Panggilan Mak

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis: Gho Soe



“Na… Nina... Oh, Na...”

“Iye, Mak, ni Nina.”

“Na Mak haus, Na...”

“Ini, Mak,” sodor Siti malas.

“Udah pulang dari sekolah, Na?” tanya Mak lagi.

“Iye, Mak” balas Siti singkat.

Sunyi senyap

“Mulut mak rase nak makan bubur pedas,” ucap Mak tiba-tiba.

“Iye, Mak. Biar Si Along yang belinya,” balas Siti lagi.

Mak menghabiskan hari-hari tuanya dengan terbaring di atas kasur di ruang tengah, dari rumah yang secara keseluruhan bermaterial kayu. Hanya atap yang berbahan seng. Seperti saat-saat yang lalu, tanpa diduga dan dipinta, Mak sering bersenandung shalawat, bernyanyi tak jelas pangkal hujungnya, sering juga Mak malafalkan surah-surah pendek. Tak jarang pula Mak seakan-akan berbicara dengan seseorang. Tapi tak lama langsung senyap. Hal itu yang sering membuat Siti kerap merinding jika sendirian di rumah dengan Mak. Usia Mak sekarang tepat mencapai tiga digit bulan depan. Masa senja menjadikan Mak tidak lagi mampu bahkan untuk sekadar duduk. Masa senja juga yang merabunkan pandangannya. Mak tak lagi ingat nama anak cucunya kecuali Nina. Edi, putra sulung yang juga suami Siti, tak lagi ada dalam memori Mak. Apalagi Ema, kakak Nina yang sekarang tinggal mengikut suami di ranah Jawa. Senasib sepenanggungan mempertemukannya dengan Mas Joko di negeri jiran, Malaysia. Ema pulang menjenguk Mak paling rapat dua tahun sekali bahkan pernah mencapai tiga tahun lebih.

***

“Gimane, Mak?” Tanya Edi yang tiba-tiba menyembul dari balik pintu dapur. Langsung menuju meja, menuangkan air putih di bekas botol mineral ke atas cangkir plastik.

“Abang udah menghubungi Ema?”

“Udah abang sms tadi malam.”

“Cobe ditelepon, Bang,” timpal Siti lagi yang tengah menyiangi keladi.

“Paling tidak die tahu kondisi Mak macam ape. Bise juga bantu saye memandikan, membasuh dan mencuci tinja Mak. Mak kan emaknye sendiri,” lanjut Siti dengan nada agak meninggi.

“Tau lah saye, Ti, udah ditelepon tapi tak diangkat-angkat,” balas Edi yang mulai memanas. Edi mengelap keringat dengan lengan baju. Pisau penyadap karet masih ada di tangan kiri.

“Saye bukannya ape, Bang, tiap kali Mak buang air, rasanye saye mau muntah-muntah. Adek Along dalam perut ni jijik juga kali mencium aroma tahi dan air kencing Mak,” Siti memperkuat alasan.

“Belum lagi kalau Mak nanya ini dan itu. Macamlah saye ni Nina yang sanggup jawab semue pertanyaan mak,” ucap Siti belum putus.

“Abang tak merasakannye, habis orang adzan subuh dah pergi sadap karet, pulang, makan, dan tidur. Mane harus masak, cuci baju, Si Along tu yang suke nak minta uang jajan dan…”

“Sudah, cukup,” pangkas Edi cepat

“Saye nak mandi. Nanti saye hubunginye lagi,” sambung Edi

“Bang, ikan diangkat, taruh di lantai,” pinta Siti terakhir. Tentu saja Siti belum puas dengan percakapan singkat ini. Dan berharap suaminya segera menghubungi Ema di sana. Tanpa sepatah kata pun, Edi segera menuruti kemauan istrinya. Menyimpan kuali penggorengan beserta ikan yang masih ada di dalammya di atas lantai kayu.

