Penantian Dalam Hujan

Rintik hujan tak lagi sehebat beberapa jam lalu. Ia bermetamorfosa menjadi derai lembut yang masih setia membasahi bumi. Membekaskan jejak-jejak basah yang bergulir di sepanjang permukaan tanah. Tak ada tanda-tanda makhluk berlalu lalang di bawah hujan. Jangankan manusia atau binatang malam, dedaunan pun seakan ingin sembunyi di balik dahan pohon, Menghindari rinai yang membuatnya tertunduk lunglai.

Jendela kamar masih terbuka. Sesekali sosok wanita mengintip di balik tirai biru yang sudah nampak usang. Bukan sekali atau dua kali hal itu dilakukannya. Bukan pula sehari, seminggu atau sebulan, melainkan tahunan. Ya, bertahun-tahun sejak ia melahirkan sampai hampir satu dekade berlalu, ia tetap setia di balik jendela itu. Setiap hujan turun ia selalu menghampiri jendela kamarnya. Menunggu, dan terus menungu. Entah kenapa hujan selalu memunculkan kerinduan dalam dirinya. Rindu pada seseorang yang sangat dicintainya.

Marni kembali membuka tirai jendela. Kali ini tak sekedar mengintip, ia benar-benar mendongakkan kepala hingga keluar jendela. Pandangannya menyapu halaman rumahnya. Terlalu gulita untuk bisa melihat dengan seksama setiap hal yang terjadi di sana. Hanya tarian dedaunan teriring alunan suara katak yang dapat dinikmatinya malam itu.

Ia menghela nafas panjang, lalu tertunduk. Cukup lama hingga matanya berkaca-kaca. Hanya sebatas berkaca-kaca. Setelah menutup jendela, ia masuk ke dalam kamarnya. Seperti menyimpan kecewa, ia berjalan dengan sedikit lunglai. Tenaganya seolah ikut larut bersama hujan. Ia rebahkan dirinya di atas ranjang reotnya, menemani tubuh kecil yang terbaring di sampingnya.

 

“Apa Mas yakin dengan keputusan Mas?” tanya seorang wanita muncul dari dapur sambil membawa secangkir kopi. Perut buncitnya membuatnya sedikit terengah-engah.

Lelaki itu menoleh. Menatap wajah istrinya dengan pandangan layu.

“Mas belum ada uang buat persiapanmu melahirkan, Mar.”

“Tapi nggak harus pergi ke Jakarta kan Mas. Mas bisa cari kerja lain di sini.” Pinta wanita itu. Sebelah tangannya mengelus-elus perutnya sementara tangan lainnya berusaha meraih jemari suaminya.

Mereka berpegangan tangan. Erat. Hingga mengalahkan dinginnya malam yang merasuk melewati celah dinding rumah meraka yang hanya terbuat dari geribik.

“Kerja apa Mar? Kuli? Ngamen? Ngga akan cukup untuk kebutuhan kita. Mau kerja kantoran? Nggak ada pekerjaan buat lulusan SMP seperti Mas.” Jawab lelaki itu dengan nada yang menyerupai keputusasaan.

“Tapi Mas...”

“Mar, ini semua demi kamu, juga demi anak kita.” Sanggah lelaki itu. “Dua bulan lagi kamu melahirkan Mar. Mas akan sangat bahagia bisa membiayai persalinan kamu. Mas akan pulang dan membawa uang yang banyak untuk kamu dan anak kita. Mas janji akan segera kembali.”

Ia menatap wajah cantik istrinya yang nampak lelah. Namun bagaimanapun cantiknya wajah itu telah kalah oleh sebuah obsesi. Obsesi seorang suami untuk bekerja di ibu kota, mencari uang untuk biaya persalinan istrinya.

Wanita  itu menyerah. Tak mampu melawan tekad suaminya. Ia menyerah, pada keadaan, pada dilema, dan ia hanya pasrah ketika akhirnya hanya air mata yang menjawab keinginan seorang suami yang tak mampu dihalanginya.

