan 'sang singa Allah'.

Setelah membunuh Hamzah, Wahsyi tidak bergerak dari tempat persembunyiannya, tempat ia melemparkan lembing. Setelah yakin Hamzah benar-benar tewas, baru ia mendatangi tubuh Hamzah dan mencabut lembingnya lalu kembali ke perkemahan karena hanya itu kepentingan dirinya. 

Seusai pertempuran di Uhud, Wahsyi kembali ke kota Mekkah bersama rombongan tentara Quraisy. Sampai di Mekkah, ia pun dibebaskan oleh Jubair sesuai perjanjian.

Ketika kaum muslimin berhasil menguasai kota Mekkah, Wahsyi melarikan diri ke kota Thaif mencari tempat persembunyian yang aman.

 

Baca juga: Kisah Sahabat Qais bin Saad yang Ahli Strategi

 

Setelah kaum muslimin menguasai kota Mekkah dan Thaif, Wahsyi yang berada di kota Thaif pun merasa kebingungan. Penyesalan pun muncul dalam diri Wahsyi.

Seorang sahabat menasihati Wahsyi dan berkata, "Percuma saja engkau melarikan diri, Wahsyi. Demi Allah, Muhammad tidak akan membunuh orang yang masuk agamanya dan mengakui kebenaran Allah dan Rasul-Nya,"

Mendengar nasihat itu Wahsyi berangkat ke Madinah dan dihadapan Rasulullah ia menyatakan diri masuk Islam.

Begitu mengetahui bahwa Wahsyi adalah pembunuh pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib, Rasulullah memalingkan mukanya dan tidak mau melihat wajah Wahsyi. Hal itu terjadi sampai beliau wafat.

Wahsyi menyadari bahwa masuk Islam membuat dosa-dosanya yang telah lalu terhapus. Akan tetapi, ia merasa sangat menyesal karena musibah yang ia timpakan pada kaum muslimin dengan membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib adalah musibah yang sangat besar dan keji.

Wahsyi telah membunuh seorang pahlawan Islam dengan licik dan tidak jantan. Karena itu, Wahsyi selalu menunggu kesempatan untuk menebus dosanya.

Setelah Rasulullah wafat, khalifah Abu Bakar menyiapkan bala tentara untuk memerangi Musailamah Al Kadzab, yang mengaku dirinya sebagai nabi dan membuat Bani Hanifah murtad dari agama Islam.

Bersama pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, Wahsyi berangkat ke medan Yamamah untuk memerangi nabi palsu dan mengembalikan Bani Hanifah ke pangkuan Islam.

Wahsyi membawa serta lembing yang ia pakai untuk membunuh Hamzah dan berjanji dalam hati bahwa ia akan membunuh Musailamah atau dirinya yang akan tewas sebagai syahid.

Ketika kaum muslimin berhasil mendesak Musailamah dan pasukannya ke arah “Kebun Maut”, Wahsyi termasuk salah seorang yang selalu mengintai nabi palsu itu.

Saat Al-Barra’ bin Malik berhasil membuka pintu gerbang pertahanan musuh, Wahsyi dan kaum muslimin tumpah ruah menyerbu markas Musailamah. Seorang Anshar turut mengincar Musailamah seolah-olah tidak boleh ada orang lain yang mendahuluinya.

Wahsyi bin Harb melompat ke depan. Setelah berada dalam posisi yang tepat, ia bidikkan lembingnya ke arah sasaran. Begitu dirasa tepat, Wahsyi melemparkan senjatanya! Lembing melesat ke depan mengenai sasaran.

Pada saat yang sama, prajurit Anshar yang sejak semula turut mengincar, melompat secepat kilat dan memukul leher Musailamah dengan pedangnya.

Sebelum hijrahnya pada Islam, Wahsyi memang seorang budak yang mengejar kemerdekaan dengan segala cara, termasuk dengan membunuh pahlawan yang sangat berarti bagi kaum muslimin.

Tapi, setelah hijrahnya, Wahsyi menebus kesalahan yang dilakukannya di Uhud dan menunjukkan penyesalannya dengan bertaubat sungguh-sungguh. Ia lalu mengerahkan kemampuannya untuk melawan musuh-musuh Islam, salah satunya dengan ikut berperang melawan kaum murtad dan nabi palsu.

Kita nggak pernah tahu masa depan seseorang, Sob. Orang yang mungkin kita anggap kejam dan sadis, seperti Wahsyi, ternyata menyesali perbuatannya, bertaubat, dan mengabdikan hidupnya untuk Islam.

Pintu taubat tidak pernah tertutup selama nyawa belum sampai kerongkongan, Sob.

Allahu a'lam.

 

Referensi: khazanah Republika

Foto ilustrasi: google

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...