Tak jelas tapi pasti, suara Mak di ruang tengah memanggil-manggil Nina. Berulang-ulang hingga diam dengan sendirinya.

***

Desau angin malam menerpa, menggoyangkan dahan dan dedaunan pohon karet di belakang rumah. Daunnya melenggak lenggok mengikuti pusaran angin. Bersuara layaknya para serdadu perang menyerbu perbatasan lawan. Setetes air hujan menimpa atap seng, terdengar begitu nyaring. Diikuti satu tetes --> -->, satu lagi, dan makin merapat ke setiap jengkal atap.

Edi terlalu pulas untuk mendengarkan hujan di luar. Bau rokok menyengat keluar dari mulut nya yang ternganga di saat tidur. Sesekali, dengkuran dan igauan pendek terdengar. Hawa dingin dari sang hujan hanya mampu mengganggu tidur Siti. Ia dibawa oleh angin menembusi ventilasi jendela kamar. Siti menarik kainnya lebih tinggi, hanya menyisakan leher dan kepala yang tampak. Di kelambu sebelah, Eka Si Along menggeliat kedinginan. Arah tidurnya sudah sangat berantakan. Bantal di utara, kepala di selatan. Siti terlalu mengantuk untuk membenarkan posisi tidur anaknya walau hanya untuk menyelimutinya dengan kain.

“Syukurlah, mudah-mudahan Mak tak bangun malam ni,” ucap Siti dalam hati.

Sebelas kali jam tua di ruang depan berdenting. Masih panjang untuk berlayar, melanjutkan mimpi.

***

Sosok Nina terlihat sangat imut. Berseragam merah putih. Lengkap dengan topi merah dan dasi yang juga berwarna merah. Kaus kaki putih dan sepatu hitam. Rambut ikal bergelombang sebahu dikepang dua. Setiap kepang diikat dengan pita berwarna pink. Nina keluar dari sekolah, berlari-lari menuju emak.

“Mak… Emak...”

“Na, dapat berape?

“Sepuluh. Kawan-kawan Nina, Mak, semue kena hukum Bu Jamilah. Tangan di atas kepala, kaki kanan diangkat menikuk ke lutut kiri. Bersusun di tepi dinding.”

“Nina kan pintar,” puji Mak.

“Hadiahnya?” Tagih Nina

“Iye, esok Mak titip ke Ayah beli tas baru,” janji Mak. Nina nyengir.

Tiba-tiba sosok Nina berubah menjadi wanita berusia 40 tahun. Berseragam dinas hijau tua. Seorang guru SD yang masih melajang. Bukan pintanya untuk menjadi anak dara tua. Sewaktu muda, tidak sedikit lelaki yang datang memintanya. Tapi tak seorangpun yang berkenan di hati. Keyakinan dalam hatinya, mungkin jodohnya belum bertemu.

“Mak, Nina nak pergi haji dengan Mak. Insya Allah kalau uang Nina sudah terkumpul.”

“Mmm…,” gumam Mak

“Sekarang uang Nina hanya cukup untuk satu orang. Sebenarnye Nina nak Mak yang berangkat ke tanah suci. Tapi Insya Allah kalau sepulang dari haji nanti Nina kumpulkan uang lagi. Dan mudah-mudahan saat itu Mak sehat dan kuat,” kata Nina yang entah Mak dengar atau tidak.

Mak tergolek di kasur di ruang tengah. Nina duduk di tepinya sambil memijit dan melumuri Mak dengan minyak urut.

“Mak nak minum?” Tanya Nina.

Mak menggelengkan kepalaMak.

***

“Na... Na… Nina… Mak dingin, Na...”

Padahal Siti baru saja akan melelapkan matanya dari terjaga tadi.

Sayup-sayup terdengar “Na... Na... Na... Na...,” suara Mak dari ruang tengah.

Siti kesal, rasa kantuknya terganggu.

“Bang, bangun, Bang. Mak bangun tu,” Siti mengguncang-guncangkan badan Edi.