“Mas Rasyid...

Mereka berpelukan, layaknya sepasang kekasih yang melepas rindu karena lama tak bersua. Lelaki itu mencium kening istrinya. Ciuman yang hangat, sekaligus menjadi ciuman terakhir yang tak pernah lagi didapatkannya. Hanya jejaknya yang masih membekas, tak hanya di keningnya, tetapi juga di hati. Begitu dalam…

***

“Bu, Rani udah boleh main belum?” Untuk kedua kalinya ia bertanya pada ibunya.

“Tunggu sebentar ya nak.” Ujar Marni tanpa memalingkan pandangannya dari sulaman di tangannya. Marni memang terampil menyulam. Ketika ada waktu luang ia selalu menghabiskan waktunya bersama jarum dan benang yang menjadi sahabat pelipur lara dan penyambung hidup keluarganya.

“Ibu nunggu siapa sih?”.

“Nunggu yang mau datang Nak.” Jawabnya dengan seulas senyum di sudut bibirnya.

“Bu...mau main...”gadis itu mulai merengek.

“Hmm, ya sudah...” Sahut Marni sambil menghentikan gerakan tangannya.

“Asiiik... Rani main dulu ya Bu.” Gadis itu berpamitan lalu mencium tangan ibunya.

Mata Marni mengikuti langkah kaki anaknya, hingga tak nampak lagi bayangannya. Ia pun kembali meneruskan pekerjaannya, ada puluhan sulaman taplak meja yang harus segera diselesaikannya dalam sepekan ini.

Tak pernah sekalipun terpikirkan oleh Marni akan menjadi orang tua tunggal bagi anaknya. Berbagai pekerjaan pernah dilakoninya demi kelangsungan hidup mereka berdua. Alhamdulillah, berkat keterampilan tangannya menyulam kain, selalu saja ada rizki untuk bisa menyambung hidup meski harus makan alakadarnya karena penghasilan yang tak menentu.

Pengharapan yang begitu besar atas penantiannya selama sepuluh tahun terakhir tak juga membuahkan hasil. Rasyid suaminya tak pernah pulang. Jangankan mengirim uang yang dijanjikannya akan diberikan setelah berhasil bekerja di Jakarta, memberi kabar pun tidak. Namun Marni tetap rajin menyisihkan rasa syukur di balik keadaannya yang bisa dibilang menyedihkan itu.

***

Prang!!! Piring yang dipegangnya jatuh sesaat setelah ia mendengar anaknya berlari sambil menangis masuk kamarnya.

Bruk! Terdengar suara pintu dibanting.

“Ada apa Nak?” Tanya Marni khawatir melihat wajah anaknya yang sembab. Rani yang masih sesenggukan tak menjawab pertanyaan ibunya. Ia menubruk tubuh ibunya. Mendekap erat Marni yang dengan penuh kasih sayang membelai rambutnya. Mengalirkan percikan kehangatan yang membawa damai pada diri Rani.

“Bu…” ujar Rani lirih.

“Ya Nak..”

“Bapak Rani kemana Bu? Rani diejekin bu. Kata teman-teman, bapak pergi karena ngga sayang Rani. Bapak kemana bu?” Tanya Rani dengan nada memelas.

Ia mendongakkan kepala. Menatap wajah ibunya “Bu?” tanya Rani kembali.

“Ehh.. Bapak Rani kerja di Jakarta. Cari uang...buat Rani.” Jawab Marni gugup.

“Kok ngga pulang-pulang Bu? Kalau kita dikirim uang, kok kita tetap miskin Bu?” bocah itu bertanya dengan polosnya. Ia tak tau betapa perih hati ibunya mendengar pertanyaan itu. Luka di hatinya, kini menganga kembali.

“Rani, suatu hari bapak pasti pulang. Rani ngga boleh sedih ya. Kalau ada yang mengejek Rani, jangan dipedulikan. Bapak sayang Rani. Bapak ke Jakarta untuk cari uang buat Rani. Jadi Rani ngga boleh benci atau marah sama bapak.” Marni berusaha menenangkan hati anaknya. Padahal hatinya sendiri sedang dirundung gundah.