“Emm…,” suara Edi parau.

“Bang, Mak tu bangun. Entah kenapa lagi Mak tu. Liat dulu, Bang,” perintah Siti.

Masih sempoyongan, Edi bangkit dan menyibak kelambu kumal mereka.

“Uhh… bau!” ucap Edi dan spontan mengapit kedua hidungnya dengan induk dan telunjuk jari.

“Ti… Oh, Ti... Sini, Ti, cepat!”

“Ti… Ti…,” ulang Edi.

“Cepatlah!” ulang Edi sekali lagi

“Ade ape, Bang? Ya Allah, Mak! Kenape bise macam ni? Mak, kenapa tak panggil Siti atau abang kalau nak buang air?!” omel Siti.

“Iih… udah kemana-mana lagi. Bau, Mak!” belum puas Siti ngomel dengan Ibu mertuanya.

“Na... Mak dingin, Na,” ucap Mak lagi mengabaikan omelan Siti.

“Udah, Ti, ambil kain sana,” perintah Edi.

“Ambil air pakai ember,” sambung Edi lagi.

Edi menguatkan diri. Menahan bau yang minta ampun menyesaki tiap sudut ruang tengah. Sedikit demi sedikit Edi membersihkan kotoran di bawah badan Mak. Siti hanya berdiri tegap di belakang suaminya. Hatinya mencaci maki, berontak, mengeluh, dan marah. Tidak ada sepatah kata pun terucap dari mulut Siti. Ia bertindak sebagai penonton semata. Melakukan apa yang Edi pinta. Tentunya untuk hal-hal yang tidak menyentuh langsung tubuh Mak. Ia terlalu jijik untuk malam ini. Meskipun seperti hari-hari sebelumnya, ia yang membersihkan ketika Mak buang air. Kali ini kondisinya beda. Kedua jari yang merapat di kedua lubang hidungnya mempersempit ruang masuknya oksigen dan keluarnya karbondioksida.

Setelah beberapa saat, “Sudah, biar Abang tidur di sini malam ni,” kata Edi.

Siti lega. Cukup sudah penderitaanya untuk malam ini. Cepat-cepat ia menuju kamar. Atas permintaan Edi, ember dan centong dibiarkan tetap ada di dekatnya. Edi tak lagi menghiraukan apakah malam beranjak semakin larut atau awal hari sebenarnya sudah bertandang. Sekali-dua ayam jantan punya tetangga berkokok bersahut-sahutan. Jam dinding di ruang depan kembali berdenting. Tapi kali ini hanya satu kali. Siti sudah pun beradu di dalam kelambu. Kembali membungkus badannya dengan kain motif batik berwarna biru tua. Bisa dipastikan itu bukanlah batik Solo. Beberapa kali ia menguap lebar. Sebelum melelapkan mata, ia berdoa dalam hati agar penderitaan dikarenakan Emak berakhir segera.

***

“Ema tak bise balik. Katanye tak ada ongkos. Joko lagi tengah menganggur sekarang. Lagipula esok Ema akan berangkat ke Arab Saudi untuk menjadi TKW. Suaminya tak lagi bisa diharapkan untuk menghidupi keluarganya. Ema juga turut menyesal atas apa yang menimpa Nina,” kata Edi menjelaskan sms dari Ema, tadi subuh.

“Wahyu?’ Tanya Siti

“Ya tinggal dengan bapaknye. Si Joko itu.”

“Lebih mementingkan pekerjaan daripade Mak sendiri?” timpal Siti kesal.

“Mak makan ape?” Tanya Edi yang tengah mengasah pisau sadap karet. Tiada sahutan dari orang yang ditanya.

“Ti, Mak makan ape memangnye kemarin? Sampai-sampai Mak sakit perut semalam. Selama ni Mak tak pernah sakit perut macam tu,” ulang Edi panjang lebar.

Siti yang tengah mencuci nasi untuk ditanak, sepertinya malas untuk membahas tentang Mak lagi.

“Bubur pedas,” jawab Siti singkat.

“Pagi kemarin Mak bilang mau makan bubur pedas. Siti suruh Si Along yang beli di warung Kak Ida,” lanjut Siti.

“Jadi, bubur pedas yang di atas meja kemarin itu lebih Mak? Masya Allah, Ti... tak tahu ke bubur tu pedasnya minta ampun. Memangnya Siti tak mencicipinye sebelum dikasihkan ke Mak? Perut orang tue itu lebih sensitif, Ti... Biasenye Nina beli kan di kantin sekolah,” ucap Edi dengan nada meninggi.

“Bang! Ape lagi yang belum Siti lakukan? Abang pikir pura-pura menjadi Nina selama ni mudah, ke? Mak minta pijit, Siti pijitkan. Mak mau makan ini itu, Siti masakkan. Buang air Mak yang akhir-akhir ni tidak lagi teratur buat Siti pusiiing, Bang! Memang Siti tak bise sebagus Nina. Dan abang sekarang menyalahkan Siti hanya gara-gara bubur pedas kemarin? Bang, kalau bukan Siti yang mengurus Mak di rumah ni, siapa lagi Bang? Abang pun baru tadi malam mau membersihkan Mak,” balas Siti berbaur dengan luapan emosi yang ia pendam selama ini.

“Berkali-kali Siti bilang ke Mak, bahwa saya ni Siti, bukan Nina. Tapi Mak same sekali tak peduli. Yang ada di benak Mak hanya Nina, Nina dan Nina. Dan abang tak tahu. Sebelum Nina berangkat haji, tetangga-tetangga sebelah mengatakan bahwa tak ada yang akan merawat Mak. Sakit Siti dengarnye, Bang!” Emosi Siti semakin menjadi.

“Kan memang benar selama Nina ada di rumah ini, Siti tak pernah bahkan hanya sesekali membantu Nina menjaga Mak,” ucap Edi tak mau kalah yang emosinya juga tersulut bara api.

“Lah Abang sendiri?” jawab Siti dengan suara lantang.

Mata Siti mulai mengkristal. Segera ia kucek agar tidak mengalir di pipi kusutnya.

“Kamu... isteri tak masuk diajar!” Nafsu amarah telah pun merasuki Edi. Tapi ia tetap saja tipikal suami yang kalah dengan istri. Edi meletakkan kasar pisau sadap karet dan batu asah di tangannya. Membiarkannya tergeletak di lantai. Berdiri dan meninggalkan Siti yang tengah siap menantangnya berperang mulut di awal hari.

“Bang.. Bang... Bang!” teriak Siti kepada suaminya yang secepat kilat meninggalkannya sendirian di dapur.

Kali ini Siti membiarkan kristal putih di matanya mengalir begitu saja. Ia menangis sejadi-jadinya walaupun dengan suara tertahan. Tiba-tiba ia teringat pesan ibunya enam tahun yang lalu, tepatnya sehari sebelum akad nikah yang akan dilafazkan oleh Edi di depan kedua orang tuanya.

“Ti… seorang istri itu harus patuh terhadap suami. Apapun yang diperintahkan suamimu selama itu tidak menyalahi aturan agama, wajib untuk dilaksanakan. Permasalahan dalam rumah tangga itu adalah suatu yang lumrah. Bahkan akan menjadi bumbu yang akan mengharmonikan kehidupan berkeluarga itu sendiri. Jika suami mu berkata kasar, patahkan dengan ucapan yang lemah lembut. Jika suamimu tengah menjadi api, maka siramilah dengan air yang menyejukkan…”

Siti tidak lagi ingat seutuhnya nasehat itu. Kondisi mertua yang dihadapinya telah mengubah segalanya. Makin terasa sejak Nina berangkat haji. Hanya yang Siti kesalkan adalah kenapa suaminya sepertinya tidak menghargai apa yang telah ia perbuat untuk mertuanya tersebut?