Ketegarannya sudah melampaui kepahitan yang dihadapinya selama ini. Hingga untuk kesekian kalinya ia berhasil menahan aliran air mata yang hendak menjebol pertahanannya.

Marni memeluk erat putrinya. Entah sampai kapan drama hidupnya akan berakhir, dan dalam keadaan yang bagaimana, ia tak tahu. Marni hanya berpikir bahwa rencana Tuhan adalah rahasia yang tak satupun makhluk bisa mengetahuinya. Ia hanya berusaha menjalaninya, tanpa ingin tahu kenapa Tuhan merencanakan kehidupan yang pahit untuknya.

***

Tergopoh-gopoh Marni masuk ke dalam rumah dengan membawa setumpuk jemuran. Hujan lebat tiba-tiba mengguyur desanya. Padahal pagi tadi matahari nampak garang menantang bumi. Ia melirik jam dinding. Pukul sebelas. Sebentar lagi Rani pulang. Berarti ia harus segera menjemputnya karena Rani tidak membawa payung.

Buru-buru ia berkemas. Mengambil dua buah payung dan jas hujan yang sudah usang. Setelah mengunci pintu dan jendela, ia bergegas melangkahkan kakinya untuk menjemput anaknya. Dengan hanya mengenakan sandal jepit ia menerjang tanah becek di halaman rumahnya. Hampir saja terpeleset kalau tangannya tidak segera menggapai dahan pohon mangga di dekatnya. Pada saat itu, tiba-tiba...

“Marni...”

Ia terkejut mendengar sapaan itu, tetapi tidak segera menoleh. Entah kenapa hatinya bergemuruh. Darahnya seolah mendidih. Tangannya gemetar.

Marni terdiam, belum berani membalikkan badannya melihat siapa yang memanggilnya. Tetapi entah mengapa hatinya menerka. Menerka satu nama yang selama ini selalu disebutnya dalam doa. Suara bass itu, persis suara laki-laki yang selalu meneduhkan hatinya dahulu.

Diberanikan dirinya untuk berbalik, melihat dengan jelas siapa laki-laki di belakangnya. Air hujan menyamarkan wajahnya, tetapi perlahan justru memperjelas tatapan mata laki-laki itu. Marni mematung. Badannya melemas. Payung yang dipegangnya terjatuh dan seketika hujan membasahi tubuhnya.

Waktu seakan berhenti dan bumi seperti tak lagi mengitari matahari. Suara-suara menghilang tertelan sepi. Marni sungguh tak mengerti, apakah yang dialaminya sungguhan atau sekedar mimpi. Sungguh hatinya tak percaya pada sosok yang ada di hadapannya. Lelaki itu perlahan mendekatinya. Lelaki itu…Rasyid, suaminya. Matanya berkaca-kaca, dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun ini genangan itu menderas membasahi pipinya.

“Marni…” seakan tak mampu berkata apa-apa lagi, lelaki itu berbisik memanggil nama istrinya. Rindu yang terpendam tak lagi terbendung. Cinta yang tersimpan dalam hati meluapkan rasa dan warna yang tak mampu mereka terjemahkan dalam kata. Hanya rasa hangat yang mampu menjawab di antara dingin yang mencekat. Hangatnya pelukan yang menyatukan mereka hingga tak mempedulikan hujan yang kian mendera.

Marni tak perlu lagi menanti. Ia pun tak perlu lagi merekayasa cerita demi Rani si buah hati. Takdir pernah memisahkan raga, memberi jarak pada cinta yang membara. Namun kini takdir pula yang menyatukan jiwa, menyatukan hati yang tercerabut. Dan dalam takdir itu hujan memainkan perannya dengan sempurna. Sepuluh tahun merajut penantian dalam hujan, maka kini hujan pula yang mempertemukan.

 

Penulis : Een Kurniati 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...