Edi memasuki ruang tengah di mana ada emak yang masih tertidur. Jelas lantai kayu begitu terasa bergetar ditimbulkan oleh langkah Edi yang keras. Mungkin saja dengan begitu pertikaian dengan istrinya di dapur tadi sedikit mencair. Ternyata tidak. Langkah Edi membangunkan emak.

“Na… Na… Oh, Na...,” Mak kembali memanggil nama Nina ,persis ketika posisi Edi di depan kasur Mak.

Langkah Edi terhenti. Di pagi yang seharusnya dingin, namun aura panas meresap ke seluruh aliran darah Edi. Amarahnya benar-benar memuncak. Harapan untuk mencairkan ketegangan dengan Siti menjadi sia-sia belaka. Matanya mulai memerah. Saraf-saraf kepalanya mulai menegang. Ia membiarkan setan merasuki pikiran dan tubuhnya dari segala arah. Tangannya sedikit demi sedikit mulai mengepal.

“Mak! Kan sudah saye bilang dari kemarin. Nina sudah meninggal! Nina sudah mati, Mak! Terserang infeksi pernafasan. Kenapa Mak terus saja memanggil Nina, Nina, dan Nina lagi?! Harus berape kali saye mengatakannye kepade Mak, Nina sudah di kuburkan di Mekah, Mak! Nina sudah tak ade! Apakah saye harus mengatakannye setiap saat agar Mak ingat?! Mak, bukan Nina saja anak Mak. Saye ni anak Mak juga. Anak lelaki Mak satu-satunya. Apakah Mak tak ingat saye sama sekali?!”

Edi diam sejenak. “Mulai sekarang jangan pernah panggil-panggil nama Nina di rumah ni lagi. Mak dengar, kan!” Suara Edi benar-benar keras. Ia tidak lagi peduli dengan pendengaran tetangga-tetangganya. Apalagi dengan berbagai ucapan mereka nantinya. Bisikan setan menghilangkan kesadaran Edi akan hal itu. Yang penting ia merasa puas setelah memarahi ibunya sendiri.

Ada aliran sungai kecil di pipi Mak. Mengalir ke arah kiri. Aliran itu keluar dari mata Mak yang tetap tertutup. Sungai kecil itu terus saja mengalir. Mak tidak berani berkata apapun lagi. Sekarang Mak sangat takut dengan Edi. Air mata Mak menjadi saksi atas kedurhakaan seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Mak mengaku, hadirnya saat ini sangat menjadi sesuatu yang tidak diinginkan keluarga Edi. Tentu saja pengakuan Mak hanya lewat air mata yang masih membasahi pipi keriputnya. Kini Mak hanya bisa memanggil dan menyebut nama Nina di dalam benaknya saja. Anak Mak satu-satunya. Meskipun Mak tahu Nina sudah tiada, tapi Mak selalu merasa Nina ada di sampingnya.

Tubuh Edi lunglai. Menyaksikan sosok wanita tua yang telah melahirkan, mengasuh dan merawatnya menangis di hadapannya. Bukan karena apa. Melainkan karena amarahnya yang membludak tadi.

“Maafkan Edi, Mak. Maafkan Edi, Mak,” Edi memelas sambil bersimpuh menciumi tangan Mak.

Mak diam tak bergeming dan segera menyiahkan muka Edi yang lekat di tangannya. Edi menangis bahkan lebih keras dari Siti. Hampir tidak kedengaran oleh Edi, Mak menyebut kembali nama Nina.

***

Emak melihat Nina berdiri di sebuah taman. Taman bunga beraneka warna merah, kuning, kribang, hijau, dan warna-warna yang Mak tidak tahu menyebutkannya. Nina bernyanyi ria, sangat merdu. Berjilbab putih suci. Begitu juga dengan gaun yang digunakannya. Berkilauan. Tampak sangat bercahaya. Putri bungsunya kelihatan sangat anggun, cantik dan muda belia.

Nina menoleh, “Mak…”

“Subhanallah Na... Kamu cantik sekali, Nak!” Puji Mak.

“Mak, Nina di sini sangat bahagia. Nina punye hamparan kebun bunge yang sangat cantik, Mak.”

“Na, rumah itu?” Tanya Mak

“Itu rumah Nina, Mak. Tapi saat ini Mak belum boleh masuk. Tibe saatnya nanti, Nina pasti mengajak Mak ke sana,” jawab Nina.

Sosok Nina memudar sedikit demi sedikit. Begitu juga dengan taman bunga yang indah dan rumah semegah istana itu.

***

Tak seperti biasanya, pagi ini Mak benar-benar diam. Tidak ada satu patah kata pun keluar dari mulut Mak. Apalagi menyebut nama Nina. Rumah seperti tiada penghuni. Si Along yang duduk di kelas 1 SD sudah pun berangkat sejak dua jam yang lalu. Dan ia sama sekali tidak tahu prahara apa yang telah terjadi pagi tadi di rumah tempat ia dilahirkan. Eka Putra sudah mandiri untuk mandi ala kadarnya. Berpakaian sendiri dan berangkat sekolah bersama teman-temannya. Anak-anak desa memang rata-rata mampu untuk melakukan hal tersebut. Ibu hanya tinggal menyiapkan baju seragam di tempat biasa dan uang jajan seribu atau dua ribu dimasukkan di saku. Setelah itu, dengan hati tenang mereka berangkat ke sawah ataupun kebun karet.

Edi sendiri sudah pun turun dari rumah sejak peristiwa durhaka pagi tadi. Ia pergi ke pasar untuk mencari angin, mengendarai motor bututnya. Hanya butuh waktu 30 menit dari rumah untuk sampai di pasar itu. Tanpa pamit dengan istrinya, Siti, ia melaju melewati sawah dengan padi yang mulai bertunas, kebun karet dan beberapa tumpuk kebun kelapa menyelinginya. Ia masih membasa sisa air mata penyesalan bersamanya. Jalan tanah selebar tiga meter sedikit becek pasca hujan tadi malam. Embun pagi bercampur kabut masih menyelimuti pagi. Tapi jarak pandang sudah cukup jelas di radius 50 – 100 meter.

Siti mengurung diri di kamar. Masih belum bisa menyangka bahwa suaminya bisa sekasar itu dengan ibunya sendiri. Meskipun ia juga tidak jarang melakukan hal yang kurang lebih sama terhadap suami penurutnya itu. Siti juga bisa merasakan sunyi yang tengah menyekap dalam dan luar rumahnya. Tidak ada semangat bagi Siti untuk beraktifitas di dapur. Dan ia yakin, ibu mertuanya juga tidak akan memanggil Nina lagi setelah dimarahi habis-habisan oleh suaminya. Perasaan bersalah merayap di hatinya. Andai saja ia bisa lebih meredakan amarahnya tadi pagi, tentu keadaanya tidak akan seperti ini. Untuk mengurangi rasa bersalahnya, Siti melihat Mak yang masih tetap tergolek di kasur. Posisi Mak sudah berubah. Mak berbaring ke arah kanan. Tangannya agak dirapatkannya ke dada. Mak sepertinya kedinginan. Kakinya menikuk sedikit. Kepalanya mengikuti posisi tubuh yang juga ke arah kanan.

“Mak…,” Siti memanggil mertuanya pelan.

Tak ada sahutan. “Mungkin Mak masih marah,” pikir Siti.

Siti membetulkan kain Mak. Tak ada tanda-tanda tubuh Mak akan menggeliat. Siti memperhatikan Mak dengan seksama. Ada keringat dingin di dahi Mak. Wajah Mak pagi ini lain dari biasanya. Ia tertidur dengan wajah tersenyum. Siti tersenyum sendiri. Siti takjub. Siti memandang Mak kembali dengan lekat. Tak sengaja Siti menyentuh kaki Mak yang tidak tertutup kain. Kaki Mak begitu dingin.

“Dug!” jantung Siti mulai memompa kencang.

Siti memegang tangan Mak. Juga terasa sangat dingin. Siti semakin panik. Perlahan ia mendekatkan telunjuk jarinya di bawah hidung Mak. Waktu seperti berhenti. Mak tidak lagi bernafas. Belum cukup sampai di situ, Siti memegang pergelangan Mak. Denyut nadi Mak pun sudah berhenti.

“Innalillahi wa innailaihiroji’un, Mak…,” ucap Siti lirih.

Siti keluar rumah dan langsung menuju warung kak Ida yang tidak jauh dari rumahnya.

“Kak Ida, Emak…,” kata-kata Siti terputus. Ia hanya mampu mengacungkan telunjuk ke arah rumahnya.

 

***

 

“Bang, tolong jaga Emak, ya... Memang Mak terkadang bikin kite kewalahan dan jika tak betul-betul, Mak juga bise buat kite naik darah. Abang dan kak Siti harus sabar. Sebenarnya Nina berat mau meninggalkan Mak. Tapi Allah sudah memanggil Nina untuk berkunjung ke rumah-Nya. Abang dan kak Siti juga sudah tahu kan hukumnye seperti ape jika kite sudah punye kemampuan untuk melaksanakannye?”

Edi masih jongkok di samping gundukan tanah berwarna agak kekuningan. Di atas tanah tertancap nisan bertuliskan Midah binti Samad. Sambil memegang nisan itu, Edi menangis pilu. Air matanya segera ia sapu dengan sapu tangan yang dibawanya.

“Ampunkan Edi, Mak,” mohon Edi bersimpuh di atas kuburan Mak.

“Ampunkan Edi. Ampunkan Edi, Mak,” ucap Edi berualang-ulang.

Siti berdiri di belakang Edi. Diam. Sesekali mengusap air matanya. Di sampingnya ada Eka yang memekap erat kakinya sebelah kiri. Para pelayat sudah pun beranjak dari kawasan pemakaman umum beberapa menit yang lalu.

Langit bersedih tapi belum menumpahkan air hujan. Baru tampak arak-arakan awan yang mulai menggabungkan diri dengan kawanannya yang lain. Angin pembawa rahmat pun mulai bertiup sepoi-sepoi diselingi suara sang burung dari kebun karet. Kumandang adzan pun terdengar membelah cakrawala. Menandakan waktu shalat ashar sudah tiba. Keluarga kecil tersebut masih saja bertahan di sana untuk beberapa lama.

***

“Pendengar RRI di manapun Anda berada, kini saatnya kita mendengarkan Laporan Terkini. Nasib naas kembali menimpa TKW Indonesia di luar negeri. Belum genap satu bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi, Ema Juleha harus berurusan dengan hukum di negeri itu. Jeratan hukuman mati pun dikenakan kepada Ema lantaran perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa majikan laki-lakinya. Pembelaan Ema yang menyatakan bahwa dirinya terpaksa membunuh dikarenakan sang majikan telah melakukan pelecehan seksual, ternyata tidak mampu melepaskannya dari hukuman tersebut. Dan saat ini pemerintah Indonesia tengah melakukan langkah-langkah hukum dan diplomasi agar Ema dibebaskan bersyarat dari tuntutan yang dihadapinya…,” Edi ternganga diam tak percaya akan apa yang telah ia dengar.

***

Dan dalam tidurnya, Edi melihat Mak dan Nina berjalan beriringan memasuki sebuah taman seluas jauh mata memandang. Edi memanggil Mak, tapi Mak tidak menoleh sedikitpun. Edi meraung-raung memanggil Mak. Tapi Mak tidak menjawab. Mimpi Edi berakhir ketika Siti membangunkan dari igauannya.

***

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...